
Air matanya mengalir membasahi wajah bayi itu. Sebagai seorang wanita, ia tentunya tidak kuat melihat kenyataan di depannya ini. Bertahun-tahun ia berharap memiliki anak, tapi di hancurkan begitu memilukan.
Suaranya mampu membuat orang-orang yang ada di rumah itu merasa simpati dan ingin menolongnya, tapi mereka tentu tidak berani melakukannya.
Menangis dan menangis. Suara itu mengandung kesedihan yang mendalam dan tidak terbayangkan.
Meng Lin merasa jantungnya sesak dan perasaannya sangat buruk, bahkan ia merasa terjun dalam kegelapan.
Beberapa saat menangis, ia merasa pipinya di raba-raba. Itu terasa sangat lembut dan menyenangkan. Ia membuka matanya dan sepasang mata seperti rembulan menatapnya yang di penuhi kepolosan.
“Dia hidup?”
Bayi itu menggerak-gerakkan sedikit kedua matanya dan seolah bertanya-tanya siapa yang ada di depannya saat ini dan mengapa ia menangis di atasnya.
Meng Lin mengusap-usap wajahnya yang basah sembari bertanya-tanya apakah benar bayi itu hidup lagi.
Tapi bayi itu tiba-tiba membuka mulutnya dan menangis keras.
Meng Lin tentu tahu apa yang bayi itu inginkan, sehingga ia langsung memberinya ASI. Ia merasa senang dan juga geli ketika payu darahnya di hisap oleh bayi itu. Ingin sekali rasanya tertawa ketika kejadian itu.
Meng Lin kemudian mengusap air matanya dan kembali bertanya, apakah kejadian ini benar adanya.
Sementara bayi perempuan itu memejamkan matanya sembari mengisap susu dan terlihat bibirnya yang mungil itu melakukannya.
Para pelayan yang mendengar teriakan bayi tersebut langsung ke luar dan bertanya-tanya apa yang terjadi, tapi mereka hanya bisa melihat dari kejauhan sambil menyimpulkan jika ada sesuatu yang penting terjadi.
Di atas ranting, ada bunga plum berwarna putih bermekaran dan dalam satu hembusan angin, bunga itu akhirnya melayang-layang dan bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain.
Meng Lin merasa sangat bahagia ketika bayi itu kembali hidup, meski pun ia ragu, apakah itu benar adanya atau cuma mimpi.
Bayi yang ada dalam pelukannya memiliki suhu yang lebih panas dan perlahan-lahan kain merah yang menyelimuti bayi itu basah.
Meng Lin tersenyum sekaligus ingin tertawa, anaknya telah ngompol dan ini adalah pertama kalinya ia akan mengganti kain seorang bayi.
Sungguh senang rasanya ia bisa melakukannya. Ia kemudian memandang bayi itu, dan seolah tidak terjadi apa-apa, sepasang mata indah itu terlihat sangat polos tanpa polesan apa pun dan ia masih tetap menghisap susu yang keluar.
Tidak berkata apa-apa lagi, Meng Lin kemudian bergegas masuk sesekali ia mencium bayi itu.
Sementara di kejauhan, para pelayan tersenyum dan bergumam, “Benarkah jika bayi itu hidup? Ah, aku ingin sekali mencium pipinya itu.”
“Aku lebih suka jika nona terlihat bahagia dari pada sebelumnya.”
“Sebentar lagi, rumah ini akan di penuhi kegaduhan seorang nona muda!”
“Aku tidak sabar menunggu ia tubuh besar dan berlarian di taman.”
...----------------...
Setelah menggantinya, Meng Lin kemudian kembali duduk dan bayi yang ada di tangannya telah tertidur lelap.
Suasana itu tidak mempengaruhinya dan ia sangat bahagia membayangkan bagaimana anak perempuannya akan tumbuh dan bagaimana reaksi suaminya yang akan datang.
Pastinya Chao Ming akan sangat bahagia melihat kehadiran seorang bayi di rumahnya, meski pun anak yang lahir bukan laki-laki.
...----------------...
Tidak beberapa lama, penjaga yang selalu mengikuti Chao Ming datang.
Wajahnya di penuhi dengan kesedihan menatap istri Gubernur yang sekarang telah menjadi seorang ibu. Ia tidak tahu harus berkata apa agar kebahagiaan itu tidak hancur.
Ia kemudian ingin bergegas pergi, tapi Meng Lin bertanya, “di mana suamiku? Kenapa kau sendiri?”
Meng Lin kemudian mengangkat wajahnya menatap pria itu setelah memandang beberapa saat bayinya. Tatapannya sangat tajam dan di penuhi aura intimidasi.
Penjaga itu merasa sekarang Meng Lin terasa lebih kuat darinya dan ia merasa seolah bagaikan Semut di tatap naga.
Tubuh pria itu gemetaran dan ia sulit menjawabnya. Kedua matanya terlihat tidak mau mengatakan apa pun.
Meng Lin semakin curiga dan bertanya lagi, “di mana dia?”
Meng Lin tentunya tahu jika suaminya pergi bersama penjaganya ke sebuah rumah, yang entah di mana. Ia mendengar jika suaminya pergi untuk mencari obat untuknya dan tidak tahu kapan akan datang.
Pria itu akhirnya menguatkan tekadnya dan berkata, “Tuan telah meninggalkan kita semua.”
Mengerutkan kening, Meng Lin bertanya, “Apa maksudmu?”
“Dia telah mati!” pria itu berseru dan air matanya mulai mengalir. Ia tidak kuasa menahannya lagi dan berteriak menjawabnya.
Wajah bulat Meng Lin terdiam mematung dan terlihat tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Kemudian setelah beberapa saat, bibirnya gemetaran berkata, “Dia mati?”
Penjaga itu memandang dalam wajah Meng Lin kemudian mengangguk.
“Tidak mungkin!” air mata Meng Lin menetes dan kembali berujar, “Itu tidak mungkin!”
Ia kemudian menangis sementara bayi yang ada dalam pelukannya tertidur pulas.
Meng Lin merasa jika ia seperti di beri kejutan berbeda di saat bersamaan, ia kemudian bertanya-tanya, mengapa harus bersamaan? Mengapa harus itu terjadi?
Meng Lin kemudian berdiri dan mengusap air matanya. Tanpa berkata apa-apa ia kemudian pergi ke dalam.
Akhirnya di atas langit yang sebelumnya mendung perlahan-lahan meneteskan air hujan dan semakin lama semakin keras.
Di lain tempat, Xiang We berdiri di depan pemakaman adiknya sambil memegang sebuah payung. Ia tersenyum melihat daun-daun berwarna merah muda itu berjatuhan perlahan-lahan, seolah daun-daun itu menabur dengan sukarela kepada makam adiknya. Ia merasa bahagia dan senang, jika sekarang dendamnya telah terpenuhi dan semua yang membebani dirinya telah hilang.
Ia kemudian berbalik dan pergi dari sana.