
Cahaya bulan yang penuh itu tidak mampu memberikan sepenuhnya apa yang ia miliki, namun beberapa lubang-lubang kecil di rerimbunan pohon, mampu membantunya memberikan cahaya. Di beberapa titik, cahaya menyinari hutan dan membuatnya tidak terlalu gelap.
Bing Jiazhi sungguh senang, akhirnya ia bisa menemukan gerombolan jamur di akar-akar pohon yang telah mati. Di sana, di penuhi kunang-kunang bercahaya kuning yang berterbangan mengitarinya.
Bing Jiazhi berjalan, kemudian berjongkok untuk memetiknya. Alangkah indahnya jamur berwarna putih itu, dan terlihat bercahaya di malam harinya, seolah kegelapan hutan tidak mempengaruhinya.
Tangan Bing Jiazhi bergerak. Tapi, ketika ia ingin memetiknya, kedua matanya sedikit melirik ke samping, dan tangannya berhenti bergerak. Ia langsung melompat ke samping. Bersamaan dengan itu suara desisan muncul di tempatnya berada.
Ketika ia mendarat dan memandang ke tempatnya kembali, seekor ular piton dengan warna hitam gelap muncul. Sebelumnya ular itu telah mengamati Bing jiazhi dan menunggu kesempatan untuk memangsanya. Tapi, kecepatan dan insting Bing jiazhi mampu menggagalkan rencananya.
Ular itu kira-kira 10 meter dengan mata hijau menyalah.
Ular itu berteriak dengan lidah terulur dan air liurnya tersebar ke mana-mana, kemudian bergerak Zig-zag mengarah ke arah Bing Jiazhi.
Bing Jiazhi mengambil pedangnya dan seolah ia tidak terlihat takut sama sekali. Wajah se-tenang dan selembut angin sepoi-sepoi itu sangat unik dan khas.
Ular terus bergerak dengan cepat. Namun Bing Jiazhi hanya diam saja dan tidak terlalu berminat untuk melakukan serangkaian pembelaan terhadap dirinya.
Ketika ular itu tiba di depan Bing Jiazhi, ia berseru dan membuka mulutnya, kemudian ingin melahap hidup-hidup Bing Jiazhi.
Tapi, ketika itu Bing Jiazhi bergerak cepat seperti bayangan. Kemudian muncul di belakang kepala ular itu. Hanya dalam satu tebasan ular itu mati dengan darah menyembur keluar. Tidak ada suara jeritan, karena Bing Jiazhi menebasnya dengan cepat dan memotong dalam hitungan seperempat detik.
Bersamaan dengan Bing Jiazhi mendarat di tanah, tubuh ular itu roboh dengan darah segar dan kepala terputus yang masih membuka mulutnya. Kedua matanya yang di penuhi nafsu perlahan-lahan tertutup.
Bing Jiazhi memandang sebentar, kemudian memetik beberapa jamur dan langsung ia makan. Rasanya tidak enak, tapi ia menyukainya.
Setelah merasa cukup, Bing Jiazhi berdiri. Tapi lagi-lagi ia merasakan kehadiran sesuatu. Ia langsung menoleh ke samping dan tertegun. Kedua matanya terpaku tidak kuat melihat keindahan yang ada di depannya.
Ia tidak pernah menyangka dan mengharapkan, ini akan terjadi. Jika di pikir-pikir, sosok di depannya ini bukankah tidak ada di sekte Tao Gong? Ia sangat mengenal murid-murid yang telah di temuinya. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang bernama Liang dan ia juga tidak melihat sosok yang pernah bersamanya.
Bing Jiazhi terdiam menyaksikan kecantikan dan kepolosan dari wanita yang telah menjadi istrinya dalam sehari itu.
Dengan memakai gaun berwarna warni, wajah lembut, hidung mancung dan alis hitam itu, ia menatap Bing Jiazhi dengan dalam dan di penuhi kasih sayang.
Kunang-kunang berterbangan di sisi-sisinya, seolah ia adalah sesuatu yang sangat menarik hati para kunang-kunang. walaupun cahaya redup, dengan kunang-kunang bercahaya, tidak ada yang bisa menghalangi kecantikannya.
Ke-empat mata itu saling pandang dan di penuhi rasa yang berbeda-beda.
...----------------...
Xue Yan tidak pernah percaya dengan siapapun, termasuk ayahnya terkait kehadiran sosok ibu bersamanya. Ia juga tidak percaya dengan Bing Jiazhi yang akan mengirimkan surat kepada ibunya, yang bagaikan seseorang harus meminta izin untuk menemui raja saja.
Ia tidak bisa diam saja menunggu pergerakan Bing Jiazhi dan hanya terus menunggu, hingga rasa rindunya bertukar menjadi kebencian.
Ia melipat kertas dengan lembut untuk membentuk sebuah pesawat. Mengirimkan pesan, mengisnpirasinya untuk mengirimkan sendiri surat-surat kepada ibunya dengan pesawat kertas yang telah ia kuasai. Melipatnya menjadi sebuah bentuk yang bagus, yang akan terbang mengantarkan ridunya kepada sosok ibu.
Setelah melipatnya, ia berdiri dan memandang hutan gelap yang di penuhi suara-suara seram. Berdiri di atas tebing, membuat rambut kuningnya sedikit terangkat.
Ia kemudian memandang lipatan kertas di tangannya. ‘semoga kau mengetahui seberapa rindunya diriku dengan sosok ibu; semoga kau tahu, betapa berdosa dan salahnya tindakanmu yang telah mengambaikan darah dagingmu sendiri.’
Ia menghela nafas dan air matanya tiba-tiba runtuh. Ia dengan kuat mengayunkan tangannya dan lipatan kertas itu terbang melintasi langit malam, yang tidak akan pernah kembali.
Angin tiba-tiba mulai bertiup lagi menerbangkan gaun yang di pakainya dan kertas-kertas yang telah ia persiapkan. Tapi ia tidak peduli dengan kertas-kertas itu. Tidak ada gunanya menyimpannya lagi.
Ia sangat pesimis mengirimkan lipatan ini, karena ia tahu surat itu tidak akan pernah menyampaikan isi hatinya, bahkan tidak akan pernah di terima oleh ibunya.
...----------------...
Setelah menatap beberapa lama, Liang dengan kedua tangannya di masukan ke dalam lengan bajunya, perlahan-lahan mendekati Bing Jiazhi.
Sebuah senyuman lembut yang tidak ada tandingannya terlukis di wajahnya.
“Aku merindukanmu.”
“Aku membutuhkan kehadiranmu.”
Bing Jiazhi merasa bingung dengan semua ini, bagaimana mungkin gadis secantik ini membutuhkan dirinya, apalagi kehadirannya.
Dengan kecantikannya, bahkan satu negara mungkin kacau olehnya dan raja mana yang tidak akan tertarik kepadanya? Jika gadis itu mau, ia bisa menjadi seorang ratu dan wanita tertinggi di kekaisaran.
“Untuk apa?”
“Aku kesepian. Dengan berada di sampingmu, aku merasa tenang.”
“Aku tidak percaya.”
“Kau meragukanku?”
Bing Jiazhi mengangguk. “Wanita sepertimu tidak akan pernah kesepian, apalagi membutuhkan diriku yang tidak penting ini.” Bing Jiazhi kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Tapi itu kenyataannya.”
Bing Jiazhi terkejut dan tiba-tiba terdiam. Ia kemudian memandang Liang dengan bingung, kemudian ia mendekatinya, memandang gadis itu dari dekat.
Tangannya ingin menyentuh dagu gadis itu. Tapi Liang mengambil tangan Bing Jiazhi, dan memegangnya dengan lembut.
Bing Jiazhi merasakan ketulusan dan kasih sayang mengalir dari tangannya. Ia cepat-cepat menarik tangannya.
“Aku adalah pria penyuka wanita dan orang yang selalu memainkannya.”
“Aku tidak peduli.”
Bing Jiazhi menyerah dengan Liang dan dengan kesal berbalik dan ingin pergi. Tapi tangan putih dan lembut itu memegang tangannya.
“Temanni aku semalaman ini.”
...----------------...
Bing Jiazhi menyerah dengan sikap Liang, mereka kemudian membuat api unggun dan Bing Jiazhi mencari beberapa jamur untuknya panggang.
Ia duduk di samping Liang sembari memanggang.
Seperti biasanya, gadis itu mengeluarkan benang dan mulai membuat sesuatu. Sebelum itu, ia mengeluarkan dupa dan mengarahkannya ke api. Setelah menyala, ia menancapkannya di tanah dan mulai menganyam benang.
Hanya percikan-percikan api terdengar dan tiupan angin di malam itu. Bing Jiazhi merasa heran, Liang mengatakan membutuhkannya satu malam, tapi berjam-jam, Liang dengan dirinya sendiri, seolah tidak menganggap Bing jiazhi ada.
Ia kemudian memandang gadis yang sibuk dengan dirinya sendiri itu. Wajahnya memang sangat anggun ketika cahaya api menyinari wajahnya. Apalagi jejak kelembutannya yang sangat indah.
Melihatnya lagi, Bing Jiazhi berpikir tidak mungkin gadis itu tidak mempunyai teman apalagi kesepian. Tetapi ketika ia memegang tangannya dan mengatakan ingin di temani, Bing jiazhi merasakan itu sangat tulus dan tidak mengandung kebohongan sedikit pun. Tetapi sekarang mengapa ia tidak mempedulikannya?
Bing Jiazhi berdiri. Liang menatapnya. “Kau akan pergi ke mana?”
Bing Jiazhi tidak menjawab dan melangkah pergi.
“Apakah kau menerimaku menjadi istrimu?”
Bing Jiazhi terdiam dan berbalik menatap Liang. “Aku tidak pernah menganggapmu menjadi istriku. Tetapi melihatmu seperti ini, aku akan senang tiasa menerimamu di sisiku. Aku juga akan menerima keputusanmu jika kau memilih meninggalkanku.”
Liang tersenyum. Hatinya menjadi lega setelah mendengar kata-kata itu dari pria yang telah menjadi sandarannya. Hatinya yang sebelumnya terganggu kini menjadi lebih tenang. Bibir manisnya terbuka lembut. ‘terima kasih.”
Ia memiringkan kepalanya dan tersenyum lembut dan sangat menawan, senyuman yang telah membuat Bing jiazhi terpana dan meleleh.
“Adik Junior, ternyata kau berada di sini.”