
Wajah Xiang We datar ketika mendengarnya. Ia kemudian menjawab jika ingin bersamanya, maka An Bai harus membuktikan kelayakannya dengan kekuatan yang di milikinya. Ia tidak mau bersama laki-laki yang lemah sepertinya saat ini, selain itu, Xiang We sangat memerlukan kekuatan untuk melindungi keluarganya yang tersisa. Ia tidak mau jika hal mengerikan terjadi lagi kepada keluarganya.
An Bai mengerti dengan apa yang di inginkannya, maka dari itu, ia pun meminta janji kepada Xiang We untuk tidak menikah dengan siapapun dalam 3 tahun ke depan. Jika nanti dalam waktu itu An Bai tidak datang, maka Xiang We bebas memilih menikah dengan siapa pun.
Xiang We menyetujuinya dengan wajah yang kurang meyakinkan, apakah ia terlalu meremehkan An Bai atau karena sikapnya memang seperti itu. Tapi An Bai merasa geram dan ingin membuktikan jika dirinya layak bersama wanita itu. Setelahnya, mereka bercakap-cakap hingga larut malam, kemudian An Bai tertidur dan Xiang We menjaganya. Sesuai dengan apa yang ia katakan sebelumnya, selain menjaganya, ia melayani An Bai hingga pagi. Malam itu, An Bai memilikinya, namun sayangnya ia terluka, jika tidak, siapa yang tidak mau berhubungan badan dengan wanita secantik Xiang We?
Ketika menunjukkan di sore hari, akhirnya An Bai yang masih terluka memilih pergi. Xiang We yang melihat pria itu ingin pergi dengan tubuh yang terluka, membuatnya tidak tahan memarahi pria itu, dengan mengatakan bodoh kepadanya.
An Bai tertawa kemudian berkata kepadanya, “Jika masalah sekecil ini tidak bisa akan tangani, bagaimana dengan masalah yang lainnya?”
Ia pun pergi dari sana dan tiga hari kemudian menyatakan pergi meninggalkan sekte untuk melakukan latihan tertutup.
Mengingat semuanya membuat An Bai semakin bersemangat, terlebih mengingat wajah Xiang We yang sangat cantik itu. Ia kemudian berdiri. Meski merasakan sakit, An Bai tetap berusaha berlatih. ia tahu jika tidak berusaha keras, ia tidak akan mencapai keinginannya. Mengabaikan rasa sakit pada tangan dan kakinya, ia mengayunkan pedang itu lagi dan lagi. Dan tidak beberapa lama, ia berhenti lagi kemudian keringat keluar dari dahi dan dadanya. Ia pun tidak kuat dan akhirnya terjatuh ke belakang.
Pandangan cabang-cabang pohon dan cahaya matahari di atasnya, membuat ia merasa lebih baik dan kemudian angin yang berhembus membuatnya merasa sejuk. An Bai merasa ingin tidur dan perlahan-lahan menutup matanya.
Namun, tidak beberapa lama, ia membukanya kembali ketika teringat dengan tujuannya. Ia pun kemudian kembali berlatih.
...----------------...
Malam itu, dalam kegelapan hutan kereta kuda berjalan pelan, sama seperti angin yang membawa daun-daun berguguran. Seolah kereta kuda itu berjalan di taman yang penuh dengan keindahan, seolah pemiliknya yakin, tidak ada yang akan berani merampoknya, meski dalam keadaan yang sunyi seperti itu, dan di dalam hutan yang lebat.
Orang yang menjadi kusirnya, seorang pria muda dengan pakaian hitam, yang memiliki tubuh yang gagah, Namun sayangnya ia sekarang memakai topi capil yang hanya memperlihatkan bagian bibirnya, tetapi, orang-orang bisa tahu jika pria itu mungkin memiliki wajah yang tampan. Dan mereka juga menduga, dari caranya duduk dan memegang tali, merupakan bukan orang sembarangan.
Seperti air danau ketika di pagi hari, pria itu bersila tenang, yang seperti gempa bumi tidak akan menghancurkan ketenangannya, bahkan jika dunia hancur, ia sepertinya tidak akan peduli.
Sementara di atas kereta kuda, seorang wanita muda duduk sembari menatap ke depan. Dua rambut panjang di depannya sedikit bergerak ketika kereta kuda berjalan. Ia kemudian menguap karena sedikit mengantuk. Lalu ia mengambil kotak yang ada di punggungnya. Memakai Han fu putih, wanita itu terlihat bersinar di tengah kegelapan malam. Ia pun kemudian mengusap-usap kotak yang telah di ambilnya itu. Kemudian berkata kepada pria yang duduk di bawahnya, “Ini adalah imbalan yang sangat bagus untukku, tetapi mengapa keluarga Xiang dengan mudahnya memberikan ini? Meskipun aku tahu mereka memberikan ini sebagai tanda terima kasih, setidaknya, jika mereka berpikir rasional, mereka seharusnya memberikan sesuatu yang tidak terlalu berharga seperti ini. Kakak seniormu ini berjuang dari masa kecilnya yang buruk dan tumbuh dengan doa-doa semoga hari-harinya di penuhi keberuntungan, tetapi tidak pernah mendapatkannya. Namun sekarang di berikan keberuntungan seperti ini, aku merasa aneh. Kakak merasa apa yang di berikan, seperti sesuatu yang buruk akan datang.”
Zhizhu kemudian membuka pelan kotak itu, dan di dalamnya memperlihatkan sebuah pedang panjang bersilauan dan sangat bersih. Dengan ganggang dari pohon persik, membuat bau pedang itu sangat harum dan wangi. Di ganggangnya itu, ada beberapa ukiran-ukiran tanaman rambat penuhi dengan bunga-bunga. Ketika seseorang memegangnya, mereka akan merasa sangat nyaman. Ini adalah pedang bunga persik! Sebuah pusaka yang memiliki tingkat kekuatan yang sangat tinggi dan senjata kelas atas.
Dahulu kala, Zhizhu pernah mendengar jika orang yang memiliki pedang itu adalah seorang wanita buruk rupa dengan wajah sehitam wajan dan rambut keriting yang tidak di urus. Suatu ketika, ia menemukan pedang bunga persik dan mengubah tampilannya menjadi sangat cantik. Kulitnya yang hitam berubah menjadi sangat putih, tubuhnya yang gemuk menjadi sangat langsing dan indah, serta rambutnya yang keriting menjadi lurus dan panjang.
Di utara jauh, ada Sekte dengan nama ‘sekte Bunga persik’ tempat di mana Dewi pedang tinggal. Ketika orang-orang bertanya ke mana perginya Dewi pedang, maka mereka akan menjawab dengan berbagai jawaban yang sulit di mengerti.
Ketika pedang itu berada di tangannya, Zhizhu merasa sangat terkejut dan mengatakan jika pedang itu pedang palsu, tetapi ketika ia mencium baunya, itu adalah pedang asli! Dan memiliki daya kekuatan yang sangat mengagumkan.
“Aku tidak tahu. Tapi dengan mengendalikan pedang itu, setidaknya mala petaka yang akan datang bisa di hindari.”
Ketika seseorang di berikan keberuntungan sebesar itu, mereka harus mampu mengendalikannya, namun jika tidak, maka mala petaka akan datang. Baik Zhizhu maupun Bing Jiazhi sadar akan bahaya besar yang menghantui mereka jika pedang itu terus bersamanya, di tambah lagi dengan gulungan seribu pedang. Jika orang-orang mengetahui itu, mereka akan langsung ingin merebutnya.
Pedang bunga persik harus di kendalikan secepat mungkin, dan gulungan itu harus di serap, jika tidak, maka bahaya besar akan mengintai mereka setiap saat.
Zhizhu kemudian mengusap-usap bilah pedang itu yang terasa sangat tajam dan lembut. Ketika menyentuhnya, ia merasa berada di Lautan bunga.
Legenda beredar, Jika pedang itu di ciptakan secara tidak sengaja oleh seorang biksu yang sedang duduk di taman bunga persik ketika ia bertapa dan tanpa sengaja memohon anugerah untuk balas dendam demi keluarganya. Juga ada yang beredar jika pedang itu di buat oleh seorang pengrajin kayu yang membuat pedang, tapi tidak sengaja menciptakan pedang itu. Dan sampai sekarang, tidak ada yang tahu pasti siapa yang membuatnya. Semuanya hanya bersifat dugaan.
Zhizhu kemudian mencoba menggenggam ganggang pedang itu, di saat itu juga, ia merasa ada sebuah akar yang sangat panjang melilit pergelangan tangannya dan menusuknya hingga mengeluarkan darah, dan kemudian ia menarik tangannya. Sama seperti kemarin, ia belum bisa memegangnya. Ia pun menutup kembali pedang itu dan melambaikan tangannya. Sekejap saja, kotak pedang di hadapannya kembali ke dalam kereta kuda.
Ketika itu selesai, Bing Jiazhi tiba-tiba menghentikan kereta kuda. Zhizhu kemudian memandang ke depan.
Di sana, seorang gadis berpakaian Hijau dengan mata cerah, alis yang tebal berdiri. Jika di bandingkan dengan kecantikan Zhizhu, wanita itu tampak lebih bersemangat dan hidup, dan itu membuatnya tampak lebih cantik dari pada Zhizhu. Dari kegelapan malam itu, akan terlihat jelas wajahnya yang cantik, dengan hidung kecil yang mancung, bibir tipis, bulu mata yang sangat hitam dan panjang, serta rambutnya yang tipis, namun sangat sehat.
Di bawahnya, lehernya yang ramping akan nampak dan terlihat sangat lemah. Dua anting-anting bergoyang-goyang di malam itu. Tapi, wanita itu berdiri mematung dan memejamkan matanya, seolah ia sedang tertidur dan tidak terlihat pula jika ia hidup. Kulitnya yang putih terlihat pucat dan membiru. Wanita itu, seperti berdiri sama persis seperti patung.
Sementara Bing Jiazhi merasa sedikit senang sekaligus bingung dengan kemunculan Huang Shu di sana dan seolah sedang menunggunya. Tidak lama bertemu dengannya, melihatnya seperti ini, ia merasa Huang Shu lebih cantik dari sebelumnya. Ada pertanyaan ketika Huang Shu berdiri di sana, mulai dari, mengapa ia bisa berada di sini? Apa tujuannya? Apakah ia benar-benar Huang Shu jika melihat caranya berdiri? Mengapa ia memejamkan mata, seperti seseorang sedang terhipnotis? Apakah ia tahu jika Bing jiazhi berada di sini, dan dari mana ia mengetahuinya?
Bing Jiazhi kemudian turun dari kereta kuda dan mendekatinya.
Perlahan, tapi pasti, Huang Shu membuka matanya dan di saat itu juga, kulit wajahnya semakin menua dan pucat. Bentuk wajahnya semakin berubah dan tubuh lebih mengembang. Pakaiannya berubah seketika menjadi hitam. Dalam sekejap, ia menjelma menjadi seorang pria paru baya.
Bing jiazhi terkejut dan tanpa sadar menyebut nama ‘Huang Tang’ di hadapan pria itu. Sementara pria itu Sedikit tersenyum. Matanya yang besar memperlihatkan kekaguman kepada dirinya sendiri, dan ia terlihat senang ketika Bing jiazhi terkejut dan menyebut namanya.