
“Aku telah dua kali mendengar nama yang aneh.”
“Keberuntungan datang kepadamu dua kali. Siapa kau?”
“Xiao.”
Liang mengangguk. “sepertinya kau tidak percaya denganku.”
“Kau juga.”
“Ikut aku.”
Liang berbalik dan pergi dari sana, tanpa mempedulikan Yang lagi.
Bing Jiazhi hanya mengikutinya.
Setelah berjalan beberapa meter menuju ke lereng. Ada sebuah bunga berwarna biru di semak-semak. Liang memetiknya.
“Bukan yang masalah utamanya.” Ia kemudian menyelipkannya di telinga. Ia kemudian melepaskan cadarnya dan memperlihatkan wajah aslinya yang sangat cantik.
“Bisa kau tunjukkan di mana?”
Liang mengangguk dan memandang Bing jiazhi. “Apakah aku terlihat cantik?”
Bing Jiazhi sedikit terkejut mendengarnya. “Kau memang cantik, bahkan tanpa bunga itu.”
Liang tidak menjawab, dan wajahnya tidak ada reaksi sedikit pun.
Mereka mulai berjalan lagi.
Tidak beberapa lama, akhirnya mereka tiba di depan air terjun.
Bing jiazhi mengenal, jika ini adalah air terjun yang menjadi tempat tinggal Xue Ni.
Di sana tidak rumah, tapi ada pohon histeria yang tubuh lebat. Di bawahnya, dua orang gadis duduk dan saling memegang tangan memandang air terjun.
Bing Jiazhi memperhatikannya.
Hingga Liang berkata, “Salah satu dari mereka adalah Xue Ni.”
“Siapa kau?” Bing Jiazhi penasaran. Walaupun ia tidak memeriksanya, tapi apa yang di katakannya ada benarnya. Salah satu gadis itu mirip dengan Xue Ni.
Tapi Liang tidak menjawab dan pergi dari sana.
Bing Jiazhi semakin penasaran dengan sosok Liang. Ia ingin mengetahuinya, tetapi ia tentunya tidak akan bisa memaksa gadis itu untuk menjawabnya. Selain karena tidak tahu kekuatannya, ia juga tidak tahu latar belakangnya.
Liang pergi ke desa Suji dan berdiri di salah satu rumah megah di sana. Seperti desa pada umumnya, desa Suji sangat ramai penduduk, bahkan ketika gadis itu berdiri di depan rumah yang terbuat dari kayu dan berwarna indah itu, semua orang masih lalu-lalang dengan ramai.
Bing Jiazhi tidak tahu harus berbuat apa selain mengikutinya.
“Ayo kita masuk,” Kata Liang lalu berjalan mendekati rumah.
Perlahan-lahan ia membuka pintu dan masuk. Bing Jiazhi mengikutinya.
Ketika mereka berada di dalam, tiba-tiba pintu tertutup tiba-tiba dan sangat keras. Mereka akhirnya tiba di ruang yang di dominasi warna merah. Di kanan dan kiri rumah di penuhi lilin-lilin menyala.
Cahaya matahari terlihat di tengah-tengah ruangan, menandakan jika atap rumah itu berlubang. Cahaya itu sangat cerah dan indah ketika menatapnya dari pintu masuk
Dan di ujungnya, Seorang pria berdiri dengan jubah hitam dan rambut panjang. Ia membelakangi Bing jiazhi dan Liang. Pria itu memegang sebuah pedang yang di balik-balik beberapa kali, seolah sedang mencari kerusakannya. “Kau akhirnya datang.”
Pria itu kemudian berbalik dan memandang Bing Jiazhi dan Liang dengan tatapan ramah.
Liang melangkah ke depan satu langkah. “Masa depanmu tergantung dengan takdirmu sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu lolos hari ini.”
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari lantai dua. Ruangan ini memiliki lima lantai dan sangat indah ketika pengunjung masuk, kemudian memandang ke atas.
Di sana muncul pria yang sama dengan memegang cangkir arak. “Bukan aku, tapi kau.” Ia kemudian meneguk araknya dan melompat.
“Kita akan melihatnya nanti,” ucap Liang tenang setelah pria itu mendarat.
Pria yang tadi melompat langsung memerintahkan pria yang satunya untuk pergi dari sana.
Ekspresi Liang sedikit gelap setelah melihat itu.
Sementara Bing Jiazhi tidak mengerti apa yang terjadi dan bertanya-tanya apa hubungannya dua orang kembar di depannya dengan kutukan yang terjadi.
“Xiao, lawan dia,” Ujar Liang dengan nada lebih tinggi dari biasanya.
“Siapa dia?”
“Kau akan mengetahuinya nanti, cepat lawan!”
Bing jiazhi tidak ada pilihan lain selain melawannya. Ia menarik pedangnya dan melesat seperti petir.
Pria itu juga melakukan hal yang sama.
Dua cahaya saling berbenturan, yang di akhiri suara aduan pedang.
Bing jiazhi memandang dingin pria itu, dan sebaliknya juga.
“Ternyata gadis itu membawa lawan yang tangguh untukku,” katanya, kemudian mengayunkan pedangnya. Ia dapat dengan mudah mendorong Bing Jiazhi.
Tapi, sebelum ia dapat melancarkan serangannya, Bing Jiazhi melompat mundur. Cahaya hitam muncul di dahinya bersamaan dengan cincin-cincin Mandalanya. Tekanan yang lebih kuat menyebar darinya.
Melihat itu, pria itu sedikit menarik Sudut bibirnya. Di dahinya cahaya putih muncul bersamaan dengan empat cincin Mandalanya. Tekanan yang lebih kuat pun muncul lagi, membuat kayu-kayu retak-retak dan lilin padam. Tidak hanya itu saja, angin kencang tiba-tiba muncul yang entah dari mana.
Liang memandang mereka dari kejauhan dengan tenang, seolah tidak merasakan tekanan apa pun dari kedua orang yang sedang bertarung. “Pemuda ini, bukan orang sembarangan.”
“Anak muda, majulah.”
Bing Jiazhi tidak menjawab, tetapi ia bergerak sangat cepat, hanya sepersekian detik, atau mungkin lebih cepat dari itu.
Suara pedang menggema sangat keras di ruangan membuat lilin-lilin hancur dan tembok berlubang-lubang dan tambah retak.
Walaupun demikian, Liang tetap tenang memandangnya, seolah ia tidak mendengar apa pun.
“Anak muda, kau sangat bertalenta. Jika saja yang melawanmu tubuh asliku, maka aku hanya memiliki lima puluh persen kemenangan melawanmu dan gadis itu. Aku juga tidak pernah berpikir jika dia akan membawamu datang.”
Bing Jiazhi tidak mengatakan apa-apa. Ia memutar tubuhnya dan mengayunkan pedangnya ke arah leher Pria itu.
Walaupun serangan itu sangat cepat, pria itu mampu menangkisnya.
Cincin Mandala di dahi Bing Jiazhi muncul dan cahaya hitam mengalir ke arah bilah pedangnya.
Tidak lama setelahnya, ledakan pun terjadi. Tapi sayang sekali, pria itu berhasil melompat mundur dengan sangat cepat.
Ledakan itu membuat lantai dan dinding berlubang.
Kini mereka berdua di pisahkan oleh lubang berukuran 5 meter.
Baik Bing Jiazhi maupun pria itu terdiam tanpa ekspresi apa pun.
Tidak lama setelahnya, mereka berdua sama-sama melompat ke atas dan saling menyerang di koridor- koridor.
Sementara itu, Liang melangkah maju dan duduk di pinggir lubang yang telah di buat Bing jiazhi dengan ledakan atomnya.
Ia mengeluarkan tiga benang berwarna merah, putih dan hijau dan satu lonceng. Gadis itu terlihat sangat tenang, meski di atasnya Bing Jiazhi dan pria itu bertarung dengan kecepatan yang sangat mematikan.
Ia mengikat tiga benang itu menjadi satu, kemudian mulai menganyamnya menjadi gelang.
Tangannya yang halus bergerak-gerak memindahkan satu benang dengan benang yang lainnya secara berulang kali.
Ketika telah sampai di pertengahan dari panjang benang, Bing Jiazhi dan pria itu berhenti dan berdiri di atas pagar kayu lantai lima, lantai teratas.
Matahari memancarkan cahaya di tepat di atas mereka.
Tidak ada yang terluka ataupun mengubah ekspresinya. Mereka sama-sama kuat.
Dua cincin Bing Jiazhi muncul dan berdering keras, kemudian ia tiba-tiba muncul di belakang pria itu.
‘kecepatan ini...’