
“Kau hanya perlu melindungi putriku dan memberinya kebahagiaan.”
“Dia tidak menyukaiku, bagaimana mungkin aku bisa memberinya kebahagiaan?”
“Itu adalah masalahmu. Aku tidak peduli sama sekali. Apa kau bisa?”
Bing jiazhi berpikir sebentar lalu mengangguk.
Huang Tang kemudian berjalan pergi sambil berkata, “Aku akan mengambil bahan-bahannya terlebih dahulu.”
Sementara itu, Bing Jiazhi menahan rasa sakit di dadanya sembari ia memandang gulungan yang masih terbuka. Ia mengamati lagi pedang- pedang itu. Rasa penasaran dan ingin tahunya bergejolak ketika ia memperhatikan setiap pedang-pedang lagi. Jika ada pedang level tinggi di dalam gulungan itu, tentunya berkemungkinan besar ada pedang lainnya juga, meski itu hanya niatnya saja. Pedang apa lagi yang ada? Dan bagaimana kekuatannya?
Jika memandang dari posisinya, maka pedang peri kupu-kupu mungkin yang paling kuat di antara niat pedang yang ada, jadi, mungkin yang lainnya tidak terlalu kuat. Namun, mungkin saja tidak ada sistem seperti itu di dalam gulungan tersebut.
Pikiran-pikiran itu membuat Bing Jiazhi bingung memilih di antaranya. Dan, pada akhirnya setelah berpikir panjang, suara pintu terbuka dan Huang Tang berjalan pelan kemudian duduk di depan Bing Jiazhi.
Wajahnya yang di penuhi kemalasan itu kemudian melempar botol ke arah Bing Jiazhi sambil berkata, “Ini obatnya.”
Bing jiazhi menangkapnya kemudian memandang botol itu. Itu adalah botol kaca kecil yang transparan, seolah tidak ada apa-apa di dalamnya. Tentunya di dalamnya sudah ada cairan yang sangat jernih dan bercahaya. Sembari penasaran, Bing Jiazhi kemudian bertanya. “Obat apa ini?”
Huang Tang meminum araknya kemudian menjawab, “minum saja.”
Bing jiazhi percaya begitu saja dan meneguknya. Tidak ada rasa, seperti ia meminum air. Tetapi, tubuhnya terasa sangat nyaman ketika di aliri cairan itu.
Akan tetapi, tidak lama kemudian, rasa sakit yang mencekam timbul di bagian dadanya. Ia pun batuk-batuk kembali dan memuntahkan darah beberapa kali.
Setelahnya, ia merasa sangat lemas, yang bahkan untuk menggerakkan jari-jarinya saja begitu sulit. Wajah Bing Jiazhi kemudian terlihat semakin pucat. Kepalanya lalu terasa pusing dan sakit.
Bing jiazhi ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia tiba-tiba terjatuh dan pingsan.
Huang Tang tersenyum penuh misteri ketika ia memandang pria itu. Ia kemudian meminum araknya dan menghela nafas. Kemudian memandang gulungan seribu pedang. Ia tertarik dengan gambar-gambar pedang yang ada di sana. Ia merasa familiar dengan pedang-pedang itu, oleh sebab itu, ia pun mengamatinya sejenak. Setelahnya, tertawa lantang dan berucap, “Pemuda yang menarik.”
...----------------...
Ketika Zhizhu pergi ke kamar Bing Jiazhi dengan niat menambah harinya di penginapan, ia berpapasan dengan Huang Tang dan Zhizhu memberi hormat sembari menundukkan kepalanya.
Huang Tang memandangnya sebentar kemudian berjalan pergi, sementara Zhizhu sedikit mengerutkan kening dan berbalik menatap punggung pria paru baya itu. Ia menebak-nebak, apakah pria itu sebelumnya datang ke kamar Bing Jiazhi, dan jika benar, maka apa yang di lakukannya di sana?
Ia tentunya merasa curiga setelah melihat ekspresi Huang Tang yang sangat serius itu dan memancarkan aura intimidasi yang sangat kuat.
Sejenak, ia pun menggeleng. Sangat tidak baik jika berpikir seperti itu kepada Huang Tang, yang sebelumnya ia lihat, Bing Jiazhi dengannya memiliki hubungan menantu dan mertua. Dan ketika bercakap-cakap di kereta kuda, mereka terlihat memiliki hubungan yang baik-baik saja, meski pun terlihat sedikit pertentangan di antara mereka.
Zhizhu kemudian berbalik pergi menuju kamar Bing Jiazhi.
Saat membuka pintu, ia melihat pria itu terbaring di ranjang dan seperti terlihat tertidur.
Zhizhu merasa kecewa setelah melihatnya. Ia pikir Bing Jiazhi sudah bangun. Melihatnya seperti itu juga, membuat Zhizhu bertanya-tanya apakah karena itu Huang Tang terlihat seperti itu, dan mengapa Bing Jiazhi tiba-tiba terlambat bangun? Tapi kemudian Zhizhu sedikit gembira, jika Bing jiazhi masih tertidur, maka tentunya mungkin Bing Jiazhi mempunyai rencana untuk menetap beberapa hari lagi di penginapan.
Ia pun kemudian menutup pintu dan pergi dari sana.
Setelahnya, ia terdiam di pintu sejenak, kemudian memutuskan untuk mengunjungi Huang Tang dan meminta ia menceritakan kisahnya bertemu Dewi pedang dan kisah cintanya itu.
Huang Tang duduk di ranjang sembari ia sesekali meminum araknya. Sementara Shao Dong’er berdiri di depan jendela yang di tutupi kain hitam, seolah ia sedang menebak-nebak apa yang ada di balik kain hitam itu. Suasana di antara mereka sangat mencekam, meski wajah Huang Tang terlihat begitu santai. Merasakannya, Zhizhu tidak berani mengetuk pintu dan hanya bisa memandangnya dari celah pintu.
Tidak lama kemudian, Shao Dong’er memangil tegas Huang Tang. “Dombaku, aku ingin sekali membunuhmu.”
Ketika mendengar panggilan itu, Zhizhu menyadari, apa yang di katakan Huang Tang benar, istrinya selalu memanggil dengan sebutan kasar. Tetapi, muncul di hatinya, mengapa Shao Dong’er memanggilnya seperti itu padahal Huang Tang tidak gemuk, dan jika di bandingkan dengan domba, ia terlihat sangat tampan dengan tubuhnya yang ideal, jadi mengapa?
Selama memikirkannya, Huang Tang menjawab Shao Dong’er. “Jika seperti itu, bagaimana kalau aku memanggilmu gadis akar?”
Alis Shao Dong’er terangkat dan sedikit memandang Huang Tang. “Apa kau marah dengan sebutan itu?”
“Kau pikirkan saja sendiri.”
Setelah beberapa saat terdiam, Huang Tang melanjutkan. “siapa orang di dunia ini akan senang jika di sebut seperti itu?”
“Tapi kau memang Domba.”
Huang Tang terdiam. Mengenai sebutan itu, seharusnya Shao Dong’er tidak perlu lagi menggunakannya. Ia tidak sama seperti dulu yang gemuk, oleh sebab itulah, seharusnya sebutan itu di hapus.
Shao Dong’er kembali berkata, “Bagaimana kalau rusa?”
Huang Tang menyerah dan berujar. “Terserah kau saja, wanita akar.”
“Aku bukan wanita akar!”
Mengayunkan tangannya, Shao Dong’er berbalik menatap wajah Huang Tang. Wajahnya yang Hitam terlihat sangat marah dan di penuhi kerutan-kerutan. Tatapan matanya itu sangat tajam dan sedikit bergetar. Tangannya mencengkram dan mengepal keras-keras.
Di hadapan tatapan seperti itu, Huang Tang sudah biasa menangani kemarahan istrinya. Ia terlihat tenang dan sedikit tersenyum, seperti menang dari istrinya itu. “Kau memang benar-benar hitam seperti akar, apa aku salah?”
“Tentu saja salah!”
Berjalan mendekati Huang Tang dan satu tamparan mengenai pipi kanannya. Itu terasa lembut, tapi kemudian terasa sangat sakit. Pipinya lalu memerah.
Huang Tang mengusap pipinya yang merah, setelahnya sedikit menyeringai. Akhirnya ia tahu bagaimana terjadinya jika istrinya di permainkan. Selama ini, istrinya sangat sulit di permainkan, karena memiliki sikap yang sangat serius. Sekarang ia tahu apa yang terjadi jika mengejeknya.
Setelah menampar Huang Tang, Shao Dong’er kemudian memandang tangan yang telah di gunakannya. Setelahnya mengepal erat-erat dan menghela nafas. Ia kemudian berbalik pergi sembari berkata, “Rusa yang malang, jangan pernah melakukannya lagi.”
Ia kemudian pergi dari sana.
Sementara Zhizhu setelah melihat kejadian itu terjadi, dan menyadari jika hubungan Huang Tang dan istrinya sangat tidak baik, ia pun bergegas menghilang. Ia pikir dengan sikap romantis yang di tunjukan Huang Tang merupakan tanda jika mereka Sangat bahagia, tetapi ternyata tidak.
Setelah melihat Shao Dong’er akan pergi, Zhizhu secepat kilat kemudian kembali lagi untuk melihat apa yang akan terjadi.
Huang Tang kemudian mengangkat araknya. Setelah meneguknya, ia kemudian berkata, “Nona Zhizhu, keluar...”
Menyadari panggilan itu, Zhizhu terdiam sebentar, tapi kemudian ia membuka pelan pintu dan mendekatinya. “Maaf jika aku mengetahui semuanya.”
“Aku tidak peduli dengan semua itu.” Huang Tang kemudian meneguk araknya, lalu bertanya, “Apakah kau datang ingin mengetahui lanjutannya?”
Zhizhu mengangguk.