Alam Mandala

Alam Mandala
Cerita masa muda part 2



Ada sebuah sungai besar yang di kedua sisinya di penuhi tebing-tebing berwarna hijau, jika kau mengangkat wajahmu memandang seberapa tinggi tebing-tebing itu, maka kau harus mengangkatnya sangat tinggi, hingga membuat kepalamu terasa sakit.


Aku pada saat itu terjatuh dari tebing itu karena penasaran seberapa tinggi tebing-tebing itu, hingga membuatku terpeleset dan akhirnya jatuh ke dalam tebing itu. Tapi untungnya aku di selamatkan oleh Shao Dong’er dan seorang nenek-nenek Paru baya yang merupakan Dewi pedang.


Aku masih ingat bagaimana wajah cantik yang penuh dengan lemak dan bau-bau bunga mawar itu saat mendongak memandangku penuh kekhawatiran. Wajah itu berwarna sangat gelap, seperti akar pohon, tetapi wajah itu sangat lembut dan saat tersenyum sangat mengagumkan. Ia berucap, “Nenek! Nenek! Apakah ia mati!?”


Nenek yang dengan sikap anggunnya itu kemudian mendekatiku dan menyentuh dahiku, lalu berkata, “Dia tidak mati.”


Shao Dong’er menghela nafas. “Syukurlah.”


...----------------...


“Itulah awal pertemuanku dengan Dewi pedang bunga persik.”


“Setelah itu?” Zhizhu bertanya penuh keheranan.


Huang Tang kemudian memandang wajah istrinya yang mengkerut dan mencengkeram jubahnya. Lalu ia merasa tubuh Shao Dong’er semakin dingin. Ia pun lalu bertanya kepadanya, “Apakah di luar sangat dingin?”


Shao Dong’er mengangguk dan memegang erat-erat jubahnya.


Zhizhu kemudian mengerti jika ia tidak bisa mendengar lanjutan dari cerita itu, maka dari itu, ia kemudian berdiri dan berkata sambil pergi, “aku ingin mendengar kelanjutannya besok.”


Setelah Zhizhu pergi, Huang Tang kemudian mengangkat istrinya dan membawanya masuk. Setelah di dalam, ia menidurkan istrinya. Saat itu juga, istrinya membuka matanya dan berkata tegas, “Dombaku, tolong tutup jendelanya.”


Huang Tang menurut saja. Baginya, kata-kata hinaan itu sudah menjadi kebiasaan istrinya saat memanggilnya. Tapi ketika dulu saat ia berlatih, itu sangat menusuk hatinya. Saat ia masih sedikit gemuk dan Shao Dong’er memanggilnya dengan sebutan domba setiap harinya, dan hari-harinya, Huang Tang merasa kesal dan terus berseteru dengannya.


Setelah menutup jendela, ia kemudian duduk di sisi ranjang, sementara Shao Dong’er kemudian bangun dan menaruh kepalanya di pangkuan Huang Tang dengan tubuh terbalik, sehingga punggungnya sekarang menghadap ke atas, dan kepalanya menghadap ke bawah. Huang Tang lalu menyelimutinya lalu berkata sembari ia memandang jendela, “Dong’er , seharusnya aku tidak bersamamu.”


Itulah kata-kata yang sering mereka ucapkan, tetapi dari balik batin mereka, mereka sama-sama membutuhkan dan ingin hidup bersama.


Shao Dong’er mengangguk. “tetapi kita harus saling melengkapi, seperti pengembala dan dombanya.”


...----------------...


Sementara di ruangan lain, Bing Jiazhi bersila menghadap gulungan seribu pedang yang sudah terbuka lebar di hadapannya. Gambar-gambar pedang melingkar dan berbagai macam bentuk terlihat di kertas usang itu. Bentuk dan goresan-goresan tinta yang ada terlihat memiliki keunikan masing-masing. Apakah semua Pedang yang di lukis, di lakukan oleh orang berbeda?


Itu adalah pemikiran pertama yang muncul dalam benaknyak. Kemudian setelah beberapa saat, setelah mengamati lebih teliti, ia merasakan aura yang berbeda dalam setiap pedang, di tambah bau dan sentuhan yang berbeda yang ia rasakan pada masing-masing pedang, membuatnya menyimpulkan jika gulungan itu di buat oleh beberapa orang.


Ada sembilan pedang yang di lukis melingkar menurut arah mata angin, kemudian ada satu pedang yang berada di Tengah-tengah. Pedang itu sangat sederhana dari pada yang lainnya, tetapi karena kesederhanaannya itulah membuat ia berbeda dari yang lainnya. Dan itu secara langsung menarik perhatian Bing Jiazhi. Ia kemudian mengamatinya, lalu memusatkan perhatiannya pada pedang itu.


Untuk mempelajari sebuah gulungan, ia harus memusatkan perhatiannya pada objek yang ada pada gulungan.


Bing jiazhi kemudian memejamkan matanya, setelahnya ia kembali membukanya. Sekarang, ia berada di depan air terjun dengan ketinggian mencapai 300 meter. Yang dapat menimbulkan suara air yang sangat mengerikan.


Batu-batu hijau besar tersebar di sungai-sungai itu, dan Bing Jiazhi berdiri di salah satunya.


Sekitarnya, hanya ada pohon-pohon tinggi.


Seorang pria berpakaian biru berdiri di depan air terjun. Rambutnya yang putih terlihat ia sangat tua.


Pria itu kemudian berbalik lalu berucap, “Setelah sekian lama, akhirnya ada orang yang datang.”


Air sungai kemudian bergejolak dan sebuah ombak besar muncul menerjang Bing jiazhi.


Bing jiazhi kemudian melompat ke samping, lalu ia memandang pria itu.


Air yang menjadi ombak pun kembali tertidur dan menimbulkan suara air pecah, lalu percikan-percikan airnya menyentuh tubuh Bing Jiazhi.


Pria itu kemudian memejamkan matanya setelahnya ia duduk bersila. Pedang yang ada di tangan berubah menjadi air lalu menyatu dengan air sungai.


Bing jiazhi tidak tahu mengapa pria itu menyerangnya, dan tidak tahu mengapa bisa berada di tempat seperti ini. Sekarang, ia hanya bisa mengamati apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh pria itu.


Tidak lama kemudian, angin kencang berhembus dan menerbangkan daun-daun pepohonan, lalu petir menyambar di langit.


Air sungai yang sebelumnya tenang perlahan-lahan semakin bergejolak dan semakin lama semakin keras. Perlahan-lahan, dari belakang pria itu, air terjun yang jatuh, muncul sebuah tangan lalu setelannya seorang gadis yang sepenuhnya terbuat dari air muncul dari dalamnya. Ia telanjang bulat tanpa sehelai benang pun, tetapi sepasang sayap kupu-kupu menghiasi punggungnya membuat ia terlihat sangat sempurna.


Tentunya ia lebih besar dari tubuh manusia biasa. Matanya yang berwarna putih memancarkan aura yang menakutkan.


Saat melihatnya, Bing Jiazhi terkejut dan menyadari apa yang ada di depannya saat ini. Dan setelah merasakan auranya, ia menyimpulkan, jika itu adalah ‘pedang peri kupu-kupu! Yang sangat melegenda itu’


Tetapi kemudian ia kembali berpikir, jika tidak mungkin pedang itu berada di sini dan tidak mungkin pula ia bisa merasakan kekuatannya secara langsung, karena pedang itu telah lama di segel di tempat yang tidak di ketahui oleh seseorang pun, kecuali jika itu adalah pemiliknya. Lalu, apa yang ada di hadapannya sekarang ini, jika itu bukan pedang peri kupu-kupu?


Bing jiazhi lalu menyimpulkan jika pedang yang ada di depannya saat ini, adalah refleksi dari pedang itu, dan semua ini mungkin langkah untuk mempelajari gulungan seribu pedang.


Pri kupu-kupu air itu kemudian mengepalkan sayapnya lalu terbang ke arah Bing Jiazhi. Ia tidak menyerangnya, hanya melewatinya saja, dan kemudian...


Piah!!


Air berterbangan ke segala arah dan peri itu hancur tiada jejak seperti meledak.


Sementara Bing Jiazhi kemudian berlutut dan ia terbatuk, lantas mengeluarkan beberapa teguk darah segar. Ia lalu menyentuh dadanya yang sangat sakit, yang tepatnya jantungnya terasa di tusuk oleh sesuatu yang sangat tajam.


Bing jiazhi tidak menyangka dan tidak pula mengambil tindakan saat penyerangan itu, entah apa yang merasuki tubuhnya saat itu, hingga dengan bodohnya hanya berdiam saja.


Ia kemudian batuk-batuk dan mengeluarkan darah lagi. Dengan ekspresi gelap dan kebiruan menahan sakit, ia kemudian memandang pria yang muncul di hadapannya, dan berusaha bertanya, “Sampah! Mengapa kau menyerangku!?”


Ia lalu batuk-batuk lagi. Kemarahan yang muncul tiba-tiba ini, di sebabkan oleh rasa tidak terima dan kekalahannya.


Pria itu berekspresi tenang setelah mendengar umpatan itu, setelahnya, ia mengangkat tangannya dan melambai dengan lembut ke kanan dan kiri.


Buih-buih air kemudian menyatu dan membentuk sebuah pedang. Pria itu kemudian bertanya setelah beberapa saat pedang itu melayang-layang di tangannya. “Kau tahu ini?”


Saat Bing jiazhi memperhatikannya, itu adalah pedang yang sama saat berada di lukisan gulungan itu. Dan kenyataan itu membuatnya terkejut, lalu batuk-batuk lagi kemudian memuntahkan darah.


Pria itu berkata lagi, “Ini adalah pedang yang sangat berharga, tapi ini cuma niatnya saja. Bayangkan, bagaimana jika pedang ini merupakan pedang yang sebenarnya? Maka kau sudah di pastikan akan mati.”


Pria itu kemudian melambaikan tangannya ke kanan dan pedang itu lalu menghilang. “Kembalilah nanti.”


Bing jiazhi kemudian tiba-tiba kembali ke kamar dan ia lalu batuk-batuk dan memuntahkan darah segar lagi, setelahnya pandangannya menghilang dan ia tiba-tiba tidak merasakan kembali tubuhnya, pada akhirnya ia tidak sadarkan diri.