
Dokter Lidiya keluar dari kamar setelah memeriksa Yena.
Sebelumnya Yena meminta agar tak ada orang masuk ke kamar termasuk Bobby sendiri.
"Saya perlu berbicara pada pak Bobby.." Ucap dokter kandungan itu.
"Tapi Istri saya baik-baik saja kan dok??" tanya Bobby
"Ibu dan bayinya baik-baik saja kok pak.. bisa kita bicara berdua saja pak.." Ucap Dokter Lidiya
"Oh, baik.. mari dok duduk.." Ucap Bobby mengarahkan jalan ke ruang tamu
Dokter menghentikan langkah kakinya.
"Ouh iya, sekarang yang lain boleh lihat keadaan Bu Yena.. tapi kalo bisa jangan bergelombong takutnya dia pusing dan stres kembali.." Ucap dokter Lidiya
"Ouh.. begitu baik dok" jawab Bobby
"Ouh, iya.. tadi Bu Yena bilang pada saya. Dia tidak ingin melihat wajah pak Bobby.. jadi, untuk sementara waktu pak Bobby di harapkan jangan masuk dulu.." Ucap Dokter itu dengan senyuman di bibirnya
"Saya..?? yang bener dok..? saya kan suaminya.." Ucap Bobby
"Justru itu.. mari kita bicarakan dulu" Ucap dokter Lidiya
"Tolong ibu temani anaknya, karena anak gadis paling dekat dengan ibunya.." Ujar Dokter Lidiya berkata pada Bu Yume.
ia mengira bahwa Yena adalah anak Bu Yume.
"Mah.. bantuin Bobby ya.." Ucap Bobby meminta ibunya agar bisa membujuk Yena.
Di ruang tamu mereka duduk dengan di suguhi cemilan dan teh manis hangat di depan meja.
"Begini pak.. ada beberapa hal yang harus di hindari saat hamil.. apa bapak tau sebelumnya apa saja itu..?" tanya dokter muda itu
"Apa ini karena stres dok..??" Bobby langsung bisa menebaknya karena dialah yang membuat Yena terbaring kini.
Bobby pun akhirnya buka suara, ia menceritakan hal yang sebenarnya terjadi dan kenapa Yena istrinya bisa seperti ini sebelumnya.
Dokter itu tertawa mendengar cerita Bobby.
"Oups, maaf saya tertawa bukan bermaksud menertawakan pak Bobby, saya hanya lucu mendengar cerita bapak.." Ucap dokter Lidiya
"Sebelumnya saya dan suami saya juga memiliki persolan yang persis seperti bapak saat ini.. makanya itu saya tertawa.. saya mengingat kejadian yang menimpa saya juga" Tambah Dokter Lidiya
"Dokter sudah menikah..?? saya pikir dokter masih lajang.." Ucap Bobby
"Tidak.. bahkan saya sudah punya anak.." Ucap Dokter Lidiya
"Wah.. benarkah..?? berapa usianya??" tanya Bobby
"Baru genap setahun.." Ucap dokter Lidiya dengan senyumnya.
"Kalo dokter pernah mengalami kejadian seperti saya, apa yang dilakukan suami dokter..??" tanya Bobby
"Tentu saja dia minta maaf.. ibu yang sedang hamil lebih sensitif dari sebelum hamil.. saya tau persis posisi Bu Yena saat ini, sama seperti saya dulu.. bagaimana tidak marah, ketika melihat suami sendiri lebih membela mantan kekasihnya..." Ucap dokter Lidiya
"Saya bukan membela dok.. saya sudah berulang kali bilang bahwa semua salah faham sampai mulut saya capek ngomong tapi, gak di denger..." Ucap Bobby
"Makanya itu, harus berjaga jarak dengan mantan pak.. tolong jaga kesehatan ibunya kalo ingin anak dan istri bapak sehat.. jangan biarkan dia terbebani pikiran apapun.." Ucap dokter Lidiya
"Benar juga dok.. saya ucapkan terimakasih banyak ya dok, sudah datang ke rumah saya. kalo gak ada dokter saya gak tau gimana istri saya sekarang.." ucap Bobby
"Tidak apa-apa pak.. sudah kewajiban saya sebagai dokter. saran saya pak, Tolong jaga perasaan istri bapak.. jangan sampai dia kecapekan, jaga pola makannya, apalagi stres.. kandungannya masih sangat muda.. saya takut kalo dia banyak pikiran akan berdampak pada kandungannya pak.." Ucap dokter Lidiya
"Baik dok.. terimakasih sebelumnya.." Ucap Bobby berjabat tangan
"sama-sama.. saya permisi pulang dulu.." Ucap dokter Lidiya
"Biar saya antar dok." Ucap Bobby