
Namun, ia tidak bisa tidur malam itu; tidak lama kemudian ia kembali terbangun dan menyadari tubuhnya di basahi keringat dan butir-butir keringat memenuhi dahinya.
Meng Lin kemudian memandang jendela yang sebelumnya terbuka, tapi sekarang telah tertutup. Ia kemudian membukanya kembali, tapi tidak kembali lagi ke ranjangnya. Ia kemudian keluar dari ruangannya itu lalu berjalan-jalan di lorong-lorong sepi.
Hujan yang ada di luar mulai sedikit tenang dan nada yang di sajikan terasa lebih lembut. Meng Lin kemudian bersandar di salah satu pagar lorong.
Wajahnya yang bulat dan sedikit pucat itu terlihat lebih pucat dan ia terlihat lebih tua dari sebelumnya.
Memandang ke bawah. Di halaman rumahnya air hujan mengalir membawa bunga-bunga plum. Meng Lin merasa sesak di hatinya kemudian menghela nafas dan memandang perutnya yang sudah sangat besar. “Sudah lama aku menunggumu, tapi kamu tidak kunjung datang.” Ia mengusap-usap perutnya dengan lembut kemudian kembali memandang halaman rumahnya yang terasa buruk.
“Mengapa kamu tidak tidur?”
Chao Ming berjalan ke arahnya dari arah berbeda. Ia terlihat menawan dengan pakaian hijaunya. Ia lalu dengan lembut menyentuh dahi Meng Lin. “Kamu kurang enak badan hari ini?”
“Aku tidak merasa begitu.” Meng Lin kemudian ikut menyentuh dahinya. Dahinya terasa hangat. Ia menduga itu karena suhu ruangan kamarnya panas.
Kemudian, ia tanpa berkata-kata lagi ingin berbalik pergi, namun, Chao Ming menggapai pergelangan tangannya, memegangnya dengan lembut. Ketika ia menoleh, Chao Ming kemudian berkata dengan tenang, “ke mana kamu akan pergi?”
“Aku ingin berjalan-jalan.” Tanpa ingin menyembunyikannya, Meng Lin berkata polos.
“Tapi tubuhmu masih belum sehat.”
“Aku tidak merasa begitu.”
Meng Lin kembali ingin pergi, tapi lagi-lagi Chao Ming memegang tangannya.
“Kau tidak perlu memperhatikanku seperti ini. Setelah lima tahun berlalu, dan aku tidak bisa memberikanmu keturunan, kau bisa menikah lagi dengan wanita lain, sementara aku akan pergi menjauh.”
Alis Chao Ming sedikit terangkat ketika ia mendengarnya.
Sementara itu, wajah Meng Lin terlihat lebih pucat dan air matanya mulai mengalir. Ia kemudian ingin pergi, namun, tubuhnya tiba-tiba tertarik, kemudian merasakan pelukan yang nyaman dari suaminya itu.
Chao Ming kemudian mengusap rambutnya dengan lembut lalu bertanya dengan nada sentimental, “Apa yang kamu pikirkan? Bahkan jika kamu tidak bisa melahirkan seorang anak, aku masih merasa senang saat kamu masih berada di sampingku.”
Mendorong tubuh Chao Ming, Meng Lin kemudian mendongak memandang suaminya. Ia merasa bersalah ketika melihat wajah suaminya di penuhi kesedihan, namun, ia tidak bisa mengendalikan apa yang di rasakannya saat ini. “Apa yang membuatmu berkata seperti itu? Berikan aku alasannya.”
Chao Ming lalu melepaskan pelukannya, ia lalu bersandar di pagar dekat lorong. Hujan semakin lama semakin reda dan halaman rumah yang indah itu semakin di penuhi air.
“Ketika aku dalam keadaan tidak berdaya saat itu, aku merasa akan mati dan semua hal yang ingin aku capai sudah tidak bisa aku dapatkan. Akan tetapi, kamu muncul dan menolongku, kemudian memberiku harapan. Melihat wajahmu yang di penuhi kekhawatiran ketika Pedang menusuk dadaku, aku ingin saat itu dan berjanji akan selalu menjagamu, apa pun yang akan terjadi.”
“Hanya itu?”
Chao Ming mengangguk. “Iya, hanya itu.”
...----------------...
Sementara itu, di tempat lain, Xiang We duduk di ranjang seraya memandang jendela yang memperlihatkan halaman rumahnya yang indah kini di penuhi tumbuhan-tumbuhan liar yang tidak indah. Ketika melihatnya, terlintas kenangan masa kecilnya yang bermain-main di sana bersama para pelayan.
Sudah bertahun-tahun itu berlalu, namun ia masih merasa ingatan-ingatan masa kecilnya sangat berharga.
Ketika keluarganya kembali pulih, ia berharap semuanya akan kembali seperti semula, tetapi itu terasa mustahil mengingat begitu sulit untuk di lakukan.
Ibunya sejak dari tadi menyisir rambutnya yang panjang seraya memikirkan betapa panjangnya rambut anaknya itu, dan betapa cantiknya ia setelah bertahun-tahun tidak kembali pulang.
Ia masih ingat bagaimana kesedihan yang menimpanya ketika Xiang We pergi diam-diam tanpa berpamitan dan melanggar perintahnya.
Yang bahkan membuat kondisi tubuhnya yang lemah kian melemah dan sering mengalami demam.
Beberapa helai rambutnya berterbangan setelah di sisir. Wanita paru baya itu kemudian mengambil kain berwarna kuning dan mengikat di rambutnya.
Ia merasa sedikit sulit melakukannya, karena angin yang bertiup dari luar sangat kencang.
“Ibu, saatnya kita membalaskan dendam adik.”
Ibunya mengangguk dan ingatan tentang anak bungsunya kembali muncul. Ketika mengingatnya, ia merasa tidak nyaman, kemudian ia berdiri dan pergi dari sana, akan tetapi Xiang we menghentikannya dengan berkata tanpa menoleh, “Ibu, apakah kau mengetahui tentang gubernur itu sekarang?”
Ibunya terdiam, kemudian berbalik menatap Xiang We, “Dia telah mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkannya.”
Ibunya kemudian mendekat lalu mengambil kain berwarna merah di meja. Lalu menyelimuti punggung Xiang We seraya berkata, “Dia akhirnya mengerti bagaimana rasanya jika tidak mempunyai anak. Dia akhirnya merasakan betapa pentingnya seorang anak bagi kami, yang telah kehilangannya.”
“Apa pun keputusanmu, kami akan selalu mendukungmu, tapi kami mempunyai satu janji yang harus kau tepati.”
“Apa itu ibu?”
“Jangan pernah meninggalkan kami sama seperti adikmu.”
...----------------...
Sama seperti biasa, Bing Jiazhi duduk menikmati pagi hari seraya memandang pemandangan pagi. Ia tentunya telah mempersiapkan teko dan cangkir di mejanya. Menikmatinya dengan tenang dan menghirup bau wangi dari arak yang di berikan.
Ketika menikmatinya, Zhizhu yang rambutnya pendek mendekat. Ia lalu duduk di sampingnya, dan tanpa meminta izin meneguk arak langsung dari tekonya.
“Kakak Zhizhu, bagaimana malammu?”
“Kenapa kau berkata seperti itu?” Zhizhu menjawab seraya mengusap sisa arak yang ada di bibirnya.
“Aku merasa tidak nyaman tadi malam.”
“Bukan hanya kau, kakak Seniormu ini bahkan tidak tidur. Malam tadi terasa sangat dingin, dan dengan keadaan rumah ini, aku merasa ingin sekali cepat-cepat pergi.”
“Kenapa kakak tidak melakukannya?”
“Jika aku memutuskan sesuatu, maka aku harus menyelesaikannya tanpa kecuali.”
Zhizhu kembali meneguk arak dan mengusap bibirnya. “Arak ini terasa menyegarkan dan membuat tubuhku terasa lebih hangat.”
“Arak ini adalah ungkapan bersalah dari Xiang We, tentu ia memastikan arak ini benar-benar baik.” Bing Jiazhi kemudian meneguk arak di cangkirnya.
Tidak lama kemudian, mereka terdiam menikmati pancaran cahaya Matahari yang hangat. Tidak seperti biasanya, pancarannya lebih hangat dan menyegarkan dari sebelumnya. Mereka berpikir, mungkin karena cuaca tadi malam begitu dingin, sehingga cahaya matahari saat ini terasa lebih hangat.
Ibu Xiang We kemudian muncul dari gerbang depan dengan pakaian merah mudah. Ia berjalan tenang dan terus menatap ke depan. Dua pupil matanya yang tajam, menandakan ia bukan orang sembarangan. Dan semua orang yang melihat bagaimana ia berjalan, tentu mengetahui jika ia adalah wanita terpelajar.
Ia menundukkan kepala dan memberi hormat kepada Zhizhu dam Bing Jiazhi. “Aku merasa senang jika kalian berdua mau membantu anakku yang keras kepala itu.”
Ia kemudian berjalan dan duduk di undakan rumah di sana, tatapannya memandang lurus ke arah gerbang tua yang sebagian atap-atapnya berlubang.
Bing Jiazhi kemudian memandang wanita yang duduk di depannya itu, kemudian ia berkata tenang sembari menuangkan arak dari tekonya, “Jika anda imbalan, maka aku tentu saja akan melakukannya.”
Ibu Xiang We kemudian menjawabnya, “We’er telah mengatakan itu tadi malam, dan dia telah menjelaskan semuanya. Meski ada alasan seperti itu, aku masih harus berterima kasih kepada kalian.”
Ia pun kemudian melanjutkan setelah beberapa saat terdiam, “bagi kami, gulungan itu tidak berharga dan tidak lebih hanya kertas usang dengan gambar-gambar aneh, tapi bagi kalian, itu adalah harta yang tidak ternilai harganya. Sungguh aneh, jika kami harus berjuang menyembunyikannya bertahun-tahun hanya untuk sesuatu yang akan di tukar dengan sesuatu yang setara, yang bahkan beberapa kali kami hampir kehilangan nyawa kami. Tapi sekarang, akhirnya itu berguna juga.”
Bing jiazhi tidak berkata lagi, ia menikmati arak dengan tenang. Sementara Zhizhu, ia memandang wanita itu. Ia merasa penasaran dengan apa yang di ucapkannya, baginya melindungi dan menyembunyikan gulungan itu bukan sesuatu yang aneh, maka dari itu, ia pun membuka mulutnya, “Bagiku, itu bukan sesuatu yang aneh. Gulungan itu sangat berharga, dan wajar jika kalian harus menyembunyikannya dari orang-orang, agar tidak kehilangannya.”
“Nona muda, kita tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran setiap orang.”
Jawaban itu membuat Zhizhu terdiam. Benar, semua orang punya persepsi mereka masing-masing, dan betapa tidak masuk akalnya itu.
Bing jiazhi kemudian berdiri, menarik pedangnya. Ekspresi wajahnya sedikit menegang dan aura pembunuhan terpancar dari tubuhnya. Ia kemudian berkata kepada Ibu Xiang We, “Sekarang, apa aku boleh melindungimu sekali saja?”
“Tentu saja, dan kami akan sangat berterima kasih kepadamu.”
“Bahkan jika itu harus mengorbankan sesuatu?”
Ibu Xiang We mengangguk.
Bing jiazhi kemudian berbalik memandang ke arah pintu rumah yang terlihat gelap.
Zhizhu penasaran dengan apa yang di lakukannya, oleh karenanya ia memperhatikan Bing Jiazhi.
Cincin ketiga Bing Jiazhi muncul dan berdering keras. Bersamaan dengannya, perlahan-lahan rumah itu retak-retak dan hancur berkeping-keping. Mengeluarkan semua serpihan-serpihan kayu seperti hujan. Dalam sekejap rumah itu akhirnya rata dengan tanah dan memperlihatkan taman yang ada di seberang.
Zhizhu terkejut dan mengangkat kedua alisnya, lalu bertanya-tanya mengapa Bing jiazhi melakukannya, tetapi ketika ia ke seberang, akhirnya ia mengerti mengapa Bing Jiazhi melakukannya.
“Aku ketahuan.”
Seorang pria berpakaian putih berdiri di reruntuhan tanpa memegang apa pun.