Alam Mandala

Alam Mandala
Berakhir



“Terima kasih.”


“Untuk apa?” tanya Liang bingung.


“Jika bukan tanpamu, aku sudah mati saat ini.”


“Aku tidak akan membiarkanmu mati.”


Liang dan Bing Jiazhi berdiri di atas tebing menikmati hembusan angin malam dan langit hitam yang sebelumnya tidak pernah mereka nikmati. Angin itu menerbangkan kedua pakaian mereka.


Liang berpikir sebentar, kemudian bertanya, “Aku masih penasaran apa yang telah terjadi, mengapa kau tiba-tiba sembuh?”


Bing Jiazhi diam sebentar. “Aku tidak tahu.”


Bing Jiazhi benar-benar tidak tahu apa yang ia lewati. Ketika itu ia merasa terbang melayang-layang, kemudian cahaya masuk ke dalamnya dan ia tiba-tiba menjadi sehat kembali.


“Aku mengerti.”


Angin pun kembali berhembus dan menerpa wajah mereka. Bing Jiazhi bertanya dengan tenang. “Aku tidak menyangka ternyata yang datang sekarang kau sendiri.”


“Aku harus melakukannya.”


Mereka kemudian diam sebentar


“Tugasku telah selesai, aku pergi dulu.”


Bing Jiazhi mengangguk.


...----------------...


Dalam malam yang semakin sunyi, gerombolan orang-orang berjalan melintasi hutan. Beberapa dari mereka terluka dan di bantu oleh rekan-rekannya. Di atas sana, awan-awan hitam menutupi langit dan beberapa kali terlihat kedipan langit. Sebentar lagi, hujan akan turun. Beberapa dari mereka telah membawa payung.


Zhao Wei berjalan pelan menatap langit, kemudian kembali berjalan. Ia berjalan di depan menjadi pemimpin. Sekarang kelompoknya akan berpindah lagi. Rencananya telah gagal. Seseorang yang memainkan Zhiter itu telah menghancurkan semua usahanya. Jika orang itu tidak ada, mungkin mereka pasti telah menghancurkan sekte itu.


Zhao Wei ingin marah, tapi ia menahannya dan berjanji dalam hatinya, bahwa ia akan kembali lagi.


“Tuan.” seseorang wanita berjalan di sampingnya sambil memegang payung. “Kita akan menghancurkan mereka dalam waktu 2 tahun lagi. Tidak peduli, apakah mereka lebih kuat dari saat ini atau tidak. Aku yakin, kita akan berhasil melakukannya dalam waktu 2 tahun.”


Zhao Wei mengangguk, kemudian memandang langit. “Kau benar, kita akan menghancurkan mereka.”


Jika bukan karena Zhao Wei telah mempersiapkan semuanya, maka kelompoknya sudah binasa sekarang.


Setelah mendengar suara alat musik itu, ia kemudian memerintahkan semua bawahannya untuk membuat formasi dan berpindah tempat tanpa di sadari orang-orang.


...----------------...


Anak-anak berlarian di halaman restoran teratai. Mereka tengah bermain kejar-kejaran. Pagi ini suasana cukup tenang dengan beberapa burung-burung berkicauan. Xiang Li duduk di samping meja menikmati pemandangan di luar. Di dekatnya hanya sedikit orang duduk menikmati makanan.


“Silahkan tuan.” Seseorang pelayan wanita menghidangkan sup dan beberapa makanan lainnya.


Bau harum dan asap yang keluar dari makanan itu sangat menarik dan berhembus pelan.


Kerutan-kerutan kemarahan muncul ketika ia telah membacanya, dan ia meremukkan kertas itu.


“Sampah itu terlalu beruntung...”


...----------------...


Jiu Jiu akhirnya mengerti, membunuhnya adalah keputusan yang tepat. Gadis yang ia selamatkan dan di rawatnya telah tergantung di bawah pohon. Lehernya merah karena terikat tali panjang. Ia menunduk dan berglayut-gelayut pelan dan mulai membeku.


“Seharusnya ini tidak terjadi.”


Ia tidak pernah mengira jika gadis itu menginginkan mati. Selama perawatannya, ia selalu diam dan tenang. Jiu Jiu pikir itu karena gadis itu masih sakit. Tapi ternyata ia tidak nyaman dan telah putus asa dengan kehidupannya.


Ketika pagi tadi saat ia bangun, Jiu Jiu menemukan sebuah surat di atas meja.


Surat itu berisi kata-kata terakhir dari gadis itu. Ia berkata : sejak kecil, aku selalu meragukan adanya orang baik yang suka menolong orang asing, tapi sekarang aku telah yakin orang baik hati seperti itu pasti ada di tengah-tengah orang egois.


Di tempatku tinggal, semuanya tidak pernah mempedulikan kami, oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengembara mencari tempat aman seperti dunia dongeng yang kami impikan.


Kami percaya, dunia seperti itu ada, tapi kepercayaan kami telah hancur ketika adikku yang masih kecil telah meninggal karena demam dan tidak bertahan di dunia salju yang dingin ini.


Semakin kami berjalan, kami tidak menemukan tempat yang kami impikan, hanya ada binatang-binatang buas yang selalu mengintai kami.


Tapi meski banyak rintangan, kami mulai percaya dan selalu menyemangati diri kami sendiri dengan seruan. “Di balik gunung itu ada tempat yang kita cari! Kita berhasil! Kita berhasil!”


Namun tidak seperti apa yang kami harapkan.


Ketika keluargaku yang berjumlah 3 orang mendaki gunung salju itu, kami merasakan goncangan yang keras, hingga ayah terjatuh dan ibu harus menunduk. Aku berusaha berdiri.


Kemudian terdengar suara yang sangat memilukan dan menyeramkan dari atas kami. Suara itu sangat menakutkan. Ketika kami memandangnya, longsoran salju seperti ombak pantai telah berjalan mendekati kami.


Aku berpikir waktu itu, ini adalah akhir dari kisah kami.


Tapi ternyata gadis cantik itu telah menolongku. Aku selamat, tapi tidak lama kemudian aku merasakan akan mati. Tapi lagi-lagi kau telah menyelamatkanku.


Aku seharusnya merasa senang karena telah selamat. Tapi aku tidak bisa merasakannya. Aku merasa hidupku telah berakhir ketika salju itu menyelimuti ayah dan ibuku. Aku telah mati meski kau telah menyelamatkanku. Terima kasih untuk semuanya.


Setelah membacanya, Jiu Jiu langsung bergegas pergi dan mencarinya. Namun ia gagal menyelamatkannya.


Saat ini dengan kedua matanya yang redup ia menatap mayat gadis itu.


Salju pun berhembus lebih cepat dari sebelumnya, seolah ikut merasakan apa yang di rasakan Jiu Jiu sekarang.


Sekarang ia telah mengerti apa yang di maksud Zhi Tianzhi dan Fang Enlai, membunuh bukan suatu kesalahan. Ia telah mengetahui kematian mungkin jalan terbaik bagi beberapa orang. Namun, ia tidak pernah percaya itu akan terjadi di hadapannya.


Zhi Tianzhi mendekatinya. Ia kemudian memandang mayat yang membeku di atas pohon. “Apakah kau telah mengerti?”


“Tidak sepenuhnya.”