Alam Mandala

Alam Mandala
Akhirnya tiba



Waktu berlalu dengan cepat dan tanpa terasa malam telah turun. Sepanjang hari itu, Meng Lin hanya duduk membaca dan sesekali beranjak berdiri untuk makan, kemudian kembali lagi.


Ia tidak pernah melakukan hal lainnya selain itu. Ketika ia merasa udara di luar sudah tidak sehat, ia kemudian masuk dan akhirnya tidur nyenyak.


Tetapi, di tengah malam ia kembali terbangun dan perutnya terasa sakit. Rasa sakitnya membuat ia berteriak dan para pelayan yang tidur kemudian terbangun dan menghampirinya.


Mereka menduga jika Meng Lin akan melahirkan, maka dari itu, seorang wanita tua yang telah di persiapkan muncul kemudian memeriksa tubuh Meng Lin, tapi dari pemeriksaan itu, tidak ada tanda-tanda ia akan melahirkan, membuat wanita itu bingung, sehingga ia pun kemudian memerintahkan pelayan lain untuk memanggil Tabib.


Tabib Kemudian datang lalu menanyakan apa saja yang di rasakan Meng Lin.


“Tentu saja sakit!” Meng Lin menjawab membentak sembari menahan sakit. Wajahnya terlihat sangat pucat dan garis-garis terlihat jelas. Ekspresi indahnya digantikan dengan ekspresi yang tidak pernah para pelayan itu lihat.


Tabib kemudian memegang perut Meng Lin berusaha merasakan sesuatu. Ia memejamkan matanya sejenak, tapi kemudian membuka matanya kembali, dan terlihat membelalak tidak percaya. Tabib itu merasakan aura negatif yang begitu mencekam dari perut Meng Lin. Kemudian, tanpa sadar ia terpental dan berakhir menabrak dinding kayu yang ada di sana.


Ia langsung tidak sadarkan diri setelah memuntahkan darah.


Para pelayan terkejut kemudian memandang Meng Lin dan mereka kemudian merasakan ketakutan ketika aura hitam perlahan-lahan keluar yang di penuhi aura negatif.


Pelayan-pelayan itu kemudian menjerit dan keluar membiarkan Meng Lin di sana sendirian.


Meng Lin merasa semua harapannya hancur dan apa yang selama ini ia duga benar adanya, ia telah mengandung anak setan.


...----------------...


Tiga hari pun berlalu setelah peristiwa itu. Kejadian itu menjadi populer di kalangan masyarakat kota Jiangsu. Mereka mulai mencari-cari apakah itu benar adanya atau tidak, sebagian juga percaya dan menggunakannya untuk menjatuhkan gubernur yang bertahun-tahun memerintah mereka, tapi tidak sedikit juga yang menganggap itu omong kosong.


Tapi, itulah kebenarannya, istri Chao Ming merasakan sakit di perutnya dan di rawat di rumah oleh orang suci. Orang itu setiap hari akan menyalakan tiga dupa dan berdoa agar roh-roh jahat yang mengganggu kandungan Meng Lin pergi dari dalam perutnya. Tetapi, itu hanya mampu menahan roh-roh itu untuk tidak menyakitinya.


Sementara Meng Lin yang melihatnya hanya pasrah tidur di ranjang dengan kedua matanya yang redup seperti awan-awan hujan yang di penuhi air.


Setiap hari, ia akan merasakan sakit yang luar biasa dari perutnya kemudian berteriak keras dan semua orang tidak berani menolongnya, kecuali orang suci itu. Ia segara mendekati Meng Lin dan melanturkan doa.


Sementara di lain tempat, Chao Ming yang tidak punya pilihan memerintahkan prajurit yang sebelumnya melaporkan tentang wanita yang bisa menyembuhkan dan tahu tentang apa yang terjadi kepada istrinya, memerintahkan untuk mencarinya.


Tapi ia kembali dan mengatakan wanita itu tidak mau berkunjung ke kediaman dan memerintahkan Chao Ming untuk datang ke tempatnya.


Ia adalah seorang yang dikirim kekaisaran untuk menjaganya. Seorang Pria paru baya yang memakai Epee panjang untuk bertarung.


Chao Ming dan penjaganya akhirnya tiba di malam hari kemudian memandang jalan setapak yang di penuhi bambu-bambu kuning di sisi-sisinya.


Jalan itu terbuat dari papan-papan kayu yang sudah berlumut, tapi itu memberikan keindahan lainnya.


Rumpun Bambu melengkung ke dalam dan beberapa burung-burung berkicau di atas dahan di sana.


Bulan bercahaya sebagian di atas langit seperti potongan pisang, dan cuacanya cerah tanpa awan-awan, membuat bayangan- bayangan Bambu terlihat begitu jelas dan jalan itu terlihat sangat indah dan terang.


Ketika angin bertiup akan terdengar suara kersik yang keras dari bambu-bambu itu dan beberapa daunnya kemudian berguguran.


Memandang ke depan, yang entah di mana rumah wanita itu, Chao Ming merasa enggan untuk pergi ke sana, akan tetapi, demi istrinya, ia tidak punya pilihan lainnya.


Jalan setapak yang berkelok-kelok itu terasa menyeramkan, apalagi di tambah dengan kerimbunan bambu-bambu itu.


Ia kemudian meyakinkan diri dan hendak melangkah, tapi penjaganya bertanya, “Apakah tuan benar-benar akan pergi?”


Chao Ming berhenti. Jika di tanya seperti itu, tentunya ia akan tidak mau pergi ke sana. Selain karena ia adalah gubernur, ia juga adalah orang yang telah membunuh puluhan nyawa selama bertahun-tahun, dan tentunya ia memiliki banyak musuh, meskipun bertahun-tahun tidak terlihat dalam pandangannya. Tetapi, demi istrinya, ia harus melakukannya. Ia kemudian mengangguk. “Aku yakin.”


Ia kemudian berjalan bersama penjaganya.


...----------------...


Sementara itu, di ujung dari jalan setapak itu, ada sebuah rumah dengan dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan dengan atap jerami. Warnanya telah menguning dan ada beberapa celah di atap-atapnya. Orang-orang akan mampu melihat bulan dan bintang-bintang dari celah-celahnya.


Bing jiazhi duduk dengan nyaman di ruangan kecil di sana. Pakaiannya yang hitam seolah nyaris menyatu dengan kegelapan malam. Ia bersila dan pedang kemalangan musim semi berada di pangkuannya. Sembari memejamkan matanya, ia menunggu seseorang membuka pintu tua di hadapannya.


Sementara di luar, Zhizhu duduk di atap rumah. Sesekali ia menarik pedangnya dari selongsong dan Melihat pantulan wajahnya di sana.


Kemudian, setelah beberapa saat, ia akhirnya samar-samar melihat dua orang mendekat. Ia kemudian berdiri dan bergumam, “Akhirnya tiba.”