
Hari ini adalah hari libur bagi Bobby.
Ia bangun lebih pagi untuk berolahraga dengan berlari pagi, berlari dari rumahnya hingga alun-alun kota.
Yena baru bangun tidur seperti biasa..
Ia mandi, pakai pakainya, membuat makanan lalu bersih-bersih rumah.
Kini Yena telah menyiapkan sarapan untuk di makan bersama, ia tidak tau jika hari ini hari libur bagi Bobby yang bekerja.
Ia bolak-balik dapur, sambil menunggu Bobby ia membersihkan kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan kamar mandi, ia masih belum melihat Bobby.
Yena pun memberanikan diri pergi ke kamar Bobby.
Tokk.. Tokkk...
Di ketuk nya beberapa kali pintu kamar Bobby itu, namun tak ada jawaban.
Di pegangna handle pintu, saat di buka kamar itu tampak kosong tak ada orang di dalamnya.
"Kemana dia, pagi-pagi seperti ini.." Gumam Yena
Yena berfikir, mungkin Bobby bekerja..
Namun saat ia bersih-bersih rumah tampak mobilnya masih terlihat di depan rumah..
Lalu dia kemana. batin Yena
Jam 09.00
Bobby kembali dengan handuk kecil yang menempel di bahunya.
Ia masuk rumah, setelah membuka sepatu dan kaos kaki yang baru saja di gunakan.
Keringat yang bercucuran di sekitar dahinya membuktikan hasil dari kegiatannya.
Dengan kaos oblong berwarna putih dan celana olahraga pendek adidas yang di gunakannya, ia memasuki rumah.
"abis dari mana?" tanya Yena yang melihat Bobby baru saja datang
"Berak.. Ya jogging lah, biar sehat emang lu.. di rumah terus..!!!. Jamuran lho..!!" Ledek Bobby
"Orang gak di ajakin, mana hafal aku jalanan komplek ini.." Jawab Yena
"Makanya, keluar.. jangan di rumah terus," Ucap Bobby
"Gak akh, takut..!! kalo ada yang jahatin gimana coba?" Ucap Yena
"Ya elah.. pagi-pagi orang udah pada bangun, lagian ini hari Minggu, banyak orang yang lari pagi bukan lu doang..!!, Penakut bangett..!!" Ucap Bobby
"Iya sih.. tapi ogah akh sendiri.." Kata Yena
"Ya udah.. terserah lu..!!" Ucap Bobby
"Bareng.. temenin maksudnya." Rengek Yena
"Kalah ma bocah lu mah.. barusan banyak bocah yang pada lari pagi.." Ucap Bobby
"Itu kan bocah, beda sama aku.." Ucap Yena sambil manyun.
"Iya.. Iya.. terserah lu dah. Capek gua pengen makan.. laper" Ucap Bobby
"Ya udah, sana makan..!!" Ucap Yena
"Lu udah?" tanya Bobby melirik Yena
"Ya belum lah," Gubris Yena
"Ya ayokk..!!" Ajak Bobby
mereka berdua pun ke ruang makan, makan dengan lahap.
"Oh ya.. ini.." Bobby yang selesai makan, mengeluarkan Kartu kredit dari sakunya, meletakannya di atas meja makan.
"Apa ini..?" tanya Yena mengambil kartu itu
"Lu bukan anak TK kan? gk tau kaya ginian?" Tanya Bobby dengan nada meledek
"Iyaa.. Iyya.. tp, bukannya ini terlalu berlebihan ya? aku tinggal disini belum ada seminggu lho.." Ucap Yena enggan dengan pemberian Bobby
"Gua gak ada uang cash.. lebih gampangan pake itu" Ucap Bobby
"Kamu kan bisa ngambil dulu.. aku gak mau akh, nanti kebiasaan.." Yena mendorong Kartu kredit itu ke hadapan Bobby
"Lu gak mau pake, mau belanja pake apa? batu..?" Ucap Bobby
"Iya.. tapikan.." Yena
"Jangan udik deh.. pegang aja, lu bisa belanja apapun kebutuhan lu pake itu.. lagian gua jarang pegang cash" Ucap Bobby sambil menarik tangan Yena, membuka telapak tangannya dengan paksa, lalu meletakkan kartu kredit itu di telapak tangan
"Ya deh, Iya.." Ucap Yena dengan raut wajah penuh paksaan.
Seperti Janji Bobby, setelah makan Mereka pergi ke luar berolahraga.
"Lho.. kok pake sepeda? trus aku lari sendiri..?" Tanya Yena
"Kagak.. gua kan temenin lu..!!" Jawab Bobby menaiki sepedanya
"Lah, itu pake sepeda?" Tanya Yena
"Kan perjanjiannya nemenin, terserah gua lah.. gua capek lari-larian Mulu, mending pake sepeda agak nyantai.." Ucap Bobby tersenyum dengan menaikkan kedua alisnya
"Ya udah, berarti aku di depan ya.." tanpa permisi Yena duduk di top tub sepeda, Bobby menatap dengan penuh ke heran.
"Ini mah gua yang keringetan bukan lu..!!" Ucap Bobby
"Salah siapa punya sepeda cuma satu?!!" Jawab Yena membuat Bobby bungkam tak bisa berkata apa-apa lagi.
Yena sangat bisa membuat pria itu tak berkutik dan akhirnya menuruti keinginannya.
"Kok diem? ayokk dong jalan.." Ucap Yena menengok ke arah Bobby
"Iya.. iya.. ini juga mau jalan" Jawab Bobby dengan muka masam.
Bobby pun mengayuh sepeda gunung miliknya, keringat yang sempat kering bercucuran kembali.
gadis di depannya hanya menikmati angin yang menerpanya, yang sesekali menyibakkan rambutnya yang terurai panjang.
Perasaan damai di rasakan gadis itu, ia tersenyum sambil terus mengoceh tak henti-hentinya di perjalanan.
meski pria yang di belakangnya tak menjawab sepatah kata pun, tak membuat bibir gadis itu berhenti berbicara.
Bobby menghentikan sepedanya di sebuah pasar Minggu, pasar yang hanya ada hari Minggu pagi.
Pasar yang di penuhi orang yang berjualan dari makanan, aksesoris, hingga peralatan dapur.
Banyak pejalan kaki berlalu lalang, mencari sesuatu untuk keperluannya atau hanya jajan di kedai pinggiran
"Kok kita berhenti di sini? gak di alun-alun kota aja? lebih jauh..?!!" Ucap Yena menadah, menatap Bobby.
"Jauh bego..!! capek gua, lagian lu berat.. berisik lagi.." Ucap Bobby
"Yeehh.. biasa aja kali, marah-marah Mulu.. udah tua makin tua lho.." Ucap Yena
"Lagian lu nya.. Ya udah cepetan.." Kata Bobby
"Cepetan apaan?" tanya Yena
"Turun, Lu mau bikin gua pingsan karena ngebocengin Lu?!!" Ucap Bobby
"Kasar banget sih.. iya nih.. aku turun nih.." Yena turun dari sepeda dengan perasaan jengkel dan kesal.
"Iya.. Maaf, gua minta maaf.. Kita istirahat dulu, gua capek, haus pengen minum juga.." Ucap Bobby
Yena yang masih kesal hanya diam, membuang muka.
Bobby melirik ke arah Yena yang masih dalam keadaan marah.
"Ya udah kalo gak mau maafin gua, pulang sendiri ya.." Ucap Bobby berjalan menuntun sepedanya meninggalkan Yena begitu saja.
"Ih, nyebelin banget sih.. ikut..!!" Yena mengejar Bobby
Mereka beristirahat, berhenti di kedai jajanan pinggir jalan, duduk sambil menyantap sosis bakar dan segelas Capuccino Bubble dengan taburan keju parut di atasnya.
"Pulangnya lu yang bawa ya.. gua yang bonceng..?!" Gumam Bobby tertawa kecil
"Apaan? gak.. gak.. badan aku tuh kecil, mana bisa bawa orang tua kaya kamu.." Ucap Yena
"Eh, cowok seumuran gua masih muda kali.." Ucap Bobby membela diri
"Itu liat deh.. keliatannya dia juga seumuran kamu tapi, udah gendong bayi.." Yena menunjuk ke sebrang, lelaki yang berpakaian seperti Bobby menggendong bayi dengan seorang perempuan di sampingnya.
"gak.. gak.. tetep masih muda gua" bersikukuh karena merasa harga dirinya di remehkan bocah seperti Yena
"Serius, mukannya malah lebih fresh dan lebih ganteng dia lho.." Ucap Yena membandingkan Bobby dan orang tersebut
"Kasar terus.. pantes gak ada cewek yang mau..!!" Yena membuang muka.
"Sorry ya, cewek dari mana-mana ngantri buat dapetin cinta gua. cuma gua nya aja belum tertarik hal yang kaya gitu..!!" Bobby menyombongkan diri.
"Bodo..!!" Ucap Yena tanpa menatap Bobby
"Ya udah terserah..!!" Ucap Bobby ikut membuang muka.
Rasanya tiada hari tanpa cek-cok mulut untuk mereka.
Dari arah sebrang jalan seorang pria mudah melambaikan tangan, dengan senyuman lebar di bibirnya.. samar-samar dia meneriaki nama seseorang namun, tak begitu jelas siapa yang ia panggil karena, suara orang yang berjualan dan orang-orang yang berjalan kaki tidak sedikit membuat kebisingan tinggi.
Mata Bobby membulat seketika melihat pria itu menatap ke arahnya, minuman di mulutnya keluar lewat hidung saking terkejutnya, Ia tersedak hingga batuk-batuk.
"Minumnya yang bener dong..!! Kamu gak papa kan?!!" Tanya Yena sambil menepuk pelan punggung Bobby.
Bobby masih terlihat mencoba menstabilkan kondisinya kembali.
"Iya gua gak papa kok.." Jawab Bobby memegang dadanya yang terasa perih akibat tersedak
"Lu ikut gua pulang," Bobby menarik tangan Yena tergesa-gesa
"Sekarang?!" tanya Yena
"Ya iyalah.." Jawab Bobby langsung meninggalkan tempat peristirahatannya padahal minuman dan makanan mereka belum habis.
Yena yang tak mengetahui apapun kebingungan dengan sikap Bobby yang berubah tiba-tiba.
Bobby mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh,
"Apa kamu bertemu penagih hutang?, Oh, apa kamu di kejar rentenir yang penampilannya seperti preman..??" tanya Yena penasaran
"Gua gak punya hutang sama siapapun.." Ucap Bobby mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga
"Lalu kenapa kamu lari? mengaku lah kamu banyak hutang.." Ucap Yena
"Di bilang gua gak punya hutang.. So tau lu..!!" Ucap Bobby dengan nada membentak.
"Iya maaf.. aku gak bakal nanya lagi.. tapi, aku bener kan? kamu di kejar rentenir?" tanya Yena masih penasaran membuat kesabaran Bobby meledak
"Berisik Lu.. bisa diem gak sih..!!" Ucap Bobby membuat Yena bungkam dengan ketakutan.
"Bang.. Woii bang.." Suara pria dari belakang meneriaki kepergian Bobby
"Apa ada mengejar kita..?!" tanya Yena panik
"gak ada tenang aja Ama gua.." Jawab Bobby
"Tapi aku takut.." Ucap Yena
"Makanya Lu diem..!!" Kata Bobby
Setelah melelahkan mengayuh sepeda dan terlepas dari pria yang tak jelas, akhirnya mereka sampai di rumah dengan nafas tersengal-sengal..
"Akhirnya nyampe juga.." Yena yang baru sampai di rumah langsung turun dari sepeda dan terduduk di atas rumput-rumput hijau.
"Kenapa Jadi yang kelihatan capek banget Lu?, padahal gua yang bawa sepedanya, Lu cuma tinggal duduk di depan.." Ujar Bobby sambil mengatur nafasnya
"Ya capek juga kali bonceng.. deg-degan juga lagi.. berasa di kejar polisi tilang tau gak.." Yena tertawa sambil merebahkan badannya di rerumputan.
"Eh, kotor tau.." Bobby menstandakan sepedanya dan mencoba membangunkan Yena Namun, Yena enggan bangun.
Ia malah menarik Bobby dan tidur di sampingnya yang beralaskan rumput itu.
"Abis ini gua perlu mandi lagi.." Ucap Bobby yang berbaring di rerumputan dan tertawa
"Tadi siapa sih?" tanya Yena
"Gak tau, orang gila kali.." Ujar Bobby tertawa
"Serius aku.." Ucap Yena menatap Bobby
"Gua juga serius.." Jawabnya sambil tertawa.
"Aku tau kamu becanda" Yena melempar senyumannya.
Mereka berbaring sambil menatap langit yang biru, awan yang putih bergerak tertiup oleh semilirnya angin..
"Indahnya.." Gumam Yena
"Enggak akh, biasa aja.." Ucap Bobby
Yena menoleh dengan mata yang memincing.
"Eh, iya.. iya.. becanda gua haha.." Ucap Bobby sambil tertawa kecil melihat raut wajah Yena.
"Pas liat langit kaya gini, kamu ngerasa gak sih? hati kamu perlahan meluas.. kaya luasnya langit.. Lega banget liatnya." Ucap Yena
"Iya bener, kenapa gua gak pernah nyadar ya langit secantik in?!i. padahal gua tiap hari keluar tapi, gua gak pernah pake waktu gua buat mandangin langit dengan cara kaya gini.." Bobby menghembus nafasnya.
"Ya udah, lain kali kita kaya gini lagi.." Yena menoleh dengan senyuman manis di bibirnya
"Oke.. siap.." Jawab Bobby menoleh ke arah Yena, ikut melebarkan senyumnya
Mata keduanya bertemu, mereka saling menatap tanpa berkedip, memandangi satu sama lain. Senyuman mereka perlahan hilang, keduanya hanya berdiam diri tak mengeluarkan sepatah katapun, sepertinya akan ada kecanggungan di antara keduanya
"Lagi ngapain kalian..?" Seorang pria muncul tanpa di duga, berdiri di samping mereka yang tengah beradu pandangan.
Bobby menoleh ke suara berasal,
"Wahhh..."
Bobby terkejut bukan main, dengan kehadiran pria itu.
Bobby langsung berdiri menutupi gadis di belakangnya.
Yena yang ikut terkejut juga terbangun, berdiri di belakang Bobby.
"Ekheumm.. ada apa Lu kemari? kok.. kok lu bisa ke sini gimana caranya?" Ucap Bobby terbata-bata
"Abang lagi ngapain? siapa gadis itu?"
Pria yang terlihat lebih muda dari Bobby itu, terus mencari celah agar bisa melihat gadis yang di tutup-tutupi oleh Bobby itu.
Namun, Bobby dengan sigap menutupi Yena agar tak di lihat pria itu.
"Eh.. ini anak, mau ngapain sih lu.." Ucap Bobby masih menghadang pria yang terus melihat ke kiri ke kanan, penasaran dengan gadis di belakang Bobby.
"Lu sembunyiin apa sih dari gua bang?" tanya pria muda itu.
Yena yang merasa dirinya terancam berlari Namun, pria mengejar lepas dari pengawasan Bobby, Yena merasa ketakutan.
Yena mengambil sapu di pinggir pintu lalu memukul pria itu dengan gagang sapu.
"A.. AWW...!!" Pria itu berteriak kesakitan, dahinya mengalir darah segar saking kencangnya pukulan Yena.
pria itu meringis sambil memegangi keningnya dengan kedua tangannya,
Bobby langsung menghampiri mereka.
"Dasar bego.. kenapa kepala orang di pukul.." Ucap Bobby
"Siapa sih dia bang..?" tanya pria itu.
"Aku kira dia rentenir yang kamu pinjem uangnya.." Ucap Yena
"Kapan gua bilang punya utang...!!" Jawab Bobby
"Lu punya utang bang?, sama siapa?, kok gua gak tau..?!!" Ucap pria yang belum di ketahui namanya itu
spontan menepuk jidatnya
"Ya, aku kira kan dia orang jahat.." Gumam Yena
"Lu juga sih.. Nanya nya nakutin.." Ucap Bobby
"Gua gak nakutin.. gua ngejar dia Karna gua penasaran.. lagian lu juga di tutup-tutupin.." Bentak pria itu
"Ya udah.. Ayok ke dalem obatin dulu.." Ucap Bobby
Merekapun masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu bersama.
"Bentar, gua bawa kotak P3K dulu.." Bobby ke pergi mengambil kotak p3k untuk mengobati luka pria muda itu.
"Lu siapa?" tanya Pria itu pada Yena yang dari tadi hanya berdiam diri.
"Kamu siapa?" Yena balik tanya
"Bang Bobby Abang gua.. Gua adeknya.." Jawab Pria itu
"Hah adeknya?" Yena terheran-heran
Bukannya adik Bobby itu perempuan? tapi, kenapa orang ini mengaku sebagai adiknya Bobby? Apa Bobby berbohong padaku?, atau pria ini yang hanya mengaku-ngaku sebagai adiknya. batin Yena bertanya-tanya