Alam Mandala

Alam Mandala
musim salju yang berbeda



“Aku mengingatnya, tapi aku tidak pernah menyangka gadis itu bisa tumbuh secantik dirimu.”


Wajah Liang di penuhi kelegaan dan kelembutan. Ia tersenyum tipis kepada Bing Jiazhi, kemudian berkata, “Bagus, kau mengingatnya. Aku pikir kau tidak akan pernah mengingatnya. Kedatanganku ini tidak terlepas dari hal itu. Kau telah menyelamatkanku dari hal itu. Oleh karena itu, aku akan membantumu menyelesaikan masalah-masalah yang kau hadapi.”


“Masalah apa?”


“Aku bahkan sangat mengetahui apa saja masalahmu. Dari kau di hianati hingga rencana balas dendam. Jangan berpura-pura tidak tahu apa-apa di hadapanku.”


“Keluarkan gulungan itu, aku tahu bagaimana cara membacanya.”


“Kau mengetahuinya?”


Liang tidak menjawab, ia berjalan kemudian bersimpuh di atas batu. Ia lalu memandang Bing Jiazhi dan mengisyaratkan untuknya duduk.


“Ada dua cara untuk membacanya. Pertama, kau bisa menggunakan jiwamu. Kau hanya perlu memejamkan mata dan melihatnya dengan mata batin. Kedua, kau hanya perlu mengalirkan energimu ke dalam gulungan itu. Kedua cara ini sama-sama mudah yang mana akan kau pilih?” Liang menarik nafas setelah mengatakan itu. Ia menjelaskannya setelah Bing Jiazhi duduk di depannya.


Bing Jiazhi mengangguk. Ia kemudian mengeluarkan gulungan dan membukanya.


Ia menaruh di lantai. Liang dengan sedikit penasaran melihat gulungan itu. Walaupun gulungan itu hanya terbuat dari kertas biasa dan sudah usang, ada sesuatu yang mampu membuat seseorang tertarik meliriknya. Bukan karena penasaran, tapi itu seolah memiliki medan magnet.


Ia kemudian mengangkat sedikit kepalanya memandang wajah lembut Bing jiazhi yang kini memejamkan matanya. Tidak pernah menyangka dan berharap ia akan bertemu dengannya lagi. Jika ia tidak bertemu dengannya, maka ia akan membunuh dirinya sendiri. Walau ia sudah di katakan akan terjadi bencana jika ia melakukannya dan akan mengganggu keseimbangan alam semesta, ia tidak peduli dengan semua itu.


Ia lalu mendongak, memandang lubang yang ada di atap-atap gua. Angin dingin berhembus dari sana dan membuatnya sedikit kedinginan. Ia lalu memasukkan tangan ke dalam lengan baju. Kemudian keluar syal berwarna merah yang di berikan Bing Jiazhi. Ia lalu menyelimuti lehernya dengan pelan-pelan dan menggosok kedua tangannya untuk memberikan rasa hangat.


Tiba-tiba, butiran-butiran berwarna emas berjatuhan di depannya. Ia langsung mendongak lagi. Di langit butiran-butiran emas mulai berjatuhan dengan pelan.


“Apa yang terjadi?” ia merasa sesuatu yang sangat buruk akan terjadi dari salju-salju emas yang berjatuhan. “Salju ini.... Tidak, tidak mungkin penyebabnya ini. Tapi fenomena ini sungguh indah. Salju emas, seperti imajinasi seorang anak kecil.”


Ia kemudian memandang lagi pria di depannya.


...----------------...


Cahaya matahari pagi menambah keindahan butiran-butiran salju emas yang berjatuhan. Butiran-butiran itu terlihat bersinar dan sangat memukau.


Tidak pernah terjadi fenomena aneh seperti ini di desa salju. Sepanjang tahun, biasanya akan ada dua musim salju, tapi tidak pernah ada musim salju emas seperti ini.


Semua orang bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mulai mengaitkan fenomena ini dengan berbagai tanda-tanda buruk. Beberapa orang mulai pergi ke kuil untuk berdoa, agar apa yang mereka pikirkan tidak terjadi.


Para biksu terdiam menyaksikan hal seperti ini. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mencari tahu tentang keadaan bumi dan langit adalah tugas mereka.


Seorang biksu berdiri di depan pohon plum sembari menyankupkan kedua tangannya. Ia menghela nafas sebelum berkata, “Apakah langit memberikan anugerah kepada kita dengan cara seperti ini atau tidak. Apakah ini pertanda buruk atau tidak? Apakah ini akan menjadi sesuatu yang baru? Pergilah cari tahu apa yang terjadi, kita harus mengetahui tentang ini secepatnya. Aku merasa ini bukan pertanda yang baik.”


Kedua biksu yang ada di belakangnya memberi hormat kemudian pergi.


...----------------...


Butiran-butiran salju semakin banyak di siang hari, membuat langit di penuhi warna emas.


Seorang biksu duduk di bawah pohon sambil bersila. Butiran-butiran salju terus berjatuhan, bahkan mulai menumpuk di pakaiannya yang kuning kusut.


Ia membuka matanya perlahan. “Anak kedua yang kecil itu seharusnya di jaga dengan baik.”


Biksu itu kemudian berdiri dan pergi dari sana.


...----------------...


“Kita akan pergi menghancurkan sekte itu sekarang! Saudara-saudaraku! Ini adalah kesempatan terbaik yang tidak boleh kita lewatkan. Orang sekte Tao Gong yang bajingan itu akan mendapatkan balasannya sekarang,” seru seorang pria gemuk berotot dengan wajah penuh kepuasan. Ia berdiri menatap ratusan orang-orang yang ada di depannya.


“benar! Kita akan menang hari ini! Hidup tuan Zhao!”


“Hidup!”


“Hidup!”


Orang-orang itu bersemangat menyebut Tuan yang bernama Zhao itu. Mereka mengangkat semua senjata mereka dan bersuara keras yang penuh semangat.


Pria itu kemudian berbalik dan sedikit mengangkat wajahnya memandang langit emas. Ia sangat senang di saat-saat seperti ini untuk menghancurkan sekte Tao Gong. Orang-orang dari sekte itu telah bertahun-tahun menekannya dan menangkap setiap anak buahnya. Saat ini, ia dapat memastikan kemenangannya atas sekte itu, dan membuat orang-orangnya kembali berjaya seperti dulu.


...----------------...


Bing Jiazhi kini berdiam menatap salju-salju emas yang semakin tebal dan menutupi langit. Ia bertanya-tanya apakah sesuatu yang buruk itu ada kaitannya dengan apa yang di lihatnya sekarang.


Butiran-butiran salju ini sangat aneh dan memiliki semacam energi yang semakin lama semakin kuat. Ia tidak tahu apa energi ini, tapi energi kecil ini semakin lama membuat tumbuhan-tumbuhan terdistorsi dan akhirnya mati.


Liang berjalan mendekatinya. Ia kemudian menengadah menatap langit emas yang bercahaya. Ia tidak berharap akan merasakan salju aneh seperti ini. Walaupun terasa dingin, salju ini tidak bisa di makan karena mengandung racun, sehingga ia tidak bisa menjulurkan lidahnya untuk merasakan butiran-butiran lembut salju.


Ia berpaling menatap Bing jiazhi, membuat anting-anting putihnya sedikit bergerak. “Apa ini ada kaitannya dengan apa yang kau rasakan?”


Bing Jiazhi mengangguk.


Liang kemudian berjongkok memetik bunga rumput lentera biru. Meski di penuhi salju, bunga itu masih mampu mempertahankan keindahannya.


Ia dengan tenang menyelipkannya di telinga. “Aku pergi dulu.”


Ia berbalik dan pergi dari sana.


Bing Jiazhi membiarkannya. Ia juga kemudian berbalik pergi kembali ke tempat rekan-rekannya.


Saat ia telah kembali, ketiga rekannya memandang ia dengan wajah rumit dan penuh penasaran.


Zhu Nan bertanya sambil mengerutkan sedikit alisnya, “Adik Junior, ke mana kau pergi semalaman?”


Akhirnya Bing Jiazhi menyadari apa yang terjadi. Ia pun akhirnya menjawab dengan tenang, “Maaf, aku lupa.”


“Lupa?!” ujar anak laki-laki itu. “Lupa ke mana? Kami telah mencarimu ke mana-mana dan tidak menemukanmu. Apakah kau bersembunyi karena tidak mau menolongku, dan berharap dengan itu kau bisa keluar dari sini sendirian?”


“Tidak.”


“Lalu apa?”


“Aku memang benar-benar lupa. Semalam aku berlatih di bawah lubang itu dan tanpa sadar telah melupakan kalian.”


“Adik Junior, kau berlatih di mana?” tanya Zhu Nan. “Kami telah pergi ke depan dan kembali lagi ke sini tanpa melihat lubang apa pun.”


Bing Jiazhi berbalik menatap di mana ia berlatih semalam. Tetapi ia tidak melihat lagi lubang itu, atau pun salju-salju emas yang berjatuhan. Ia penasaran dan terkejut dengan apa yang di lihatnya sekarang. Kejadian ini sungguh aneh. Jika memang rekan-rekannya pergi mencarinya, pastinya mereka dengan mudah menemukan dirinya di sana, tapi mereka tidak menemukannya. Apa yang sebenarnya terjadi?


Sambil memikirkan ini, tiba-tiba suara feminin terdengar dari belakang mereka berempat.


“Li’er, kenapa kau berada di sini?”


Ketika mereka berempat berbalik menatapnya. Seorang gadis telah datang dengan ember di tangannya.


“Kakak!” seru anak laki-laki itu, kemudian berlari dan memeluk kakaknya.


“kakak, apakah kakak baik-baik saja?” tanyanya setelah melepas pelukannya.


“Tidak akan terjadi apa-apa. Yang bertanya seperti itu seharusnya aku. Apa yang kau lakukan dengan ketiga orang jahat itu?”


“Mereka bukan orang jahat, kak. Mereka telah berusaha membantuku mencari kakak.”


Gadis itu terlihat mengerutkan keningnya ketika mendengar adiknya berkata seperti itu. “Aku yang telah berusaha mencarimu Li’er. Kakakmu ini telah mencarimu ke mana-mana di luar, hingga ratusan Li. Tapi ternyata kau berada di sini.”


Gadis itu kemudian memandang kelompok Bing Jiazhi dengan wajah di penuhi kewaspadaan, kemudian memandang kembali adiknya. “Li’er kau tidak boleh bersama mereka. Ayo kita pergi.”


Gadis itu memegang tangannya dan ingin pergi, tapi Anak laki-laki itu menarik tangannya. “kakak, mereka bukan orang jahat. Mereka telah membantuku menemukan kakak.”


“Tidak Li’er, mereka hanya berpura-pura. Ayo kita pergi.”


“Tidak. Aku harus berterima kasih kepada mereka.”


Anak laki-laki itu kemudian berlari mendekati Bing Jiazhi dan yang lainnya. Ia mengepalkan tangannya untuk berterima kasih. “kakak, terima kasih telah membantuku. Jika kakak tidak membantuku, aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan kakakku.”


Bing Jiazhi dan Zhu Han mengangguk.


Zhu Nan berkata, “Semoga kita bertemu lagi.”


Anak laki-laki itu mengangguk. Ia ingin berkata lagi, tapi Kakaknya menarik tangannya dan berlari pergi.


“Kakak, kita akan bertemu lagi!” ujarnya sembari berlari.


Zhu Nan tertawa melihat kelucuan dan ketakutan berlebihan gadis itu. Ia kemudian melangkah maju dan menghela napas. “Akhirnya kita menyelesaikan hukuman ini. Sekarang, kita bisa pergi kembali ke sekte. Ah, leganya bisa kembali.”


Bing Jiazhi dan Zhu Han mengangguk. Walaupun di hatinya ada beberapa pertanyaan, Bing Jiazhi tidak mempermasalahkannya. Yang paling ia ingin ketahui sekarang adalah tentang musim salju emas yang terjadi.


...----------------...


“Kakak, salju ini sangat indah, apakah bisa di makan?”


“Tidak.” Ujar Bing Jiazhi terlebih dahulu memperingati anak laki-laki itu.


Anak itu langsung mengantupkan bibirnya dan memandang kelompok Bing jiazhi yang telah keluar dari gua. “Apa yang terjadi jika aku memakannya?”


“salju ini sangat beracun.”


Kakak anak laki-laki itu kemudian memandang rumput-rumput yang mulai hancur perlahan-lahan dan berjatuhan menjadi debu. Ia mengerti dengan apa yang di katakan Bing Jiazhi dan tanpa sadar bertanya, “Salju apa ini?”


Ketika ia bertanya, ia telah memandang Bing Jiazhi dan yang lainnya.