
“Bukan. Tapi karena aku mencuri kekayaan mereka. Kakak seniormu tidak aku bunuh.”
“Sekarang apa yang akan kau lakukan?”
“Apakah kau bersedia membantuku untuk menghilangkan penderitaan dan balas dendamku? Aku akan memberikan gulungan seribu pedang sebagai bayarannya.”
Gulungan seribu pedang adalah sesuatu yang di cari Bing Jiazhi ke rumah bordil. Ia saat bertemu dengan xiang we ingin langsung membunuhnya, tetapi ada perasaan yang membuatnya mengurungkan niat itu. Ia sudah tahu gulungan itu berada di tangannya, hanya saja memerlukan waktu yang tepat untuk melakukannya.
Sekarang, setelah mendengar cerita itu, ia berubah pikiran untuk melakukan petualangan lagi. Mungkin jiwa mudanya masih bersemayam di tubuhnya dan perlu pelampiasan.
“Tunggu pesan dariku.”
Bing Jiazhi pun pergi tanpa memberi hormat.
Xiang we mengangguk, kemudian mengambil teko dan satu gelas, lalu menuangkannya dan meminumnya.
“Aku akan menunggumu.”
*****
Malam pun tiba. Bing Jiazhi berjalan dengan tenang menuju ke tengah ruangan pertama pagoda yang di penuhi lilin-lilin.
Ia memberi hormat kepada seorang pria tua yang tengah duduk di depannya dan memulai pembicaraan, “Aku akan pergi beberapa hari.”
Angin pun tiba-tiba masuk dari pintu keluar, membuatnya terbuka dengan kasar.
Pria tua itu diam. Tetapi tiba-tiba angin menghilang dan perlahan-lahan pintu di tutup dengan sendirinya.
“Apakah kau tahu apa yang telah kau minta?”
“Iya, aku tahu.”
Pria itu diam lagi sebentar. “Besok datanglah ke sini.”
Bing Jiazhi mengangguk. “Anda tidak boleh melarangnya.”
Setelah memberi hormat, ia pun pergi dari sana.
****
Dalam gerutu angin dan tebaran salju-salju tipis, burung-burung berusaha terbang, para binatang berusaha berlari menghangatkan tubuh mereka.
Salju kian menumpuk di tanah dengan ketebalan tinggi. Pemandangan ini sudah menjadi hal biasa bagi Fang Enlai. Ia sedang berdiri di depan jendela melihat dan merasakan betapa sulitnya hidup di daerah utara yang bersalju.
Deru angin sangat terasa ke dalam, meski sudah di lapisi kaca tebal dan pelindung.
Api yang berada di tungku bergerak tidak menentu, mungkin karena merasakan betapa dingin dan bahayanya badai salju di luar. Ujung api itu memperlihatkan ketakutan yang luar biasa.
Bayangan yang ada di lantai sedikit bergetar dan di penuhi ketakutan.
Fang Enlai berjalan ke depan tungkuan dan duduk di sana.
Gadis yang ada di sampingnya begitu bersyukur karena telah di tolong olehnya. Maka dari itu, ia pun mengucapkan terima kasih dari giginya yang bergetar.
Fang Enlai berdiri lagi. Ia kemudian pergi menuju meja dan menuangkan air panas ke dalam cangkir. “Nona Jiu, Anda terlalu nekat pergi ke sini.” Ia pun berjalan mendekati Jiu Jiu. “Jika bukan aku menemukanmu, mungkin itu adalah hari terakhirmu berada di dunia ini.”
Jiu Jiu mengambil air itu dan meminumnya. Setelah tubuhnya terasa lebih baikkan, ia pun membalas, “ Terima kasih Tuan Fang, aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu ini.”
Fang Enlai memasukkan kayu bakar ke dalam tungkuan. “Kumpulkan saja kayu bakar untukku, itu pun jika Nona mau melakukannya.”
“Mengapa Nona datang ke sini?”
“Aku mencari tanaman-tanaman dan monster,” jawab Jiu Jiu berbohong.
Fang Enlai mengangguk dan tidak lagi bertanya. Orang-orang memang selalu melakukan perjalanan jauh hanya untuk mencari tanaman-tanaman herbal dan monster-monster yang akan mereka jadikan peliharaan. Melawan badai salju dan jebakan-jebakannya sangat setimpal bagi mereka yang datang ke tempat ini. Berbagai hewan buas dan tanaman-tanaman herbal tersedia di tempat ini, dan tentunya ada beberapa yang berkualitas tinggi. Hanya perlu kekuatan dan mental yang cukup untuk melawan bahaya di tempat ini.
Jiu Jiu memegang selimut dengan erat. Tubuhnya masih terasa dingin, walaupun sudah beberapa jam menghangatkan diri di depan tungkuan. Ia sangat senang dan bersyukur telah dapat selamat dari badai salju yang mengerikan itu.
Tidak pernah ia menyangka tempat yang sebelumnya tenang tiba-tiba datang badai yang sangat mengerikan. Membuat aliran darahnya mulai membeku dan detak jantungnya tiba-tiba berhenti. Ia berpikir bahwa itu adalah akhir hidupnya, tapi ternyata langit masih memberikannya kesempatan.
Hanya germecikan api dan deru angin di luar terdengar.
Fang Enlai pun berdiri dan pergi seraya mengatakan pergi mengambil sesuatu.
Jiu Jiu berterima kasih dan mengangguk.
*****
Badai pun reda dan langit malam di penuhi Aurora berwarna hijau dan merah, bagaikan tirai langit yang sangat indah.
Jiu Jiu berjalan-jalan menelusuri rumah Fang Enlai. Ia tentunya sudah meminta izin menelusuri rumah kayu itu. Tidak ada yang membuatnya sangat tertarik setelah membuka satu persatu ruangan yang ada.
Beberapa berisi kayu dan alat-alat masak, kamar tidur, ruangan pedang. Ini membuatnya sedikit tertarik. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Pedang-pedang di pajang di dinding dengan rapi.
Jiu Jiu sangat ingin memiliki ilmu bela diri, tetapi mengingat kemampuannya, ia menjadi kecewa. Menutup pintu dan pergi dari sana.
Satu ruangan terakhir berada di ujung lorong. Ketika beberapa meter mendekatinya, bau amis yang menyengat tercium. Jiu Jiu semakin penasaran apa yang ada di dalamnya.
Bau itu semakin menyengat ketika menuju pintu ruangan itu. Ia menelan ludah dan memberanikan diri untuk membukanya. Ia takut, tapi juga penasaran. Perlahan-lahan pintu pun terbuka. Ketika itu, kedua mata jiu Jiu terbelalak. Tanpa sadar membuka mulutnya dan berjalan mundur. Ia menutup mulutnya dengan tangan.
Ia tidak tahu tindakan apa yang harus di lakukannya melihat kejadian ini. Ini sungguh mengerikan!
Darah segar mengalir deras dan berceceran di beberapa tempat.
Jiu Jiu terdiam membatu, dan setelah mendapat kesadarannya kembali, ia berlari dengan kencang pergi dari sana.
Saat berbelok, ia sedikit terpeleset, tetapi ia masih mampu menyeimbangkan tumbuhnya. Detak jantungnya bagaikan suara kuda berlari dan keringat banyak muncul di tubuhnya.
Alangkah senangnya ia ketika bertemu dengan Fang Enlai dan berteriak, “Tuan!! A-apa itu!!? Siapa dia!!?”
“Siapa, aku?” tiba-tiba suara jernih yang kecil tapi ringan terdengar di belakang Jiu Jiu.
Jiu Jiu berbalik dan tubuhnya bergetar, bibirnya bergerak-gerak tidak karuan, seperti orang yang kesulitan berbicara.
Melangkah mundur satu langkah. Ketika kedua kalinya, ia merasa lemas dan tiba-tiba matanya tertutup, bersamaan dengan itu juga tubuhnya roboh dengan tidak sadarkan diri.
Tidak seperti jiu Jiu, Fang Enlai menampilkan ekspresi tenang memandang penampilan mengerikkan gadis di depannya.
Ia seperti monster; darah segar memenuhi kedua tangannya. Satu tangannya memegang usus panjang hingga menyentuh lantai. Bibirnya di penuhi darah. Dengan pakaian putih yang di penuhi darah, rambut yang panjangnya hingga menyentuh lantai dan ekspresi haus darah yang di tunjukan, wajar saja membuat Jiu jiu ketakutan.
Gadis itu membuang ususnya dan memberi hormat. “Tuan Fang, terima kasih karena selama ini telah mengajariku. Anda telah mengajari bagaimana cara hidup di kutub utara yang dingin dan berbahaya. Memberikan berbagai perasaan yang ada. Sekarang aku mengerti, semuanya bisa kita lakukan di saat kita tidak punya apa pun untuk bertahan. Membuang perasaan dan menjadi egois memang sangat di perlukan ketika berada di tempat seperti ini. Sekarang aku juga mengerti, apa arti memakan manusia dengan cara lain dan mengerti arti kesepian yang dalam.”
“kembalilah.”
Gadis itu mengangguk kemudian pergi dari sana.