
Hisyam mengurung dirinya apartemennya lebih tepatnya kamarnya dan aera,ia tak ingin bertemu siapapun dan berbicara dengan siapapun
Sudah berkali-kali deiji mengetuk pintu kamar Hisyam tapi tak ada jawaban
Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi tapi deiji juga tak bisa menguburkan Aera karna tak ada persetujuan dari Hisyam
Hingga mama bela yang baru saja tiba ketika tahu bahwa mayat aera masih dirumah sakit karna Hisyam yang tak mau keluar kamar dan bersikeras mengatakan itu bukan aera
“Hisyam ini mama”
“Mama ingin bicara,berapa lama lagi kamu akan mengurung diri disana”
“Apakah aera tak akan dikuburkan,apa begini bentuk rasa cintamu padanya,kamu membuatnya tersiksa dengan tak segera menguburkannya”
“Jika kamu tak ingin menguburkannya ,biar mama yang akan mengurus mayatnya”
“Apa kamu tak akan menyesali ini seumur hidup”
“Jika kamu tetap bersikeras mengurung dirimu,lakukanlah “
“Tapi jangan pernah menyesali keputusan Mu”ucap mama bela meninggalkan apartemen tersebut diikuti deiji dan beberapa Bodyguard
“Tente apa tak apa kita menguburkan aera tampa menunggu Hisyam”tanya deiji saat dalam perjalanan ke pemakaman
“Berap lama lagi kita akan membiarkan mayat itu terbengkalai”ucap mama bela melihat keluar jendela
Banyak pertanyaan yang berputar dikepalanya,walau ia kurang menyukai aera tapi tetap saja aera sangat berharga bagi anaknya
Tak banyak yang datang ke pemakaman aera hanya mama bela deiji dan beberapa Bodyguard dan beberapa pengurus pemakaman
Saat mayat akan dimasukkan dalam liat Lahat dari kejauhan terlihat seorang laki-laki tinggi dengan kemeja yang sedikit berantakan berjalan mendekat
“Tunggu”ucap mama bela
“Biarkan suami nya juga ikut menguburkannya “ucap mama bela
Semua orang menatap Hisyam yang semangkin mendekat
Kini hanya ada Hisyam ,mama bela deiji dan para Bodyguard
“Hisyam ayo”ucap mama bela mengajak Hisyam pulang
Hisyam mengelengkan kepalanya
“Hisyam mau temani aera disini ma”
“Ayo nak,kita pulang,aera pasti Gak suka ngeliat kamu kayak gini”
“Tapi hisyam Gak bisa tampa aera ma”Ucap hisyam yang mulai mengeluarkan air matanya
“Bagaimana hisyam kedepanya ma,jika aera Gak ada,hisyam Gak bisa ma,kenapa aera ninggilin hisyam ma,kenapa aera jahat ma,dia ninggalin hisyam ,hisyam Gak bisa tampa aera”ucap hisyam yang tak menguasai dirinya lagi
“Istigfar nak,sumua udah takdirnya”ucap mama bela memeluk putra satu-satunya yang terlihat begitu hancur
“Hisyam mau aera ma,hisyam Gak mau kehilangan aera”
“Nak istigfar ,”hanya itu kalimat yang mampu ia keluarkan
“Kenapa semuanya ninggalin hisyam ,papa,bayi hisyam dan sekarang aera”
“Hisyam mau aera ma”
“Sayang,mungkin Allah lebih sayang mereka”ucap mama bela
Setelah cukup lama menenangkan hisyam akhirnya hisyam Mei diajak pulang bukan ke aparteman melainkan langsung ke Indonesia ,karna khawatir disini mental hisyam semangkin memburuk
Selama perjalanan hisyam terus memegang tangan mama bela dan memejamkan matanya
Perjalanan yang sangat jauh terasa sangat berat bagi Hisyam ,ia kembali ke Indonesia bukan bersama orang yang membuat hari-harinya lebih baik tapi mungkin ia akan kesulitan menghadapi hari-harinya untuk selanjutnya
Saat sampai di Indonesia sudah ada supir yang menunggu kedatangan mereka
Mang diman sudah menunggu mereka ,melihat Hisyam mang diman sangat prihatin dan tak ingin bertanya perihal apapun