Alam Mandala

Alam Mandala
Pembunuhan?



Waktu dengan cepat berlalu, sudah 10 hari penyiksaan terus di lakukan oleh para bandit itu kepada Bing jiazhi. Selama itu juga, ia harus menanggung rasa sakit yang luar biasa, tetapi ia memahami mengapa Xue Ni melakukan itu dan sangat berterima kasih setelah di berikan latihan seperti itu.


Walaupun itu sangat menyakitkan, tetapi manfaat yang di berikan sangat membantunya untuk berkembang.


“Apakah kau sudah mengetahuinya?” tanya Xue Ni berdiri di depan Tebing menatap pohon-pohon di depannya.


Di bawahnya lagi ada Tebing, beberapa tingkat, membentuk undakan.


Bing jiazhi mengangguk. “Dengan guru memberikan latihan seperti itu, aku jadi mengerti, latihan itu membentuk fisik, tetapi juga membentuk emosional. Jadi, bisa dibilang, satu latihan membentuk dua kekuatan; internal dan eksternal.”


“Apakah sekarang kau ingin mendapatkan gulungan untuk memberikan teknik kepada kekuatanmu?”


“Tentu saja guru!” Bing jiazhi menjawab dengan antusias.


“Maka dari itu, aku memerintahkanmu untuk lari menuruni tebing dan menaikinya lagi dalam 1000 kali. Apakah kau sanggup?”


Bing jiazhi tercengang mendengarnya, tetapi ia tidak punya pilihan lain selain menerimanya.


“Aku akan kembali setelah kau menyelesaikannya.”


...----------------...


Bing jiazhi dengan antusias melakukan latihan-latihan. Ia berlari, menuruni tebing yang curam, berlari lagi dan menuruni tebing lagi.


Hari-harinya ia terus melakukan lari tanpa kenal lelah. Bahkan, ia juga terlihat sering berlatih di malam hari demi meningkatkan kekuatannya.


Motivasinya hanya satu, yaitu ingin membalaskan dendam dan membunuh semua orang yang telah mengkhianatinya.


Walaupun sangat berat dan menyakitkan, Bing jiazhi terus melakukannya. Ia bahkan sampai rela tidak tidur hanya ingin berlatih teknik pedang dari Xue Ni.


Xue Ni sangat menghargai kerja keras Bing jiazhi, sehingga ia kadang-kadang diam-diam menyembuhkan pemuda itu, tetapi tidak sampai sembuh total; hanya lima puluh persen saja.


Dengan kegigihannya, akhirnya dalam satu bulan setengah, Bing jiazhi akhirnya menyelesaikan latihan-latihannya.


“Guru, apakah aku sekarang akan memancing ikan?” Bing jiazhi sangat antusias ingin memancing dan membuktikan diri, sekarang, dia bisa melakukannya.


“Ikut aku.”


Bing jiazhi tidak bertanya dan hanya mengikutinya.


...----------------...


Tidak seperti sebelumnya yang sepi, desa Suji terlihat sangat ramai dan di penuhi orang lalu - lalang dan bercakap-cakap.


Bing jiazhi terkejut dengan suasana baru ini dan ia terlihat bertanya-tanya bagaimana bisa desa yang murung sebelumnya bisa ramai seperti ini.


“Desa ini terkena kutukan.” Xue Ni tiba-tiba berceloteh. “Kau tidak perlu bersikap seperti itu, anggap saja ini merupakan hal biasa.”


Bing jiazhi tidak berkata, tetapi ia mengerti apa yang Xue Ni katakan.


“Tuan, tolong aku, aku lapar.”


Tiba-tiba seorang gadis menarik baju Bing jiazhi.


Bing jiazhi memandangnya dingin. Kemudian mendorong gadis itu hingga terjatuh.


Gadis itu tercengang dan bertanya-tanya apa salahnya, tetapi, Pedang Bing jiazhi memenggal kepalanya dan darah segar keluar.


“pembunuhan!”


Salah satu warga berseru dan dalam sekejap orang-orang mulai membicarakannya. Mereka tidak akan pernah menyangka jika ada orang yang berani membunuh orang-orang di siang hari, apalagi jika itu dalam keadaan ramai seperti ini. Benar-benar tindakan yang nekat!


Tetapi, tidak satu pun yang berani mendekati Bing jiazhi atau pun ingin menangkapnya.


Para penduduk tahu, jika pedang yang di gunakan untuk membunuh gadis itu, bukan pedang besi, melainkan pedang kayu. Membuat mereka yakin, orang yang melakukan pembunuhan itu bukan orang sembarangan. Tetapi, bukan berarti mereka akan diam setelah melihat pembunuhan itu.


“Pembunuh! Kenapa kau membunuhnya!?”


Seorang wanita paruh baya menghampiri mayat itu dan menangis tersedu-sedu sembari mengutuk Bing jiazhi.


Namun, Bing jiazhi terlihat sangat tenang dalam situasi seperti itu.


“Mengapa kau melakukannya?” tanya Xue Ni tenang di sampingnya.


“Tetapi dia seorang anak kecil.”


“Dia tidak layak untuk hidup.”


Bing jiazhi Kemudian berjalan melintasi orang-orang tanpa mempedulikan apa yang terjadi di sekitarnya.


Xue Ni menatap wanita paru baya itu dengan kasihan, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa sekarang.


“Sungguh tidak tahu malu.”


Kepada siapakah Xue Ni berkata seperti itu? Apakah kepada gadis itu, atau kepada Bing jiazhi? Tidak ada yang tahu.


Xue Ni kembali berjalan menyusul Bing jiazhi.


Tidak lama setelahnya, seseorang berpakaian hitam berlari melintasi Bing jiazhi dengan kecepatan tinggi. Namun, orang itu harus mendapat kejutan dari Bing jiazhi, karena tangan keras Bing jiazhi berhasil mendapatkan lehernya dan membanting pria itu dengan sangat keras, membuat lehernya hancur dan remuk, bahkan tulang-tulangnya hancur menjadi ribuan keping dan tersebar ke mana-mana dengan darah merah segar.


Semua orang yang ada di sekitarnya tidak bisa bertahan untuk berteriak dan berlarian.


Wajah pria berpakaian hitam itu terlihat sangat mengerikan; kedua matanya nyaris keluar, mulutnya berbuka lebar dengan darah keluar dan lidah yang menjulur.


Kedamaian tempat itu dengan tiba-tiba runtuh, seperti minyak panas yang di tuangkan air.


Namun, Xue Ni hanya memandangnya dingin dan tanpa berkata apa pun.


Setelah membantingnya, Bing jiazhi mengambil sekantong koin yang di bawa Pria itu, kemudian melemparkannya kepada seorang gadis yang dari tadi terpaku menyaksikan adegan itu.


“A-apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak sampai membunuhnya.” Ujar gadis itu setelah sekantong uangnya kembali.


“Mereka tidak layak untuk hidup.”


Bing jiazhi lalu berjalan bersama Xue Ni.


“Apakah kau layak untuk hidup setelah membunuh orang dengan keji seperti itu?” seru gadis itu setelah melihat Bing jiazhi yang seolah menganggap dirinya benar.


Bing jiazhi berbalik menatapnya. “Apakah kau layak atau tidak, itu tergantung kepada dirimu sendiri.”


Ia kemudian berjalan tanpa mempedulikan gadis itu lagi.


Gadis itu terdiam. Jika apa yang di katakan Bing jiazhi, ia memahami, jika layak hidup dan matinya seseorang tergantung kepada kita sendiri. Jika begitu, maka kebenaran hanya berada pada tangan sendiri, bukan orang lain. Tetapi untuk mengadili seseorang, kau harus memiliki kekuatan dan kekuasaan.


Gadis itu tersenyum manis dan memandang mayat pria itu; pria yang telah melakukan onar di desa Sigi. Apakah layak mendapatkannya? Tentu saja, pencuri adalah sebagai dari sampah masyarakat yang harus di basmi.


Gadis itu kemudian memandang Bing jiazhi dan berkata, “Kau terlalu percaya diri, tetapi aku sangat menyukainya.”


“Bagaimana mungkin kau menyukai seorang yang tega membunuh seorang gadis tanpa belas kasih?”


Wanita yang menjadi ibu anak gadis tadi menghampiri gadis itu dengan perkataan yang mengejek.


“Itu salahmu.... Kau seharusnya tidak membiarkan anak gadismu mengganggunya.”


Gadis itu kemudian pergi dari sana tanpa mempedulikan wanita paru baya itu.


...----------------...


Setelah berjalan-jalan beberapa saat, akhirnya mereka tiba di tempat penjual gulungan. Di sana ada banyak sekali gulungan-gulungan.


“Nyonya, aku ingin membeli salah satu gulungan anda. Yang manakah gulungan untuk pendekar pedang?” Tanya Xue Ni dengan lembut.


Wanita paru baya berpakaian hitam itu yang sebelumnya menutup mata akhirnya membukanya.


Ia tidak menjawab, tetapi menggerak-gerakkan tangannya.


Beberapa gulungan-gulungan terangkat dan terbang mendekati Bing jiazhi dan Xue Ni.


“Yang mana yang ingin kau miliki?” tanya Xue Ni kepada Bing jiazhi.


Bing jiazhi berpikir sebentar, kemudian memilih gulungan yang paling tua di antara yang lainnya. Kemudian bertanya berapa harganya.


“Berapa pun, terserah dirimu.” Jawab wanita itu dengan nada malas.


“Bagaimana dengan 1000 keping emas.”