
“Benar. Salah satu makhluk yang sangat menakutkan. Si tua itu akan mengirim mahkluk ini untuk membunuh setiap orang yang keluar dari kediaman. Berhati-hatilah.”
Mereka kemudian pergi dari sana dan kembali ke pohon.
“Apakah ini ada hubungannya dengan kesedihanmu?”
Bing jiazhi mengangguk. “Aku adalah anak adopsi dari keluarga ini dan di benci oleh nenek itu, aku harap semua orang yang bersamaku tidak berakhir mengenaskan.”
Jiu jiu terkejut dan tidak pernah menyangka jika itu yang akan di bicarakan olehnya.
“Kau pergilah, jika kau merasa takut.”
“Tidak. Kita di sini berada di posisi yang sama. Setelah kepergian Nona Huang Shu, kau terlihat kesepian sama sepertiku. Jika kau menginginkannya, kau boleh menganggapku sebagai temanmu.”
Bing Jiazhi tertegun mendengarnya dan tersenyum sumringah. “Baiklah.”
Ia pun menjalin pertemanan dengan Bing Jiazhi. Karena ia adalah anak pelayan, maka mereka diam-diam bermain di taman belakang dan jalan-jalan melihat laut. Tanpa di sadarinya muncul sebuah perasaan di dalam dirinya.
Tetapi, semuanya hancur begitu saja ketika ia mendengar pernikahan antara Huang Shu dan Bing Jiazhi.
Ia menulis di Diary-nya, “Seperti dua bunga berkembang indah, tetapi tidak akan pernah berbagi lebah yang sama, walaupun angin pernah meniupnya.”
Di bawahnya, ia menulis, ‘Sayap kiriku.’
Jiu jiu menghela nafas dan menutup bukunya. Ia kemudian menatap pemandangan di luar. Genangan-genangan air sangat jernih di halaman rumah. Gelombang-gelombang terlihat di sana, saat angin meniupnya, dan genangan itu memantulkan wajah biru dan awan putih di langit.
Di pegunungan yang indah nan jauh, pelangi muncul, membuat jiu jiu dengan tenang memandangnya sembari cahaya orange matahari mulai meredup.
...----------------...
Keesokan harinya ketika matahari belum terbit, kereta kuda keluar dari gerbang sekte Bambu.
Orang yang mengendarai adalah seorang pria berpakaian hitam dengan topi capil. Ia memacu kudanya dan dengan cepat seolah ia kini tengah di kejar.
Ketika ia berada beberapa meter dari gerbang, sekawanan burung gagak berterbangan di atasnya. Burung-burung itu berteriak-teriak keras, membuat Pria itu memandangnya. Alis kedua pria itu sedikit melengkung ke bawah, ia heran, bagaimana bisa ada kawanan gagak sebanyak ini di sini.
Selama ia memandangnya, tiba-tiba sosok berjubah hitam berada di depannya. Ia terkejut dan menarik tali panjangnya. Kuda-kuda mengangkat kaki depannya dan berteriak lalu menjatuhkannya untuk berhenti.
Untung saja, pria itu tidak mengenai peria berjubah itu.
Sosok di depan berdiri sama persis dengan pakaian yang ia kenakan, hanya saja, ada tato naga di lengannya dan lebih gagah.
“T-tuan, maaf atas kesalahanku.” Pria kusir mengepalkan tangan dan meminta maaf dengan ragu-ragu. Ia merasa sosok di depannya sangat kuat dan memiliki aura intimidasi.
Pria itu mengangkat topi Capil. Tiba-tiba wajah pria kusir menjadi pucat dan tubuhnya bergetar. Ia ingin berteriak, tetapi hanya eraman yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya secara otomatis mundur dan tanpa di sadari menabrak kudanya.
Ia berbalik dan ingin berlari secepat mungkin dari sana dan berteriak-teriak.
“Dia datang....!”
“Dia datang....!”
“Dia....”
Dari bayangan yang muncul akibat cahaya bulan, terlihat tubuh pria itu hancur menjadi tumpukan daging dan tersebar ke mana-mana.
Kepalanya tergeletak di tanah dengan darah yang sangat banyak. Wajah kepala itu di lumuri darah dan memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat menyeramkan, seperti ia sedang melihat hantu.
...----------------...
Huang Shu dan Jiu jiu memandangnya dari atas tebing.
Wajah Jiu jiu sangat khawatir dan menatap cahaya itu tidak percaya, sementara Huang Shu menatapnya dengan dingin.
“Nona, apakah kita akan aman pergi sekarang?” jiu jiu bertanya dengan gemetaran.
Orang-orang yang berani melakukan penyerangan di dekat sekte bambu pasti bukan orang sembarangan. Ia yakin, jika orang itu melakukan itu pasti karena ingin membunuhnya dan Huang Shu.
Kereta kuda itu adalah kereta yang sebelumnya di persiapan untuk mereka pergi. Mereka memang masuk ke dalamnya, tetapi di jalan mereka turun tanpa sepengetahuan kusir.
Jiu jiu pikir, mungkin akan di serang di luar desa dan hanya beberapa pasukan yang akan menghalangi mereka, tetapi ternyata tidak, Orang yang menyerang mereka sangat misterius dan mungkin sangat kuat.
“Tidak perlu di pikirkan. Setelah mencapai tempat aman, kau boleh pergi ke mana pun yang ingin kau tuju. Tempat ini sangat berbahaya.”
“Tidak Nona. Aku akan ikut.” Jiu jiu berkata dengan yakin.
“Menuju daerah utara sangat berbahaya. Aku tidak mau jika Nona cantik dalam bahaya.”
“Nona, sebagai pelayanmu, aku harus ikut. Jiu jiu telah mengabdikan seluruh hidupnya demi anda. Ayahku sudah meninggal dan ibuku sudah di bunuh, jiu jiu hanya punya Nona saja sekarang.”
Melihat keyakinan Jiu jiu, Huang Shu tidak bisa melakukan apa-apa. Ia menyentuh rambut Jiu jiu dan mengelus-elusnya. “Sudah lama aku tidak melakukan ini terhadap dirimu.”
“N-nona...”
Wajah jiu jiu memerah.
Huang Shu tertawa melihatnya.
Di dekat sana angin kencang bertiup dan seekor burung merpati terbang jauh ke angkasa, mengitari pepohonan, melihat air terjun, sungai, berbagai hewan dan desa. Melihat orang lalu lalang dan melihat keindahan matahari terbit dengan cahaya mulai mengembang.
Setelah beberapa jam terbang ia mengitari sebuah air terjun dan mendarat di sebuah dahan pohon histeria.
Pagi-pagi sekali, Bing jiazhi diam di bawah pohon itu membaca Gulungan yang harus ia pelajari.
Hari-harinya saat ini berlatih Gulungan itu untuk cincin Mandalanya.
Tidak lama setelahnya, cahaya matahari mulai menyinarinya dan burung-burung mulai bersenandung lembut.
Xue Ni datang membawa peralatan pahatnya dan duduk di samping Bing jiazhi dan mulai memahat.
Patung yang ia buat perlahan-lahan terbentuk, mulai dari wajah, tangan dan kaki. Selama itu juga, hari terus berlalu.
Satu patung jadi, kemudian dua dan seterusnya. Hingga 10 buah patung terbentuk, semuanya karikatur dengan wajah mungil berderet di atas batu dengan berbagai ekspresi.
Bing jiazhi mendatangi Xue Ni. “Aku sudah menyelesaikan latihanku. Apakah guru sekarang bisa mengatakan kutukan apa yang menimpa desa Sigi.”
Xue Ni menatap sebentar Bing jiazhi. “Apakah kau benar-benar ingin melakukannya?”
Bing Jiazhi mengangguk.
Xue Ni berdiri dan berjalan mendekati Bing Jiazhi. Wajahnya sangat tajam dan serius, mungkin apa yang di tanyakan Bing jiazhi adalah masalah serius. Ia menghela nafas panjang, seolah apa yang akan di bicarakannya sangat berat. “Beberapa tahun aku sudah melakukannya, tetapi gagal. Ini bukan menyangkut tentang masa sekarang saja, tetapi juga masa lalu. Dahulu kala, ada seseorang gadis. Ia memiliki banyak sebutan, seperti gadis domba, gadis kera, monyet, dan nama-nama buruk lainya.”