
Huang Shu berbalik dan tersenyum tipis, senyumannya seolah mengatakan ia baik-baik saja. Namun, Jiu Jiu tahu itu adalah senyuman palsu untuk membuatnya lebih tenang.
“Nona, aku akan berusaha seumur hidupku mencari obat untuk Nona.”
Huang Shu mendekatinya dan mengusap rambutnya dengan lembut.
“Aku akan menantikan hal itu.”
Huang Shu menghela nafas dan berbalik menatap puncak gunung itu.
“Jiu Jiu, jika kau bertemu dengan Bing Jiazhi nanti, tolong sampaikan permintaan maafku.”
Hati Jiu Jiu seperti tersambar petir. Jarak tiba-tiba terasa lebih jauh dengan Huang Shu.
“Baik Nona, aku pasti akan melakukannya.”
Huang Shu mengangguk dan tersenyum. Ia kemudian melayang ke atas langit mendekati gunung es.
Ketika sangat dekat, ia berbalik dan tersenyum. Kemudian tubuhnya membeku dan membesar menjadi patung es dengan kedua sayap di bahunya. Patung Huang Shu sangat besar.
Air mata Jiu Jiu mulai mengalir. “Nona, aku akan melakukan yang terbaik untuk anda.”
Jiu Jiu pergi dari sana.
...----------------...
‘Tao Gong’ aksara besar terukir di atas papan kayu di sebuah gerbang. Bing Jiazhi berdiri di depan menatapnya dengan dingin.
Sekte Tao Gong sangat berbeda dengan sekte bambu. Sekte ini terletak di ujung desa, yang membuatnya sangat ramai bagi orang-orang menuju ke sana. Walaupun ada desa di pinggir sekte Bambu, jalan menuju ke sekte berpisah dengan jalan menuju desa. Ada satu jalan bercabang, satu menuju sekte bambu dan satunya lagi menuju desa.
Berbeda dengan sekte bambu, di sisi-sisi jalan di penuhi rumput-rumput lentera biru yang panjang dan berbunga lebat, sekitar 2 meter. Ini membuat sekte Tao Gong sangat indah ketika orang-orang mulai memasuki sekte.
Jauh di sana, pagoda-pagoda berwarna merah berdiri megah. Di depannya berdiri pohon-pohon bunga plum.
Bing Jiazhi berdiri di sana menatap dingin seseorang pria muda berdiri di atas atap gerbang. Dia memegang sebuah pedang panjang di dadanya. Tatapannya sangat dingin, seolah di dalam matanya ada es yang tidak pernah mencair.
“Siapa kau? Kami tidak menerima orang luar, pergilah dari sini.”
Bing Jiazhi tidak mempedulikannya; dan berjalan menuju gerbang.
Pria berpakaian putih itu menjadi geram, ia melemparkan pedangnya ke udara.
Pedang itu berputar-putar dan pria itu melompat mengambil pedangnya dan menuju Bing Jiazhi.
Dalam sekejap, deringan Pedang terdengar dan mereka sudah saling berhadapan.
Bing Jiazhi mulai melakukan serangan-serangan pedang beberapa saat. Gerakan-gerakannya mampu membuat Pria itu menjaga jarak. Ekspresinya pun di penuhi keterkejutan.
Bing Jiazhi mengeluarkan lencana yang telah di berikan.
Melihat itu, pemuda itu lebih terkejut dan langsung memberi hormat. “Maaf atas ketidak sopananku.”
Bing Jiazhi mengangguk. “Antarkan aku ke dalam.”
“B-baik.”
Sikap pemuda itu lebih hormat dari sebelumnya. Ia mengantarkan Bing Jiazhi dengan hormat.
Setelah melewati gerbang, Bing Jiazhi tiba-tiba berbisik, “Kakak senior, apakah kau tidak mengetahui informasi tentang rumah teratai?”
Pemuda itu berpikir sebentar. “T-Tidak.”
“Malam ini wanita tercantik akan muncul. Kecantikannya membuat satu negara akan hancur. Kulitnya lebih lembut dari apa pun yang ada di dunia ini, bahkan itu lebih lembut dari kulit bayi.”
Pemuda itu tiba-tiba berhenti dan memandang Bing Jiazhi dengan serius. “Apakah kau tidak berbohong?”
“Tentu saja tidak. Jika kau ingin mengetahuinya, maka aku dengan senang hati mengantarkanmu, tapi kau harus membayarkanku juga.”
“Tidak masalah, tapi jika kau berbohong, aku tidak akan memaafkanmu.”
“Kakak senior bisa memegang kata-kataku.”
Bing Jiazhi dengan mudah membujuk pemuda ini. Ia pikir sulit melakukannya, mengingat wajahnya tidak seperti seseorang yang mencintai perempuan.
Tidak beberapa lama, pemuda itu pergi ke sebuah rumah. Di sana seorang gadis cantik berpakaian hitam duduk di depan rumah dengan ekspresi kesal, namun itu yang membuatnya tampak lebih cantik.
“Ayahku? Tentu saja di dalam. Jika kakak Ang ingin menemui, pergi saja ke dalam.” Nada Gadis itu sangat berat, sepertinya ia sedang marah sekarang.
Ang Bei mengangguk. “Bisa kau panggilkan sebentar?”
“Apakah ini sesuatu yang penting? Baiklah aku akan memanggilkannya.”
Gadis itu kemudian masuk ke dalam.
Tidak lama kemudian, ia datang membawa seseorang pria dewasa.
“Salam hormat master,” Ang Bei memberi hormat dan di ikuti Bing Jiazhi.
“Lama tidak berjumpa Ang Bei. Apa kabar?”
“Baik master. Aku membawa seseorang untuk anda temui.”
Pria itu mengangguk dan memandang Bing Jiazhi.
“Saya hanya mengantarnya saja, master.”
Ang Bei pergi setelah memberi hormat.
“Siapa kau anak muda?” tanya pria itu nada tidak tertarik sedikit pun.
“Murid dari Xue Ni.”
“Ibu?? Apa yang kau katakan tentang ibuku?” Xue yan terkejut dan antusias bertanya.
Bing Jiazhi mengangguk. “Dia memberikan ini untukmu.” Bing Jiazhi mengeluarkan patung dan memberikannya.
“Ayah... Apakah ini benar-benar ibu?” Mata Xue Yan berkilauan ketika menatap ayahnya. Tidak pernah terpikirkan gadis itu akan mendapatkan hadiah dari ibunya. Ia sangat merindukan ibunya, namun tidak tahu harus pergi ke mana, membuat ia pernah menganggap ibunya sudah mati. Tetapi kini ia yakin, ibunya masih hidup.
“Iya. Ibumu sangat suka mengukir. Tidak mungkin dari orang lain selain ibumu.”
“Ibu masih hidup.” Xue Yan memeluk patung itu dan memandang sebentar sebelum akhirnya memandang Bing Jiazhi, “kakak, apakah ibuku baik-baik saja?”
“Dia tetap sehat.”
“Apakah kau bisa mengantarkanku untuk menemuinya?”
Bing Jiazhi mengangguk.
“Yan’er, pergilah ke dalam, ayah akan berbicara sebentar.”
“Baik ayah.” Dengan senang Xue Yan masuk ke dalam membawa patung itu. Walaupun ia ingin mengetahui jawaban dari Bing Jiazhi, patung yang telah di berikan membuatnya cukup tenang dan menyampingkan rasa ingin tahunya.
Setelahnya pria itu menanyakan apa maksud Bing Jiazhi datang ke sini.
Bing Jiazhi dengan pelan mengeluarkan lencana dari bajunya.
Pria itu tidak terlihat terkejut sedikit pun, tidak seperti Ang Bei. “Dia akhirnya mempunyai satu murid juga. Anak muda, siapa namamu? Dan apakah kau ingin bergabung dengan sekte?”
Bing Jiazhi mengangguk. “Bing Jiazhi. Apakah aku boleh?”
“Tentu saja, asalkan kau mengikuti peraturan sekte dengan baik.”
“Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan tentang dirimu, ayo kita masuk.”
Pria itu dan Bing Jiazhi masuk ke dalam dan duduk di ruangan tamu.
“Maaf, aku tidak menjamumu dengan baik.” Pria itu merasa tidak enak dengan tidak ada apa pun yang bisa ia hidangkan.
“Tidak apa-apa.”
“Apakah ia baik-baik?” pria itu bertanya dengan nada serius dan penuh keprihatinan.
Bing Jiazhi mengangguk. Dia yang di bicarakannya tidak lain adalah Xue Ni, yang mungkin adalah istrinya. “Dia hidup dengan damai di sana.”
“Aku sudah menduganya. Ah, perkenalan namaku Hao yu.”
“Aku ingin mengetahui hubunganmu dengan guruku.”
“Kami adalah sepasang suami istri. Hubungan kami sangat rumit, hingga aku tidak yakin, apakah kami memiliki hubungan seperti itu atau tidak; kami hidup sendiri dan seolah tidak terhubung sama sekali. Beberapa tahun ini setelah ia melahirkan, aku berpikir ia akan melupakan kami dan pergi selamanya, bahkan aku pernah ingin berbohong kepada Xue yan, bahwa ibunya sudah meninggal atau menikah lagi dan mengatakan ia adalah ibunya. Sayang sekali, aku terlalu takut melakukannya dan takut sumpah diriku bersama dengan Xue Ni akan menjadi kenyataan.”