
Bing Jiazhi hanya bisa terdiam . Ia tidak pernah menyangka Liang akan mengirimkannya sebuah surat dengan isi seperti itu. Jika di pikir-pikir itu adalah tindakan yang aneh, apalagi yang mengirimnya seekor burung gagak yang menyeramkan. Sangat tidak cocok dengan penampilan liang yang begitu cantik jelita.
Mendapatkan surat ini membuat Bing Jiazhi bingung dan berpikir aneh. Tidak mungkin seseorang mudah menikah seperti ini, apalagi hanya dengan menyerahkan loncengnya. Seharusnya Liang bukan istrinya, dan ia tidak pernah menganggap Liang sebagai istrinya.
Ia selalu berpikir jika apa yang di lakukan Liang hanyalah semata-mata untuk menghiburnya. Tapi sekarang dengan surat yang ada di tangannya, membuatnya merasa keheranan, seorang gadis cantik telah mengabdikan dirinya untuk menjadi istrinya, bahkan hanya bertemu satu hari saja.
Bing Jiazhi tidak tahu apakah ia harus tersenyum atau tertawa melihat kejadian ini. Namun, di dalam hatinya entah mengapa rasa yang pernah hilang sebelumnya muncul lagi. Rasa ini tidak lain adalah kerinduan akan kepedulian orang-orang di sekitarnya yang sejak kecil sulit ia dapatkan.
Rasa ini pernah lama sekali muncul, ketika ia menghabiskan waktu bersama gadis pelacur, yang sekarang telah mengkhianatinya. Ia terlalu polos menganggapnya memang benar-benar mencintainya dan selalu mempedulikannya. Tetapi dari balik wajah cantik, senyuman dan perbuatannya, tersembunyi keinginan yang dalam untuk menghancurkannya.
Apakah apa yang di lakukan Liang sama seperti Gadis pelacur itu?
Bing Jiazhi masih meragukannya. Ia tidak yakin wajah polos sedikit ekspresi itu memiliki keinginan tersembunyi.
Untuk sekarang ia akan mengikuti alurnya saja.
Ia kemudian pergi ke dalam untuk mengambil syal yang telah di buatnya. Kemudian memberikan gagak itu menggigit, lalu membiarkannya pergi.
Bing Jiazhi menatap lama, hingga gagak itu menjadi titik hitam.
Ketika itu, seseorang dengan bau yang sangat wangi ikut bersamanya memandang gagak yang pergi.
“Apakah kau mengalami malam yang indah?”
Suara ini benar-benar seorang wanita, tetapi sangat anggun dan menawan.
Bing Jiazhi mengangguk. “Apakah kakak senior An Bai mendapatkan malam yang baik denganmu?”
Ia tahu yang ada di sampingnya tidak lain adalah wanita tercantik yang menjadi rebutan di rumah teratai, tidak lain adalah Xiang Wei.
Xiang wei mengangkat sedikit wajahnya, dan ekspresi lembut muncul di wajahnya. “Aku tidak mengenalinya. Apakah dia orang dari sekte Tao Gong?”
Bing Jiazhi mengangguk.
“Dia mendapatkannya. Tetapi ketika mulai melakukannya, ia menjaga jarak denganku. Wajahnya yang sebelumnya menampilkan kegembiraan berubah seketika menjadi pucat, seperti seseorang melihat sesuatu yang mengerikan.”
“Kau telah membunuhnya.”
Bing Jiazhi dengan nada datar mengatakan itu, seolah ia telah menyatakan kebenaran yang mutlak.
Sebelumnya, ia telah mencari informasi tentang Xiang Wei, dan apa yang telah ia katakan merupakan informasi yang di dapatkannya.
Xiang Wei memandang Bing Jiazhi dengan tenang. Rambutnya yang sangat panjang terurai berterbangan beberapa helai. “Kau mengetahui tentang diriku. Ketika kau masuk, aku berdiri di belakangmu dan mengamatimu. Aku memiliki pirasat buruk tentang dirimu, ternyata itu memang ada benarnya.”
Xiang Wei mengangkat kedua tangan, dan memasukkan tangan kanannya ke dalam lengan baju kirinya. Mengambil tusuk konde. Kemudian kedua tangannya mengambil rambut panjang terurai. Menggulungnya beberapa dan memasukkan tusuk konde tersebut. Ia kini seperti seseorang wanita terhormat dengan wajah cantik yang tajam dan anggun. Ia kemudian membungkukkan badan dan mengangkat kedua tangannya ke depan memberi hormat.
Kepalanya dengan anggun menunduk. Lalu pergi dari sana tanpa berkata sepatah kata pun.
Bing Jiazhi memandang ke samping di mana Xing Wei berdiri. Di sana sudah ada satu gulungan kertas dan kelopak bunga mawar.
Bing Jiazhi memungutnya dan membacanya, kemudian pergi dari sana.
...----------------...
Sheng Shu duduk di atas rumput lentera biru memandang ke bangunan-bangunan tinggi sekte lukisan langit/Tiankong Hua, melihat keindahan pagoda berwarna biru dengan lima belas lantai. Di kedua sisinya ada pagoda yang lebih pendek. Di bawahnya rumah-rumah penduduk berderetan.
Cahaya matahari pagi menyinari ketiga pagoda itu dan juga menyentuh wajah Sheng Shu dengan lembut. Angin pun bertiup, dan rumput-rumput bergoyang.
Ia menyukai bau dupa itu, sehingga tanpa terasa sudah beberapa dupa ia habiskan.
Sepanjang malam telah berlalu. Selama itu juga ia duduk di sana untuk melukis atau pun menganyam sebuah benang.
Beberapa kali pemuda dan kakak seniornya datang mengunjungi, berharap dapat mendapatkan cintanya, tetapi tidak ada satu pun yang mampu berdiam diri menemaninya duduk.
Sheng Shu hanya memerintahkan pemuda-pemuda yang datang untuk duduk menemaninya, kemudian membisu dan tenang. Para pemuda itu hanya bisa bertahan 3 jam kemudian pergi sembari memandang wajah Sheng Shu.
Semua pemuda itu datang tidak lain hanya untuk mendapatkan perhatiannya, tetapi Sheng Shu sekarang sudah memilih seseorang, dan tidak pernah merasa kesepian lagi.
Walaupun ia cantik dan menjadi primadona di sektenya dan di puja-puji, ia merasa kesepian, walaupun di tengah-tengah keramaian.
Tidak lama kemudian, seorang gadis datang dan memberi hormat. “Nona muda, sudah saatnya kembali.”
“Sebentar lagi.”
Mendengar nada lembut itu, gadis itu pun memberi hormat kemudian pergi dari sana.
Sheng Shu mengangkat wajahnya untuk menatap langit biru yang di penuhi awan-awan tipis. Di sana titik hitam semakin mendekat dan mendekat.
Seekor gagak berterbangan membawa syal di paruhnya.
Sheng Shu mengangkat tangannya, dan burung itu hinggap di sana. Ia mengusapnya dengan lembut, lalu mengambil syal itu. Senyuman yang sangat memukau dan manis terbentuk di wajahnya.
Ia tidak tahu, apakah ia gila atau tidak. Menerima sesuatu seperti ini hatinya sangat gembira.
Ia sebelumnya sudah pesimis akan apa yang datang, karena melihat wajah Pemuda itu biasa-biasa saja. Sekarang ia menjadi sedikit yakin dengannya.
Burung gagak kemudian pergi. Setelah menghilang di langit, Sheng Shu mencabut dupanya kemudian pergi dari sana.
...----------------...
Akhirnya cahaya matahari yang nampak baru menyinari bangunan-bangunan pagoda merah sekte Tao Gong yang megah.
Di bawahnya, para murid-murid berkumpul menghadap ke arah depan pagoda. Mereka semua memandang tajam ke arah seorang pria tua memakai pakaian putih dengan Bing Jiazhi di sampingnya.
Beberapa murid mulai berbisik-bisik mengenai Bing Jiazhi. Mereka yang mengetahui mulai mengatakan apa yang telah di dapatnya. Para murid pun sangat antusias menyambut murid baru. Tetapi beberapa juga tidak memperlihatkan ekspresi seperti itu. Khususnya ini terjadi kepada murid-murid yang sombong karena merasa memiliki kekuatan tinggi. Namun, ada juga yang tidak karena baginya Bing Jiazhi tidak menarik sedikit pun.
Zhu nan dan kakaknya, zhu Han sangat tertarik dengan Bing Jiazhi. Terlebih lagi Zhu Nan yang telah merasakan bagaimana kekuatan Bing Jiazhi. Mereka berdua sebentar lagi akan menaiki level tiga cincin/alam mandala ahli, yang berarti mereka bukan murid sembarangan. Tapi di kalahkan dalam satu gerakan. Sungguh menyedihkan.
Zhu Nan memandang Bing Jiazhi kemudian tersenyum. “karena aku yang menemukannya, maka aku akan maju melawannya sekarang. Kau diam saja di sini dan perhatikan kekuatan yang dia miliki.”
Zhu han memandang serius Bing Jiazhi. “Seharusnya aku yang melawannya. Sebagai kakakmu, aku akan mencobanya terlebih dahulu.”
“Aku yang lebih dulu. Aku yang telah menemukannya lebih dulu. Seharusnya itu menjadi milikku, bukan dirimu.”
“Tetapi ini berbahaya.”
“Kakak masih ingat perkataan guru? Dia berkata, semakin orang melawan bahaya, maka semakin ia menjadi kuat.”
“Tapi aku merasa dia bukan lawan yang cocok untukmu.”
“kakak tinggal menolongku saja. Aku pergi dulu!”