Alam Mandala

Alam Mandala
pria topi Capil



Setelah tiba di desa tetangga Suji, Bing Jiazhi mulai bertanya kepada seseorang tentang di mana letak sekte bambu yang sangat ia benci.


Beberapa orang mengatakan tidak tahu, membuatnya terus berjalan-jalan.


Hari-hari terus berlalu. Hujan gerimis, lebat dan di sertai petir silih berganti menemani Bing Jiazhi.


Berbagai bentuk cuaca buruk ia alami hingga akhirnya mendapatkan informasi tentang sekte tersebut.


Katanya, sekte itu berada di sebelah Utara ibukota kekaisaran bintang biru yang sangat jauh, bahkan lebih jauh dari sekte yang ia tuju.


Sekte Bambu adalah salah satu sekte terkuat di kekaisaran, tetapi tidak terlalu terkenal di bagian selatan.


Entah arus apa yang membawa Bing Jiazhi hingga tiba di bagian selatan kekaisaran.


Dengan kemampuannya sekarang, ia memerlukan sekitar 10 sampai 20 hari untuk mencapai sekte tersebut.


Bing Jiazhi menikmati keindahan dunia ketika ia tiba di ibu kota kekaisaran dan mencari beberapa rumah bordil untuknya bersenang-senang.


Ia adalah seorang bajingan, tetapi ia sekarang tidak tertarik dengan hubungan badan; ia lebih tertarik dengan seorang wanita yang mempunyai keahlian khusus, seperti melukis, memainkan alat musik, memiliki kemampuan menulis, kaligrafi dan lain-lainnya.


Dunia ini sangat luas, seharusnya semuanya harus di rasakan. Begitu lah pikirannya sekarang.


Ia menikmatinya, tetapi harus pergi dari sana.


Setelah berlari-lari beberapa hari, akhirnya ia sekarang berdiri di depan gerbang sekte Bambu.


Cahaya pagi menyinarinya dari timur, membuatnya bagaikan sosok yang sangat di hormati. Ia mengertakkan giginya dan rasa dendam tiba-tiba bergejolak di dalam dirinya ketika ia menatap gerbang dengan nama sekte bambu tersebut.


Kedua alisnya sedikit menurun dengan bibir tanpa gerakan. Tatapan matanya sangat tajam dan hitam, seolah itu adalah lubang hitam yang akan menyedot apa pun yang ada.


Ia membenci bagaimana dirinya di siksa dan di permalukan di sekte ini. Bagaimana dirinya di pukul, caci maki dan di ejek.


Ketika berhasil kabur dari sekte ini, ia sudah berjanji di dalam dirinya, bahkan ketika ia menginjakkan kaki ke dalam sekte ini untuk ke dua kalinya, maka balas dendamnya akan terselesaikan.


“Hari ini... Akan terjadi kejadian yang mengejutkan.”


Ia kemudian masuk ke dalam dengan tenang.


Alasan ia tidak bertanya kepada Xue Ni mengenai di mana letak sekte Bambu, itu tidak lain karena menurutnya tidak perlu melakukannya. Menurutnya lebih baik bertanya-tanya tentang di mana letaknya dan menanyakan berbagai tempat yang mungkin membuatnya tertarik, tetapi apa yang di harapkan berbanding terbalik, tidak ada tempat-tempat menarik, bahkan di ibukota tidak ada banyak tempat-tempat yang membuatnya cukup tertarik, selain rumah bordil di beberapa tempat, itu pun tidak ada wanita yang membuatnya tertarik.


Menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya ia tiba di tangga berkelak-kelok menuju ke atas dengan di penuhi bambu-bambu berwarna hijau.


Angin lembut meniup-niupi rumpunan bambu tersebut. Burung-burung mulai terdengar kicauannya. Daun-daun bambu menari-nari ke bawah di hadapannya.


Bing Jiazhi terdiam dan mengangkat wajahnya. Ia tidak terlalu tertarik dengan pemandangan bambu tersebut, hanya saja seseorang berdiri beberapa meter darinya.


Gadis yang sebelumnya bersamanya, tetapi ia tidak mengenal wajahnya, hanya merasa pernah mengenalnya.


Gadis itu tampak lebih dewasa, walaupun umurnya tidak sesuai dengan tubuhnya sekarang.


Ia sekarang menatapnya dengan kepiluan dan rasa bersalah yang tinggi. Menatapnya beberapa saat dan bertanya-tanya apakah di depannya asli atau bukan.


Wajah mungil dan senyuman cerianya tampaknya telah hilang setelah kepergian Bing Jiazhi. Tubuhnya juga terlihat lebih gemuk dan menggoda dengan dada yang lebih besar.


Setelah berziarah ke makam ayahnya, ia berjalan menuruni tangga, tetapi tidak pernah menyangka ia akan bertemu dengan seseorang yang selalu di anggapnya teman.


Ia menatapnya lama sebelum benar-benar berani bertanya, “Kakak, apakah itu kau?”



...ilustrasi sekte Bambu...


...----------------...


Para siswa berkumpul mengelilingi luar aula di pagi ini. Cahaya matahari yang di tutupi awan-awan berwarna ungu, namun itu tidak menghilangkan keindahan dan rasa gugup para siswa yang akan bertarung hari ini.


Semua orang tahu, beberapa orang mungkin menjadi pemenang di rangking pertama, di antaranya tidak lain adalah Huang Shu, Bai Shia, Xiao Ning’er dan beberapa orang lainnya.


Sebagian besar di antara mereka ingin sekali melihat pertunjukan bagaimana Huang Shu akan tampil, tetapi sayangnya gadis itu sudah menghilang tiada jejak.


Beberapa mencari tahu ke mana perginya, tetapi tidak ada yang berhasil menemukannya.


Tersiar juga kabar, bahwa ia telah di bunuh dalam perjalanan keluar dengan kereta kuda, mungkin mencoba untuk melarikan diri, tetapi seseorang membunuhnya di tengah jalan dan membakar kereta kudanya.


Mengapa ia keluar dan ingin kabur?


Itu adalah pertanyaan yang sangat misterius yang belum mereka temukan jawabannya.


Para siswa beranggapan jika orang yang telah membunuhnya tidak lain adalah para ketua, karena mereka masih tenang walaupun salah satu siswa berbakatnya menghilang begitu saja.


Namun, tidak ada yang berani angkat berbicara karena mungkin di cap sebagai penghianat.


Shui Liu, Gado Feng, Liang Ting’er, qiu qiu dan para ketua lainnya berdiri di depan bangunan megah menghadap ke aula.


Mereka saling memberi hormat lalu duduk di sebuah kursi.


Seorang pria paru baya berjalan ke dalam aula dan berhenti tepat di tengah-tengahnya. “Para siswa-siswi sekte bambu, sesuai yang kalian dengar, Hari ini adalah tahap terakhir dan puncak dari ujian masuk sekte dalam. Beberapa di antara kalian mungkin sudah gugur dalam dua ujian sebelumnya, tetapi jangan pernah itu membuat semangat kalian memudar. Bagi yang masih bertahan hingga sekarang, kalian harus menunjukkan siapa diri kalian dan berusaha melakukan terbaik. Baiklah, tanpa banyak basa-basi lagi, mari kita mulai sesi pertama!”


Pria itu kemudian berjalan ke pinggir, mengambil sebuah gulungan dari seseorang pria tua. Ia masuk ke dalam lagi, kemudian membukanya. “Nama pertama....,”


Pria itu berhenti berkata-kata setelah melihat sosok berpakaian hitam memakai topi capil berjalan dari sudut pepohonan dengan tenang.


Pria itu berjalan di tempat tidak ada siswa sedikit pun di sana. Di tangannya ada pedang kayu yang indah tetapi polos.


Berjalan dengan pakaian seperti itu, membuatnya tampak misterius.


Semua siswa memusatkan perhatiannya kepada orang ini.


Gado Feng, Shui Liu, Liang Ting’er, qiu qiu tidak luput dari rasa penasaran dengan pemuda di depannya saat ini.


Para siswa mulai bertanya-tanya, siapa orang itu, apakah salah satu kakak senior mereka atau kejutan yang lainnya, yang mungkin di persiapkan sekte.


Tetapi, mereka tidak menyadari, para tetua juga mengerut kening karena keheranan. Dan bertanya-tanya siapa orang itu. Mereka tidak mengenalinya sama sekali. Bahkan jika itu salah satu siswa sekte dalam, mereka sudah mengetahui jika semuanya sedang berlatih.


Ketika mencapai tengah aula pria itu melepaskan topi capilnya. Rambut hitam panjangnya seketika berterbangan tertiup angin. Wajah yang tajam, dingin dan di gambarkan sebagai sosok pembunuh terlihat di wajahnya ketika ia menatap para tetua. Bahkan ia berani menatap ketua sekte dengan tatapan tajam.