Alam Mandala

Alam Mandala
penyakit kesepian



Katanya, setiap orang yang lahir di dunia ini akan membawa dua penjaga yang tidak terlihat. Mereka akan menjaga roh yang lahir hingga kematiannya. Memberikan bantuan dan petunjuk segala macam permasalahan dalam hidup.


Kedua penjaga itu akan senang tiasa berada di sisinya dan tidak akan pernah terlihat ataupun di rasakan. Xue Yan pernah mendengar dan membaca prihal tentang itu, tapi ia tidak percaya dengan semua itu. Semuanya hanya omong kosong yang dikatakan orang-orang dulu untuk membuat setiap orang lebih kuat dan selalu memiliki harapan di dalam hidupnya. Kata-kata di buat hanya untuk menipu, tapi demi kebaikan.


Akan tetapi, Xue Yan kini harus mempercayainya. Terlepas apakah sepenuhnya benar atau tidak. Ia telah melihat dan merasakannya. Tapi itu hanya satu roh, dan memiliki rupa yang sama dengannya.


Di bandingkan dengan menjaga, penjaga ini sangat menderita dan kesepian. Setiap tuju hari sekali, di malam hari ia bermimpi melihat penjaga itu. Ia akan berjongkok dan menangis di tempat yang di penuhi kabut.


Xue Yan terdiam dan mengamatinya. Ia merasakan kesedihan yang dalam dari suara tangisannya. Ia ingin menghampirinya, tapi ia ragu-ragu untuk mendekatinya.


Saat ia menyakinkan diri dan mendekatinya, sosok itu menghilang sebelum tangannya mencapai pundak sosok itu, dan ia kemudian tersadar dari tidurnya.


Sudah tidak terhitung berapa kali ia mengalaminya dan sudah menjadi sesuatu yang biasa.


...----------------...


Tapi sekarang, ia tiba-tiba terbangun. Tahu-tahu keringat memenuhi dahinya dan suara tarikan nafasnya seolah ia di kejar sesuatu.


Ia lalu memandang ke arah jendela yang terbuka. Angin bertiup, menyebabkan korden berwarna putih sedikit terangkat.


Ia menghela nafas, kemudian mendekatinya. Menyibak korden itu, dan melihat cahaya-cahaya kuning dari tempat-tempat lainnya.


Entah apa yang terjadi, ia tiba-tiba terpikir untuk mengunjungi perpustakaan guna mencari sesuatu yang mendesaknya baru-baru ini. Apakah soal itu, tidurnya terganggu?


Ia dengan cepat pergi ke perpustakaan.


...----------------...


Lilin-lilin sudah setengah tersisa di samping-samping pintu masuk perpustakaan. Ia mendorong pintu perpustakaan dengan pelan, dan suara khas keluar.


Bau buku kuno langsung menyebar ke luar.


Ia masuk, kemudian melihat-lihat rak-rak tinggi yang di penuhi buku-buku tebal dan tipis.


Setelah menemukan buku yang cocok, ia kemudian duduk dan mulai membukanya.


Ia datang mencari cara untuk mengakhiri semua siklus yang memberatkan manusia. Ia ingin meninggalkan tempat ini tanpa pergi ke neraka atau surga; ia ingin pergi ke tempat yang lain dari itu. Oleh karena itu, menghancurkan dua tempat itu mungkin jawabannya. Selain itu, ia juga ingin mengakhiri siklus reinkarnasi dan kelahiran yang membawa penderitaan, terutama bagi anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang orang tua sama sepertinya. Hanya dengan menghancurkan dua tempat itu, ia akan bisa memenuhi keinginannya.


Ketika mulai membaca, ia teringat dan bertanya-tanya, mengapa ia merasa memiliki saudara yang lain di dalam tubuhnya. Apakah ini berkaitan dengan penjaga itu?


Ia merasa mungkin ada kaitannya, tapi sampai sekarang, ia tidak tahu Pasti jawabannya.


Ia mulai fokus dengan bacaannya, dan waktu pun terus berlalu.


...----------------...


Bing Jiazhi berhenti berjalan. Zhu Nan, Zhu Han dan anak laki-laki ikut berhenti dan mulai bertanya-tanya mengapa Bing Jiazhi berhenti bergerak.


Bing Jiazhi berbalik menatap ketiga orang itu, kemudian berkata, “Kita beristirahat sekarang.”


“Tapi, kita belum menemukan kakakku,” ujar anak laki-laki itu.


“Tidak bisa! Kakakku mungkin dalam bahaya sekarang. Jika kita tidak bergerak cepat, aku takut dia tidak bisa bertahan!”


Bing Jiazhi tetap tenang di hadapan wajah anak laki-laki yang di penuhi khawatir itu. “Jika kau mau, kau bisa pergi sendiri.”


Anak itu tersentak dan kecewa. “Tapi kalian bilang akan membantuku hingga menemukan kakakku! Kau juga berkata akan mempertemukanku dengan kakakku jika aku memberi tahumu, aku menginginkannya sekarang.”


“Tapi hari ini sudah berakhir,” kata Zhu Nan mendekati anak laki-laki itu. “Kita bisa melanjutkannya nanti. Jika kita melanjutkannya, kita tidak akan bisa bertahan jika ada bahaya yang datang. Kau mestinya tidak mau jika itu terjadi bukan?”


Wajah anak laki-laki itu di penuhi kekecewaan. Ia ingin melanjutkan perjalanan, tapi ia tidak mau juga berada dalam bahaya. Ia pun berpikir sejenak, kemudian berkata, “Baiklah. Tapi kita tidak akan beristirahat sampai matahari terbit, kan?”


“Tidak akan.”


Zhu Han menyetujui keputusan itu. Ia sudah merasa kelelahan dan ingin beristirahat. Tapi sebelum itu, ia ingin menghangatkan tubuhnya. Gua ini terlalu dingin dan sangat lembab.


Ia berjalan menghampiri Zhu Nan. Tanpa berkata apa-apa, Zhu Nan memberikan pedangnya. Zhu Han mengangguk, kemudian berjalan melewati mereka. Ia berhenti di depan Bing Jiazhi.


Ia kemudian menarik pedangnya. Lalu menyilangkan kedua pedang itu. Tangan kanannya menarik satu pedang.


Percikan-percikan api terbentuk, kemudian Pedang itu menghilang, dan akhirnya api unggun dari pedang itu terbentuk.


Mata anak laki-laki itu berbinar ketika menyaksikan keajaiban itu. Ia sampai melupakan kekecewaannya.


Mereka berempat kemudian melingkari api unggun. Lalu mencari makanan dan beristirahat.


Setelah dua jam dari mereka beristirahat, Bing Jiazhi terbangun. Kemudian berjalan ke depan.


Sepanjang perjalanan singkat ini, suara tetesan air hujan dan suara kelelawar memenuhi ruangan.


Ia berhenti berjalan dan menatap sosok putih di depannya dengan tenang. Liang seperti telah mempermainkannya, ia tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Seolah keberadaannya tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya.


Bing Jiazhi mendekatinya. Bau harum seorang wanita cantik sangat menggodanya. Tangan kanannya bergerak dan menyentuh dagu runcing Liang, lalu mengangkatnya. Ia selalu melakukan hal ini ketika bertemu dengan wanita.


Kedua mata Liang yang seperti teratai menatap kedua mata Bing Jiazhi dengan dalam.


“Mengapa kau menyerahkan dirimu?” tanya Bing Jiazhi.


Liang berbalik dan melangkah tiga langkah, lalu berbalik. “karena kau menyelamatkanku.”


Bing Jiazhi berpikir sebentar, kemudian ingin bertanya, tapi Liang terlebih dahulu berkata, “Kau tidak mengingat saat itu? Gadis yang telah kau selamatkan. Kau pasti mengingat kata-kata ini ‘kesepian adalah penyakit yang dapat membunuhmu.’


Bing Jiazhi mengangguk. Ia pernah mendengar ini dari seorang gadis yang ingin bunuh diri, tapi ia menyelamatkannya dengan menariknya dan membuat ia terjatuh ke belakang dan gadis itu memeluknya.


“Bodoh! Kenapa kau melakukan itu!?”


Wajah gadis itu terkejut, kemudian menatap Bing Jiazhi dengan tatapan aneh. “Karena aku tidak kuat lagi!”


Gadis itu kemudian menceritakan tentang mengapa ia melakukannya. Ia merasa terus sendiri dan sendiri. Merasakan kesenangan sendiri; merasa kesedihan sendiri. Hal itu sangat menyiksanya dan membuatnya ingin mengakhiri hidup. Tapi berkat Bing Jiazhi, ia gagal melakukannya.


“Kau harus mengetahui jika kesepian adalah penyakit yang dapat membunuhmu secara perlahan-lahan dan dengan kejam.”