
“Lepaskan,” perintah Bing Jiazhi.
Bing Jiazhi menarik tangannya.
Tangan kanan Xiu Juan mulai bergerak menggapai bahu kirinya. Perlahan-lahan ia melepaskan gaungnya, dan memperlihatkan bahunya yang sangat putih. Untuk pertama kalinya, Xiu Juan melakukan ini, wajahnya merah padam seperti tomat dan tidak berani memandang Bing Jiazhi.
Kemudian ia menggerakkan tangan kirinya, namun tiba-tiba Bing Jiazhi menghentikannya.
“Baik.”
Tangan Bing Jiazhi bergerak dan memegang bahu Xiu Juan, membuat tubuh Gadis itu bergetar dan memberanikan diri memandang wajah Bing Jiazhi. “Tuan, biarkan aku saja.”
“Kau tidak boleh melakukan hal seperti ini.” Bing Jiazhi memperbaiki pakaian Xiu Juan.
Bing Jiazhi kemudian berjalan melintasi Xiu Juan dan berdiri di koridor luar untuk memandang langit malam.
Xiu Juan menghampirinya. “Tuan, apa yang bisa aku lakukan?”
“Apa yang kau bisa?”
“A-aku bisa melayani kebutuhan tuan saat ini.” Wajah Xiu Juan lebih memerah.
Bing Jiazhi mengangkat tangannya. “kedua lonceng ini tidak memberikan aku ijin untuk melakukan itu.”
Xiu Juan terkejut. Kenapa ia tidak mengetahui itu? Jika begitu, berarti pemuda yang ada di depannya sekarang sudah menikah dan mempunyai dua istri. Tapi kenapa ia datang ke rumah ini?
Bing Jiazhi memandang Xiu Juan, “Jika aku seperti dulu, aku tidak akan basa-basi tentang ini. Tapi sekarang, sepertinya aku harus menahannya.”
“Apakah istri anda tahu anda datang?”
“Tidak, tapi aku percaya, mereka pasti akan membunuhku saat ini.”
“Kalau begitu kenapa kita tidak melakukannya saja? Aku sebagai pelayan harus melayani anda. Aku yakin, mereka tidak akan tahu.”
“Aku tidak berselera sekarang. Mungkin karena terlalu banyak melakukannya dulu. Sekarang, aku ingin menikmati yang lain, yang lebih aman dan tidak mengancam nyawaku. Kau pernah mendengar, bahwa wanita lebih berbisa dari ular apa pun.”
Xiu Juan diam sebentar. “Aku tidak pernah mendengarnya. Jika anda tahu tentang itu, kenapa anda menikahi dua orang wanita?”
“Ini sebuah kecelakaan.”
“Kecelakaan?”
Bing Jiazhi mengangguk. “apakah kau menjadi seperti ini juga karena kecelakaan?”
“Tidak. Ibuku seorang pelacur juga, oleh karena itu, aku mengikutinya.”
“Apa yang kau bisa lakukan selain melakukan hal menjijikan itu?”
“Aku bisa Merajut.”
“Ajari aku melakukannya.”
Bing Jiazhi kemudian masuk ke dalam.
Xiu Juan tidak pernah menyangka jika pria tampan itu hanya datang untuk belajar merajut. Jika ia mau melakukan, dan akhirnya ia mengandung anaknya, mungkin saja ia bisa menjadi istri ketiganya.
Xiu Juan juga ikut masuk.
...----------------...
Ia menyukainya ketika masih kecil, saat-saat ibunya selalu merajut ketika waktu luang. Merajut adalah hal yang romantis saat itu. Ibunya selalu merajut untuk para tamunya sebagai kenang-kenangan.
Lambat laut, ketrampilan itu pun akhirnya di wariskan kepada Xiu Juan. Xiu Juan berpendapat, merajut bukan sekedar membuat syal, baju dan lain-lain, tapi sebuah bentuk kasih sayang dan sikap menghargai. Baginya adalah sebuah hubungan kepada orang yang di berikan, karena sebagian jiwa seseorang yang membuatnya akan hidup di dalam rajutan, walaupun hanya sekedar rajutan.
Jika orang yang menerima mengenal orang yang merajut syal yang di pakainya, maka ia akan sangat mengenalnya dan ada rasa dari orang itu, apalagi jika orang itu adalah orang penting di dalam hidupnya.
Di meja sudah ada gulungan benang wol, Hakpen (jarum rajut), jarum sulam, benang jahit, kontek api dan gunting.
Xiu Juan mengambil jarum rajut dan benang wol. “Tuan, aku akan mencontohkanmu membuat syal pola bentuk mawar.”
Bing Jiazhi hanya berkata silakan. Maka, mulailah Gadis itu membuat syal. Kedua tangannya dengan lihai memasukkan benang-benang dan mulai membentuk syal sedikit demi sedikit.
Satu jam, akhirnya gadis itu menyelesaikannya. Bentuknya adalah kain panjang yang rapat dan lembut. Xiu Juan memberikan Bing Jiazhi untuk menyentuhnya. Syal yang di buatnya sangat lembut dan hangat.
“Sekarang anda yang melakukannya tuan.”
Bing Jiazhi mengangguk dan mengambil alat-alat. Membuat syal tidak semudah yang terlihat, Bing Jiazhi melakukan berbagai kesalahan, mulai dari memasukkan benang, memegang jarum, dan cara merajutnya.
Xiu Juan dengan tenang dan sabar mengajarinya. Tetapi berjam-jam Bing Jiazhi mencobanya, membuatnya semakin kesal namun ia berusaha tetap sabar karena Bing Jiazhi adalah tamunya.
Malam pun semakin larut. Suara orang-orang semakin mengecil dan akhirnya menjadi sunyi.
“Tuan, aku lelah~”
Akhirnya Xiu Juan pun tertidur dengan alas kedua tangan, kedua kakinya menyerong dan terlihat indah lekukan perutnya.
Bing Jiazhi menggelengkan kepalanya dan kembali merajut. Kali ini akhirnya ia bisa menyelesaikannya. Dan langit pun mulai berwarna biru, yang menandakan ia belajar semalaman.
Bing Jiazhi berdiri. Tangan kanannya membalikkan tubuh xiu Juan. Ia Melihat kecantikan gadis itu, tetapi lebih cantik Liang dan Huang Shu. Dadanya yang besar dan tubuhnya sedikit gemuk. Siapapun akan terpesona olehnya. Satu tangannya masuk ke bawah lehernya yang indah dan satunya lagi masuk ke bawah dua kakinya yang indah. Bing Jiazhi kemudian berdiri, membopong gadis itu, dan meletakkannya di atas ranjang dengan lembut.
Ia kemudian menyelimutinya dengan lembut.
Kemudian pergi ke koridor. Setelah melihat ke sekitar, semuanya perlahan-lahan mulai bercahaya, dan cahaya matahari mulai bergerak mendekatinya. Hari sudah pagi dan burung-burung berkicauan merdu.
Dari kejauhan, burung hitam mendekatinya. Hingga beberapa saat, itu adalah burung gagak. Burung itu mendarat di bahu Bing Jiazhi. Ia dengan cepat memindahkan ke tangannya.
Ternyata burung itu membawa surat di kakinya.
Bing Jiazhi dengan cepat mengambil dan membukanya.
Isi surat itu adalah : dari istrimu, Liang.
Berbagai hal telah terjadi kepadamu. Aku tahu kau sama seperti laki-laki lainnya, menyukai ketenaran, pergi ke rumah para pelacur.
Tetapi ternyata semua kejadian yang telah aku lihat hanyalah permukaan yang tidak akan pernah mengetahui apa yang ada di dalamnya.
Sekarang setelah mengamati tindakanmu, aku percaya kau bukan laki-laki sembarangan.
Kau datang ke dalam rumah pelacur hanya bercakap-cakap dan melakukan hal-hal aneh.
Kau ternyata datang ke tempat sekte hanya untuk membalas dendam. Kupikir kau adalah murid dari sekte itu, ternyata aku salah.
Walaupun kau tidak melakukan tindakan-tindakan aneh dan menjijikkan, aku ingatkan, jangan pernah melakukan itu. Aku akan selalu mengawasimu, di mana pun kau berada.
Salam dari istrimu.