Alam Mandala

Alam Mandala
diary yang mengenang



Di pagi hari yang cerah, Xue Ni memberikan alat pancing kepada Bing Jiazhi dan memerintahkannya untuk melakukan apa yang ia minta.


Bing Jiazhi mengangguk dan mulai melakukannya.


Ketika ia melemparkan umpannya, ikan itu langsung memakannya dan menarik pancingnya. Tetapi sebelum ia bereaksi, ikan itu sudah memutuskan benangnya.


Ia tahu kejadian ini pasti akan terjadi, ia tetap mencobanya.


Ia kemudian pergi menghampiri Xue Ni. “Aku memerlukan alat pancing lagi.”


Xue Ni berdiri dan memberikannya.


Bing Jiazhi kemudian pergi dari sana. Tidak lama setelahnya, ia kembali membawa alat pancingnya yang rusak.


“Aku memerlukan benang yang sangat banyak dan alat pancing lagi.”


Xue Ni mengangguk dan memberikannya.


Xue Ni tidak melanjutkan lagi aktivitas memahatnya, tetapi memandang Bing Jiazhi yang memancing.


Pemuda itu duduk dengan tenang di pinggir genangan. Tidak lama setelahnya, umpannya di makan, tetapi ia tidak menarik jorannya, hanya menggerak-gerakkannya dan membiarkan ikan besar itu menarik ke mana pun.


Ikan hijau itu terlihat melompat-lompat keluar dari air.


Semakin lama Xue Ni memandangnya, ia menyadari, jika tubuh ikan itu di penuhi benang-benang pancing.


Kemudian beberapa saat setelahnya, ikan itu terjebak dengan benang-benang yang dia tarik seperti ia terjebak oleh tindakan bodohnya sendiri.


Ikan itu bergerak dengan Zig-zag, dan tanpa ia sadari memasang jebakan untuk dirinya sendiri.


Bing jiazhi dengan tenang mengambil benang-benang yang tersangkut di pinggir sungai, kemudian menariknya.


Ikan besar itu melompat tinggi dan akhirnya mendarat di daratan. Lalu melompat-lompat dan sesaat setelah menjadi tenang.


Xue Ni mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya. Tidak lama kemudian, Bing Jiazhi datang dan berkata, “Aku sudah melakukannya.”


Xue Ni menaruh alat pahatnya, kemudian mengeluarkan tiga gulungan. “latilah ini,” Katanya seraya menyerahkannya.


Bing jiazhi mengangguk dan memberi hormat kemudian pergi dari sana.


...----------------...


Di sore hari hujan turun, tetapi tidak terlalu deras. Suara-suaranya dapat terdengar dari dalam kamar jiu jiu. Ia menatapnya sambil tersenyum.


Di luar, semuanya di basuh oleh air yang menetes. Angin dingin masuk dan menerbang- nerbangkan korden.


Gadis itu tersenyum menikmatinya.


Ia beranjak berdiri dan mengambil buku Diary-nya kemudian duduk di depan jendela.


Ia selalu menikmati waktu tenang di temani suara germicik hujan dan petir-petir di langit. Sangat menenangkan waktunya menulis dengan keadaan damai seperti ini.


Biasanya, Nonanya sedang berlatih di sore ini, oleh karena itu, ia bisa lebih lama menikmati suasana ini.


Ia membuka Diary-nya dengan lembut sembari membacanya dengan tenang dan mengingat-ingat kenang-kenangan yang di laluinya.


Setelah beberapa halaman, ia berhenti.


Ada sebuah halaman yang sangat mengenang di hatinya dan seseorang yang sangat di sukainya, namun sekarang tidak mungkin baginya untuk mendapatkannya.


Waktu kenangan itu sudah berlalu sangat jauh, tetapi ia tetap tidak bisa melupakannya.


Ketika ia kecil, ia sangat pemalu dan berdiri di sudut tembok untuk mengintip Huang Shu dan Bing Jiazhi bermain. Ia sangat ingin bergabung dengan mereka, tetapi, ia tidak bisa dan malu. Terlebih lagi, ia adalah anak seorang pelayan; ia tidak pantas bersama mereka.


Namun suatu hari, Huang Shu pergi dari rumah. Semua orang memandang kepergiannya, termasuk ia dan ibunya.


Tetapi, siapa yang menyangka, Huang Shu mendekatinya.


Ia sangat malu dan berdiri di balik baju ibunya.


“Dasar pemalu. Nona cantik...”


Dengan wajah jenaka, Huang Shu mengelus-elus kepala Jiu jiu, kemudian tertawa lantang.


Itu adalah pertama kalinya ia di perlakukan seperti itu. Ia memandang semua orang.


Ia pikir ibunya akan marah, sebaliknya tersenyum ramah.


Jiu jiu melepaskan genggaman pakaian ibunya dan berjalan ke depan.


“Siapa namamu?” Tanya Huang Shu dengan riang.


Jiu Jiu diam sebentar sebelum menjawabnya. “Jiu Jiu.”


Huang Shu tertawa. “Baiklah, Jiu jiu suatu hari nanti, maukah kau menjadi pelayanku?”


Jiu jiu terkejut dan diam sejenak. Ia memandang ibunya untuk memberikan pendapat. Ibunya tersenyum ramah dan mengangguk.


Ia kemudian memandang ibu Huang Shu dan ayahnya. Mereka sama-sama tersenyum ramah dan mengangguk.


“Baik.”


Huang Shu tertawa dan melebarkan kedua tangannya. Ia langsung memeluk Jiu jiu dengan keras. Jiu jiu terkejut dan sedikit gemetar. Ia kemudian perlahan-lahan memeluknya.


Tubuh Huang Shu sangat lembut dan wangi.


Setelah memeluknya, Huang Shu tertawa girang. “Dasar penakut.”


Huang Shu mendekatinya dan menatapnya dengan jarak yang sangat dekat, hampir mencium jiu jiu.


Jiu jiu berkeringat dingin dan jantungnya berdetak kencang. Tetapi, ada rasa gembira yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Ia sangat menyukai wajah lembut dan mungil Huang Shu; menyukai rambutnya yang hitam dan senyuman manisnya. Ia menyukai kata-katanya yang memotivasi dan riang.


Jiu jiu tidak pernah menyangka, pertemuan pertama kalinya dengan Huang Shu, membuatnya jatuh cinta.


Ia menulis di diary saat itu, ‘begitu aneh seperti awan jatuh; begitu mengagumkan seperti melihat kristal yang di sinari matahari. Tetapi... Sayang sekali, begitu sulit untuk di lihat; begitu sulit untuk di miliki.


Di ujungnya, ia menulis, ‘sayap kanan yang aku miliki.’


Ia memiliki dua sayap, pertama di halaman ini dan kedua di halaman sebaliknya.


Ketika Huang Shu pergi, Jiu jiu kesepian. Suatu hari, ia bersembunyi di sudut tembok dan melihat Bing jiazhi tengah duduk di bawah pohon.


Ia menatapnya sebentar. Ia melihatnya murung dan bersedih.


Dengan memaksakan diri, ia mendatanginya. “H-hai..” begitu gugup mengatakan itu.


Bing Jiazhi sepertinya tidak mendengarnya, maka ia dengan memaksakan diri untuk melakukannya lagi.


“Jika kau ingin duduk, silakan....” Ujar Bing jiazhi dengan suara sedikit tinggi.


Itu membuat Jiu jiu tersinggung, tetapi ia duduk di sampingnya dan bertanya, “Mengapa kau murung?”


Bing Jiazhi diam, seolah tidak mendengarnya. Ketika Jiu jiu ingin bertanya lagi, tiba-tiba ia menjawabnya, “Sekarang aku percaya, Nenek-nenek sama saja dengan anak-anak seperti kita; bodoh, memanfaatkan sesuatu, licik dan suka marah.”


Jiu jiu diam sejenak untuk berpikir. “Nenek siapa?”


“Nenek Huang Shu. Apa kau mengenalnya?”


Jiu jiu menggelengkan kepalanya.


“Lebih baik tidak mengenalnya. Jika kau mengenalnya, kau akan terkejut. Dia tidak seperti yang kau lihat; si tua bangka itu seperti ular berbisa, seperti kera yang ganas dan memiliki suara seperti gorila yang menyeramkan.”


“Aku tidak percaya.”


“Dasar polos!”


Bing jiazhi berdiri dan menarik tangannya. Ia membawa Jiu jiu ke sebuah ruangan.


Jiu jiu sebenarnya tidak ingin ke tempat menyeramkan seperti ini, yang berada di bawah tanah, tetapi apa boleh buat, ia terlalu gugup dan berkeringat dingin, jantungnya juga berdetak kencang ketika Bing jiazhi memegang tangannya.


“Lihat ini...”


Bing jiazhi mengambil obor yang ada dan berjalan ke depan. Ketika itu, sebuah makhluk yang sangat besar terlihat. Mahluk itu memiliki gigi yang sangat tajam seperti gorlila, tetapi ada taring panjang dan di penuhi bulu-bulu berwarna hijau. Di kedua lengannya ada sayap-sayap berkilauan berwarna hijau.


Mahluk itu tidur dengan nyenyak dan suara pun perlahan-lahan terdengar dari nafasnya.


“I-Itu....”