
Keesokan paginya hujan gerimis masih turun degan cahaya matahari masih bersinar. Beberapa awan-awan terlihat lebih gelap dan beberapa juga terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Tidak ada angin yang bertiup menyebabkan hanya ada suara hujan yang jatuh. Andai saja ada genteng yang mampu berbunyi, maka pagi itu tidak akan terlalu sepi.
Memakai pakaian hitam, Bing Jiazhi berdiri di depan rumah. Ia memandang ke arah cakrawala, membuat matanya secara langsung tersentuh oleh cahaya matahari pagi yang hangat.
Ia duduk di kursi dan tidak beberapa lama Zhizhu datang. Wajahnya terlihat lebih menyeramkan dari pada sebelumnya dengan dua rambut panjang di depannya yang tumbuh lebih panjang, atau mungkin itu hanya Bing Jiazhi tidak memperhatikan rambut Zhizhu sebelumnya.
Tanpa berkata-kata, Zhizhu kemudian duduk di kursi seberang dan terdiam. Keheningan memenuhi suasana pagi ini, bahkan burung-burung tidak berkicauan.
Kemudian mereka sama-sama berdiri, lalu Zhizhu menghampiri Bing Jiazhi dan bertanya tanpa memandangnya, “Kita akan pergi sekarang?”
Bing jiazhi sedikit mengangguk dan berjalan menuju perkarangan rumah, ketika itu, Xiang We dan ibunya datang. Mereka sama-sama mengepalkan tangannya dan menunduk dalam-dalam, membuat kedua rambut mereka yang panjang terjun ke bawah.
Setelah mengangkat kepalanya, Ibu Xiang We berkata dengan nada hormat, “Andai anda lebih lama di sini, aku akan senang menjamu anda dengan berbagai hidangan dan melayani anda sepenuh hati, tapi sayangnya anda harus pergi sekarang, dan aku tidak bisa menghambatnya. Dunia kultivasi terlalu rumit untuk diriku yang tua ini, tapi semoga saja keberuntungan selalu bersama anda. Selanjutnya, aku hanya bisa mengatakan terima kasih dan memberikan ini sebagai ucapan terima kasihku.”
Ibu Xiang We mengambil sebuah gulungan dari lengan bajunya dan mengulurkannya ke depan. Wajah ibu Xiang We kemudian menunduk, seolah ia memberikan sesuatu kepada seorang Kaisar.
Bing jiazhi mengambilnya tanpa melihat terlebih dahulu gulungan itu, ia kemudian berkata, “Aku pergi sekarang.”
“Tunggu!” ujar Xiang We kemudian mengangkat kepalanya. “Sebelum kau pergi, aku sangat berterima kasih kepadamu. Suatu hari nanti, jika kau membutuhkanku jangan sungkan mencariku, aku bersedia mengorbankan nyawaku demi dirimu. Apa yang kau lakukan untukku tidak ternilai harganya, bahkan dengan gulungan itu, dan aku akan sangat senang jika kau meminta bantuanku.”
Bing jiazhi mengangguk. “Aku akan mengingatnya.”
Xiang We kemudian tersenyum lalu ia mengambil satu gulungan dari lengan bajunya kemudian menarik tangan Bing Jiazhi, lalu meletakkan gulungan itu di sana. Xiang We kemudian tersenyum seperti seseorang yang sedang jatuh cinta; wajahnya berseri-seri seperti bunga dan senyumannya terlihat sangat tulus. “Ini untuk kakak seniormu, An Bai.”
Bing Jiazhi memandangnya sebentar kemudian sedikit tersenyum. Ia mengerti apa yang di tulis Xiang we di dalamnya. Kemudian mengangguk dan berjalan pergi.
Zhizhu kemudian mengikutinya dari belakang, tapi tangannya kemudian di pegang Xiang We. “Kau juga adalah seorang yang sangat penting dalam rencana ini, aku harus memberikan sesuatu.”
“Seharusnya kau memang begitu. Apa yang kau punya untukku?” Zhizhu bertanya dengan wajah datar seolah ia meremehkan apa yang akan di berikan Xiang We.
“Terimalah ini.” Kata Ibu Xiang We yang telah mengambil sesuatu yang entah dari mana.
Ia membawa sebuah kota kayu panjang dengan ukiran-ukiran tanaman rambat yang di penuhi bunga-bunga yang bermekaran.
Zhizhu penasaran kemudian bertanya apa itu.
“Terima saja, Nona akan mengetahuinya nanti.”
Karena Bing Jiazhi berjalan lebih jauh, Zhizhu kemudian mengambilnya dan mengendong di punggungnya lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan terima kasih.
Ketika membawanya, ia tahu jika di dalamnya ada sebuah pedang, tapi ia penasaran pedang apa yang ada di dalamnya.
Xiang We dan ibunya kemudian melambaikan tangan meski kedua orang itu tidak menoleh bahkan membalasnya.
...----------------...
Wajah An Bai di penuhi keringat ketika ia selesai berlatih. Tentunya nafasnya juga bagaikan seseorang di kejar anjing galak. Tetapi, angin akhirnya berhembus dan menerpa wajahnya yang penuhi keringat itu, dan akhirnya ia merasakan sensasi dingin yang nyaman membuatnya ingin sekali tertidur. Namun, ia harus mengurungkannya jika ingin kultivasinya berkembang lebih cepat.
Duduk di bawah pohon yang tinggi, An Bai Kemudian memandang bilah Pedangnya kemudian memandang tangan yang memegangnya. Perlahan ia membuka telapak tangannya dan memperlihatkan ada beberapa bercak-bercak merah di telapak tangannya, menandakan jika ia telah lama berlatih pedang dan fisiknya. Merasakan sakit pada tangannya, An Bai merasa ingin beristirahat, tapi pikiran tentang janjinya kepada wanita itu, membuat ia mengurungkannya.
Ia kemudian menggerakkan tubuhnya untuk berdiri, tapi tubuhnya sangat lemah membuatnya kembali duduk.
“Mungkin aku harus beristirahat sebentar.” Gumamnya kemudian memandang ke Cakrawala sambil mengingat-ingat kenangan-kenangan bersama wanita itu.
Waktu itu, malam telah larut dan orang-orang yang menunggu wanita tercantik itu akhirnya gembira karena wanita itu akhirnya tiba.
Di lantai bawah yang megah yang di hiasi kain-kain merah, An Bai tersenyum memandang ke arah panggung, yang di mana sekarang terlihat tirai berwarna merah itu menampilkan sosok wanita cantik dengan gaun merah padam, memiliki tubuh yang tinggi dan juga montok. Selain wajah cantiknya, rambut panjangnya yang hampir menyentuh lantai juga menjadi daya tarik setiap orang yang memandangnya.
Semua orang terpana menatap wanita itu, tidak kecuali An Bai.
Kemudian wanita itu berjalan dan memperlihatkan kakinya yang manis dan putih. Di pergelangan kakinya ada gelang yang berbunyi kerincing-kerincing ketika ia berjalan.
Meski ada cadar yang menutupinya, semua orang tahu dari balik cadarnya itu ada sosok yang sangat memukau.
Di samping kanan dan kirinya dua gadis pelayan yang cantik berjalan sambil memegang gaunnya yang panjang, tapi tentu saja wanita yang paling tengah yang paling cantik.
Semua orang kemudian berteriak-teriak dan melompat-lompat.
Akhirnya sosok cantik itu kemudian berhenti.
Seseorang gadis kemudian keluar dari balik tirai dan memperkenalkan wanita itu yang bernama Xiang We dan akan melepaskan karangan bunga.
“Bagi siapa yang berhasil mendapatkannya, berhak menghabiskan waktu semalaman bersamanya! Apakah tuan-tuan sudah siap?!”
Semua orang kemudian berseru.
Xiang We kemudian berbalik dan melemparkan karangan bunga itu.
Semua orang bersiap-siap dan mulai melompat. An Bai dengan cepat mengulurkan tangannya dan tinggal beberapa saat lagi akan mendapatkannya, namun tiba-tiba seseorang menendang dadanya dan membuatnya terjatuh.
“Hemp! Orang sepertimu tidak akan mendapatkannya!” seorang pria dengan wajah yang di penuhi kesombongan mendarat sambil memegang karangan bunga.
Wanita yang berkata sebelumnya terlihat tidak suka atas tindakan pria itu, ia kemudian berkata, “Maaf tuan, kekerasan sangat di larang di tempat ini. Anda seharusnya tahu peraturan ini.”
Ketika wanita itu berkata, di depan panggung orang-orang menjauh dan membiarkan An Bai dan Pria yang memegang karangan bunga itu menyelesaikan masalahnya. Mereka hanya ingin menonton penyelesaian masalah tersebut.
Pria wajah sombong itu kemudian memandang ke panggung. “Peraturan hanya di buat untuk melindungi orang-orang sampah dan lemah!”
Wanita yang ada di panggung semakin geram, “Tapi anda tentunya harus mengikutinya!”
“Siapa yang ingin menjadi lemah dengan berlindung dalam peraturan, Nona? Apakah anda lupa jika di Dunia ini yang terpenting adalah kekuatan, jika anda memiliki kekuatan, maka anda bisa menaklukkan dunia dan di hormati, jika tidak, maka bersiaplah menjadi sampah di dunia ini.”
Wanita yang ada di panggung ingin membalas, tapi An Bai tiba-tiba tertawa, “Benar! Apa yang kau katakan benar! Jika kekuatan yang kau inginkan, aku akan menunjukkannya di sini dan membuktikan ucapanmu itu!”
Wajah An Bai di penuhi kemarahan dan ia memegang sebuah pedang dengan erat. Kedua matanya tampak lebih tajam dan memerah.
Pria itu kemudian tersenyum dan mengambil pedang di punggungnya. “Dengan senang hati aku akan melakukannya...” saat pria itu berkata, ia menarik pedangnya dari selongsongan.