
Xue Ni berjalan beberapa langkah dan memandang ke arah air terjun. “Ia kerap kali di kucilkan, di permainkan dan di siksa. Para warga menganggap jika gadis itu tidak berguna dan hanya untuk bermain-main saja dan tidak mempedulikannya. Suatu hari, ia di tuduh mencuri dan di adili dengan hukuman mati. Tetapi sebelum eksekusi mulai. Ia dengan wajah dendam, alis terajut dan nafas pendek mengucapkan kukutukan tetapi tidak ada yang tahu itu, karena ia sulit berbicara; ia mengucapkannya di dalam hati. Maka beberapa tahun setelahnya, kutukan itu pun terjadi.”
“Hanya satu hari saja desa Suji di penuhi orang-orang, setelahnya akan menghilang. Beberapa orang tidak terlihat, beberapa lagi tidak tahu keadaannya.”
“Jika kau ingin melakukannya, maka ikut aku.”
Bing jiazhi mengikuti Xue Ni
Mereka lalu pergi menuju pepohonan di dekat sana. Setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya berhenti di gerbang tua menuju lapangan luas dan indah. Gerbang itu terbuat dari kayu dan berwarna abu-abu karena sudah lama. Rumput-rumput lentera biru tumbuh subur di bawahnya dan begitu juga di lapangan yang luas di dalamnya.
Jika malam tiba, akan sangat indah melihat rumput-rumput itu bercahaya.
Tanaman rambat hijau memeluk kedua tiang gerbang itu, seolah mereka membantunya untuk berdiri.
Bunga kuning dan hijau bermekaran di sana.
“Apakah tempat ini jalan untuk memperbaikinya?” Tanya Bing jiazhi tenang.
Xue Ni mengangguk. “Aku hanya bisa membantumu sampai di sini saja. Pergilah, jika tekadmu sangat kuat.”
Bing Jiazhi mengangguk dan masuk ke dalamnya, dan setelahnya Ia menghilang.
Xue Hei mei muncul dengan pusaran di samping Xue Ni. “Mengapa kau membiarkannya pergi tanpa mengujinya terlebih dahulu?”
“Guru dan murid terhubung setiap hari. Dengan melihat tatapannya, aku yakin, dia bisa melakukannya dan tidak perlu di uji lagi."
...----------------...
Dalam sekejap, Bing jiazhi muncul di depan rumah yang berada di atas bukit.
Rumah itu memiliki suasana yang tenang dengan angin lembut yang selalu bertiup. Rumput-rumput hijau tumbuh subur di sekelilingnya dan berwarna hijau muda yang indah.
Rumah yang ada di depannya sangat sederhana dan semuanya terbuat dari kayu.
Tidak beberapa lama, pintu rumah terbuka. Seorang gadis dan wanita berpakaian lusuh keluar.
Wanita itu memegang bahu gadis itu dan tersenyum. Ia memberikan beberapa ekspresi di wajahnya dan menggerak-gerakkan tangannya. Yang di akhiri dengan isyarat tidak membolehkan.
Gadis itu mengerti. Ia tersenyum dan mengangguk. Setelahnya pergi dari sana dengan membawa satu keranjang.
‘Apakah dia gadis yang di maksud guru?’
Setelah ibunya masuk, gadis itu pergi. Bing jiazhi mendekati rumah dan memandangnya.
Tetapi tiba-tiba wanita tadi membuka pintu dan keluar membawa sapu. Ia terkejut melihat Bing jiazhi dan berjalan mundur sembari menggerak-gerakkan sapunya. Tubuhnya bergetar hebat dengan ekspresi wajah ketakutan.
Wanita itu ingin berlari, tetapi dalam sekejap, Bing Jiazhi muncul di depannya dan membuatnya tidak sadarkan diri.
Setelah ingatannya kembali, Bing Jiazhi bisa melakukan ini. Ia selalu melakukannya ketika bertamu di rumah bordil. Ia dulu adalah seorang yang acak-acakan dan tidak terurus.
Suka minum dan pergi ke rumah bordil.
...----------------...
Setelah cahaya matahari ada di barat, wanita itu terbangun, tetapi ia terikat di pohon.
Bing jiazhi mendekatinya. “Katakan kepadaku, siapa gadis itu? Ke mana kau menyuruhnya pergi?”
Wanita itu terdiam dan tidak terlihat akan menjawabnya.
Bing Jiazhi tersenyum, ia menarik pedangnya dan mengayunkannya ke arah wanita itu.
Wanita itu bisa bernafas lega, tetapi tiba-tiba angin yang sangat kencang menerpa tubuhnya, membuat rambutnya terangkat tidak menentu. Angin itu bergerak seperti meremas daun-daun pohon yang ada di atasnya.
Kemudian berterbangan dengan serpihan-serpihan kecil.
“Apa kau tidak ingin mengatakannya?”
Wajah wanita itu bergetar hebat setelah melihat itu, dan wajahnya di lukis dengan ekspresi ketakutan yang tidak bisa di gambarkan; alisnya terajut, bola matanya gemetar dan buih-buih keringat dingin muncul di dahinya dan menetes.
Ia kemudian mengangguk.
Bing Jiazhi tersenyum.
“Katakan.”
Wanita itu mengangguk dan menggerak-gerakkan tangannya dan menunjuk bibirnya beberapa kali. Seraya ia menggelengkan kepalanya, eraman keluar dari mulutnya, seolah ia ingin mengatakan sesuatu kepada Bing jiazhi.
Bing jiazhi mengangguk dan mengayunkan pedangnya untuk memotong tali-tali itu.
Wanita itu langsung berdiri dan mengangguk kepada Bing jiazhi. Ia kemudian mengisyaratkannya untuk mengikutinya.
Bing jiazhi mengangguk. Tidak ada salahnya mempercayainya. Walaupun baru pertama kali ia mengenalinya. Dan ia percaya jika gadis yang pergi tadi adalah sumber dari kutukan itu.
Wanita itu membawanya masuk dan kemudian menutup pintu. Ruangan di dalamnya menjadi gelap gulita, tetapi wanita itu menyalakan beberapa lilin sebagai penerangan.
Ia mempersilahkan Bing jiazhi duduk di tempat yang di sediakan. Sementara wanita itu duduk berhadapan dengannya. “Dia anakku satu-satunya, jika anda menginginkannya, bawa saja diriku, tetapi jangan pernah menyentuh anakku. Jika anda menginginkannya, maka mala petaka akan menghampiri anda.”
Bing Jiazhi penasaran. “Jika aku membawanya, bagaimana? Dia sangat cantik dan mungil, aku tidak akan melewatkannya begitu saja. Dan juga...”
“Tuan, jika anda berbicara lagi, aku akan membunuh anda sekarang juga!” wanita itu berdiri dan memukul meja dengan kedua tangannya.
Bing memejamkan matanya, setelahnya ia kembali membukanya. “Ke mana kau menyuruhnya pergi?”
“Tuan! Anda orang berbahaya!”
Wanita itu kemudian memejamkan mata dan mencakup kedua tangannya. Sebelum ia melakukan tindakan yang lebih jauh, Bing jiazhi berkata, “Aku datang bukan untuk menangkapmu, aku datang untuk mencegah hal yang mengerikan untuk masa depan dan mengubahnya.”
“Maksud anda?” wanita itu kembali membuka mata dan menarik kembali tangannya.
“Sebelum aku berkata lebih jauh lagi, aku ingin tahu, siapa kau?”
Kedua mata wanita itu di penuhi keterkejutan dan menghela nafas, kemudian duduk. “Maaf, aku telah salah menilai anda. Kami adalah salah satu orang yang memiliki keajaiban, bisa di bilang begitu. Apa yang kami katakan akan terwujud, tanpa kami inginkan. Oleh karena itu, kami berbicara sangat sedikit dan mengandalkan bahasa isyarat.”
“Lalu, kenapa kau berbicara sekarang?”
“Oleh sebab itu, aku membawamu kemari. Di sini, kami bisa berbicara apa pun yang kami inginkan tanpa takut dengan itu. Tadi, maaf atas ketidak sopananku. Kejadian apa yang akan menimpa putriku?”
“Jangan mempercayainya!”
Tiba-tiba suara terdengar dari atas, bersama dengan itu, seseorang menghancurkan atap rumah dan mengayunkan pedang besar tepat di atas Bing Jiazhi.
Melihat itu, Bing jiazhi terdiam dengan ekspresi tenangnya, tetapi cahaya hitam muncul dari dahinya, bersamaan dengan itu, tiga cincin emas muncul. Setelahnya, dinding-dinding, atap-atap rumah hancur menjadi ribuan kepingan kecil-kecil, bahkan pria yang ingin menyerangnya terpental.
Setelah hancur, serpihan-serpihan kayu berhenti sejenak, seolah waktu sedang berhenti, setelahnya bergerak lebih cepat dan berhamburan.
Pria itu mampu mengendalikan dirinya, tetapi ia terlempar beberapa meter. Tubuhnya terasa sangat sakit dan tidak terasa tangannya bergetar. Wajah pria itu di penuhi keterkejutan; dahinya sedikit terangkat dan bibirnya sulit untuk mengatakan apa yang ada di depannya saat ini.
“T-Tiga c-cincin!”