
Pagi ini Bing Jiazhi lebih sehat dari sebelumnya. Ia menikmati pagi dengan pemandangan yang indah dan hembusan angin yang selalu membawa harum bunga-bunga lentera biru.
Di beberapa titik di halaman rumah, pohon-pohon besar tumbuh, daun-daunnya berguguran satu persatu. Pemandangan ini sangat mengagumkan.
Setelah sedikit matahari naik, Zhu Nan dan Zhu Han datang mengunjungi Bing Jiazhi. Bing Jiazhi mengepal tangan dan menunduk untuk memberi hormat. Zhu Nan dan Zhu Han ikut menundukkan kepala untuk memberi hormat. Rasa hormat mereka terhadap adik Juniornya tinggi. Terlebih lagi, kejutan yang telah mereka lihat di hutan, yang mana itu sangat membuat mereka terkejut dan penasaran dengan tingkat kultivasinya.
“Adik Junior, bagaimana dengan lukamu?” Tanya Zhu Nan. Ia telah mengetahui apa yang terjadi dari kakaknya.
“Aku baik-baik saja.”
Zhu Han yang masih penasaran dengan sosok indah itu tidak bertahan ingin bertanya, “Di mana istrimu, adik Junior?”
Zhu Nan terkejut. “istri? Adik Junior, apakah kau telah menikah?”
Bing Jiazhi tidak menganggap apa-apa tentang pertanyaan itu, oleh karenanya ia menjawabnya dengan tenang, “Iya. Dia telah pergi.”
“Ke mana?” tanya Zhu Han.
“Aku tidak tahu. Ayo kita pergi.” Bing Jiazhi kemudian mengambil pedang dan mengaitkan di punggung, kemudian pergi. Zhu Nan dan Zhu Han hanya bisa mengikutinya.
...----------------...
Setiap Ketua akan menjadi wali setiap kelas, sementara yang lainnya akan memberikan pelajaran masing-masing bidang yang mereka kuasai.
Mereka semua memiliki tanggung jawab atas kelas masing-masing. Oleh karena itu, kelas Bing Jiazhi memiliki seorang wali. Menurut kabar yang Bing Jiazhi dengar, orang yang menjadi wali kelasnya adalah seorang wanita anggun yang sangat tegas. Ia kadang-kadang ke kelas, sepanjang tahun, terdengar Tiga kali ia ke kelas. Tidak jelas apa yang membuatnya seperti itu. Meski sikapnya seperti itu, anehnya tidak ada yang menghukumnya.
Pelajaran pertama, ketua yang mengajar seorang wanita tua. Ia mengajarkan ulang dasar-dasar yang perlu di ketahui tentang gulungan, Tingkat kultivasi dan apa itu inti Mandala.
Sesuai namanya, inti Mandala adalah sebuah pusat atau lebih tepatnya seperti biji tumbuhan, dan latihan-latihan akan memberikan pupuk dan air untuk biji itu sehingga akan tumbuh menjadi tanaman dan semakin berkembang. Dengan seperti itu, maka tanaman itu akan tumbuh dan berbuah. Buah-buahan itulah yang harus di dapatkan melalui gulungan- gulungan untuk menambah kekuatan seseorang.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya pelajaran pertama yang membosankan akhirnya selesai.
Setelah wanita itu keluar, tidak lama setelahnya seorang wanita berpakaian merah merona datang. Ia membawa tiga gulungan dan berjalan dengan anggun.
Meletakkan gulungan itu kemudian memandang murid-muridnya. “Siapa di sini yang namanya Bing Jiazhi?”
Semua orang menatap Bing Jiazhi dan mulai berpikir masalah apa yang telah ia lakukan lagi sehingga wali kelas memanggilnya. Para murid pun mulai berbisik membicarakannya, tapi Bing jiazhi tidak peduli sama sekali.
Bing Jiazhi berdiri.
Zhu Nan dan kakaknya hanya diam kali ini, mereka menunggu penjelasan yang datang.
Wanita itu mengangguk. “Ikut aku.”
Ia kemudian berbalik dan berjalan keluar, membuat pita merah di rambutnya bergoyang-goyang.
Bing Jiazhi berjalan ke luar. Setelahnya terdengar keributan di dalam kelas, yang mana itu tidak lain membicarakannya. Bing Jiazhi tidak mempedulikannya.
Wanita itu membawanya ke rumah Hao Yu. Di sana Xue Ni duduk bersama anaknya. Ia memegang satu tangan Xue Yan dan memotong kukunya dengan pisau kecil.
Gadis itu terlihat sangat ketakutan saat ibunya melakukan itu. Jika bisa, ia ingin pergi, tapi melihat tatapan ibunya yang seperti harimau, ia tidak berani melakukannya.
Wanita berpakaian merah itu kemudian memberikan hormat kepada Xue Ni. “Master, aku telah membawanya.”
Xue Ni mengangguk. “Kau boleh pergi sekarang.”
Wanita itu kemudian pergi dari sana.
“Kakak Bing, terima kasih.” Xue Yan berkata.
Xue Ni melepaskan tangan anaknya, kemudian berkata, “Bagaimana perkembanganmu?”
“Lumayan guru. Sekarang aku telah mencapai alam ketua ahli.”
“Kau benar-benar melampaui harapanku. Apakah kau telah menemukan gulungan yang cocok?”
Bing Jiazhi mengangguk. “Aku sudah memilih gulungan seribu pedang.”
“Gulungan seribu pedang...” Xue Ni berpikir sebentar. “Gulungan ini berada di tingkat sedang, tapi seiring waktu berjalan, Gulungan ini bisa menjadi sangat kuat. Di dalamnya, kau mampu mengendalikan lima pedang elemen alam. Pilihan yang sangat bagus. Di mana itu?”
“Aku akan mendapatkannya.”
“Kau telah mengetahui di mana tempatnya?”
Bing Jiazhi mengangguk. “Aku harus pergi beberapa hari untuk mendapatkannya.”
“Terima kasih guru.” Bing Jiazhi memberi hormat dan pergi dari sana.”
“Ibu, ke mana dia akan pergi?” tanya Xue Yan setelah melihat Bing Jiazhi pergi.
“Ibu tidak tahu.”
...----------------...
Xiang We menyisir rambutnya dengan pelan di depan cermin. Tubuhnya sangat elegan terlihat dari belakang. Setelahnya, ia mengikatnya dengan rapi.
Di kanan tempatnya berada jendela terbuka dan angin lembut berhembus meniupnya. Kecepatan angin ini sangat lembut dan menyejukkan.
Xiang Wei kemudian memandang wajahnya di dalam cermin. Ia sangat cantik dengan kulit putih.
Tidak lama kemudian, iba-tiba angin yang berhembus menjadi lebih pelan, tapi masih sangat menyejukkan.
Di dalam kamar itu, lilin-lilin dan lampion telah di nyalakan, yang masih tertinggal sedikit.
Xiang we berdiri dan berucap, “Semua orang mengincar gulungan itu, jika kau mau, ambil saja di meja dekat lampion.”
Seseorang berpakaian hitam telah berdiri tepat di belakangnya dan sudah bersiap untuk membunuh Xiang wei. Entah kapan ia berada di sana.
“Tidak ada gunanya untukku. Dan lagi pula dengan gulungan itu, hidupku akan terancam.”
Setelah merasa semuanya aman, Pria itu kemudian memasukkan kembali pedangnya. “Kau begitu pintar.”
Pria itu kemudian berjalan mendekati meja. Ia mengambil gulungan di meja dan menghilang.
Tidak lama kemudian, terdengar suara jeritan kecil dari tempat kejauhan.
Xiang we berjalan mendekati jendela. Di sana terlihat rumah-rumah penduduk yang di penuhi lampu-lampu. Dan dari kejauhan, langit malam yang sangat indah terlihat dan di penuhi bintang-bintang.
Xiang we telah menyadari jika membawa gulungan itu, ia akan terus dalam terancam. Oleh sebab itu, ia telah menyembunyikannya dan membuat yang palsu dengan jebakan. Sehingga gulungan itu akan selalu aman.
Ia kemudian memandang ke bawah, di mana Bing Jiazhi berjalan masuk.
Ia kemudian pergi menghampirinya.
Setelah ia pergi keluar, Bing Jiazhi berdiri membelakanginya. Ia kemudian berjalan mendekatinya.
Ketika ingin berbicara, Bing Jiazhi memulai, “Kita akan pergi besok.”
...----------------...
Malam hari, terlihat kerta kuda berjalan pelan melintasi desa, kemudian melewati pepohonan yang rindang. Dan suara pun semakin mengecil dan mengecil, hingga hanya suara kuda dan roda kereta kuda terdengar. Suasana di malam ini sangat tenang. Angin berhembus begitu pelan, tapi kenyamanan dan kesejukan hutan tidak begitu dingin.
Dalam kereta kuda, Xiang we menyibak korden untuk melihat ke luar. Ia melihat kegelapan malam dan rimbun pohon yang tidak ada habisnya. Ia mulai bertanya-tanya, mengapa mereka harus pergi di malam hari yang berbahaya seperti ini?
Semua orang tahu, jika berpergian di malam seperti ini akan sangat berbahaya. Para bandit akan keluar dan menyerang mereka. Sangat tidak baik jika melakukan bepergian di saat malam hari, apalagi tengah malam seperti ini.
Ia kemudian duduk dan bertanya dengan penasaran, “Mengapa kau memilih malam hari untuk pergi?”
Bing Jiazhi duduk di seberang memeluk pedangnya dan menutup mata. Ketika mendengar pertanyaan Xiang we, ia membuka matanya pelan, kemudian menjawab, “Aku dengar para bandit di sini sangat pintar dan cerdas. Jika kita memilih perjalanan di siang hari, itu adalah jebakan.”
“Jebakan apa?”
“Aku tidak tahu.”
Suasana kembali tenang dengan suara kaki kuda yang berlarian. Bing Jiazhi kembali menutup mata dan tertidur. Sementara Xiang we berpikir tentang balas dendamnya kepada pemerintah daerah selatan yang telah membuat kematian adiknya tidak tenang. Ia tidak memikirkan jebakan apa yang di bicarakan Bing Jiazhi, dan jika nanti ada orang yang menghadang, Xiang we percaya ia mampu mengatasinya. Setelah berpikir, ia mengangkat sedikit wajahnya memandang pria yang telah tertidur dengan tenang. Ia sebenarnya tidak mau mengganggunya, tapi ini sesuatu yang penting. “Kita harus mampu membunuh pejabat itu.”
Bing Jiazhi tetap diam dan menutup matanya, tapi Xiang we tahu Bing jiazhi mendengarkannya, oleh karena itu, ia melanjutkan, “pejabat itu adalah seorang gubernur kota yang ada di kota Jiangsu, kota terdekat dari desa Laut Biru. Namanya Chao Ming, seorang pria paru baya yang sangat baik memerintah daerah tersebut. Semua orang sangat mengagung-agungkannya, tapi bagi sebagian orang, mereka sangat membencinya. Mereka yang mengagumkannya karena tetap mempertahankan tradisi yang telah bertahun-tahun di pertahankan. Mereka yang membencinya karena tidak suka dengan tradisi tersebut, menurut mereka, tradisi itu sangat tidak adil dan memihak.”
Bing Jiazhi kembali membuka matanya. “Karena dia seorang pejabat, tentunya dia ingin mempertahankan apa pun yang membuat kekuasaannya tetap bertahan, dan melawan semua yang mengancam posisinya. Dia tidak salah.”
“Apakah kau membela Gubenur itu?”
“Tidak. tapi itulah sikap alami manusia untuk mempertahankan diri.”
“Benar sekali. Semua orang akan memilih untuk menyerang atau bertahan.”
Xiang we ingin melihat ke luar lagi, tapi kereta kuda tiba-tiba berhenti dan mereka mendengar suara dari luar.
“Hey! Jangan menghalangi kami!”