Alam Mandala

Alam Mandala
permintaan yang sulit



Ketika matahari mulai sedikit naik lagi, mereka akhirnya berangkat menuju ke dalam hutan. Sepanjang perjalanan, suara-suara aneh kian terdengar, tapi Bing jiazhi tidak takut ataupun merasa heran dengan suara-suara itu.


Meski begitu, Zhu Nan dan Zhu Han menceritakan kepadanya beberapa jenis hewan buas yang sangat kuat dan sering di buru sebagai hewan peliharaan. Walaupun Bing Jiazhi tidak peduli, mereka berdua antusias menceritakannya dan saling berlomba-lomba merebut perhatian Bing Jiazhi.


Mereka ingin memperlihatkan senioritas mereka di hadapan Bing jiazhi dan memperkuat kepercayaannya kepada diri mereka.


Saat mereka menceritakannya, tiba-tiba suara raungan terdengar dari kejauhan. Meski terdengar jauh, itu sudah sangat dekat dengan tempat mereka.


Zhu Han dan Zhu Nan menarik pedangnya dan bersiap-siap dengan kemungkinan mahkluk buas yang datang.


Suara itu berasal dari serigala salju, yang memiliki bulu warna putih. Seharusnya mereka akan keluar malam-malam dan bergerombol, tapi entah mengapa mereka bersuara di saat pagi seperti ini


Walaupun dengan mudah di kalahkan, mereka memiliki kekuatan dalam jumlah, sehingga mampu membuat orang-orang terluka.


Di bandingkan dengan kakak beradik itu, Bing Jiazhi terlihat tenang, bahkan ia tidak menarik pedangnya.


“Kakak....” panggil Zhu Nan sambil memandang ke arah sumber suara. Di saat-saat seperti ini, pikirannya tidak berguna, seolah berhenti bekerja. Dengan adanya Zhu Han di sampingnya, ia dapat dengan muda menerima saran dan langkah yang tepat.


“Serigala salju bukanlah mahkluk yang kuat, tapi karena jumlah mereka yang banyak, membuatnya sulit untuk di lawan. Jika jumlahnya hanya sepuluh, kita masih bisa melawannya, tetapi lebih dari itu... kita harus lari tanpa suara sedikit pun, karena mereka memiliki pendengaran yang sangat tajam. Satu lagi, mereka dapat mencium darah segar dari jarak jauh, kita tidak boleh terluka.”


“Jarak mereka dari kita tidak terlalu jauh, tapi mereka belum mengetahui keberadaan kita. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita mundur dan mencari tempat aman. Meski aku merasakan mereka tidak banyak, tapi mereka bisa memanggil teman-teman mereka dari jarak yang jauh.”


“Ayo kita...”


Kata-kata Zhu Han terpotong ketika ia melihat Bing Jiazhi dengan tenang berjalan melewati mereka, bahkan tanpa memegang senjata apa pun.


“Bing Jiazhi, kita harus mundur.”


“Aku ingin bertarung,” jawab Bing Jiazhi tanpa menoleh, dan ia akhirnya menghilang ke dalam rerimbunan pohon.


Zhu Nan dan Zhu Han bingung dengan sikap Bing Jiazhi, entah apa yang akan ia lakukan sekarang. Mereka berdua sangat penasaran, tapi mereka tidak kunjung melangkah maju karena takut. Walaupun mereka sudah berpengalaman, mereka tidak akan pernah mengambil tindakan gegabah. Apa pun bisa terjadi di hutan ini, bahkan mereka bisa hilang sekejap tanpa mereka sadari.


Dalam beberapa detik, terdengar suara serigala itu lagi. Zhu Nan memandang kakaknya. “Apakah kita harus mengejarnya?”


Zhu Han memandang kejauhan sebentar. “Kita harus mengejarnya. Kita tidak boleh meninggalkannya di sini. Apa pun yang terjadi, sebagai seniornya, kita akan melindunginya dengan nyawa kita sendiri.”


Mereka kemudian berlari ke depan. Beberapa detik melewati pepohonan, akhirnya mereka tiba di tanah kosong.


Ketika Zhu Nan menginjakkan kakinya, ia tidak tahu harus berekspresi apa terhadap kejadian yang terjadi di depannya ini. Lima serigala tergeletak tidak bernyawa dengan darah mengalir dari leher mereka, itu hanya terjadi dalam satu tebasan.


Meski Zhu Nan tahu Bing Jiazhi memiliki kekuatan di atasnya, tapi tidak mungkin dalam beberapa detik saja ia mampu membunuh serigala-serigala itu. Kejadian ini membuatnya bertanya-tanya seberapa kuat Bing Jiazhi dan seberapa berpengalamannya ia dalam bertarung.


Zhu Nan kemudian memandang Bing Jiazhi yang berada di mulut Gua. Di sana, ia berjalan sembari memegang pedang yang telah di lumuri darah. Di depannya, seorang anak laki-laki duduk memeluk lutut dan tubuhnya gemetaran karena takut.


“Kita tidak salah membelanya,” kata Zhu Han yang telah tiba di samping Zhu Nan.


“Dia lebih sulit di tebak.”


“Dia memang seperti itu.”


...----------------...


“Serigala itu sudah aku bunuh,” kata Bing jiazhi.


Anak laki-laki itu hanya menangis dan bergetaran. Ia tidak dapat lagi bergerak mundur, karena punggungnya telah mencapai dinding gua. Entah apa yang telah terjadi, membuatnya begitu takut dengan Bing Jiazhi dan menganggapnya akan membunuhnya.


Bing Jiazhi berjalan, dan tangannya mengusap rambut anak laki-laki itu. “Di mana kakakmu?” Bing jiazhi kemudian memandang gua. “Apakah dia pergi ke gua?”


“Aku tidak akan memberitahumu!”


Bing Jiazhi terdiam beberapa saat, kemudian berkata, “Aku bukan orang seperti dulu, kau bisa mempercayaiku saat ini. Jika kau bersamaku mencari kakakmu, kau bisa bertemu dengannya.”


“Tidak! Kau akan membunuh kami! Kakakku bilang, orang yang memegang pedang bukan orang baik, mereka akan melakukan apa saja agar tujuan mereka tercapai, bahkan tega membunuh wanita hamil dan anak kecil! Aku tidak percaya denganmu!”


“Kami bukan orang jahat.” Zhu Nan datang bersama kakaknya. Ia mendekati anak laki-laki itu, kemudian berjongkok di depannya. “Kami bukan seperti yang kau pikirkan, kami bukan orang jahat. Tunjukkan di mana kakakmu pergi, kami akan mengantarkanmu untuk bertemu dengannya.”


Mendengar suara lembut dari Zhu Nan, anak laki-laki itu memandangnya sebentar dan ragu-ragu berkata, “Apa yang bisa membuatku mempercayai kalian?”


Zhu Nan tersenyum tipis. “Jika kami orang jahat, maka kau tidak akan bernafas saat ini.”


Anak laki-laki itu terkejut dengan jawaban Zhu Nan, kemudian memikirkannya. Benar, yang di katakannya memang benar, jika ketiga orang di depannya orang jahat, mereka pasti akan membunuhnya saat ini.


Anak laki-laki itu kemudian memandang ke mulut Gua. “kakakku pergi ke dalam sana untuk mengambil air. Aku sudah lama menunggunya, jika kalian bersedia membantuku, tolong antarkan aku bertemu dengannya. Aku sangat khawatir dengan dia sekarang.”


“Kita akan pergi ke sana.” Seru Bing Jiazhi.


Zhu Nan mengangguk. Zhu Han tidak punya pilihan lain selain mengikuti mereka. Lagi pula tidak ada hal yang perlu mereka kerjakan, selain mencari para monster dan hewan buas.


...----------------...


Sore ini cahaya matahari terlihat lebih kuning dari sebelumnya. Awan-awan gelap itu sedikit menutupi cahayanya, namun itu tidak mengurangi keindahan suasana sore ini. Angin lembut pun berhembus dari selatan dengan lembut. Rumput-rumput panjang bergoyang-goyang dan kelopak-kelopak bunga Tabebuya berwarna kuning terus berguguran di sisi-sisi jalan desa salju.


Xue Yan berjalan di antara rerumputan yang tinggi tanpa alas kaki, tapi itu tidak membuatnya merasa sakit. Memegang sebuah payung, ia berjalan pelan.


Ketika tiba di salah satu pohon Tabebuya di pinggir desa yang sepi, ia terdiam. Kemudian menutup payungnya. Wajahnya yang kanak-kanakan terlihat sangat dewasa dan sangat serius.


Di bawah pohon itu, seorang pria tua memakai jubah berdiri. Ia tidak bergerak sedikit pun ketika Xue Yan tiba.


“Apa yang bisa aku lakukan demi hidup tidak berguna ini? Jika aku mati, aku takut itu bukan sesuatu yang aku inginkan. Jika menjalankan hidup ini, aku sudah bosan dengan semuanya. Aku datang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Tuan yang terhormat, bisa anda mengabulkannya?”


Angin lembut menggoyang-goyangkan bunga-bunga tabebuya yang berwarna kuning itu, dan membuatnya berguguran.


Pria itu menghela nafas panjang, seolah permintaan Xue Yan sulit untuk di kabulkan. Tapi... Memang begitu lah, permintaan Xue Yan tidak akan mungkin bisa pria itu wujudkan, karena manusia tercipta untuk lahir, merasakan sakit kemudian mati. Tidak ada yang mampu melepaskan jalan dari semua itu.


Xue Yan sedikit menggerakkan bibirnya. Ia kecewa telah datang ke sini untuk menanyakannya. Ia kembali membuka payungnya dan berkata, “Tuan terhormat, anda tidak bisa menjawab dan memenuhi keinginanku, biarkan aku saja yang akan mencarinya.”


Ia kemudian berjalan menjauhinya.


“Sampai kapan pun, kau tidak akan bisa menemukannya, “Seru pria itu, membuat Xue Yan terdiam.


“Karena anda tidak menemukannya, anda mengatakan itu.”


Xue Yan kemudian pergi dari sana