
Keesokan harinya, awan-awan menutupi langit dengan riangnya, membuat sinar matahari yang indah itu tertutupi. Tidak ada celah di langit sama sekali, dan angin pun tidak bertiup kencang. Tapi, ketika beberapa saat berlalu, tiba-tiba angin berhembus dari selatan beberapa saat. Lalu terdengar suara petir yang menggelar.
Bing jiazhi duduk di depan kamarnya sembari ia menatap langit. Meski langit tidak cerah hari ini, suasana hatinya sangat nyaman, terlebih ia bersemangat untuk mempelajari gulungan seribu pedang lagi.
Pagi itu, ia memesan air panas dengan perasan jeruk. Tidak lama setelahnya, datanglah seorang pelayan dan menghidangkannya.
Setelah pelayan itu pergi, Bing Jiazhi tidak kunjung mengambilnya, ia tiba-tiba teringat dengan apa yang di katakan Xue Ni mengenai gulung itu. Xue Ni pernah mengatakan jika gulungan pedang itu mengandung lima elemen. Jika itu benar, maka lima dari sembilan gambar pedang yang ada, merupakan pedang elemen.
Maka dari itu, jika itu benar, maka sudah dapat di tebak pedang-pedang apa lagi yang ada di dalamnya. Api, petir, tanah, angin, sudah pasti berada di dalamnya, tetapi empat pedang lagi pedang apa?
Pertanyaan itu membuat Bing Jiazhi penasaran dan ingin langsung beranjak berdiri dan melatih gulungan itu lagi, tapi ia berusaha menahan diri, karena tubuhnya belum sepenuhnya baik, dan ia juga belum sarapan.
Ia lalu mengangkat cangkir di meja dan meminumnya.
Suasana pagi itu terasa sangat nyaman dan tenang. Tidak ada orang-orang yang keluar dan menimbulkan keributan, bahkan angin pun terasa tidak berhembus. Mungkin belum saatnya pengunjung terbangun.
Setelah meminumnya beberapa saat, ia menghela nafas. Bing jiazhi merasa rasa asam di minuman terasa lebih segar dan manis dari sebelumnya. Apakah itu karena lemon yang di pakai lebih baik, atau mungkin karena ia telah lama tidak meminumnya lagi.
Bing jiazhi pagi ini hanya duduk dan menikmati suasana yang ada, kemudian ia berencana akan tetap seperti itu hingga larut malam, dan setelahnya akan pergi mempelajari Gulungan itu lagi. Mungkin lima hari ke depan, ia akan tetap berada di penginapan dan mempelajari Gulungan itu.
...----------------...
Setelah beberapa saat alam terasa mati, pada akhirnya awan-awan hujan di langit bergerak lebih kencang. Lampion-lampion teratai yang tergantung di sudut-sudut atap penginapan mulai bergoyang-goyang. Angin kemudian berembus kencang dan satu persatu butiran hujan mulai terjatuh.
Saat beberapa butiran-butiran itu menyentuh telaga yang ada di taman, terlihat permukaan air itu melompat-lompat, berkeciprak, sementara memperlihatkan bentuk bunga.
Beberapa titik, itu seperti hujan meteor.
Shao Dong’er dengan pakaian hitamnya berdiri di dekat telaga sembari menatapnya. Ia tidak memakai alas kaki, membuat kakinya di aliri air hujan. Dan dengan memakai gaun panjang, beberapa tetes air hujan menyentuhnya dan mulai membasahinya.
Ia tidak merasa kedinginan ataupun merasa menikmati butiran-butiran hujan yang berjatuhan, yang ia lihat dan rasakan sekarang, adalah masa lalunya dan keinginannya untuk tidak bergantung kepada orang lain, lalu menjadi wanita yang kuat tanpa seorang pun di sisinya. Namun, sayangnya, itu adalah keinginan yang mustahil di lakukan sekarang, setelah ia mengetahui memiliki penyakit langka yang sulit di sembuhkan.
Gurunya pernah berkata, jika penyakitnya akan sembuh setelah ia bersama Huang Tang, tapi tidak tahu kapan itu akan sembuh. Perkataan itu membuat Shao Dong’er kecewa dan sedih.
Tapi seiring berjalannya waktu, ia mulai menerimanya dan juga berusaha tidak bergantung kepada orang lain, lalu tidak juga menjadi beban. Sayangnya, suaminya telah berkhianat dan menipunya.
Beberapa hari yang lalu, Huang Tang pergi karena ingin bertemu seseorang, tapi ternyata ia pergi untuk mencarikan obat untuknya.
Shao Dong’er di tipu, tapi yang paling membuatnya kecewa, Huang Tang mengambil resiko demi mendapatkannya, itulah yang membuatnya marah dan kecewa. Dan dua hari yang lalu, pada saat malam itu, ternyata Huang Tang kembali mengorbankan umurnya untuk menolong dirinya. Itu adalah hal sangat di bencinya. Jika pun ia mati nanti, setidaknya ia ingin mati karena telah berjuang dan perjuangannya itu tidak memberatkan orang lain. Tapi sekarang, bukan hanya memberatkan, ia juga merasa sangat membenci kelemahannya itu.
Ia tahu dari pernikahannya, jika ia tidak akan bisa hidup tanpa menjadi beban, karenanya, jika tidak bisa, maka setidaknya ia bisa meminimalisir hal itu terjadi, tapi sayangnya ia tidak bisa mengendalikan sikap suaminya itu. Kejadian itu adalah pertama kalinya ia ketahui, dan itu mungkin sekian kalinya terjadi tanpa ia ketahui.
Shao Dong’er kemudian meneguk ludahnya kemudian menghela nafas.
Tidak lama kemudian, seseorang berpakaian hitam berjalan dari dalam penginapan. Ia kemudian berhenti di belakang Shao Dong’er, sangat dekat, tapi Shao Dong’er terdiam, seolah-olah ia tidak menyadarinya.
Pria itu kemudian mengambil beberapa helai rambutnya terurai dan mengangkatnya, lalu menciumnya dan berkata penuh godaan, “Wanita seindah dirimu berdiri seperti ini, siapa yang tidak akan tertarik?”
Pria itu kemudian berjalan di sampingnya. “Siapa namamu, nona?”
“Aku sudah mempunyai anak.”
“Tapi di mataku kau masih terlihat muda.”
Shao Dong’er tidak menjawabnya. Ia tetap memandang pohon-pohon dan pemandangan yang tersaji di depannya.
...----------------...
Ketika melihat Shao Dong’er berdiri di dekat telaga tanpa alas kaki, Huang Tang merasa kasihan kepadanya dan ia tidak mau melihat Shao Dong’er menyiksa dirinya sendiri, oleh sebab iu, Huang Tang berbalik pergi ke dalam kamarnya mengambil Sandal kayu yang di penuhi hiasan-hiasan bunga. Sandal itu terbuat dari pohon Magnolia dan ada beberapa ukiran-ukiran di talinya yang berwarna merah. Sementara di alasnya, ada ukiran-ukiran tanaman bunga rambat.
Huang Tang kemudian berbalik pergi setelah mengambil payung.
Ketika hendak melangkah mendekati Shao Dong’er, ia melihat seorang pria memegang helaian rambutnya. Ia berdiri mematung memandangnya, kemudian ia menghela nafas. Ia merasa marah dan cemburu melihatnya, tapi muncul di pikirannya, apakah salah wanita itu memiliki lebih dari satu laki-laki? Shao Dong’er sejak pernikahannya, ia terlihat sangat tidak penyayang, dan pernikahannya di lakukan karena suatu alasan penting, jadi mungkin Huang Tang bukan sosok yang di inginkannya.
Beberapa saat pria itu bercakap-cakap dengan Shao Dong’er kemudian akhirnya berbalik pergi.
Pria itu sangat tampan, meski sudah berumur. Ia memiliki Wajah yang lembut dan ketika rambutnya terurai, tampak lebih anggun.
Pria itu tidak mengatakan apa pun ketika melintasi di samping Huang Tang.
Setelah pria itu pergi, barulah Huang Tang mendekati Shao Dong’er yang terlihat cantik dari belakang.
Ia kemudian menaruh sepasang sandal itu di depan kaki Shao Dong’er. Shao Dong’er kemudian memandang sandal itu beberapa saat. Ia kemudian berbalik pergi tanpa berkata-kata, meninggalkan Huang Tang sendirian.
Huang Tang hanya bisa menatapnya sembari ia bertanya-tanya mengapa Shao Dong’er begitu marah dengannya.
Apa yang di lakukannya murni hanya untuk melindungi kekasihnya sendiri, apakah salah melakukannya?
Huang Tang kemudian mengambil sepasang sandal itu kemudian berdiri dan memandang telaga.