
Pohon dengan daun berwarna merah muda itu tampak terlihat lebih bercahaya setelah sang hujan membasuhnya tadi malam, seolah mereka kembali di dandani dan di bersihkan oleh alam. Namun ada daun-daun yang tua berguguran di bawahnya dan menyentuh genangan air yang ada. Cahaya matahari terpantul dari genangan itu dan langit biru terlihat di permukaannya, yang bahkan lebih indah dari aslinya.
Pohon itu sangat besar dan berumur ratusan tahun. Kulit pohonnya sudah sangat keras dan akar-akar keluar membentuk sebuah seni alam yang tidak terduga.
Satu daunnya lagi-lagi berjatuhan dan burung berterbangan di sana dari satu dahan ke dahan lainnya. Orang-orang akan merasa tenang ketika ia berdiri di sana mendengar dan melihat keindahan alam itu.
Xiang We menatap pohon itu beberapa saat dan mulai mengingat jika di sana lah adiknya di gantung setelah di bunuh dan satu Pedang masih menusuk dadanya. Ia merasa sedih saat melihat wajah pucat yang di penuhi darah saat itu dan merasa menyesal karena tidak memberinya air di saat-saat terakhir hidupnya.
Pedang menancap di satu akar dan tali masih bergelantungan di atasnya. Pedang itu telah berkarat dan tidak di kenali jika sebelumnya itu adalah pedang yang indah. Sementara akar yang tertancap mulai menyelimutinya dan memegang erat, serta menerima rasa sakit dari pedang itu.
Ketika ia melihatnya, tiba-tiba ia melihat pohon itu kehilangan semua daun-daunnya dan seorang gadis tergelantung tidak berdaya di sana. Nasibnya sungguh miris, yang bahkan angin turut tidak bertiup memainkannya.
Tidak lama kemudian, seorang wanita berpakaian putih berjalan dan menyadari Xiang We. Di tangannya beberapa buah dan dupa. Ia terdiam ketika melihat Xiang We. Meng Lin kemudian berjalan setelah mengetahui siapa wanita itu dan menginjakan kakinya di antara genangan-genangan, membuat lingkaran-lingkaran kecil di sana.
Xiang We hanya memperhatikan apa yang di lakukan gadis itu.
Meng Lin meletakkan buah-buahan di depan Pedang, kemudian menyalakan beberapa dupa dan meletakkannya di sana juga. Mencakup kedua tangannya dan mulai berdoa.
Setelahnya pergi dari sana, tapi Xiang We menghentikannya
“Mengapa kau melakukannya?”
Meng Lin terdiam sebentar, tapi ia memutuskan untuk tidak menjawab dan pergi dari sana.
Xiang We melepaskannya begitu saja lalu memandang kepergian wanita itu.
Ia lalu berjalan mendekati pedang itu.
Di beberapa titik daun-daun merah muda dari pohon itu menjuntai ke bawah dan menyentuh genangan.
Xiang We kemudian terdiam menatap kuburan adiknya Xiang Ya yang terlihat lebih indah dari beberapa tahun. Ia tidak tahu, apakah itu karena hujan kemarin atau ada seseorang diam-diam menjaga kuburan adiknya.
...----------------...
Bing jiazhi kemudian mengeluarkan tiga cincinnya di saat bersamaan setelah melihat keberadaan pria itu.
Pria itu masih tenang setelah melihatnya. Kemudian wajahnya yang tenang berkata pelan, “hari ini aku tidak mau bertarung denganmu.”
“Tapi, aku ingin bertarung denganmu,” kata Bing Jiazhi lalu berlari dan mengayunkan pedangnya.
Pria itu mengerutkan kening karena merasa kesal dan ia lalu melayangkan tangannya ke depan. Ujung jarinya menyentuh pedang Bing Jiazhi, tapi tidak terlihat sedikit pun darah. Lalu pria itu mendorong Bing Jiazhi dan membuatnya terdorong ke belakang.
“Sudah aku katakan, aku tidak mau melakukannya saat ini.”
Pria itu kemudian berbalik dan berjalan pergi, lalu perlahan-lahan menghilang.
Dan, melihat cara ia menahan serangan Bing Jiazhi, ia tentunya bukan orang yang memiliki kultivasi yang rendah.
Pria itu membuat Bing Jiazhi penasaran.
Sementara itu, Zhizhu juga terlihat sedikit mengerutkan kening dan bertanya-tanya siapa dia.
Ibu Xiang We berdiri kemudian berkata sambil berjalan, “Ada bermacam-macam manusia di dunia ini, kalian tidak perlu memikirkannya.”
Ia lalu pergi dari sana dan Zhizhu memandang sebentar kemudian mendekati Bing Jiazhi.
Ia kemudian memberi hormat tanpa berkata lalu pergi dari sana.
Bing jiazhi kemudian mengikutinya dari belakang tanpa berkata apa-apa.
...----------------...
Angin siang ini terasa lebih lemah dari sebelumnya, membuat Meng Lin yang kepanasan menggoyang-goyangkan kipasnya beberapa saat. Ia kemudian berdiri dan berjalan mendekati jendela kamarnya.
Dari sana, terlihat dua orang yang mendekat. Satunya adalah seorang pelayan dan satunya lagi seorang biksu tua. Mereka berjalan memasuki kediamannya.
Meng Lin kemudian membuka pintu dan menghampiri biksu itu di ruangan tamu. Ketika tiba, ia melihat pelayannya sudah menjamu sang Biksu dengan minuman yang terbuat dari ekstrak buah-buahan. Untungnya, sang Biksu menerimanya, membuat Meng Lin merasa di hormati.
Ia memberi hormat dan mengungkapkan maksudnya mengundang Biksu.
Setelah mengatakan masalahnya selama ini dan beberapa kali mengelus-elus perutnya yang besar, sang Biksu kemudian menanyakan tanggal kelahiran Meng Lin.
“Aku sudah lupa dengan tanggal kelahiranku, tapi ibuku mengatakan, aku terlahir ketika hujan reda dan petir menyambar bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman rumah.”
Biksu itu terdiam beberapa saat.
Meng Lin tidak tahan menunggu jawaban dari biksu itu, kemudian ia bertanya penuh semangat, “apakah itu pertanda buruk?”
“Tidak, tapi seperti bunga-bunga bermekaran, kehidupanmu akan bahagia, Namun juga seperti Sambaran petir itu, akan ada peristiwa besar di dalam kebahagiaan itu.”
“Apa hubungannya dengan kandunganku? Tuan Biksu, apakah anak yang aku lahirkan akan terlahir hidup dan sehat?”
“Aku tidak tahu.”
Meng Lin terkejut mendengarnya. Ia pikir dengan mengundang Biksu yang mampu meramal dan mengetahui masa depan akan mampu memberinya sebuah jawaban atas pertanyaannya, tapi ternyata tidak. “Sia-sia diriku mengundangmu. Kau sama seperti seorang penipu yang memberi jawaban penuh teka-teki.”
“Aku hanya melakukan apa yang aku bisa.”
Biksu itu kemudian berdiri dan berjalan pergi keluar.
Meng Lin terlanjur kecewa, ia kemudian berbalik pergi ke kamarnya.