
"Kak.. maaf kan aku ya, hari ini aku gak kerja dulu.." Ucap Yena menelpon Dimas
"Lho.. Kenapa kamu sakit? kecapekan kali abis pindahan.." Ujar Dimas
"Mungkin kak.. gak tau badan lagi gak enak aja.. semalem berasa dingin banget, sekarang berasa panas banget" kata Yena
"Kamu kasmaran kali jadi panas dingin..?!" Dimas tertawa
"Ih, apaan sih kak.. malam ngelawak.." Yena ikut tertawa
"Ya udah.. cepet sembuh aja ya, sore aku ke situ.." Ujar Dimas
"Iyya.." Jawab Yena
"Pengen di bawain apa?" tanya Dimas
"Gak, usah bawa apa-apa.. kamu Dateng aja aku udah seneng kok.." Jawab Yena
"Eum.. yang bener? tetep aja seneng gak bisa ganjel laper..." Kata Dimas
"Bawa sate ayam aja kak.. aku lagi pengen.. hehehe.." Yena tersenyum
"Tuh laper kan..?! ya udah nanti aku beliin.. cepet sembuh ya padi sayang..." Ucap Dimas
"Makasih.. pak bos..." Ucap Yena
"Lho kok pak bos sih?" tanya Dimas
"Oh, iya.. Makasih kak Dimas.." Ucap Yena memperbaiki kata-katanya
"Kok ka Dimas sih??" tanya Dimas
"Terus aku harus panggil apa?" tanya Yena
"Beb kek, darling kek, apa kek gtu.. yang romantis dikit.." Ucap Dimas
"Kok kesannya jadi kaya bucin sih??" Yena tertawa
"Kamu suka ngerusak moment deh.." Ucap Dimas dengan nada datar.
"Ya udah.. Makasih pacarku sayang.." Ucap Yena
"Ya udah kamu banyakin istirahat.. aku tutup ya.. sampai ketemu sore hari sayang.." Ucap Dimas menutup teleponnya.
Jam 16.00
Sore itu Yena tampak bosan sendirian di kos-kosannya, ia tak memiliki teman dan belum mengenal tetangga-tetangganya.
Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, tenggorokannya terasa kering, ia mengambil segelas air lalu di tegukannya.
Tokk.. Tokk.. Tokk...
Seseorang mengetuk pintu kos-kosan Yena.
"Sate.. aku datang..." Gumam Yena dengan senyuman di bibirnya.
Gadis itu terlihat sangat bahagia, ia berjalan cepat berharap kekasihnya datang dengan makanan yang ia pesan sebelumnya.
Dengan langkah tergesa-gesa, gadis itu langsung membuka pintunya.
"Kak kamu gak lupa satttt............" Ucapan Yena terhenti saat ia melihat seseorang yang datang bukanlah orang yang ia harapkan.
"Bobby.. kenapa kamu kesini?" tanya Yena heran
"Sepertinya kehadiran ku tak di harapkan.." Ucap Bobby
"Bukan begitu, kemana gak bilang dulu mau kesini?" tanya Yena
"Buat apa gua bilang sama lu??, Lu kan semalem gak sehat.. jelaslah gua balik lagi kesini.. bukannya tadi pagi gua ngomong bakal balik lagi?" tanya Bobby
"Kapan kamu ngomong?, gak kok.. kamu gak bilang apa-apa.." Jawab Yena
"Iya gitu..?? iya kali... gua lupa. Emang lu kira yang datang siapa?, Lu punya janji sama orang lain?, atau jangan-jangan lu ngarepin Dimas datang?" tanya Bobby
"Kalaupun ia kenapa?, kan bukan urusan kamu.." Ujar Yena
"Mentang-mentang punya tempat tinggal sendiri.. kelakuannya makin menjadi-jadi aja.." ucap Bobby
"Apa sih.. Jangan nyampe aku marah lagi ya.. Lagian, Dimas tuh baik.. gak kaya kamu.." Ucap Yena
"Terus lu mau ketemu sama Dimas di dalam kosan? pake pakaian kaya gini?" tanya Bobby menatap Yena dari atas kebawah
"Apaan sih.. liatnya kaya gitu banget.." Ucap Yena
"Pakaian apaan nih, Lu mau ketemu pacar atau mau jual diri.. ?!!. Liat bajunya.. apalagi celananya.." Bobby memprotes padahal Yena hanya memakai kaos pendek dan celana jeans yang pendeknya sepaha.
"Ih, apa sih Bobby.. ngomongnya kaya gitu banget, orang aku pake pakaian biasa kok.." Jawab Yena cemberut
"Ok.. Kalo buat kaos masih wajar.. ini.. (Bobby menatap celana yang di gunakan Yena) Ya ampun.. Yena.. Celana apaan nih, pendek banget.. Lu gak pantes banget pake ini" Ucap Bobby
"Sebelumnya aku juga sering pakai ini, di rumah kamu tapi kamu gak pernah protes.. kenapa sekarang tiba-tiba bilang gak pantas..?!" Ujar Yena
"Ya itu kan di dalem rumah, ini kan di luar Yena.. apalagi Lu mau ketemu Dimas.. ganti.. ganti.. ganti.. gak ganti awas aja..!!!" Ancam Bobby
"Hihs.. kok jadi kamu yang sensitif banget?!. Bawa apa tuh?" Ujar Yena mengintip sesuatu dari dalam kantong plastik yang di pegang mobil.
"Makanan.. Belum makan kan?" tanya Bobby
"Belum.." Jawab Yena tersenyum
"Sama makanannya aja lu senyum.. sama yang bawanya malah lu cemberut.. dasar cewek.. cewek.." Gerutu Bobby lalu mengacak-acak rambut Yena yang terurai panjang
Seorang pria berjalan ke kos-kosan Yena, dengan sebuah kantong plastik di genggamannya.
Langkahnya terhenti tatkala melihat temannya sendiri telah lebih dulu mendahuluinya, berdiri di depan pintu kos-kosan kekasihnya.
mereka terlihat sangat akrab, tak jarang kekasihnya itu tersenyum pada pria di depannya yang jelas-jelas bukan dia. di hatinya ia terus bertanya kenapa wanitanya itu selalu tersenyum pada temanya seperti sepasang kekasih padahal, temannya itu bukan kekasihnya. mengapa mereka bertingkah seperti itu?.
Ia tak ingin mundur ataupun kembali memutar arah tuk pulang, ia bukan pria pengecut seperti itu.
Ia melangkah mendekati kedua orang itu, tangannya mengepal keras seolah ada kemarahan yang ia tahan.
"Yena...." Ucap pria itu menghampiri Yena dan Bobby yang tengah asyik mengobrol, pria itu memincingkan matanya ke arah Bobby saat melihat ia menyentuh rambut Kekasihnya.
"Kak Dimas...." Ucap Yena dengan mata membulat
Ia terkejut saat Dimas menghampirinya, ia kaget kenapa kedua pria ini datang secara bersamaan, sedangkan ia tau bahwa Dimas dan Bobby bukan teman yang akur, Bobby sangat membenci Dimas dan Dimas mungkin membenci Bobby saat ini, bagaimana tidak terlihat sekali dari raut wajahnya ketika menatap Bobby.
ia bingung apa yang harus ia lakukan, terlihat keduanya sama-sama menggenggam sebuah kantong plastik dan tersenyum pada Yena seolah menunggu aba-aba siapa yang akan di ajak masuk oleh dirinya.
"Ini aku bawain sate seperti yang kamu mau.." Ucap Dimas dengan senyuman di bibirnya.
"Apaan.. orang sakit di kasih sate.. dasar gila.." Ujar Bobby nyeleneh'
Ucapan Bobby tentu saja membuat Yena jengkel, pria itu mengundang kemarahan kekasihnya yang baru saja menghampirinya.
Yena mengigit bibir bawahnya, saat melirik ke arah Bobby. seolah memberikan kode bahwa ia ingin Bobby menyudahi omong kosongnya, yang bisa saja membuat Dimas marah.
"Lah, emang Lu bawa apa bubur..? Lu kira ini sarapan pagi makan bubur...?!! di rumah sakit aja di kasih nasi kalo sore, bukan bubur.. Lu kira Yena gak punya gigi apa di kasih bubur" Dimas menertawakan Bobby
Bobby menyikapi omongan Dimas dengan senyuman masam di bibirnya.
"Kata siapa gua bawa bubur?!! cuma orang goblok aja yang mikir kaya gitu.." Ucap Bobby
Ucapan Bobby membuat Dimas tak bisa bersabar lagi, sedari tadi Bobby terus memancing emosinya yang sebenarnya tak ingin ia tunjukan pada Yena kekasihnya.
Namun, ia merasa kesabarannya telah habis, emosinya tak bisa di bendung lagi, kemarahannya seolah telah sampai ke ubun-ubun kepalanya.
Di mencengkram erat kerah baju Bobby, Bobby pun tak ingin kalah ia mencengkram balik baju Dimas.
keduanya saling menatap penuh kebencian.
Yena yang melihat kejadian panik ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Kak udah kak..." Yena menarik tangan Dimas agar menjauh.
Namun Dimas tak bergeming, ia sama sekali tak takut pada pria di hadapannya.
"Bob, udah Bob.. malu di lihat orang-orang.." Yena menarik-narik tubuh Bobby.
Buukkkk....!!!
Perkelahian pun terjadi.
Mereka saling memukul satu sama lain.
tetangganya yang sedang berada di luar tampak menyaksikan kejadian itu, salah seorang wanita paruh baya yang sedang menggendong anak kecil memanggil seorang satpam di depan untuk melerai kedua orang itu.
Satpam datang dengan suara peluit di mulutnya, ia berlari menghampiri keduanya dan melerai perkelahian mereka.
"Sudah.. sudah.. kalau kalian mau duel jangan disini.. sana di ring tinju. di sini bukan tempat untuk adu jotos.." Bentak petugas keamanan itu
Mereka diam dengan nafas ngos-ngosan, terdapat memar luka di wajah keduanya.
Yena menarik tangan Dimas, memberi jarak dengan tempat kejadian perkara yang menjadi tontonan banyak orang di sana.
Yena melihat luka biru di bekas tonjokan di pipi Dimas, ia bingung harus bilang apa dan berbuat apa.
"Kak.. kakak pulang aja ya.." ucap Yena
"Kenapa Padi sayang.. aku udah bawa makanan buat kamu, kamu liat sendiri bukan aku yang mulai perkelahian tapi dia.. aku gak akan mulai kalo dia gak mancing-mancing duluan.." Ujar Dimas
"Iya kak.. iya.. aku ngerti, suasananya gak enak banget.. malu kak jadi tontonan tetangga.." Ujar Yena
"kamu marah...??" tanya Dimas
"Enggak, kak... aku gak marah. kamu pulang aja ya.." Ujar Yena
"Ya, kamu suruh pulang dia lah bukan aku, yang pacar mu kan aku bukan dia.. harusnya dia dong yang kamu usir.." Ucap Dimas
"Bukannya gitu kak tapi........."
Baru mendengar kata 'Tapi' saja Dimas sudah menduga Yena akan membela Bobby.
"Bukan apa??? kok kamu jadi belain dia terus sih? bukannya belain aku.. yang pacar kamu itu aku atau dia..?? kalau kamu suka sama dia, pacaran sama dia aja?? kenapa kamu Nerima aku kalo ternyata kamu lebih milih dia??" Ucap Dimas dengan nada tinggi
"Kok kamu jadi marah-marah gini sih kak..." Ucap Yena
"Siapa yang marah-marah??!!! kamu minta aku pergi kan?! Oke.. aku pergi, Kasih obat tuh orang yang kamu bela-belain itu.." Ucap Dimas marah-marah lalu melangkah pergi.
"Kak.. kak..." Yena terus memanggil-manggil namun, Dimas terus berjalan lurus tanpa menghiraukan suara Yena yang terus memanggil-manggil namanya.
"Kenapa masalahnya jadi kacau seperti ini, kenapa jadi malah salah faham kaya gini..." Batin Yena
Yena kembali menghampiri kerumunan, di lihatnya Bobby yang duduk di lantai dengan luka lebam di wajahnya.
petugas keamanan itu pergi setelah Yena datang, beberapa orang mulai kembali ke aktivitasnya masing-masing.
terdengar bisikan-bisikan suara ibu-ibu di telinganya
"Oh, jadi istrinya itu selingkuhan.." ucap seorang wanita tua pada seorang ibu di sampingnya sambil Melihat ke arah Yena dengan tatapan tidak menyenangkan.
"Ya Tuhan... Drama apa lagi coba yang di buat kali ini?!, belum juga seminggu tinggal di sini udah jadi trending topik aja.." Batin Yena
"Ayok masuk aku obatin.." Ujar Yena menghampiri Bobby
Keduanya masuk ke dalam kos-kosan lalu menutup pintu.
"Si tikus itu udah pergi?" tanya Bobby
"Iya.. gara-gara kamu.." Jawab Yena kesal.
Yena mengambil kotak P3K di kamarnya, menuangkan Betadine ke kapas putih
"Kok gua? ya mentalnya aja yang tempe.." ucap Bobby
"Kalo kamu gak mulai duluan, kak Dimas gak Mungkin kaya gitu.." Ucap Yena mengusapkan kapas itu ke luka di wajah Bobby
"Haha.. Baperan aja kali tuh orang.. sekali pecundang ya pecundang aja" Ucap Bobby sambil tertawa.
Yena yang mendengarnya langsung melotot dan menekan keras kapas itu ke lukanya.
"Aww.. sakit bisa pelan-pelan dong" Ucap Bobby
"Ya, kamu sendiri bisa pelan gak ngomongnya.. yang barusan kamu omongin itu pacarku lho.." Ujar Yena
"Halah... Lu aja yang bego.. Cowok lemah kaya gitu malah di jadiin pacar" Ucap Bobby.
Yena melempar kapas itu ke muka Bobby.
"Haduh.. gila ya lu.. ini belum selesai, obatin lagi woy.." Ujar Bobby
"Obatin aja sendiri...!!" Yena melangkah pergi ke kamarnya.