YENA

YENA
Salah faham



Pagi itu Yena bangun lebih dulu, di banding Bobby.


Entah mengapa semalaman ia tak dapat memejamkan matanya di samping gadis itu.


"Yena kok.. gak bangunin aku sih.." Ucap Bobby keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih menempel di pinggangnya.


"Biasanya juga gak di bangunin kan?!" Jawab Yena


Seorang wanita cantik memakai kemeja biru Dongker dengan celana jeans panjang berwarna biru muda, memasuki rumah Bobby tanpa sepengetahuannya.


Pintu yang tak di kunci membuat Ia masuk begitu saja.


Samar-samar ia mendengar suara pria yang di kenalnya, ia melangkah mencari sumber suara.


"Ya seenggaknya.. gua kan tidur bareng lu.." Ujar Bobby


"Tidur bareng..??!!!" wanita itu muncul tanpa di undang dan masuk ke percakapan Yena dan Bobby.


"Irene..??"


Bobby terkejut melihat wanita yang pernah menjadi pelabuhan hatinya, datang ke rumahnya sepagi ini dan mendengarkan percakapannya dengan Yena.


"Kok.. kamu tiba-tiba muncul?" tanya Bobby


"Sorry, gua ganggu.. kayanya harusnya gua gak disini deh.." Ucap Irene terlihat kekecewaan di wajahnya.


"Eh.. enggak.. maksudnya kok kamu bisa masuk rumah sepagi ini?" tanya Bobby


Melihat raut wajah Irene, Bobby bingung harus mengatakan apa, ia tahu ia berada di posisi yang membuat Irene berfikir yang tidak-tidak tentangnya, yang membuat Irene salah faham tentangnya.


"Pintunya kebetulan gak di kunci.. jadi kalian serumah?" tanya Irene memincingkan matanya


"Gak kok.. ay.." Bobby mencoba memberi penjelasan


"Gak gimana Bob??? kalian satu rumah, bahkan tidur bareng??? Wah.. aku gak nyangka sama kamu Bob.." Ucap Irene mulai kesal


"Kakk gak gitu kok kak.." Yena bersuara


"Oh, ia gua gak berhak berkomentar atas hidup lu lagi ya Bob.. Kita kan udah pisah. maaf gua lupa.." Ucap Irene


"Ay.. kita ngobrol berdua ya.." Ajak Bobby


"Ngobrol?" Irene melihat penampilan Bobby yang bertelanjang dada yang masih menggunakan handuk di pinggangnya, ia melihatnya dari atas ke bawah.


"Eh.. gak deh.. gua pake baju dulu.." Ucap Bobby tertawa malu, melihat dirinya sendiri.


"Masih bisa ya lu ketawa? enak banget.. emang brengsek ya lu.." Ucap Irene membalikkan badannya hendak pergi namun dengan sigap tangan Bobby menariknya.


"Mau kemana?" tanya Bobby


"Pergilah.. ngapain coba disini?? aku gak nyangka lho sama kamu Bob, selama ini kamu jagain aku.. tapi, kok kamu bisa ngelakuin ini sama aku? kamu tidur sama dia?" tanya Irene


"Enggak kok ay.. serius.. gak.." Ucap Bobby


"Aku denger lho Bob, kamu bilang apa sama dia? jujur sama aku Bob, kamu tidur sama dia?" tanya Irene


"Gak.. ay.. sumpah enggak.." Bobby mencoba menjelaskan


"Gua gak tuli Bobby.. Lu jujur sama gua atau gua gak pernah mau kenal sama lu.." Ucap Irene tegas


"Gimana ya.. ia gua tidur sama dia ay.. tapi.."


"Pllakkk"


Sebuah tamparan mendarat di pipi sebelah kiri Bobby.


"Lho, kok gua di tabok?" tanya Bobby


"Lu bego apa tolol sih Bob?!" Ucap Irene


"Lah, kan gua belum jelasin.. lu denger dong gua mau ngomong apa jangan asal tabok aja.." Ucap Bobby


"Dengerin apa? Lu awalnya tadi gak ngaku terus sekarang ngaku.. terus lu masih mau jelasin? emang gua sebodoh itu ya Bob?" Ucap Irene kesal


"Emang keras kepala ya lu.." Ucap Bobby


"Lu yang gak punya otak Bob.." Ucap Irene


"Akh.. gak bener nih, gak bener.. gua bisa-bisa gak berangkat kerja hari ini.." Ucap Bobby


"Ya udah sama kerja.. lepasin tangan gua.." Ucap Irene


"Gini nih, cewek susah di bilangin.." Ucap Bobby


Bobby menarik tangan Irene lalu berjalan ke arah kamar milik Bobby, meninggalkan Yena yang berdiri dengan rasa bersalah di hatinya.


"Lepasin sakit.." Irene berontak namun, tetap saja ia tak bisa mengalahkan tenaga pria seperti Bobby.


"Bodo amat..!!" Ucap Bobby


"Lu mau ajak gua ke mana..?" tanya Irene


"ke kamar biar lu gak lepas.." Ucap Bobby menarik keras tangan Irene


"Lu gila ya?" tanya Irene


"Lu yang gila.. pokoknya kita selesain hari ini.. gua gak mau kaya gini terus" Ucap Bobby masuk ke dalam kamarnya bersama dengan Irene, ia mengunci pintu dari dalam.


"Lu belum pake baju bego.." Ucap Irene


"Makanya gua ngunciin lu di kamar bareng gua, biar lu gak kabur ke mana-mana" Ucap Bobby


"Lu bego ya.. Lu kan bisa kejar gua." Ucap Irene


"Lu kira film India main kejar-kejaran? orang India ya indah, kejar-kejaran pake baju, gua pake handuk doang pengen di lemparin batu sama orang-orang" Ucap Bobby tersenyum membuat Irene tertawa dengan perkataannya


"Lu emang bisa ya bikin orang ketawa.." Ucap Irene


"Apaan emangnya gua pelawak?!" Ucap Bobby


"gak pernah bisa bikin moment romantis Tau gak.." Ucap Irene tertawa


"Ya, lu tau gua gak romantis kenapa suka?" tanya Bobby


"kapan gua suka sama orang gila kaya lu?" tanya Irene


"Lu nantang gua? gua bisa bikin lu suka sama gua seumur hidup lu lho.. apalagi kita di kamar cuma berdua sekarang.." Ucap Bobby tersenyum menatap mata Irene.


"Serius gua geli.. sana pake baju dulu lah.." Ucap Irene tertawa


"Gua gombalin malah ketawa.. dasar cewek jadi-jadian lu.." Ucap Bobby tertawa


"Udah sana.. pake baju lu.." Ucap Irene melepaskan tangannya dari genggaman Bobby, lalu menjauhkan tubuh Bobby yang begitu dekat dengannya.


"Lu gak mau makein baju gua?" Ucap Bobby tertawa


"Udah sana.. cepetan.. kamu balik badan, aku juga balik badan.." Ucap Irene membalikan badannya


"Oke.. lu gak mau liat tubuh gua yang bagus ini?" tanya Bobby berjalan ke arah lemarinya mengambil pakaian dan mengenakannya.


"Gua di kamar berdua sama lu gini, bocah di luar nyangka kita ngelakuin yang enggak-enggak lho.." Ucap Irene


"Biarin, kalo lu mau gua mah bersedia aja di apa-apain juga" Ucap Bobby tertawa


"Dih.. gila lu.. Udah belum?" tanya Irene.


Satu persatu tubuh Bobby tertutup oleh Beberapa kain yang menutupi tubuhnya.


"belum.. kalo mau liat depan gua aja sini." Ucap Bobby tertawa


"Ya ampun.. sejak kapan lu gila?" tanya Irene


"Gua kan gila gara-gara lu.." Jawab Bobby melingkarkan kedua tangannya di perut Irene.


Irene yang terkejut dengan pelukan dari belakang oleh Bobby, sontak melihat ke arah Bobby berpapasan mata dengannya.


"Kok kamu gak pake baju kerja sayang?" tanya Irene melihat Bobby hanya memakai kaos oblong dan celana jeans pendek


"gara-gara lu.. tadi udah kirim pesan ke pak Tono, biar dia nanganin kerjaan dulu hari ini." ucap Bobby


"Kamu gak ada meeting penting?" tanya Irene


"Terus kamu gak kerja..?" tanya Irene


"Iya, gara-gara lu.." ujar Bobby


"Serius aku.." Ucap Irene


"Gua lebih serius.." Ucap Bobby


"Ya udah.. sana lu duduk.." Irene melepaskan pelukan Bobby dengan Raut wajah yang berubah menjadi galak dan menakutkan.


"Lu gak kesurupan kan?" tanya Bobby takut dengan sikap Irene yang berubah


"Gua bilang duduk.. ya duduk.." teriak Irene


Bobby pun patuh dengan perintah Irene, lalu duduk di ranjangnya, di susul dengan Irene yang duduk menghadapnya.


"Lu bilang sama gua? Lu ngapain aja sama bocah itu?" tanya Irene dengan tatapan tajam, berselimut amarah


"Aku gak ngapa-ngapain ay, serius..!! Yena emang tinggal disini karena, dia gak punya tempat tinggal" Ucap Bobby


"Terus karena lu nampung dia, lu tidurin bocah itu? gitu?" tanya Irene


"Serius gak ay, kamu salah faham.. dia punya trauma.. semalam dia menjerit-jerit makannya aku datang ke kamarnya terus jagain dia kan takut Kenapa-napa" Ucap Bobby


"Lu gak hidup di zaman purba kan Bob? Lu bisa telpon dokter..!!" Ucap Irene


"Yena yang gak mau.." Ucap Bobby


"Lu lagi gak bohong kan sama gua Bob?" tanya Irene


"Sumpah ay, gak bohong gua.." Ucap Bobby


"terus kamu tinggal berdua sama dia di rumah ini?" tanya Irene


"Iya.." Jawab Bobby


"Wah.. bisakah gua percaya?!" Ucap Irene terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut mantan pacarnya itu.


"Lu harus percayalah sama gua.. lu tau gua gimana.." Ucap Bobby memegang kedua tangan Irene


"yakin? kamu mengacuhkan pesan dan telepon ku selama 2 bulan ini.. kamu yakin aku bisa percaya?" tanya Irene


"Dari pada membahas aku, lalu bagaimana saat kamu berciuman dengan Dimas?" tanya Bobby membuat Irene bungkam.


"Gak bisa jawab kan?" tanya Bobby lagi


"Jangan mengalihkan pembicaraan bisa gak sih?" tanya Irene kesal


"Selama ini aku diem Lho ay, aku jauhin kamu.. aku gak tau kita udahan atau belum.. semua itu hanya keputusan sepihak dari kamu aja !!" Ucap Bobby


"Aku minta maaf.." Ucap Irene menundukkan kepalanya


"Apa sih yang Dimas punya dan aku enggak? aku selalu berusaha jadi yang terbaik Lho buat kamu.. Emang lu gak punya otak apa gimana sih ay?" tanya Bobby


"Makanya aku datang kesini.. aku minta maaf Bob" Ucap Irene


"Jawab dulu pertanyaan gua.. lu punya kuping kan? Lu bentak-bentak gua yang jelas-jelas salah faham sama Yena dan lu gampar gua. Lu inget gak saat lu selingkuh? Jelas-jelas lu ciuman depan mata gua Lho ay.. terus gua ngapain lu? Nabok Lu? gampar lu? gak kan? Malah lu putusin gua. Adil gak sih menurut Lu?" Tanya Bobby penuh penekanan


"Gua kan udah minta maaf Bob, itu kesalahan gua." Ucap Irene


"Terus selama ini, lu ngapain aja sama Dimas selain ciuman?" bentak Bobby memegang kedua bahu Irene membuat wanita di hadapannya ketakutan.


"Serius Lu nakutin Bob, gua gak ngapa-ngapain serius.. gua minta maaf gua salah." Ucap Irene


"Terus menurut lu gua harus ngapain? mukul lu juga biar kita impas?" tanya Bobby


"Ya udah.. kalo itu bisa ngeredain amarah kamu.. kamu boleh tampar aku.." Ucap Irene lalu memejamkan matanya.


Bukan pukulan yang di layangkan, justru Bobby malah memberikan ciuman mesra di bibir wanita yang di hadapannya itu.


Irene tentunya terkejut, ia membuka matanya dan mendorong tubuh Bobby yang begitu lekat dengan tubuhnya.


"Aku minta maaf.." Ucap Irene


"Jangan pernah ulangi.." Ucap Bobby menatap lekat wajah Irene, melihat kedalam sorot matanya, lalu ia memberikan sentuhan lembut di bibir Irene.


Ia mendorong wanitanya itu hingga ia terbaring di ranjang tanpa melepaskan ciumannya.


Lumatan demi lumatan di berikan Bobby seolah tak ingin kalah Irene pun membalas dengan sama, hingga terdengar suara berdecak dari mulut keduanya.


Irene mendorong tubuh Bobby yang membuatnya kehilangan oksigen, nafasnya tersengal-sengal.


"Kamu ingin membuat ku mati?!" Ucap Irene


"Aku ingin tidur memelukmu.." Ucap Bobby


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Irene


"Membuat kebahagiaan.." Ucap Bobby tersenyum


"Dasar gila.." Ucap Irene


Bobby mendekatkan wajahnya kembali, memberikan ciuman mesra pada wanita yang kini di bawahnya, ia mengigit kecil bibir bawah Irene yang tipis.


"Sakit.." Gumam Irene menepuk lengan Bobby namun, Bobby terus melanjutkan misinya itu, hingga ia terasa puas dengan apa yang ia lakukan.


Bobby berhenti dari aktivitasnya dengan nafas tersengal-sengal, ia berbaring di samping wanitanya menciumi seluruh bagian wajah dan leher gadis itu hingga ia tertawa kegelian.


"Sudahlah.. geli.." Ucap wanita itu


"Aku heran kenapa lipstik mu masih berbekas?" tanya Bobby


"Itu artinya warna bibirku memang cerah seperti menggunakan lipstik.." Ujar Irene tersenyum


"Dasar cewek nakal.. jangan pernah selingkuh lagi, bila tidak mungkin aku melakukan lebih dari ini." Ucap Bobby memeluk tubuh Irene dengan serakah.


"lepasin.. aku gak bisa nafas ini." Ucap Irene menepuk lengan Bobby.


Bobby pun melonggarkan pelukannya


"Kamu masuk ke sini lewat mana?" tanya Bobby


"lewat pintu lah.." Jawab Irene


"Bukannya pintu itu di kunci? kamu pegang kunci rumahku?" tanya Bobby


"Pintunya gak di kunci kok.." Jawab Irene


"Benarkah..?!" Tanya Bobby


"Iya.. kamu kasih Yena kartu kredit?" tanya Irene


"Iya.. kenapa?" tanya Bobby


"Gak papa.. kamu gak pernah bolos kerja karena aku. biasanya kamu selalu sibuk bekerja.. kita gak pernah punya waktu berdua kaya gini.." Ucap Irene


"Benar juga.. apa itu alasan kamu selingkuh?" tanya Bobby menjepitkan helaian rambut Irene ke belakang telinganya


"Jangan tanya itu lagi.." Jawab Irene


"Ia sayang.." Jawab Bobby tersenyum


"Kamu ngantuk?" tanya Irene


"Kok tau?" jawab Bobby


"Mata kamu kelihatan banget.." senyum Irene


"kamu ngapain pagi-pagi kesini?" tanya Bobby


"Kangen.." Jawab Irene tersenyum


"Habis pemotretan?" tanya Bobby mengetahui Irene adalah seorang model


"iya.. capek.." Ujar Irene


"Ya udah, kita tidur aja ya.." Ucap Bobby mencium kening Irene


Bobby yang lelah semalam tak bisa tidur dan Irene yang baru pulang dari pemotretan semalaman ia tak tidur, Keduanya tertidur lelap karena kelelahan, dengan posisi saling berhadapan dan berpelukan.