Alam Mandala

Alam Mandala
Cerita masa muda



Jiu jiu kemudian melompat di udara, sementara ular itu kemudian membuka mulutnya dan menyemburkan api biru yang sangat panas. Jiu jiu menyampingkan tubuhnya untuk menghindar dan terus mendekat. Ia lalu menarik pedangnya dan mengayunkannya ke arah mahkluk besar itu.


Dalam sekejap, kilatan putih muncul dan menebas-nebas tubuh ular itu dengan sangat cepat, yang bahkan itu terjadi dalam hampir kurang dari satu detik!


Ketika Jiu jiu melompat, potongan-potongan tubuh ular itu kemudian berjatuhan dan mengalirkan darah merah segar.


Dari kejauhan, Fang Enlai tersenyum puas. “Dia dengan mudah melakukannya.”


“Jiu jiu lebih berbakat daripada diriku. Meski pun ular itu sekarang sedang sakit, mengalahkannya saat ini dalam waktu latihan singkat, merupakan sebuah kemajuan yang besar. Sudah seharusnya aku dan dia akan menjadi pasangan dan menyelami dunia luar yang tanpa batas itu.”


Ketika mendengar itu, Fang Enlai tiba-tiba tidak berekspresi dan kemudian ia berbalik lalu pergi dari sana tanpa berkata sepatah kata pun.


Zhi Tianzhi kemudian menghela nafas. Ia tahu mengapa Feng Enlai pergi begitu saja. Tentunya kepergiannya dan Jiu Jiu akan membuatnya kesepian, tetapi Zhi Tianzhi tahu, jika ia tidak menguatkan tekadnya, maka ia tidak akan pernah melihat dunia luar yang penuh warna itu.


Maka dari itu, ia pun berusaha mengabaikan sikap Fang Enlai. Ia kemudian memandang Jiu jiu yang semakin mendekatinya. Tidak seperti sebelumnya yang lemah, Jiu jiu sekarang memiliki tampilan seperti seorang nona muda yang terhormat dan pandangan matanya sangat tajam, selain itu, cara berpakaian dan tindakannya saat ini, jauh dari kata ‘pelayan yang rendah hati’ ia sekarang adalah seekor elang yang mampu memandang jauh ke daratan dan mampu bergerak menukik tajam.


Jiu jiu kemudian berkata setelah tiba di depan Zhi Tianzhi dengan nada hormat, “Aku harus pergi demi tugas yang di berikan orang itu.”


“Aku akan ikut bersamamu.”


Jiu jiu tidak bereaksi apa pun, dan kemudian ia pergi dari sana.


Orang yang di maksud Jiu Jiu tidak lain adalah Huang Shu. Ia akan menjalani tugasnya sekarang untuk mencari Bing Jiazhi. Ia tidak peduli apakah pria itu sudah mati atau tidak, yang ia harus lakukan adalah mencarinya dan menyelesaikan tugas itu.


...----------------...


Malam harinya, Huang Tang berjalan menuju telaga di depan penginapan. Malam itu, begitu sunyi dam lampu-lampu telah di matikan, sementara lentera-lentera satu persatu mati karena tertiup angin. Para pelayan dan pengunjung lainya telah lama tidur, sehingga mereka tidak bangun menghidupkannya lagi.


Di telaga, kelopak-kelopak daun teratai dan bunganya bergoyang lembut karena angin, dan karena itu pula, gaun yang di kenakan seorang wanita yang berdiri di sana sedikit menari.


Saat Huang Tang tiba, wanita itu berbalik kemudian mendekatinya sambil berkata, “Kau bajingan!”


Wanita itu pun kemudian mendekatinya, lalu ia memegang tangan Huang Tang kemudian menjinjitkan kakinya. Setelahnya menciumnya lembut beberapa saat dan kemudian ia berkata sembari menyandarkan tubuhnya di dada pria itu, “Hanya seorang bajingan yang bisa meninggalkan istrinya yang sakit begitu lama di rumah ini tanpa penjagaan. Jika kau bukan bajingan, maka kau harus menjelaskannya dengan baik.”


Huang Tang kemudian membelai rambutnya lalu berkata, “ini masalah yang tidak terlalu penting untuk dibahas. Tetapi karena kau menginginkannya, maka aku akan mengatakannya. Aku hanya berjalan-jalan sebentar, tetapi kemudian aku terlena dengan beberapa tindakan orang-orang dan aku kemudian mengikutinya.”


“Penjelasan yang kurang baik.” Wanita itu kemudian memejamkan matanya.


Huang Tang mengelus kepalanya dengan lembut, dan setelah beberapa saat, ia kemudian membopongnya lalu duduk di padang rumput sana. Ia meletakkan kepala istrinya di pangkuannya dan beberapa kali membelai kepalanya. Perlahan-lahan tubuh istrinya yang sangat dingin mulai menghangat, dan membuatnya menghela nafas.


Ia kemudian berkata saat masih memandang telaga di depannya itu, “Nona, aku membenci orang-orang yang diam-diam mengikutiku. Cepat keluar, jika anda tidak mau di bunuh.”


Tidak lama kemudian, Zhizhu pun muncul dan berjalan mendekatinya. “Ada beberapa pertanyaan yang harus aku tanyakan kepadamu.”


“Tanyakan saja.”


“Pertama, bisa kau ceritakan bagaimana perjalananmu hingga bertemu dengan Dewi pedang bunga persik Utara?”


Huang Tang kemudian tersenyum dan tertawa. “ini kisah masa mudaku.” Ia kemudian menghela nafas lalu memandang telaga dengan tenang, “Ini cerita yang panjang, setidaknya jika kau tidak punya uang, tolong ambilkan selimut untuk istriku yang malang ini.”


Zhizhu kemudian memandang wajah tenang istri Huang Tang, ia pun menjadi penasaran dengan wajahnya yang sedikit bercahaya dan memancarkan aura yang sangat misterius, maka dari itu ia pun bertanya sembari ia kemudian duduk, “Siapa namanya?”


“Shao Dong’er, wanita satu-satunya yang aku miliki sekarang.”


Zhizhu tidak bertanya lagi setelah ia melihat perubahan ekspresi di wajah Huang Tang. Wajahnya itu terlihat lebih serius dan penuh dengan kehati-hatian. Zhizhu tidak tahu apa yang menyebabkan Huang Tang bersikap seperti itu. Tapi, jika ia mau mendapatkan informasi tentang Dewi Pedang itu, maka ia harus menjaga mulut dan rasa penasarannya. Ia lalu terdiam kemudian berdiri dari sana dan pergi mengambil selimut.


Tidak lama kemudian kembali lagi dan duduk sembari ia menyerahkan selimut itu.


Huang Tang berkata terima kasih dan menyelimuti perut istrinya dengan pelan.


Zhizhu tidak tahan berkata saat ia melihat adegan itu dan mengatakan, “itu adalah sesuatu yang sangat romantis. Alangkah beruntungnya istrimu memiliki pria sepertimu.”


“Tidak.” Huang Tang kemudian memandang Zhizhu. “Dia selalu mengatakanku sebagai ‘bajingan’ anjing penurut’ Pria ter-berengsek yang pernah di lihatnya, ‘keledai hidung besar dan ‘bebek hitam.”


“Tapi itu mengisyaratkan jika kalian sangat akrab.”


Huang Tang kemudian tertawa lalu ia menghela nafas dan mengeluarkan botol araknya. Setelah meminumnya, ia kemudian berkata, “Tidak, tapi kata-kata itu adalah sebuah kebencian yang mendalam untukku.”


“Mengapa bisa begitu?”


“Karena begitu banyak hal buruk yang aku lakukan kepadanya.” Setelah beberapa saat terdiam, Huang Tang kemudian berkata lagi, “Nona, ini adalah perjalananku di saat masa muda, saat berguru dengan Dewi pedang.”


Zhizhu terdiam dan jantung berdetak lebih lambat setelah mendengar ucapan itu. Ia tahu jika Huang Tang bukan sosok sembarangan, tetapi ia tidak menyangka jika Huang Tang adalah murid dari Dewi Pedang! Selain itu, bagian Utara begitu jauh dan harus menyeberangi dataran salju yang lebat dan penuh bahaya, hanya sedikit orang yang bisa menyeberanginya.


Jika apa yang Huang Tang katakan benar, maka ia adalah sesosok yang sangat mengagumkan!


Huang Tang kemudian berkata, “ketika masih kecil, aku di pungut oleh seseorang gadis dan neneknya yang sangat cantik. Waktu itu...