YENA

YENA
Rumahku di Jual



Hari ini kepulangan Yena ke Indonesia, setelah ia lelah menghabiskan liburannya di negara Sakura Jepang.


Di hatinya sudah tak sabar ingin bertemu dengan paman dan bibinya ingin menceritakan keindahan Jepang pada mereka.


Yena sangat merindukan rumah dan ingin cepat berbaring di kasurnya.


Yena sudah sudah tak sabar ingin bertemu dengan Kuma, Kucing Kesayangannya.


Dadanya begitu berdegup kencang ketika ia telah sampai di depan pintu rumahnya, senyuman manis yang tersirat di bibir selama perjalanannya pulang menambah kecantikan gadis berusia 18 tahun itu.


Pipinya yang chubby menambah kegemasan siapapun yang melihatnya.


Yena sudah lama tak sebahagia ini.


Selama ini hidupnya selalu terpuruk terbayang bayangi kematian orang tuanya.


Ini adalah hari pertamanya merasakan bahwa ia bisa bahagia dan terlepas dari traumanya yang ia alami setahun ini.


Ia ingin mengucapkan terimakasih pada paman dan bibinya yang sudah menemaninya dan mau memikirkan kesembuhannya dengan memberikan liburan ke luar negeri ini.


"Ding Dong.."


Bel rumah pun di tekan gadis itu.


Namun, tak ada tanda-tanda orang di dalamnya.


"Ding Dong..."


Gadis berkulit putih susu, berambut panjang terurai itu menekan lagi bel rumahnya.


Alisnya meringai ke atas, tak biasanya bibinya membuka pintu selama ini.


Raut wajahnya berubah ia menekan bel rumahnya untuk yang ke 3 kalinya


"Ding Dong.."


Ia meraba saku celananya, tempat handphone yang ia miliki di simpan.


Ia meraba kesana kemari namun, tak menemukan handphone nya.


gadis itu tak menyadari handphonenya terjatuh di bandara.


Suara kunci memutarpun di dalam rumahpun, mampu membuat gadis itu tersenyum kembali.


Akhirnya di buka juga. Batin Yena


"Siapa ya?"


seorang wanita yang kira-kira umurnya setengah abad, keluar dari rumah miliknya.


"Anda siapa?" tanya Yena


Yena sungguh terkejut melihat yang keluar dari rumahnya bukan paman atau bibinya, melainkan seseorang yang tak ia kenal sama sekali.


Ia bingung harus bagaimana, hingga ia sulit berkata-kata.


"Anda yang siapa? saya pemilik rumah ini" Ujar wanita tua itu


"Pemilik?"


Mata Yena membulat, ia sangat terkejut dan merasa tak percaya dengan apa yang di katakan wanita tua itu.


Pasalnya, rumah itu sudah di tempati Yena sejak ia di lahirkan, rumah itupun peninggalan satu-satunya dari orangtuanya yang hanya ia miliki, ia tak memiliki saudara hingga ia menjadi pewaris satu-satunya untuk rumah tersebut.


Bagaimana mungkin ada seseorang yang muncul mengklaim sebagai pemilik asli dari rumahnya?.


"Saya pemilik asli rumah ini, Ibu siapa mengaku-ngaku rumah ini sebagai rumah ibu?" tanya Yena kesal


"Saya punya surat-surat sah kepemilikan rumah ini. jika kamu mengklaim ini adalah rumah mu, tunjukkan surat-suratnya sekarang..!!" Ujar wanita itu dengan nada tinggi


"Mah.. ada sih ribut-ribut," Ujar seorang pemuda yang keluar dari balik pintu


"Ini ada orang yang ngaku-ngaku ini rumahnya" Wanita tua menatap Yena dengan perasaan kesal.


"Jangan gitu dong mah, dia kan tamu.. ajak masuk dulu, bicarakan baik-baik dengannya." Ucap pemuda tersebut.


Wanita berumur 50 tahunan itupun luluh dengan kata-kata anak putranya tersebut.


Di ajaklah Yena untuk masuk ke dalam rumahnya, yang sekarang di akui oleh wanita tua itu.


seluruh interior di dalam rumahnya sangat berbeda 180°.


bagaimana bisa selagi Yena pergi, rumahnya di sulap menjadi rumah dengan interior dan furniture mahal.


Objek dan warna yang memberikan kesan mewah di antaranya adalah porselen biru dan putih, sutra dengan warna biru dan merah, beludru tebal dengan warna hijau sayuran, ungu, dan emas. Hal-hal tesebut yang akan membangkitkan kesan mewah pada ruangan.


Yena duduk di sofa terdiam dengan takjub.


matanya memutar, ia melihat, melirik ke setiap inci rumahnya berubah menjadi rumah begitu indah.


Seorang pemuda datang dari dapur membawa secangkir teh manis hangat di tangannya, di sajikannya teh tersebut di atas meja di hadapan Yena.


Yena tak menyadarinya kedatangan pemuda tersebut, pemuda itu duduk di samping wanita tua berusia 50 tahunan yang merupakan ibunya, sambil memperhatikan wajah Yena yang masih diam dan melirik ke setiap furniture di ruang tamu tersebut.


"Ekheumm.. mbak.. silahkan di minum dulu." Ucap Pemuda tersebut


"Oh, iya terimakasih"


Yena tersadar, tersenyum pada pemuda itu dan segera meminum teh hangat yang di sajikan.


"Ouh, sebelumnya perkenalkan nama saya Rendi.. dan ini mamah saya bernama Jiw. Nama mbak siapa ya?" tanya Pemuda bernama Rendi


"Nama saya Yena.." Yena tersenyum


"Sebentar... nama kamu Yena?, bukannya kamu sudah menandatangani surat penjualan rumah ini?, lalu kenapa kamu kembali ke rumah ini dan mengakui rumah ini kembali?" tanya Bu Jia


"Apa? Maksudnya gimana Bu?" tanya Yena


"Sebentar biar saya jelaskan, jadi begini mbak.. seminggu yang lalu rumah ini di jual atas nama kepemilikan Yena Anggara, anak tunggal dari Almarhum pak Dito Anggara dan Bu Susi Susanti.. Kami membeli rumah ini dari orang yang mengaku sebagai Adik kandung dari bapak Dito Anggara yaitu Ibu Gina Sonia dan bapak Rudi Heriansyah sebagai suaminya. Kami di sini memiliki surat-surat lengkap kepemilikan berikut tanda tangan mbak Yena Anggara sebagai Pemilik rumah sebelumnya. biar saya perlihatkan sertifikat rumah dan pembayaran rumah ini pada mbak Yena.." Rendi menjelaskan dengan detail.


Rendi pun masuk pergi ke dalam kamarnya tak lama kembali dengan beberapa kertas di tangannya.


"Ini bisa mbak Yena lihat sendiri, tanda tangan pemilik tunggal rumah ini yang bernama Yena Anggara telah menandatangani Surat ini dan ada juga stempel jarinya. kami sebagai pembeli tidak menanyakan pemilik karena, disini sudah ada tanda tangan dan stempel jari yang kami butuhkan untuk memperkuat kepemilikan rumah ini." Ujar Rendi membuat Yena bungkam tak bisa berucap.


"Lalu kemana orang yang bernama Gina dan Rudi itu sekarang?" tanyaku begitu geram


"Kami gak taulah mbak.. kami kan beli, udah beli kami gak ngurusin lagi yang jual lah" Ucap Bu Jia ibunda Rendi


Yena menelan ludah dengan susah, kenyataan pahit ini harus di terimanya.


"Lalu bagaimana dengan pembayarannya? saya gak di beri tahukan rumah ini akan di jual, saya juga tidak menerima uang sepeserpun dari hasil penjualannya, kemana mereka pergi?" tanya Yena dengan menahan semua kemarahannya.


"Kami tidak tau mbak, kemana Ibu Gina Sonia dan Pak Rudi Heriansyah pergi. Kami membeli rumah ini dengan harga 500 juta, kami telah mentransfer uang tersebut ke rekening Ibu Gina Sonia. kami juga tidak tau apa yang mbak maksud, kami tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi pada mbak sekarang. jika mbak ingin menggugat silahkan mbak ke kantor polisi, disini kami punya bukti kuat kepemilikan rumah ini" Ucap Rendi begitu tegas.


Mata Yena berkaca-kaca ia menahan semua kesedihan kehilangan rumah yang ia tempati sedari lahir, rumah yang tercipta dengan jutaan kenangan di dalamnya.


"Miiaaaawww..."


Seekor Kucing putih dari dalam rumah berlari dan langsung loncat duduk di pangkuan Yena.


"Kuma, kamu kangen ya sana aku.. seminggu ini kita gak ketemu Sayang," Ujar Yena dengan suara yang agak berat


Yena menggendong Kucing kesayangan yang ia rindukan selama ini.


Sakit hatinya membuat suaranya bergetar.


Kenyataan bahwa orang yang ia anggap sebagai orang tua sendiri selama ini, ternyata menusuk nya dari belakang menjual rumah satu-satunya yang ia miliki, peninggalan dari Almarhum kedua orang tuanya, tanpa meninggalkan sepeser uang pun hasil penjualannya.


Mereka kabur begitu saja tanpa mengabari Yena.


Hatinya hancur, jiwanya rapuh kembali.


"Itu kucing milik mu?, pantas saja ia tak mau keluar rumah ini.." Ucap Bu Jia


"Ia Bu, ini kucing kesayangan saya. dia yang selalu menemani dan menghibur saya setelah orang tua saya meninggal."


Yena menggendong kucing kesayangan degan gemas.


perlahan air matanya keluar dari sudut kedua matanya, ia yang sadar air matanya berjatuhan langsung menyeka nya.


"Bu.. Mas, Saya minta tolong. tolong titip Kucing saya ya.. saya akan kembali mengambilnya kembali nanti.." Ucap Yena menyerahkan kucing kesayangan yang ada dalam gendongan ke pada Rendi


"Kuma, yang baik-baik disini ya. Nanti, aku balik lagi bawa kamu. kita tinggal bersama lagi" Ucap Yena mengelus bulu baran Kuma yang putih bersih


"Saya permisi dulu Mas, Bu.." Ucap Yena berpamitan


**Bersambung


Like dan coment ya..


Salam


KAYRA IM