
Semakin ke atas, semakin lambat ia bergerak. Ketika 10 meter dari Xue Yan, delapan cincin muncul di dahinya, satu cincin terakhir belum ada. Dengan mata tajam, Xue Ni terus berusaha bergerak ke atas. Kali ini, ia harus mampu meraih Xue Yan, jika tidak, ia tidak akan bertemu dengannya lagi. Itu akan menjadi kenangan lebih buruk dari pada kehilangan Sheng Shu.
Gigi-giginya berdetak, keringat bermunculan. Tekanan ini setara dengan 1000 kg gravitasi. Sungguh luar biasa Xue Yan yang semuda itu bisa mengeluarkan kekuatan mengerikan seperti ini.
Semakin mendekat, akhirnya beberapa titik tubuh Xue Ni mulai bermunculan darah dan rasa sakit yang sangat kuat. Tapi wanita itu terus berusaha.
Di bawah, Hao Yu hanya bisa memberikan doa, sembari ia di tekan kuat oleh gravitasi.
Dan, pada akhirnya Xue Ni meraih tangan Xue Yan. Ia kemudian memeluknya dengan lembut. Perlahan-lahan, ia melihat cahaya putih yang menyilaukan.
...----------------...
Xue Yan duduk di dermaga dekat Danau, ia telah duduk dalam waktu yang lama. Selama itu juga, ia telah menggoyang-goyangkan kedua kakinya di air tanpa terasa kedinginan. Ikan-ikan Koi yang ada di dalam danau bergerak hilir mudik dan membentuk pusaran air.
Para jangkrik sudah sejak tadi bersuara. Bulan sudah beberapa kali di lintasi awan-awan. Suasana malam ini terasa begitu tenang. Tapi Xue Yan tidak ikut merasakan ketenangan itu. Bayangan di danau masih menampilkan bayangan kesedihannya.
Ia telah menunggu untuk ke luar dari sini. Seperti apa yang telah di rasakannya selama ini, ia seperti tidak sendiri di dalam tubuhnya; ada sesuatu yang lain. Dan ternyata itu adalah penjaganya sendiri, yang telah mengabdikan diri kepadanya. Ia telah memerintahkannya untuk melakukan ini semua, sementara ia tidak tahu berada di mana.
Malam itu saat ia berada di perpustakaan, akhirnya ia mendapatkan bagaimana cara membuka pintu surga dan neraka. Ia langsung melakukannya tanpa berpikir panjang. Meski ia tahu apa yang akan terjadi kepada tubuhnya. Baginya tidak ada gunanya hidup di dunia ini. Melakukan hal seperti itu, setidaknya ia telah melakukan hal yang menakjubkan, dan apa yang di inginkannya.
Tiba-tiba, dari belakangnya terdengar suara wanita. “Yan’er, kita pulang sekarang.”
Xue Yan berpura-pura tidak mendengarnya; ia tetap memilih mengayunkan kedua kakinya dan memandang bayangannya yang di penuhi gelombang.
Xue Ni mendekat dan duduk. “Yan,er apa kau tidak mau pulang?”
Xue Yan tetap menunduk, namun tidak lama setelahnya, ia menatap Xue Ni. “Siapa kau?”
“Ibumu.”
Wajah Xue Yan tidak berubah sama sekali, wajahnya tetap terlihat sedih dan memandang ke permukaan Danau. “Ibuku? Dia telah lama mati. Kau bukan ibuku.”
“Lalu siapa yang duduk di sampingmu sekarang?”
“Aku tidak tahu, tapi yang jelas, kau bukan ibuku.” Xue kembali memandang bayangannya.
Xue Ni mengeluarkan boneka seorang gadis karikatur lengkap dengan pakaiannya. Ia memperlihatkannya kepada Xue Yan. “Apakah kau tidak mengenal ini?”
“Boneka ini sama persis dengan apa yang di berikan kakak Bing, tapi aku yakin, dia bukan ibuku.”
“Mengapa kau berkata seperti itu?”
“Aku pernah membaca dari sebuah buku. Di dalamnya mengatakan, seorang ibu akan selalu terhubung dengan anaknya, di mana pun ia berada. Jika anaknya sedih, maka ibunya juga merasakannya. Jika anaknya menangis, Ibunya juga ikut merasakan hal itu. Tapi wanita yang mengirim boneka itu tidak pernah merasakan perasaan rinduku, jadi dia bukan ibuku. Ibuku telah meninggal, mungkin semasa aku lahir.”
Xue Ni tidak tahu harus berkata apa untuk meyakinkan Xue Yan. Ini adalah interaksi pertama setelah enam tahun mereka berpisah. Ia tidak mengenal bagaimana sikap anaknya sendiri. Xue Ni hanya bisa menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Xue Yan hanya menurut.
“Maaf.”
“Untuk apa?”
Di dalam pelukan itu, pertama kalinya Xue Yan merasakan kehangatan dari seseorang selama ia hidup. Ia ingin lama-lama di peluk.
“Aku benar-benar ibumu.”
“Aku tidak percaya.”
“Apa yang kau ragukan?”
“Mengapa kau tidak pernah bertemu denganku, seolah kita tidak ada hubungan apa pun.”
“Apa itu?”
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang.”
“Kau bukan ibuku.”
Xue Ni mendorong Xue Yan menjauh. Ia kemudian menatap leher Gadis itu yang tidak ada apa pun di sana.
Xue Yan bingung dan penasaran dengan tatapan itu. “Ada apa?”
“Di manakah kalung berwarna perak dengan gantungan bunga matahari itu? Ibu telah memakaikannya kepadamu.”
“Itu telah aku buang.”
“Bodoh! Kenapa kau membuangnya?!” Xue Ni tiba-tiba menjadi tegas dan marah.
Xue Yan pertama kalinya merasa ketakutan dengan seseorang. “I-itu karena aku marah, aku pikir ayah berbohong kepadaku, mengatakan ibu masih hidup. Aku membuangnya karena aku ingin melupakan ibu.”
Xue Ni menghela nafas. “Sekarang, apa kau percaya ibumu masih hidup?”
Xue Yan ragu-ragu mengangguk. “Aku masih ragu-ragu, tapi aku merasa nyaman bersama denganmu.” Xue Yan memeluk ibunya.
Di bawah, perlahan-lahan bayangan Xue Yan yang pucat menjadi gembira.
...----------------...
Akhirnya Xue Yan berada dalam pelukan Xue Ni dan tidak sadarkan diri. Xue Ni mendarat dengan wajah kesakitan. Tubuhnya di penuhi luka-luka.
Hao Yu datang membantunya.
Di langit, pilar cahaya itu akhirnya meredup dan menghilang. Perlahan-lahan pintu neraka dan surga tertutup. Akan tetapi Arya yang menghalangi Jiwa-jiwa hancur. Kemudian Para jiwa-jiwa itu berterbangan bebas dan menyerang para murid. Mereka mencabik-cabik murid lemah dengan jari-jari tangan yang sangat tajam.
Jun Hui hanya bisa terdiam menyaksikan ini. Ia tidak pernah berpikir, jika bawahan Zhao Wei telah menyelinap dan membunuh murid-muridnya, kemudian dengan sengaja melemahkan Arya.
Ia marah dengan semua ini, tapi mencari dan membunuh penyusup itu bukan pilihan yang baik.
Dari kejauhan, Zhao Wei tertawa lantang. Akhirnya rencananya mulai berhasil. Walaupun Xue Yan telah di hentikan, jiwa-jiwa itu akan menyerang setiap orang. Dan mereka tidak akan berani menyerang pihaknya, karena telah memakai payung berwarna emas untuk menyamarkan keberadaan mereka.
Semua rencana ini telah ia susun dari ia mengetahui Xue Yan akan melakukan pembukaan pintu neraka dan surga. Ia adalah pria menyamar yang di jumpai Xue Yan di bawah pohon bunga Tabebuya beberapa hari lalu.
Awalnya ia tidak percaya, tapi setelah mengetahui latar belakang Xue Yan, ia menjadi yakin dan mulai menyusun rencana.
“Kalian semua akan mendapat apa yang telah kami derita bertahun-tahun.”
Chen Yan memegang lebih erat pedangnya. “Itu tidak akan terjadi.”
“Hahahah! Kau tidak akan bisa menghentikannya.”
Chen Yan mengayunkan pedangnya, kemudian pergi dari sana.
Para murid-murid yang sebelumnya membuat arya satu persatu di bunuh dengan kejam oleh jiwa-jiwa itu, bahkan orang yang tidak terlibat sekali pun ikut menjadi korban.
Lima ketua yang hadir, berusaha melindungi diri mereka dan murid-muridnya, tapi korban-korban terus berjatuhan.
Hanya dalam hitungan detik, puluhan korban telah berjatuhan.