
Sepanjang perjalanan pulang muncul beberapa pertanyaan di benak Bobby tentang Irene, Apakah Ia kabur? Atau di culik oleh orang lain?, Jika ia kabur, ia kabur kenapa? bersama siapa? dan dengan alasan apa hingga ia kabur?, Dan jika ia di culik, siapa yang menculiknya? apa maksud penculikannya?, Jika ternyata Irene kembali sebelum Pajar tiba.. akan kah pernikahan mereka langsung kan?, Lalu bagaimana tentang keputusannya untuk membatalkan pernikahannya dengan Irene??.
Namun, sekeras apapun Bobby berfikir ia tak memiliki titik temu untuk menemukan jawaban yang tepat.
Sesampainya di rumah, Bobby masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kebingungan.
entah apa yang harus ia katakan pada Yena, entah apa yang harus ia lakukan jika Irene kembali.
"Bagaimana..?" tanya Yena yang terlihat penasaran
Bobby duduk di sofa bersebelahan dengan Yena, ia menunduk dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Akh... aku sudah menebak pasti sulit untuk mu... sudahlah kita menyerah saja..." Ucap Yena mengartikan ekspresi Bobby sebagai kegagalan untuk membatalkan pernikahannya.
"Menyerah apa maksud mu...?" tanya Bobby menatap Yena yang duduk di sampingnya.
"Kamu tidak bisa membatalkan pernikahannya kan..? ya sudah kita menyerah saja..." Ucap Yena
"Berhentilah berbicara, aku sedang pusing..." Ucap Bobby
"Maka itu aku memberikan saran padamu.. Kita menyerah saja.. kamu hanya perlu mengantarkan ku ke tempat aborsi, setelah itu kamu bisa hidup dengan wanita yang kamu cintai kan...?!!" Ucap Yena
Bobby mengerutkan dahinya, Entah kenapa Yena seolah tak ingin memperjuangkan bayinya sendiri dan terus berniat untuk menggugurkannya.
"Kenapa kamu bilang itu lagi...?? Kamu tidak menyayangi anak dalam perutmu? bukankah aku sudah pernah bilang padamu untuk tidak mengatakan hal seperti itu lagi..?? Jangan karena kamu yang mengandung, kamu merasa memiliki hak sepenuhnya pada bayi itu.. Kamu harus ingat..!! aku juga berhak karena aku ayahnya....!!!" Ucap Bobby menatap tajam ke arah Yena,
Tatapan Bobby membuat gadis itu takut dan menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap karena pria itu kini sedang membentaknya.
"Apa... Apa... mau menangis lagi...??!! Kamu itu hanya bisa menangis dan menangis.. aku menyuruhmu untuk diam, biar aku yang mengurus semuanya... tapi, kamu terus dan terus berkata kamu ingin menggugurkan janin mu.. kamu tidak memikirkan aku yang sedang berjuang untuk anakku...??? sedangkan kamu ibunya malah ingin membunuhnya....?!! Aku heran kenapa kamu di percaya menjadi seorang ibu...." Ucap Bobby terbawa emosi.
Yena yang sedari tadi terisak menyeka air matanya..
"Aku bukan di percaya menjadi ibu...!!! Tapi gara-gara kamu, yang membuat aku harus menerima bahwa aku akan menjadi seorang ibu....!!!" Ucap Yena bangkit dari tempat duduknya, melangkah masuk kamar lalu membanting pintu kamar dengan keras.
Gbbraakkkkk....!!!
"Entah kenapa gua gak salah tapi selalu merasa bersalah...." Gumam Bobby mengacak-acak rambutnya.
Bobby mengambil air dingin dari kulkas dan meminumnya sambil menyurutkan amarahnya.
Entah mengapa Bobby merasa, ia dan Yena seperti air dan minyak yang tak pernah bisa menyatu. padahal mereka selalu bersama tapi, setiap hari seolah tiada hari tanpa bertengkar.. ada saja persoalan yang membuat mereka harus menguras emosi.
Bobby mencoba menyurutkan emosinya sambil meneguk air putih, ia mencoba memahami gadis yang berusia sangat jauh darinya itu, ia mencoba mengerti sikap Yena yang sedang mengandung anaknya itu.
Bobby membuang nafas berat, bagaimana pun Yena hanya bergantung padanya, bagaimana pun Yena sedang mengandung anaknya dan ia harus lebih sering mengalah demi anaknya, begitulah isi pikirannya.
Setelah amarahnya surut, ia membuka pintu kamar yang kebetulan tak di kunci.
Di lihatnya gadis itu tengah terbaring di tempat tidur dengan menutup seluruh badannya dengan selimut.
Suara Isak tangisnya masih terdengar meski ia menutup tubuhnya rapat-rapat dengan selimut.
Dengan langkah pelan, Bobby duduk di samping Yena yang tengah menangis itu.
"Hei.. aku minta maaf.. Aku hanya ingin kamu tahu aku sangat mencintai calon keturunan ku.. aku hanya tak ingin dia menangis mendengar ibunya sendiri ingin membuangnya.." Ujar Bobby dengan suara pelan
Yena hanya terdiam dan tak berkata apapun, hanya sesekali terdengar suara ingusnya.
Bobby mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh Yena, namun gadis itu mencengkram kuat pinggirannya.
"Aku kan sudah meminta maaf padamu.. apa kamu masih marah..?" Tanya Bobby melepaskan tangannya dari selimut yang menutupi tubuh gadis itu.
Perlahan Yena membuka selimutnya, ia menunjukkan dirinya dengan setengah malu-malu, kemudian ia bersandar di Bed head board (Sandaran punggung yang terdapat pada ranjang).
"Sikap ku akhir-akhir ini sangat kekanakan-kanakan kan..??" tanya Yena
"Sangat..." Jawab Bobby menanggapi dengan senyuman.
Bobby menyeka air mata Yena dengan tangannya.
"Ya.. tapi aku mencoba memahami kok.. ya walaupun aku terus merasa bersalah meski tak aku bersalah.. dan aku harus terus mengalah.." Ucap Bobby membuat Yena tertawa.
Pria itu mengambil sehelai tisu lalu mengelap ingus yang Yena.
"Aku minta maaf.. pasti aku sangat mengesalkan bagi mu..." Ucap Yena tersenyum
"Kesal pasti ada.. apalagi kamu membuatku kesal saat aku belum bercerita apapun padamu..." Ucap Bobby
"Oh, iya aku sampai lupa bagaimana tadi...? apa yang terjadi saat kamu di rumah Irene?" Tanya Yena
"Hmm... aku bahkan belum mengatakan apapun dan sekarang Irene malah hilang..." Ucap Bobby mengusap kepalanya hingga ujung rambut.
"Hilang maksudnya..?" tanya Yena
"Justru itu yang aku bingung.. dia hilang karena di culik atau karena kabur..?!!" Ucap Bobby
"Kamu tidak melakukan kejahatan pada dia kan?" tanya Yena menaruh curiga
"Menculik maksud mu...?!! Wah.. kenapa kamu bisa berpikiran ke sana, jika aku yang menculiknya untuk apa aku datang ke rumahnya.. aku bukan orang jahat seperti di pikiran mu..." Ucap Bobby menyunggingkan bibirnya
"Lalu dia kabur..? kabur untuk apa..? bersama siapa..?" Tanya Yena
"Mana ku tahu.. Oh, ya apa kamu masih berhubungan dengan Dimas?" tanya Bobby
"Tidak... aku tak pernah mengaktifkan handphone ku lagi sejak aku datang ke rumah ini.. apa kamu menaruh curiga pada Dimas?" tanya Yena
"Ya bisa jadi... Irene dan Dimas kan pernah pacaran..." Jawab Bobby
"Tidak mungkin.. Dimas itu pria yang sangat baik...." Ucap Yena menyangkal tuduhan Bobby
"Wah... jadi kamu membela Dimas dan mengatakan dia pria yang Ssangaatt baik.. Sedangkan padaku, kamu sempat menuduhku sebagai penculik.. bukankah di pikiran mu aku orang yang sangat jahat..??" Tanya Bobby setelah mencerna apa yang di katakan Yena.
"Bukannya kamu memang jahat?? Karena kamu selalu membuat ku menangis...!!" Ucap Yena
Bobby menarik nafas dalam-dalam, perlahan membuangnya.
"Baru saja kita berbaikan... kamu sudah membuatku kesal.." Gumam Bobby
"Kamu duluan yang memancing perkara..." Ucap Yena berbaring membelakangi Bobby.
"Tapi, perut mu sehat-sehat saja kan..?" tanya Bobby menanyakan jabang bayi dalam perut Yena
"Aku belum mengerti.. tapi akhir-akhir ini ada flek.. bukankah seharusnya orang hamil tidak begini?" tanya Yena membalikan badannya menghadap ke arah Bobby
"Mana ku tahu... nanti kita periksa saja ya.. Ngomong-ngomong flek itu seperti apa? apa sekarang masih? coba tunjukkan padaku" Ucap Bobby
Yena langsung membelakangi Bobby lagi, agar tak berkontak mata langsung dengannya
"Apa maksudmu...??" Tanya Yena
"Memangnya kenapa..? kamu malu..? bukankah aku pernah melihat tubuh mu sebelumnya..?" tanya Bobby
"Ishh... berhentilah berbicara seperti itu. Kalau terjadi apa-apa lagi bagaimana..?" tanya Yena
"Kenapa kamu khawatir..? bukankah aku Ayah dari anak yang kamu kandung..?!" Jawab Bobby
"Meskipun kamu Ayahnya tapi kamu bukan suamiku.. mana boleh kamu melakukan itu..?!!" Ucap Yena
"Tapi orang-orang mengenalku sebagai suami mu..." Ucap Bobby
"Tapi belum tentu kamu menikahi ku... bisa saja besok kamu menikah dengan Irene.. Kenapa kamu harus meminta sesuatu yang belum menjadi hak mu..." Kata Yena
"Eumm... ya.. ya.. ya.. kamu memang cepat tanggap.." Ucap Bobby
"Bersembunyi di sini saja aku sudah merasa seperti wanita simpanan..." Ujar Yena
"Ya sudah.. kalau tidak mau, aku minta maaf... aku Takan memaksa..." Ucap Bobby