Alam Mandala

Alam Mandala
kepergian



Jika yang Liang tanyakan tentang hal-hal yang penting, ia tidak akan merasa jengkel. Tetapi ia berbicara mengenai hal-hal aneh, seperti bagaimana jika matahari terbit dari utara ke selatan. Bagaimana jika bulan terbit dan terbenam dari tempat berbeda dari matahari? Dan lain-lain.


Setelah mereka tiba, Liang diam sejenak. Ia berjongkok memetik tangkai bunga rumput lentera biru dan mengganti yang sebelumnya di sela-sela telinganya.


Dari mereka memandang, Yang asli tertidur di bawah pohon dengan imut. Ia memegang seruling dengan erat. Sementara Yang yang di buat Liang berdiri di samping Yang yang asli. Berdiri di sana seperti patung.


Ketika Liang mengangkat tangannya, tiba-tiba Yang palsu melebur menjadi butiran-butiran warna-warna dan berterbangan.


Setelah melakukan itu, Liang berkata lembut dan pergi dari sana. “Ayo kita pergi.”


Mereka berjalan menelusuri hutan. Bing Jiazhi tidak tahu ke mana Liang akan membawanya, tetapi ia yakin, gadis itu tidak akan mengajaknya tanpa ada hal penting.


Selama tiga jam mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di pinggir tebing. Di sana ada sebuah gerbang yang di lilit tanaman rambat dengan bunga-bunga berwarna kuning.


Di bawah tebing hamparan hutan lebat di sinari warna kuning ke-orangean dan ungu yang indah dari cahaya matahari sore. Nan jauh di sana ada bukit kecil yang di sinari cahaya itu. Membuatnya sangat indah ketika di lihat dari gerbang.


Liang berbalik dan tersenyum lembut kepada Bing Jiazhi.


Senyumannya tidak ada yang bisa menandinginya. Kelembutan dan ketenangan akan menyelimuti orang yang melihat senyuman itu. Senyumannya lembut, dingin seperti bunga-bunga yang baru bermekaran di musim semi atau seperti bunga-bunga yang sebelumnya mendapatkan hujan gerimis; sangat menyegarkan.


Itu lebih indah dari senyuman gadis pelacur yang Bing Jiazhi sukai. Liang melakukannya dengan natural tidak seperti pelacur yang ia datangi dengan ketrampilan, yang membuatnya kurang percaya, apakah dengan tulus atau tidak.


Liang mengangkat tangan kanannya, kemudian memasukkannya ke dalam lengan bajunya yang indah.


Ia kemudian mendekati Bing Jiazhi dan menarik tangan kirinya. Setelahnya mengikat gelang anyaman yang berisi lonceng.


“Kenapa kau memberikan ini?” Bing Jiazhi bertanya dengan keheranan. Di tangan kanannya ada satu gelang pita lonceng. Walaupun keduanya gelang yang berbeda, tetapi memiliki satu lonceng. Dan, hanya seorang yang menikah yang boleh melakukan ini sesuai tradisi.


Lonceng melambangkan getaran-getaran hati wanita yang telah diberikan kepada seseorang yang sangat di percayainya. Hanya gadis-gadis yang sudah sangat yakin berani melakukan itu. Tentu saja mereka sudah lama saling mengenal, tetapi mengapa Liang memberikannya saat mereka hanya baru setengah hari bertemu?


Liang tidak berkata-kata. Ia kemudian masuk ke dalam gerbang dan menghilang.


Bing Jiazhi mengangkat tangannya dan memandang gelang itu. “Liang, apa maksudnya ini?”


Ia kemudian berbalik dan pergi dari sana. Ia akan menanyakan ini ketika ia bertemu dengannya kembali.


Bing Jiazhi kemudian pergi ke tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan wanita yang menjadi ibu yang dan pria yang diam-diam menyerangnya.


Saat tiba di sana, hari sudah malam. Tidak ada orang-orang di sana. Hanya rumput lentera biru yang terus mengeluarkan cahayanya.


Bing Jiazhi berjalan dan terdiam di sana beberapa saat. Ia menikmati suasana tenang di malam hari dan angin lembut dari bawah lereng.


Tidak lama setelahnya, seorang wanita dewasa berpakaian kuning datang di sampingnya. Wajahnya sedikit berwarna hitam, tetapi sangat cantik dan pas dengan tubuhnya saat ini.


Ia mungkin seumuran dengan Xue Ni. Tetapi jika di bandingkan dengan keduanya, maka Xue Ni lebih cantik.


Bing jiazhi tidak perlu memandangnya, ia sangat yakin, jika di samping adalah yang yang sudah dewasa. Wanita itu ikut menikmati keindahan malam. Hanya dua kata yang muncul dari mulutnya, “Terima kasih.”


Kemudian ia tiba-tiba menghilang. Bing Jiazhi tidak perlu mencarinya. Tugasnya di sini sudah selesai. Ia akan kembali ke masanya. Masa lalu tempat terbuang, seharusnya ia tidak boleh melakukan ini, tetapi terkadang manusia harus melangkah mundur untuk dapat melangkah maju lagi.


Ia berbalik. Tepat saat itu, di tempat di mana rumah sebelum terbangun muncul sebuah gerbang berwarna merah.


Bing jiazhi berjalan dan masuk ke dalamnya.


...----------------...


Setelah ia masuk ke dalamnya, cahaya matahari bersinar terang di atas kepalanya. Burung-burung berkicau. Dan angin lembut menelusuri setiap sela-sela pohon.


Tepat ketika Bing Jiazhi datang, Xue ada di depan dengan tersenyum tipis. Wajahnya lebih berseri-seri dari sebelumnya. Berdiri di sana dengan memegang kedua tangannya di depan.


Bing Jiazhi datang dan memberi hormat.


Ketika ia mengangkat wajahnya, Xue Ni berkata, “Aku selalu percaya bahwa aku tidak salah memilih seorang murid. Kau hanya pergi beberapa jam saja sudah mampu membawa kedamaian di desa Suji. Kau memiliki potensi yang sangat mengagumkan kedepannya.”


“Maaf, guru, aku hanya membantu seseorang. Aku tidak sendirian melakukannya. Ada seorang gadis yang telah menuntunku untuk melakukan itu. Aku hanya mengikutinya saja. Seharusnya dia yang mendapatkan pujian, bukan aku.”


“Siapa dia?” Xue Ni bertanya dengan wajah heran.


“Liang, apakah guru mengenalnya?”


Bing Jiazhi mengangguk. “Dia mengenal guru.”


“Aku akan mencarinya nanti. Ayo kita pergi.”


Xue Ni tidak mau memikirkannya sekarang. Ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia persiapkan untuk Bing Jiazhi.


Bing jiazhi juga tidak meneruskan pembicaraan. Ia tidak tahu siapa Liang sebenarnya, tetapi yang pasti Gadis itu memiliki hubungan dengan Xue Ni dan untuk sementara menjadi istrinya.


...----------------...


Malam dengan cepat berlalu dan matahari bersinar terang di langit timur. Langit di penuhi awan-awan tipis dan komet-komet berjatuhan. Melihatnya seperti itu, bagaikan hujan yang sangat indah.


Xue Ni berdiri di bawah Pohon histeria yang mulai menggugurkan kelopak-kelopak bunganya.


Ia menatap ke pinggir sungai, di mana kelopak-kelopak bunga berwarna ungu muda itu mendarat dan terhayut.


Setelah mendengar langkah Bing Jiazhi, ia berkata, “Apakah sekarang kau ingin berangkat?”


Bing jiazhi mengangguk. “Aku ingin membalaskan dendam kepada beberapa orang.”


“Aku juga sudah melepaskanmu.” Xue Ni berbalik dan memberikan sebuah lencana. “ setelah melakukan urusanmu pergilah ke sekte Tao Gong.”


Bing Jiazhi mengambil lencana itu dan memperhatikannya beberapa saat.


“Dan bawa patung ini. Berikan kepada anak gadisku.” Xue Ni memberikan patung karikatur seorang gadis lucu dengan memakai Han fu biru cerah.


Bing jiazhi hanya mengangguk dan mengambilnya. Setelahnya ia memberi hormat.


Sebelum Bing Jiazhi pergi, Xue Ni berkata untuk ingat kembali ke padanya setelah bosan di sekte Tao Gong.


Bing jiazhi menurutinya. Ia pergi setelah membawa beberapa perbekalan.


Xue menatap kepergiannya sembari memikirkan siapa Liang sebenarnya. Ia merasa ada seseorang yang telah di lupakannya, tetapi tidak ada petunjuk sedikit pun.


...----------------...


Di atas bukit yang tidak jauh dari Rumah Xue Ni, berdiri sebuah rumah kayu yang sederhana. Di halamannya di penuhi rumput-rumput dan satu pohon besar.


Yang dewasa menatap kejauhan. Ia bisa melihat kepergian Bing Jiazhi yang terus berjalan menjauh.


Angin kencang terus-menerus menerpa rambutnya yang panjang dan gaun kuning yang di kenakannya.


“Aku harus pergi.”


Ia berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Mengambil beberapa barang dan mendekati ibunya yang sedang menyalakan api di dapur.


“Ibu, aku harus pergi sekarang.”


Rasa rindu pasti akan datang ke hatinya, tetapi balas budi harus ia lakukan sebelum semuanya terlambat.


Ibunya berdiri kemudian mendekatinya. Ia memeluk anaknya dengan lembut. Begitu pun dengan wanita itu.


Kemudian menatapnya. “Kembalilah nanti, kami sangat menyayangimu.”


“Aku pasti akan kembali. Ibu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.”


“Ingat selalu berkata-kata sedikit mungkin.”


“Iya.”


“pergilah.”


Yang kemudian pergi dari sana.


Ibunya menatap anak gadisnya yang sudah sangat dewasa itu hingga pintu tertutup rapat.