YENA

YENA
Mr. Stalker



Sehari.. Dua hari.. Tiga hari Bobby menginap di kos-kosan Yena.


Dari pulang kerja, tidur di kos-kosan dan paginya baru pulang ke rumah tuk berganti pakaian lalu pergi bekerja kembali.


selama itu pula tak ada hal yang mencurigakan yang terjadi di sekitar lingkungan kos-kosan Yena, tak ada secuil kertas apapun yang di tinggalkan orang misterius itu.


Yang ada hanyalah badan Bobby yang semakin hari, semakin kelelahan karena kewalahan harus bolak-balik kos-kosan, rumah dan kantor.


Namun, mau bagaimana pun ia tak bisa menolak ketika Yena memintanya untuk selalu berada di dekatnya saat matahari mulai terbenam.


rasa khawatir selalu hinggap di benak Bobby,


Bagaimana ketika ia meninggalkan Yena.. Yena larut kembali dengan rasa takutnya dan kambuh kembali menjadi seseorang yang tak mengenalnya.


Bagaimana ketika Bobby meninggalkannya, terjadi sesuatu pada Yena sedangkan ia merasa bertanggungjawab penuh pada diri Yena.


Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul di otak Bobby ketika ia ingin menyerah untuk tidak memperdulikan gadis yang hanya berlari padanya ketika mendapatkan masalah.


"Gua pulang ya.. lagian gak ada apa-apa kok disini.." Ujar Bobby


"Kalo kamu pulang aku sama siapa?" tanya Yena


"Ya Lu kan biasanya juga sendiri berani..." Ucap Bobby


"Ya udah terserah..." Jawab Yena


"Udah 3 hari gua disini.. bolak-balik terus capek badan gua.. Lu juga sih, gua ajak balik ke rumah malah nolak terus...?!!!" Ucap Bobby


"Orang aku gak mau..." Ucap Yena


"Ya udah resiko.." Ujar Bobby


Pukul 21.00


Bobby memutuskan untuk keluar malam itu, ia berfikir sepanjang jalan, karena tak ada Keanehan apapun di lingkungan Yena ketika ia menginap di sana.


Apa Seseorang itu tau bahwa Yena tinggal bersamanya kala itu?, apa seseorang itu selalu membututi Yena? sehingga ia tak muncul ketika Bobby berada di sana.


Mungkin jika Bobby keluar, orang Misterius itu baru akan memperlihatkan sosok asliya?, namun ia tak habis pikir keuntungan apa yang


di dapatkan orang misterius itu untuk terus menguntit Yena, sedangkan Yena bukan orang kaya.. kedua orangtuanya sudah meninggal.. rumahnya bahkan telah di jual oleh bibinya sendiri.. hidupnya saja awalnya di tanggung oleh Bobby semua.. lalu apa yang di cari orang misterius itu?.


Meskipun Bobby memikirkannya berkali-kali, meskipun ia memikirkan dari siang hingga berubah jadi malam, meskipun ia memutar otaknya ia tak pernah bisa mendapatkan jawabannya.


Keesokan harinya Bobby sengaja seharian tak ke kos-kosan Yena.


Hari berikutnya Bobby baru berkunjung ke kos-kosan Yena, Ia sengaja tak memberi tahu gadis itu bahwa ia akan datang.


Kedatangan Bobby bersamaan dengan kepulangan Yena dari pekerjaannya,


"Bob.." Yena memanggil dari arah belakang Bobby, membuat pria itu langsung menoleh ke belakang.


"Lu baru pulang?" tanya Bobby


"Iya.. kamu juga?" tanya Yena yang kini berjalan berbarengan dengan Bobby


"Iya.." Jawab Bobby


"Bawa apa tuh..?" tanya Yena Melihat kantong plastik yang di genggaman Bobby


"Makanan kurang gizi gua kalo di sini.. Lu masak lagi kek kaya dulu.." Bobby memprotes


"Hehehe.. kan belum punya peralatan masaknya.." Ujar Yena tersenyum menunjukkan seluruh gigi depannya


"Ngomong aja lu males sekarang.." Ujar Bobby


"Gak kok.. kata siapa..?!!!" Ucap Yena menolak tuduhan


"Ngaku aja Lu..!!" Ujar Bobby


Saat mereka asyik mengobrol, sambil berjalan mendekati pintu kos-kosan Yena.


Bobby melihat ke arah depan, seseorang yang tak asing baginya tengah berjalan berlawanan arah dengannya, dengan anak kecil di gendongannya.


Keduanya menatap satu sama lain dan menghentikan langkahnya.


"Pak Surya..." Bobby menyapa dan mengulurkan tangannya


"Pak Bobby..." Orang yang di ketahui bernama Surya itu menyambut tangan Bobby.


mereka berjabat tangan dengan senyum lebar di bibir keduanya.


"Pak Surya sedang apa disini?" tanya Bobby


"Saya sedang jenguk adik saya pak.. kebetulan dia kuliah, tinggal di Sixteen Juga, di lantai atas.. bapak sendiri sedang apa di sini?" tanya Surya pria berkacamata.


"Ouh.. saya.. biasalah pak, namanya juga anak muda" Bobby tertawa.


"Ouh.. ia harusnya saya mengerti ya.." Ujar Surya tertawa


"Ini anaknya pak..? wah, cantik ya.. berapa tahun usianya pak?" Tanya Bobby menyentuh pipi anaknya perempuan dalam gendongan ayahnya itu.


"Iya pak.. tentu saja cantik seperti ibunya.. usianya baru 5 tahun. Pak Bobby kapan momong juga?" tanya Surya


"Haha.. nantilah pak.. Menikah dulu, baru momong" Ujar Bobby


"Hahaha.. ia bercanda saya. Ya sudah pak, saya permisi dulu.." Ucap pria yang terlihat berusia 30 tahunan itu.


Ia pun mulai melangkah pergi karena di gendongannya mulai menangis.


"Oh, iya pak.. silahkan.." Ucap Bobby


Bobby berfikir sejenak, Jika Pak Surya menjenguk adiknya yang tinggal di lantai atas untuk apa dia melewati tempat ini?, yang jelas-jelas bukan tempat adiknya tinggal.


"Tapi bukannya dia membawa anaknya..?!! Akh, bisa saja dia sedang mengajak anaknya berjalan-jalan.. Aku sungguh terlalu terpengaruh dengan kertas tempo hari, hingga siapapun yang lewat aku terus mencurigainya.." Gumam Batin Bobby


"Siapa dia?" tanya Yena


"Oh, dia seorang pengacara.. aku pernah menggunakan jasanya untuk urusan kantor" Ucap Bobby tersenyum


"Mm.. gitu.." Gumam Yena


"Tapi dari yang ku dengar anaknya itu punya penyakit kanker Limfoma" Ucap Bobby


"Ya ampun.. seriusan? anak sekecil itu?" tanya Yena


"Iya.." Jawab Bobby


"Kasihan sekali dia.." Ucap Yena


"Padahal Pak Surya itu orang yang sangat baik Lho.." Ucap Bobby


"Benar.. Dia orang yang sangat baik.. kenapa aku harus berburuk sangka pada orang sebaik dia. Bahkan anaknya saja sedang menderita karena penyakitnya. Sungguh aku keterlaluan.." Batin Bobby


Catatan penulis:


Hai readers.. aku Kayra im minta maaf karena 2 hari belakangan tidak Up episode baru.


Kemarin-kemarin aku sempat di larikan ke rumah sakit karena tekanan darah ku sangat rendah dan kesehatan ku menurun.


Mohon doa nya agar aku cepat sembuh.


Terimakasih telah membaca karya ku ini..


tunggu episode terbaru dariku..


terimakasih