YENA

YENA
Kepergok..



Pagi-pagi sekali Yena mulai membereskan pakaiannya, sejak ia kehilangan rumahnya ia tak mempunyai banyak barang sehingga memudahkannya untuk pindahan.


"Kamu yakin akan pindah.." tiba-tiba Bobby masuk ke kamar Yena mengejutkan gadis itu.


"Bisa gak sih, kalo masuk itu ketuk pintu dulu..?!. Iya, aku mau pindah kenapa?" tanya Yena dengan bibir manyun


"Padahal enakan juga disini, semuanya ada di sini. coba fikir kalau kamu kost.. makan beli, sabun beli, belum bayar kost an sama listriknya.. belum nyampe sebulan habis nanti gajimu.." Ucap Bobby


"Udah deh jangan berisik.. kalo mau berisik keluar aja.." ucap Yena mengusir


"Emang susah di bilangin lu ya.. dasar emang keras kepala.." Ucap Bobby


"Eh, Lu pikir dong.. gua udah Mateng banget pindah gini gara-gara siapa?!" Ucap Yena seolah menyinggung Bobby


"Gara-gara siapa? gua? Lu mau nyalahin gua?? bukannya sebelum kejadian itu lu emang ngebet pengen keluar dari rumah ini?, biar apa sih gua tanya sekarang?, Biar lu bebas bisa keluar sama Dimas? biar lu bebas pacaran sama Dimas? biar lu bebas masukin cowok ke kamar lu..." Kata Bobby


"PPPLLAAKK......."


Sebuah tamparan mendarat di pipi Bobby, membuatnya terdiam menatap gadis di depannya tanpa bergeming.


"Lu jangan sembarangan ngomong ya jadi orang, mentang-mentang ini rumah lu. Eh, gua sadar kok selama ini gua selalu nyusahin lu.. tapi, lu gak bisa seenaknya dong memperlakukan gua sesuka lu. Lu kira gua bakal diem aja??, Lu emang gak ada muka ya.. bukannya minta maaf Lu malah mikir gua yang enggak-enggak.. Lu sadar dong malem itu siapa yang maksa-maksa duluan.. Lu parah ya ternyata.." Ucap Yena dengan wajah merah teredam emosi


"Sorry gua minta maaf banget.. gua gak sengaja......." ucap Bobby


"Gak sengaja apa Lu..?!! lu selalu bilang mau tanggung jawab sama gua, Lu ngerti artinya tanggung jawab gak? sedangkan menghargai orang aja lu gak bisa..?!!, Lu pikir masalah lu bakal selesai kalo lu nikahin gua dengan sikap lu yang kaya gini..?!, Gua benci banget sama lu sekarang tau gak...?! Benci banget..!!" Ucap Yena kembali berkemas


"Gua kan barusan minta maaf.. Yena..." Ucap Bobby sadar dengan kesalahannya


"Udahlah, lu keluar dari kamar ini.. males gua liat muka lu.." Jawab Yena memalingkan wajahnya dari Bobby


"Ayolah Maafin gua, gua tau gua salah.. gua minta maaf Yena.." Ucap Bobby mengikuti arah pandangan mata Yena karena, sedari tadi Yena menghindari kontak mata dengan Bobby


"Lu gak keluar.. gua teriak sekalian biar Irene bangun dan tau kalo cowoknya brengsek.." Ujar Yena mengancam


"Oke.. gua gak bakal keluar. Seenggaknya gua udah minta maaf" Ucap Bobby


Bobby keluar dari kamar Yena.


Suasana hati Yena begitu panas, sampai-sampai gadis itu mengelus-elus dadanya


"Sabar.. sabar.." Batinnya


Bobby yang kala itu terlanjur terbangun langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Selesai mandi ia masuk ke kamarnya dengan handuk kecil yang melilit di bagian perutnya.


Di lihatnya kekasihnya yang masih tertidur nyenyak di atas tempat tidur, wanita yang masih terlihat cantik meski tanpa make up di wajahnya.


Ada rasa bersalah di hatinya, Ia sangat takut kehilangan kekasihnya itu Namun, ia juga harus rela melepasnya jika suatu hari ternyata ada sesuatu terjadi pada Yena.


Ya, Yena gadis 18 tahun yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak.


Ia terus berpikir bahwa Yena akan hamil.


Bagaimanapun ia tak ingin jika kelak anaknya bernasib sama seperti dirinya, yang haus akan kehangatan keluarga dan kesepian karena hidup sendiri.


Pria itu mendekati kekasihnya yang masih tertidur, di belainya rambut wanita itu. beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu di selipkan ke belakang telinga kekasihnya.


Ia mengusap dahi Kekasihnya Irene dengan rasa penuh kasih sayang.


Bobby mendekatkan wajahnya hingga tak ada jarak antara mereka


Sebuah kecupan Singkat dari bibir Bobby untuk Irene.


Bobby tersenyum, ia memalingkan pandangannya hendak melangkah ke lemari untuk mengambil beberapa pakaian dan memakainya.


Namun, baru saja ia berdiri dari kasur yang duduki, langkahnya terhenti saat sebuah tangan menariknya.. menahan untuk tidak pergi.


Bobby pun menoleh, Kekasihnya itu sedang memegang tangannya, membuat ia menghentikan langkahnya.


"Pagi Sayang.." Ucap Irene tersenyum dengan suara serak khas bangun tidur


"Pagi juga Sayang.." Jawab Bobby kembali duduk di kasur di samping Irene


"Waw.. pagi-pagi seperti ini aku sudah di sugguhi pemandangan autentik nihh.." Ucap Irene tersenyum melihat dada bidang milik Bobby, garis-garis di perutnya menyerupai balok-balok, tubuhnya yang bugar dan kekar membuat pria itu terlihat sangat sexy.


"Pagi.. pagi.. udah nakal.." Ucap Bobby mencubit hidung Irene


"Aku sangat.. sangat.. sangat.. mencintai mu" Ucap Irene membual


"Wah, belajar binal ya.. pria mana lagi yang kamu rayu sampai kamu bisa berkata semanis itu.." Ucap Bobby menyentuh dagu Irene yang masih terbaring di tempat tidur


"Aku seperti ini bukan karena pria lain, tapi karena pria yang baru saja mengecup bibir ku.." Ucap Irene bertingkah imut.


"Kamu memang pintar merayu ya.." Ucap Bobby mendekatkan wajahnya ke arah Irene yang di sambut dengan ciuman mesra dari kekasihnya, tangan wanita itu perlahan melingkar di belakang lehernya.


"Kamu baru saja mandi?" tanya Irene membuat jeda di antara mereka


"Sudah.. kamu bau belum mandi.." Ucap Bobby dengan senyuman di bibirnya.


"Kamu harus bertanggung jawab karena aku terbangun gara-gara kamu.." Wanita itu kembali mengecup mesra kekasihnya, keduanya saling membalas lumatan demi lumatan, membuat kamar itu hanya terdengar suara dercak suara bibir.


"Krrekk...."


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, bersamaan dengan kemunculan Daniel.


"Abang aku pinjam baajjjjj............"


omongannya terhenti saat melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.


Daniel terkejut dengan apa yang di lihatnya, matanya membulat, kakinya seolah tak dapat di gerakan dan ia hanya mematung dekat pintu.


Tak hanya Daniel, Bobby dan Irene pun merasa sangat kaget. mereka langsung menghentikan kegiatannya.


Kehadiran Daniel tentu sangat mengganggu bagi sepasang kekasih yang terbuai asmara itu, Irene sangat malu dan langsung menutupi wajahnya dengan selimut dan Bobby langsung berdiri dan salah tingkah.


"Apa.. apa.. kamu butuh apa?!" tanya Bobby menatap ke sekeliling kamar.


"Maaf.. aku mengganggu, aku minta kamu meminjami ku baju.." Ucap Daniel


"Kamu sudah mandi?" tanya Bobby


"Sudah.. berapa lama kamu akan memakai handuk itu..??!!" tanya Daniel sambil menatap handuk yang melingkar di perut Bobby


"Sudah jangan banyak bicara, ayok berganti disini.. pilihlah baju yang ingin kamu pakai" Ajak Bobby melihat Daniel masih menggunakan baju yang sama seperti semalam.


"Ay.. sana mandi.. Sana.." Bobby menepuk-nepuk badan Irene yang bersembunyi di balik selimut


"Ya, baiklah.." Jawab Irene yang langsung bangun dan pergi meninggalkan kamar.