Alam Mandala

Alam Mandala
Pasangan suami istri



Han Chi tersenyum tipis ketika Zhizhu berkata. Ia lalu memandang tusuk rambut di tangannya. Tusuk rambut itu terbuat dari kayu yang di asah dengan halus dan di penuhi ukiran-ukiran. Di ujungnya bermekaran bunga matahari dengan gantungan panjang tipis berwarna putih dan hitam.


Ia kemudian memandang pria yang ada di sampingnya. Namanya adalah Chan Fan, suaminya. Pasangan suami istri ini datang tentunya tidak lain karena Xiang We, akan tetapi, sebelum mereka mendapatkan wanita itu, mereka harus menghabisi Zhizhu dan Bing Jiazhi. Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan sulit mendapatkannya dan gulungan yang di kehendaki tidak akan tercapai.


Chan Fan telah menembus empat cincin. Ia ingin cincin ke lima di isi oleh gulungan ribuan pedang, karena menurutnya itu sangat cocok. Selain itu tentunya ia tahu bagaimana kemampuan gulungan itu dan apa yang akan di dapatkan jika mempelajarinya.


Chan Fan berkata dingin sembari mencabut satu rambut panjangnya, “Aku akan maju lebih dulu.”


Setelah mencabutnya, ia mengibaskannya ke samping, di saat bersamaan rambut itu memanjang dan membesar kemudian menjadi sebuah senjata yang panjang dengan ujung yang tajam, serta di penuhi beberapa warna putih.


“Kau tidak boleh melawan seorang diri, aku akan membantumu.”


Wuss Tang!!!!


Ketika Chan Fang ingin berjalan, tiba-tiba sebuah pedang melesat dan membuat ia mundur beberapa langkah ke belakang.


Ketika ia, istrinya dan Zhizhu menoleh, Bing Jiazhi menatap dingin dan di penuhi aura intimidasi. “Berisik. Kau laki-laki yang berisik.”


Mengangkat alisnya, memandang tajam ke depan, Chan Fang kemudian tertawa. Dia kemudian berjalan pelan mendekati Bing Jiazhi. Empat cincin Mandalanya perlahan-lahan bersinar dengan cahaya hijau. Cincin-cincin itu sangat berkilauan dan memiliki warna emas yang cerah. Karena tekanan yang di timbulkannya, udara di sekitar terasa lebih sesak, tapi tentu saja, empat orang itu tidak merasakannya.


Para prajurit tetap memilih untuk diam dan menyaksikan apa yang terjadi. Mereka tentu tidak berani melawan kekuatan suami istri yang kuat itu, tetapi, jika yang memerintah mereka adalah komandan mereka, mereka tidak punya pilihan lain selain melawannya.


Dengan mata yang sangat dingin, Bing Jiazhi memandang Chan Fang. Ia lalu menarik pedangnya. Selain dingin, ia juga terlihat marah dengan kehadiran Chan Fang.


Zhizhu dan Han Chi merasa tertindas dengan pandangan itu. Menurut Zhizhu, ini adalah pandangan yang sangat mematikan selama hidupnya. Meski ia memiliki tingkat kultivasi yang lebih tinggi, itu masih membuatnya takut kepada adik Juniornya.


‘Ini akan menjadi sesuatu yang menarik.’ Batin Zhizhu.


Lalu Han Chi merasa tangannya gemetaran. Ia menduga jika itu hanya perasaannya saja, tetapi setelah melihatnya tidak hanya tangannya, bahkan pedangnya pun gemetaran.


‘perasaan apa ini?’ ia kemudian menatap Bing Jiazhi. Samar-samar terlihat aura putih yang mengelilinginya seperti seseorang yang sedang berada di musim dingin. Selain itu, matanya terlihat memancarkan aura yang sulit dijelaskan. ‘Pria ini, apakah ia menyembunyikan kekuatannya?’


...----------------...


Sementara di tempat lain, Sheng Shu berdiri di bawah pohon yang rindang dan besar, seakan pohon besar itu melindunginya dari cahaya matahari siang.


Ia menatap langit biru cerah yang sesekali terlintas awan-awan tipis. Angin bertiup menerbangkan gaunnya, lalu terdengar suara kicauan dua burung yang baru datang. Sheng Shu menatap burung-burung itu. Mereka berterbangan lalu diam sejenak di atas ranting kecil. Mereka berkicauan dan melompat-lompat dari satu dahan ke dahan yang lain dengan lincah.


Setelah mendapatkan daun-daun kering, mereka berdua kemudian berterbangan pergi.


“Burung itu mempersiapkan kelahiran anaknya.”


Kemudian angin bertiup lebih kencang, membuat liontin kecil yang ada di telinganya bergoyang-goyang dan menciptakan suara.


Ia kemudian terdiam. Beberapa burung-burung melintasi langit. Angin terus bertiup dan beberapa kali pasangan burung itu melintasinya.


Seseorang kemudian datang dan memandang Sheng Shu. Ia tidak lain adalah ibunya, Sheng Jie. Mereka kemudian saling memandang beberapa saat, lalu ibunya bertanya pelan. “Apakah dia orangnya?”


Ketika Sheng Jie mendengarnya, ia teringat jika sebelumnya, Sheng Shu telah kehilangan ingatannya, ia kemudian bertanya, “Lupakan saja. Siapa Pria itu?”


Sheng Shu kemudian memandang jari-jari tangannya yang putih dengan kuku yang halus dan elegan kemudian menjawabnya, “Aku tidak tahu.”


“Lalu siapa dia?”


“Dia.... Orang yang tidak aku ketahui.”


Sheng Jie merajut alis. “Mengapa kau bertemu dengannya?”


“Aku merasa memiliki hubungan dengannya. Dan saat ini, aku merasa khawatir dengannya, apakah ini hanya sebuah perasaan?”


...----------------...


Melihatnya, Bing Jiazhi kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Sebuah aura berwarna hijau muncul dari pedangnya dan sebuah angin bertiup kencang dari tubuhnya. Sambil berteriak, ia mengayunkannya ke depan. “Ini yang kau mau!!”


Sebuah tebasan berwarna hijau kemudian muncul lalu di ikuti dengan angin kencang, bahkan orang-orang yang berada cukup jauh dapat merasakannya.


Selain itu, ketika aura itu bergerak, tanah yang ada di bawahnya hancur membentuk sebuah garis.


Chan Fang menahannya dengan cepat, tapi ia tetap saja terdorong ke belakang.


Selain terkejut, ia juga terheran-heran tingkat berapa Bing Jiazhi berada. Tangannya terasa terdistorsi dan senjatanya perlahan-lahan retak karenanya.


Setelah terdorong, perlahan-lahan Aura itu pun meledak. Chen Feng hanya bisa melihat warna putih dan tubuhnya terasa sakit.


Ledakan itu menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya, yang bahkan daun-daun hijau hancur menjadi setitik debu.


Han Chi merasa khawatir dengan suaminya, tetapi setelah melihat dan merasakan keberadaannya, ia dapat menghela nafas lega.


Setelah ledakan terjadi, terdapat sebuah cekungan di dekat gerbang masuk penginapan. Lubang itu sedikit dalam dan Chan Fang berbaring di sana dengan sedikit pakaiannya hancur. Ia perlahan-lahan berdiri dan tersenyum.


Tidak lama kemudian terdengar suara gumuruh dari belakangnya. Gerbang masuk perlahan-lahan roboh karena serangan Bing Jiazhi. Bata-bata dari bangunan itu jatuh dan menyatu dengan tanah.


Sementara itu, ketika ledakan keras itu terjadi, orang-orang yang ada di dalam penginapan keluar untuk menyaksikannya. Ketika melihat apa yang terjadi, mereka semua terkejut sekaligus kagum dengan pertunjukan itu.


Xiang We yang ada di antara mereka berbeda, ia merasa khawatir dengan semua ini, apalagi Bing jiazhi terlihat tidak baik-baik saja. Melihat mengapa Bing Jiazhi bertarung dan mengapa kedua orang itu datang, ia yakin bahwa gulungan itulah yang mereka incar. Ia sekarang ingin berbuat sesuatu, tapi tidak tahu apa itu.


Sementara jauh darinya, seorang wanita berumur sekitar 23 tahun berdiri. Ia memiliki tubuh yang langsing dengan pakaian merah darah yang di kenakannya. Dengan tubuh yang putih dan cantik, tidak heran ia menjadi perhatian beberapa orang yang ada di sana. Rambutnya yang di sanggul dengan anting-anting panjangnya, serta wajah yang sempurna, ia terlihat bagaikan anugerah dari langit.


Di sampingnya seorang gadis berumur sekitar 7 tahun dengan kedua rambutnya di kepang berdiri memegang sebuah payung untuk wanita itu. Meski ia kecil, wajah dan caranya berdiri tidak sama dengan umurnya. Rambutnya di kepang lipat. Ketika melihat pertarungan itu, ia berkata, “Betapa tidak adil pertarungan itu.”


Wanita dewasa itu kemudian memandang gadis di sampingnya. Senyuman lembut kemudian terlihat di wajahnya dan kedua mata jernih yang berkilauan itu lalu di tampilkan. “Xiao Yun, apa yang kamu katakan?”