
Ketika melihat sekantong koin yang di keluarkan Bing Jiazhi, mata Zhao Zhong cerah dan merasa senang, tapi kemudian ia menghela nafas. Mengambilnya dan menimbang beratnya, uang itu mampu membiayai hidupnya selama beberapa bulan.
“Ini terlalu banyak.”
“Aku memiliki banyak uang.”
Setelah menghancurkan keluarga Huang, Bing Jiazhi menjarah hampir semua harta benda yang berharga dari keluarga itu. Tetapi, sebagian besar tidak bersamanya ketika terjadi penghianatan itu. Akan tetapi, jumlah itu masih terbilang cukup besar untuk hidupnya. Di tambah lagi Sekte Tao Gong memberikannya sejumlah uang untuk perjalanannya ini.
Zhao Zhong menatapnya nanar, ia kemudian buru-buru berdiri dan menunduk. “Aku sangat berterima kasih!”
“Anda tidak perlu melakukan itu.”
Buru-buru Bing Jiazhi berdiri dan mengangkat bahu Zhao Zhong.
...----------------...
Setelah bercakap-cakap saat itu, akhirnya malam pun tiba. Saat itu, Bing Jiazhi tiba di desa sebelah untuk membalas dendamnya selama ini.
Setelah mencari-cari informasi, akhirnya ia menemukan tempat persembunyian orang-orang itu. Ia tidak menyangka para bajingan itu telah memiliki rumah makan yang indah di desa itu dan banyak orang yang datang ke sana.
Saat membuka pintu, para pelayan berlarian dan orang-orang berteriak saling memanggil.
Orang-orang tidak terlalu tertarik dengan Bing Jiazhi, tetapi mereka tidak bisa mengabaikan kecantikan Zhizhu. Mereka semua langsung terlena dengan kecantikan itu. Tetapi, Zhizhu sangat tidak menyukainya dan merasa jengkel. Ia kemudian menatap orang-orang yang memandangnya dengan sangat tajam. Beberapa orang takut melihatnya, tetapi ada beberapa orang yang tidak takut kepadanya.
Menyadari apa yang di inginkan Zhizhu, Bing Jiazhi kemudian berkata, “Tidak apa-apa jika kau ingin membunuhnya. Lagi pula kita datang untuk membuat kekacauan.”
Saat Bing Jiazhi selesai berkata, Zhizhu melangkahkan satu kakinya ke depan. Kemudian pedang bunga persik di punggungnya bergetar hebat. Lalu tiba-tiba melesat dengan kelopak-kelopak bunga dan dalam sekejap membunuh lima orang yang memandangnya, tetapi ketika ingin membunuh orang terakhir, orang itu mampu menghindar dan mendarat tenang di salah satu meja.
Ia adalah seorang pria yang sepertinya berasal dari keluarga bangsawan. Meski telah di serang, ekspresinya di penuhi kekaguman.
Zhizhu tidak berniat melanjutkan serangannya, dan pedangnya kembali ke sisinya dan terdiam.
Pria itu tersenyum kepadanya dan kemudian mengeluarkan kipas lalu mengipasi wajahnya. “Apa salahnya jika aku memandangmu? Kecantikanmu memang patut di pandang dan semua orang waras tentu akan memandangmu. Jika kau tidak mau di pandang seperti itu, kau tentunya harus mampu membuat wajahmu buruk rupa. Tentunya kau tidak ingin bukan wajahmu buruk rupa. Oleh karena itu, biarkan orang-orang memandangnya, karena itu adalah sesuatu yang wajar.”
Para pengunjung mengangguk setuju dengan pria itu dan mereka kemudian memandang Zhizhu. Sementara Zhizhu memandang tajam ke arahnya, kemudian alisnya sedikit terangkat. “Kau benar. Tapi apa salahnya jika aku tidak menyukainya? Aku bisa bertindak apa pun sesukaku jika aku tidak menyukainya. Jika kau tidak menerimanya, kau berhak melakukan apa saja, tentu saja, hanya kekuatan yang akan menentukan hasil akhirnya.”
“Orang bijak berkata, ‘Jika kau ingin damai, maka kau harus bisa mengendalikan gejolak di dalam dirimu, dengan begitu, maka kau akan mendapatkan kedamaian. Jika pada akhirnya aku hanya mati konyol di tanganmu, maka aku lebih baik pergi dari sini. Ada lebih banyak hal yang harus aku capai, dari pada bertarung denganmu yang tidak ada tujuannya.”
“Itu artinya kau penakut.”
“Nona, penakut dan bijak adalah dua hal yang berbeda.”
Pria itu kemudian melompat dan berjalan mendekati Zhizhu. Saat tiba di depannya, ia melanjutkan, “hanya saja orang-orang sering keliru dengan itu.”
Saat menyelesaikan kata-katanya, aura di dalam tubuhnya bergejolak, tetapi wajahnya masih tetap tenang. Zhizhu kemudian mengambil pedangnya dan secepat kilat mengayunkannya ke arah leher pria itu. Hanya seperempat detik, pria itu mampu mengerakkan kipasnya untuk menghadang. Itu tidak lebih hanya berjarak satu jengkal dari lehernya.
“Nona, inilah yang aku sebut sebagai kekeliruan. Aku mengeluarkan aura itu, bukan berarti aku akan menyerangmu.” Pria itu dengan mudahnya mendorong pedang Zhizhu. Namun tidak ada ekspresi selain ekspresi tajam di wajah Zhizhu saat ini.
Kemudian pria itu menggerakan kipasnya, lalu menyerang pergelangan tangan Zhizhu. Kecepatan itu sangat cepat, membuat Zhizhu tidak mampu bereaksi dan pedangnya terlepas. Ia dengan cepat mengendalikan pedangnya dari jarak jauh, tetapi, saat pedang itu hendak menyerang, pria itu terlebih dahulu telah mendekati leher Zhizhu dengan kipasnya dan Zhizhu tidak berani bergerak ketika orang itu berkata, “Jika Nona bergerak, aku akan membunuhmu.”
Maka dari itu, pedang Zhizhu hanya melayang-layang di udara untuk mencari celah.
Pria itu kemudian tersenyum. “Aku mampu membunuhmu, dan kau juga mampu melakukannya, hanya saja aku tidak ingin melakukannya.”
Pria itu menurunkan kipasnya. Saat itu juga, pedang bunga persik melesat ingin menyerangnya. Tetapi, tiba-tiba terdiam di udara kemudian berhenti. Zhizhu tentunya terkejut melihatnya dan bertanya-tanya siapa sosok di depannya ini.
Lalu setelahnya tiba-tiba sesuatu muncul dari balik jubahnya. Itu tidak lain adalah tusuk rambut kayu yang sangat halus.
Saat melihatnya, Zhizhu bertanya-tanya apa yang akan di lakukannya. Tapi ia yakin pria itu tidak akan membunuhnya.
Kipas yang ada di tangan pria itu kemudian menghilang. Ia lalu membelai rambut Zhizhu yang ada di dahinya yang sedikit berantakan. “Tegas, tajam dan sangat kuat. Kau memiliki sikap yang sama dengannya.”
Pria itu kemudian menancap tusuk rambut itu di rambut Zhizhu yang terurai dan segera rambutnya berterbangan dan terikat dengan simpul yang indah. Zhizhu terkejut dengan kejadian ini, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya sepasang matanya menunjukkan keterkejutan dan tidak percaya.
“Aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik.”
Pria itu kemudian berjalan ke luar dan akhirnya tidak terlihat lagi. Barulah Zhizhu mampu menggerakkan tangan dan kakinya. Ia kemudian berbalik menatapnya. Sementara pedang bunga persik kembali ke selongsongnya. Zhizhu bertanya-tanya, siapa dia dan mengapa ia melakukannya.
...----------------...
Sementara memanfaatkan kejadian itu, Bing Jiazhi diam-diam pergi ke lantai atas untuk mencari orang-orang yang ingin di bunuhnya. Ia tahu, Zhizhu mampu menjaga dirinya. Ia juga menyarankan itu agar orang-orang sibuk menyaksikannya dan tidak menyadari dirinya sedang melakukan pembunuhan.
Setelah berjalan-jalan, akhirnya ia menemukan tempatnya. Saat itu juga ia membuka pintu perlahan-lahan. Orang-orang yang sangat di bencinya telah duduk dan minum-minum dengan teman-temannya.
Saat melihat Bing jiazhi semua orang menghentikan kegiatannya dan memandang tajam ke arahnya. Tentunya mereka tidak suka di ganggu, apalagi dengan orang tidak di kenal.
“Siapa kau!?”
Salah satunya berujar.
Dengan mata dan ekspresi wajah dingin, Bing Jiazhi menjawab, “Orang yang akan membunuhmu.”
Ia kemudian melesat dan dalam sekejap saja, orang-orang di sana mati berlumuran darah. Korden dan lantai di penuhi darah. Ekspresi orang-orang di sana sangat mengerikan.
Bing jiazhi meliriknya sebentar kemudian menghela nafas, ia kemudian pergi dari sana dan di luar penginapan, Zhizhu sudah menunggunya. Dengan gaya rambut dan rambut panjangnya, ia terlihat sangat menarik dan mampu membuat satu provinsi akan hancur dengan kecantikannya.
...----------------...
Sekarang, Bing Jiazhi lagi-lagi mengenal orang-orang yang memiliki kecantikan, yang kali ini setara dengan Liang. Orang itu kini berdiri di depan telaga sembari menikmati cahaya matahari.