Alam Mandala

Alam Mandala
seorang gadis memainkan seruling



Pria itu menatap tidak percaya ke arah Bing Jiazhi yang masih duduk tenang di antara serpihan-serpihan rumah.


Itu adalah kemampuannya yang bernama ledakan atom. Dalam beberapa meter mampu meledakkan apa pun tanpa terkecuali manusia sekalipun.


Wanita yang ada di depannya terkejut dan tidak akan pernah menyangka jika anak muda di depannya sangat mengerikan dan kuat. Ia kemudian memandang pisau yang ada di sela-sela jari kakinya dan menggelengkan kepalanya. Untung saja, ia tidak menggunakan pisau yang telah di persiapkan untuk membunuhnya, jika tidak.... Sulit untuk membayangkannya.


“Cepat katakan lagi.”


“B-baik.”


Walaupun rumahnya hancur, ada beberapa area yang di mana wanita itu berbicara dengan bebas.


“Namanya Yang.”


“Yang? Nama yang unik.”


“Aku menyuruhnya pergi mencari buah-buahan dan kayu bakar.”


Bing Jiazhi berdiri. “Aku pergi dulu.”


Wanita itu mengangguk.


Bing Jiazhi berjalan menghampiri pria tadi, yang memandangnya dengan ekspresi terkejut. “Lain kali... Jika kau ingin melawanku dengan cara tidak terhormat seperti itu, aku akan memotong satu tanganmu. Sampah.”


Ia kemudian pergi dari sana.


Pria itu memandang Bing Jiazhi dan mengertakkan giginya. Wajahnya di penuhi ekspresi dendam dan kebencian. Sampah? Pemuda itu menganggapnya sampah. Merupakan ejek yang membuatnya kesal.


Tapi, balik lagi, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Dan hanya helaan nafas yang bisa ia utarakan.


“Apakah pemuda itu bisa di percaya?” tanya wanita paru baya tadi mendekatinya.


“Aku tidak tahu.”


...----------------...


Setelah berjalan beberapa saat di hutan, Bing Jiazhi mendapati sebuah lapangan luas dengan rumput-rumput lentera biru yang indah. Melihatnya membuatnya teringat dengan lapangan yang sebelumnya ia lihat.


Di sana, rumput lentera biru tumbuh dengan indah. Bunga-bunganya berwarna biru yang bergoyang-goyang.


Tidak hanya itu saja. Tepat di tengahnya, ada pohon berwarna merah yang sangat lebat, itu seperti pohon beringin.


Saat Bing Jiazhi datang, ia mendengar suara seruling yang sangat menarik. Suara itu bagaikan angin yang bertiup kencang, melengking, dan naik turun seperti sungai berkelok-kelok.


Ia berjalan tenang. Saat tiba, ia mengangkat wajahnya, di salah satu dahan pohon, hinggap seorang gadis muda. Itu yang ia cari.


Gadis itu duduk di salah satu dahan. Meniup serulingnya dengan gaya menyamping dan memejamkan matanya. Walaupun wajah Gadis itu terbilang biasa saja. Dengan cara ia memegang seruling dan postur tubuhnya, membuatnya terlihat cantik dan sangat bagus bagi para pelukis untuk melukisnya


Wajahnya sedikit hitam. Dengan dahi yang di tutupi beberapa helai rambut. Rambutnya di sanggul dan di ikat menggunakan rumput lentera biru.


Pakaian yang di pakainya berwarna kuning polos, tetapi sangat indah ketika duduk di atas sana.


Bing Jiazhi hanya mengangguk melihat keindahan itu.


Tidak berselang lama, gadis itu berhenti meniup serulingnya dan membuka matanya dengan lembut.


Ia tidak memandang Bing Jiazhi tetapi berkata, “ Kakak, kau sangat misterius. Seberapa kuat pun kau mencegahnya, kau tidak akan bisa melakukannya.”


“Mengapa?”


Yang mengangkat wajahnya menatap langit biru dari sela-sela daun. “Karena sulit untuk menutup lubang yang telah di buat.”


“Aku tidak percaya.”


“Sebelumnya, orang lain juga pernah berkata seperti itu dan ia gagal.”


“Aku akan mencobanya.”


Yang menatap Bing Jiazhi dan memandangnya sebentar, lalu memandang kejauhan. “Pikirkan baik-baik. Orang itu datang ke sini dengan kepercayaan yang tinggi, tetapi pergi dengan kehancurannya. Jika kau ingin mengalaminya, kau bisa mengikutinya.”


“Aku akan melakukannya.”


Gadis itu kemudian melompat. “Dia telah menipumu...”


“Aku percaya itu.”


Dengan pengalamannya, Bing Jiazhi tidak mudah percaya, bahkan terhadap gurunya sendiri. Ia datang ke sini untuk berpetualang sebelum pergi ke sekte Bambu untuk membalaskan dendam kepada Xiang Guang. Walaupun siapa yang gadis itu katakan, ia tidak peduli.


Bing Jiazhi mengangguk. “Aku mengerti.”


Yang tersenyum dan berkata, “Ternyata ada satu lagi yang datang.”


Bing Jiazhi menoleh ke samping, dan benar. Seorang gadis cantik berjalan tenang dan berhenti di sampingnya. Kehadirannya layaknya daun berguguran; pelan dan tenang.


Gaun warna-warninya sangat mencolok. Memiliki warna biru, kuning, merah, ungu dan merah muda.


Wanita itu memakai cadar putih, tetapi hidung mancung dan bibirnya yang merah dan sempurna masih terlihat.


Ia sangat cantik. Dengan tubuh yang langsing dan kulit putih, seputih kapas dan lembut, bahkan seolah tidak ada bulu. Sangat mulus!


Bing jiazhi sangat tertarik dengan alis, bulu mata dan matanya yang sangat indah. Alisnya hitam dengan bentuk sempurna, baginya. Bulu-bulu matanya hitam dan melengkung sempurna.


Di rambutnya ada kain putih untuk mengikat rambutnya. Walaupun ia tidak memakai hiasan rambut, ia sudah terlihat bagaikan dewi.


Bau yang di milikinya juga sangat harum.


Tapi, sayang sekali tatapannya dingin, walaupun ada kelembutan halus dalam tatapannya.


“Yang, aku ingin menantangmu,” kata gadis itu dengan lembut seperti air embun yang menetes di pagi hari; pelan-pelan dan sangat menyejukkan ketika menyentuhnya.


Yang tertawa. “Kau bisa melakukan apa saja yang ingin kau lakukan.”


“Terima kasih.”


Bing Jiazhi pikir, gadis itu akan mengeluarkan senjata atau cincin Mandalanya, akan tetapi ia bersimpuh lembut. Dan mengambil secarik kertas dari balik punggungnya yang entah kapan ada di sana. Kemudian memetik salah satu tangkai bunga lentera biru.


Mengeluarkan botol tinta, kemudian memasukkan ujung tangkai bunga.


Ia mengangkat wajahnya dengan lembut. “Mari kita lakukan...”


Yang tertawa. “Apa yang akan kau lakukan dengan secarik kertas dan tinta itu? Apakah kau ingin menulis?”


“Berhati-hatilah berbicara. Kau tidak berada dalam lingkaran aman.”


“Tidak masalah bagiku. Aku berbicara apa pun tidak akan pernah mengubah masa depan.”


“Apakah kau mengenal Xue Ni?”


“Apakah kau anaknya?”


Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku berbeda darinya. Berhati-hatilah.”


Gadis itu mulai menggerak-gerakkan tangannya dengan lembut dan seolah menganggap Bing jiazhi tidak ada. Wajahnya yang lebih di penuhi ekspresi kelembutan. Tangannya bergerak seolah memegang pulpen. Bergerak dengan lembut, dan kadang-kadang lebih cepat, tetapi ekspresinya tetap lembut.


Bing Jiazhi Hanya memandangnya, walaupun ia penasaran apa hubungan gadis itu dengan Xue Ni.


Hingga beberapa saat, ia menyelesaikannya. Ia kemudian berdiri dan menatap Yang dengan ekspresi lembut.


“yang, ini adalah hadiah untukmu.”


Gadis itu melepaskan secarik kertasnya yang telah berisi lukisan yang sedang memainkan seruling. Lukisan itu sangat indah, dengan detail-detail yang sangat mencengangkan.


Setelah melayang-layang beberapa saat, kertas itu menghilang seolah terbakar sesuatu.


Kemudian cahaya warna warni muncul. Tidak lama setelahnya, Yang yang lain muncul dengan pakaian yang sama dengan gadis itu kenakan, tetapi memegang seruling.


Gadis itu menatap Bing Jiazhi. “Mari kita tonton dari jarak yang lebih jauh.”


Bing Jiazhi hanya mengangguk.


Setelah melangkah 20 langkah, mereka berhenti dan berbalik.


Yang yang sebelumnya terbentuk langsung menyerang Yang yang asli dengan serulingnya tanpa berbicara sepatah kata pun.


“Siapa namamu?” tanya Bing Jiazhi tanpa memandangnya.


“Lian.”



...ilustrasi....


...sumber : pinterest...