Alam Mandala

Alam Mandala
Rumah teratai



Bing tidak pernah menyangka Hao yu akan mengatakan masalah pribadi ketika pertama bertemu, tetapi ia menikmati suasana yang telah di berikannya.


“Aku rasa guruku sangat setia denganmu, hanya saja aku penasaran mengapa ia memilih mengasingkan diri?”


Hao yu menghela nafas. “Aku tidak tahu. Ketika kami menikah dan mempunyai anak, ia memilih pergi dan jangan pernah mengunjunginya. Jika itu di langgar, maka hubungan kami akan terputus selamanya.”


“Baiklah, ayo kita pergi. Siapa namamu?” tanyanya untuk kedua kalinya, tetapi Bing Jiazhi menjawabnya dengan tenang.


“Bing Jiazhi.”


Hao yu pun mengantarkan Bing Jiazhi menuju kediamannya. Tidak butuh waktu lama, mereka mencapainya.


Setelah memberi hormat kepada Hao yu, Bing Jiazhi melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah.


Ketika itu, terdengar suara wanita yang keras. Bing Jiazhi mengangkat wajahnya dan memandang atap rumah. Tiba-tiba di sana seorang wanita duduk dan tersenyum kepadanya.


Wanita ini sedikit gemuk, memiliki payudara yang besar, bokong yang menonjok dan wajah gemuk tetapi mungil.


Ia kemudian berdiri dan menatap Bing Jiazhi dengan tajam, seolah ia memiliki dendam kepadanya. Rambutnya yang sebahu bergelombang- gelombang tertiup angin.


Di lehernya yang indah ada kalung berlian berwarna perak yang berkilauan.


Ia mengangkat pedang dan menariknya. Mula-mula perlahan, tetapi tiba-tiba sangat cepat dan mengeluarkan gelombang suara yang nyaring.


Bing Jiazhi dengan tenang tetap menatapnya.


Wanita itu kemudian memejamkan matanya dan menghela nafas. Ketika ia membuka matanya, ia mulai berbicara, “Adik junior, apakah kau layak tinggal di sini?”


Tatapannya sangat mengintimidasi. Sepertinya wanita itu ingin mengusir Bing Jiazhi.


Tapi sayang sekali, di hadapan Bing Jiazhi, itu tidak ada apa-apanya. “Apakah aku layak? Itu tidak tergantung denganmu.”


“Aku rasa tidak. Sebagai adik junior, kau harus menyingkir dari tempat ini. Sebentar lagi kakakku akan datang. Hanya dua pilihan di hadapanmu sekarang, menyingkir atau kehilangan satu tanganmu.”


“Aku juga memiliki dua pilihan untukmu kakak senior, kehilangan satu tanganmu atau keduanya.”


Wanita itu tersenyum menyeringai dan tertawa. “Baik! Jika kau tidak mau, maka terima ini!”


Wanita itu melesat dan mengayunkan pedangnya. Tetapi ketika itu, Bing Jiazhi menjadi bayangan dan menghilang.


Wanita itu merasakan keberadaan Bing Jiazhi, tetapi ada sesuatu dan suara yang membuatnya terkejut.


“Kau kalah, kakak senior.” Bing Jiazhi berdiri di belakangnya dan ujung pedangnya sudah berada di leher wanita itu.


Walaupun terbuat dari kayu dan tidak menyentuh lehernya, tetapi ujung pedang itu terasa menyentuh lehernya.


Bing Jiazhi memasukkan Pedangnya dan masuk ke dalam.


Wanita itu berbalik dengan menatap tidak percaya terhadap kecepatan Bing Jiazhi. Kecepatannya sangat cepat.


Ia kemudian menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


“Sangat baik untuk menjadikannya sekutu.” Tiba-tiba seorang muncul di sampingnya.


“Benar. Tapi apakah kita bisa mendapatkannya?”


...----------------...


Ketika matahari mulai berwarna kuning, An Bai mendatangi tempat Bing Jiazhi dan mengajaknya pergi.


Bing Jiazhi menerimanya dengan senang hati.


Ketika itu, orang-orang sudah mulai sepi, tetapi ketika mereka tiba di rumah teratai, suasana semakin ramai. Rumah teratai adalah salah satu rumah bordil yang ada di sana.


Bangunan ini memiliki tiga lantai dengan berbagai hiasan selendang berwarna merah dan lilin-lilin. Rumah ini bagaikan istana para wanita cantik, karena di penuhi gadis-gadis cantik yang tidak terhitung jumlahnya.


“Adik Junior, kau tidak berbohong, kan?”


“Tidak.”


Bing Jiazhi kemudian masuk ke dalam. Ketika itu, orang-orang menari-nari dengan suara ramai. Ruangan yang berada di lantai satu adalah tempat orang-orang menari dan minum. Berbagai minuman di sajikan di beberapa meja. Berbagai tawa dan percakapan -percakapan memenuhi ruangan.


Bing Jiazhi mendekati tempat pemesanan bersama An Bai. Di sana, seorang gadis cantik berdiri. Saat mereka tiba, bau wangi yang menyengat dan menggoda membuat mereka mabuk, tetapi Bing Jiazhi dengan mudah mengendalikannya.


An Bai lalu bertanya tentang seorang wanita tercantik yang akan muncul malam ini.


Wanita itu mengangguk. “Benar tuan, hari ini adalah hari keberuntungan anda, karena bisa melihat kecantikannya. Sebentar lagi, ia akan datang dan melemparkan karangan bunga. Bagi siapa yang mendapatkannya, berhak untuk bermalam bersamanya.” Wanita itu kemudian berbisik. “Tuan tampan, gadis ini masih suci, anda harus mendapatkannya. Apalagi biaya untuk ikut tidak terlalu mahal.”


Wajah An Bai di penuhi kegembiraan. Ia tanpa sadar membayangkan bagaimana wajah cantik gadis yang akan datang. Alangkah indahnya jika bisa bermalam dengannya. Di tambah lagi, mungkin ia bisa menjadikannya istri dan memamerkannya kepada semua saudara-saudaranya yang lain. Membayangkannya membuat air liurnya menetes.


An Bai mengusapnya. “Berapa harganya?”


Wanita itu tersenyum manis. “Hanya 500 koin emas.”


Wajah gembira An Bai tiba-tiba runtuh. “Yang benar saja! Kau bilang 500 koin murah?!”


“Tenang tuan. Untuk kecantikan seperti itu, itu adalah harga paling murah kami patok. Jika apa yang aku katakan salah, anda bisa mengambil uang anda kembali.”


An Bai memandang sebentar wanita itu dan mengeluarkan kantong koin dan menaruhnya di atas meja. “Jika kau berbohong, maka kepalamu akan aku potong.”


Sementara itu, Bing Jiazhi hanya memandangnya. Baginya tidak ada yang penting selain melakukan rencananya. Ia datang tidak tertarik dengan informasi wanita cantik itu, ia hanya tertarik dengan salah satu gadis yang ada di sini dan sesuatu yang lain. Ia tidak tahu, apakah akan mendapatkannya.


Wanita itu tersenyum dan mengeluarkan kunci berisi nomor. “Tuan, ini kunci ruangan anda sebelum gadis itu datang.”


An Bai mengambilnya, kemudian menatap Bing Jiazhi. “Adik Junior, aku pergi dulu. Kita akan bertemu lagi nanti.”


“Tentu saja kakak senior. Maaf jika harganya ternyata tidak sesuai harapan kakak senior,” kata Bing Jiazhi dengan nada ramah dan meminta maaf.


“Tidak apa-apa, asalkan bisa melihat kecantikan itu. Walaupun rugi, nanti dapat juga. Adik Junior, aku pergi dulu.” An Bai melambaikan tangan dan pergi.


“silakan kakak senior.”


Bing Jiazhi kemudian menatap wanita tadi. “Aku ingin bertamu di ruangan nomor 70.”


Wanita itu mengangguk dan menyerah kunci, bersamaan dengan itu, Bing jiazhi menyerahkan koin. Untungnya ia mencurinya tadi ketika An Bai lengah, jika tidak, ia pasti tidak akan bisa masuk. An Bai Adalah orang asing, ia tidak bisa di percaya dengan mudah.


Bing Jiazhi mengambilnya, kemudian pergi.


Setelah berjalan-jalan beberapa menit, akhirnya ia menemukan ruangan nomor 70. Ia membukanya dan masuk.


Setelah menutup pintu, ia terpukau dengan gadis di depannya. Wajahnya cantik, polos dengan kulit putih bersih, bibir tipis dan rambut berwarna kekuningan. Bau ruangan ini sangat wangi dan menyengat, tentu saja memiliki kekuatan untuk menggoda seseorang.


Berdiri memakai gaun berwarna hijau tua di penuhi motif bunga-bunga kecil.


Ia tersenyum ketika Bing Jiazhi datang. Senyumannya memang indah, tapi jika di bandingkan dengan Huang Shu dan Liang, itu masih kalah.


“Selamat datang, tuan.” Ia membungkuk dan memberi hormat.


Bing Jiazhi mengangguk dan mendekatinya.


Melihat Bing Jiazhi datang, kedua mata gadis itu sedikit bergetar dan wajahnya menatap ke bawah. Keringat dingin mulai keluar dari dahinya.


Tangan Bing Jiazhi mengangkat dagunya, membuatnya mau tidak mau memandang Bing Jiazhi. Ia tidak tahu apa yang akan di lakukan Bing Jiazhi. Rasa gugup untuk pertama kalinya adalah wajar untuk dirinya, hanya saja, bagaimana bisa seorang pemuda tampan bisa datang ke rumah bordil? Wajahnya merah. “T-Tuan...”


“Siapa namamu?”


“Xiu Juan.”