YENA

YENA
Panik



Sore itu Bobby baru pulang kerja, ia masuk ke dalam rumah namun, tak ada Yena maupun Daniel di dalam.


Bobby panik di tambah cemas, beberapa kali ia menelpon ke nomor Daniel.


Namun, nomornya tak aktif.


Bobby pergi ke luar rumah berjaga-jaga bila saja mereka pulang namun, beberapa jam menunggu tak ada satupun di antara mereka yang datang.


"Bagaimana bisa Daniel sebodoh ini, Yena itu sedang sakit. ke mana dia membawanya?!" Batin Bobby


Langit sudah mulai gelap namun, Yena tak kunjung pulang.


"Gadis itu bahkan tak memegang handphone" Batin Bobby


ia memutuskan untuk ke restoran Dimas, mungkin saja Yena kabur untuk bertemu Dimas.


Sesampainya di sana Bobby sama sekali tak menemukan Yena.


"Bukankah sebelumnya kamu sendiri yang mengirim pesan padaku bahwa Yena sakit?" tanya Dimas


"Ya, lalu kenapa?" tanya Bobby


"Kok aneh malah bertanya kenapa?, memangnya apa yang terjadi pada Yena?, Seharian ini dia tak menjawab panggilan telepon ku, bahkan tak membalas pesan dariku" Ucap Dimas


"Dia tidak apa-apa, aku hanya lupa bahwa sekarang dia tidak masuk kerja. tadinya aku ingin menjemputnya pulang," Bobby memaksakan bibirnya tersenyum


"Oh, begitu.." Jawab Dimas


"Gua pulang dulu ya.." Ujar Bobby menepuk bahu Dimas.


"Ya sudah, jika bertemu Yena sampaikan salam dariku.." Ucap Dimas.


"Baiklah.." Bobby mengemudikan mobilnya, ia berpindah ke taman kota.


"mungkin saja si bodoh Daniel mengajak Yena ke taman hingga lupa waktu" Batinnya


Bobby berlarian mengelilingi taman, mengamati setiap orang yang lewat dan datang ke sana.


mungkin saja Bobby menemukan Yena dan Daniel, Bobby mencoba menelpon Daniel kembali namun ponselnya tak jua aktif.


Hari mulai petang, Bobby cukup kelelahan, ia mencari Yena hingga langit berubah menjadi gelap.


Satu persatu orang-orang meninggalkan taman, hingga menyisakan Bobby seorang.


Taman mulai sepi, Bobby memutuskan untuk pulang ke rumah di fikirannya 'Mungkin saja Yena dan Daniel sudah pulang'.


ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di rumah Yena maupun Daniel tak ada di sana, ia makin heran dan kebingungan.


"Apa harus ku laporkan pada polisi saja.." batinnya


Tak lama handphone Bobby berdering, itu adalah panggilan telepon dari Daniel tentu saja Bobby langsung mengangkatnya.


"Heii.. bodoh, kau kemana saja? aku mencari mu sampai ke taman dan baru pulang sekarang.. kau tau aku sangat khawatir" Ucap Bobby dengan nada kesal. ada perasaan lega di hatinya saat Daniel menelponnya, dia berfikir jika Daniel menelponnya maka semua baik-baik saja tak perlu ada yang di khawatirkan.


"Abang khawatir padaku??, Benarkah??, Wah.. aku sangat terharu.." Daniel cengengesan


"Sudah jangan bercanda, Sekarang kamu di mana? aku akan ke sana menjemput mu?!" tanya Bobby


"Aku..?? tentu saja di rumah?, Abang yakin akan menjemput ku?, Untuk apa Abang menjemput ku? tumben sekali..?!, bukankah Abang paling membenci keluargaku?" tanya Daniel heran dengan Bobby yang tiba-tiba saja ingin menjemputnya.


"Bukan kamu.. tapi Yena.. bukannya aku menyuruh mu menjaganya? dia bersamamu sekarang kan?" tanya Bobby


"Jangan bilang lu juga gak tau Yena kemana?" tambah Bobby


"Yena?? memangnya dia tidak di rumah?" tanya Daniel kaget


"Daniel.. Daniel.. Lu gila??? gua suruh lu jagain dia, malah lu gak tau dia kemana. memangnya lu kemana aja dari tadi??!!!" Bentak Bobby kesal


"Aku sempet ngajak Yena ke rumah bang, yang lebih buat aku kaget, ternyata rumahku yang sekarang adalah rumah dia sebelumnya." Daniel menjelaskan


"Terus sekarang Yena kemana?" Bobby Jengkel


"Nah, itu aku juga gak tau bang.. Mamah sama bang Rendi keluar, dia kenal dengan Yena. mamah fikir Yena deketin aku buat dapetin rumah ini lagi.. aku di tarik masuk rumah, terus aku kurung oleh bang Rendi dan Mamah" Ucap Daniel


"Lu bilang gak tau? ini udah jam 7 malem... Yena tuh cewek lho.. kalo ada apa-apa sama Yena gua bakal nyalahin lu.." Kata Bobby melihat jam di dinding menunjukan 19.15


"Terus gimana bang?" tanya Daniel


"Malah nanya lagi.. gua aja pusing gua harus cari di mana." ucap Bobby


"Lu tau gak tempat yang biasa dia datengin..?" tanya Daniel


"Mana gua tau..!!" Jawab Bobby


"Ya kali.." Ucap Daniel


"Ya udahlah gua mau cari Yena lagi.." Kata Bobby yang sudah kepusingan dengan memikirkan Yena.


Bobby kembali mengendarai mobilnya ia berfikir tempat mana yang dekat dengan rumah Daniel,


"Rumah Daniel adalah Rumah Yena.. rumah Yena sekarang rumah Daniel.." Gumamnya sambil berfikir kemana ia harus mencari gadis itu namun, fikirannya buntu, ia mengacak-acak rambutnya.


"Yena.. gua tuh, gak tau lu biasanya pergi ke mana.. terus gua harus cari lu kemana? yang gua tau lu kerja di restoran gua cari ke restoran, kita pernah ke taman gua cari ke taman, terus gua harus cari lu kemana? gua kenal lu aja baru beberapa bulan di........." Mata Bobby membulat ia baru ingat tempat pertama kali ia bertemu dengan Yena.


mungkin saja gadis itu pergi ke sana setelah di lecehkan keluarga Daniel, Bobby makin resah ia takut gadis itu terguncang kembali, ia takut gadis itu melakukan percobaan bunuh diri lagi.


Bobby menambah kecepatan laju kendaraannya, hatinya tak tenang barang semenit saja, gadis itu sungguh membuatnya kalut akan ketakutan.


Bobby menurunkan kecepatan mobilnya saat mulai memasuki jembatan itu, sambil menengok ke pinggir jembatan dengan harapan mungkin saja ia menemukan sosok wanita yang di carinya.


Bobby menghentikan kendaraannya, ia melihat Seseorang berambut panjang terurai yang duduk di pinggir jembatan dengan memeluk ke kedua kaki dan menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya.


Ia turun untuk memastikan apa itu adalah Yena gadis yang ia cari atau bukan.


Di dekatinya orang itu, dari pakaiannya ia sangat yakin bahwa gadis itu Yena, gadis yang ia cari.


Gadis itu memakai jeans panjang berwarna biru cerah dan kaos pendek berwarna abu.


Seekor kucing berwarna putih setia duduk menemani di sampingnya.


"Hei.. Hei.. Hei..." Bobby menepuk-nepuk tangan gadis di depannya,


"Jika benar ini Yena, bagaimana dia bisa tahan dengan angin malam yang sangat dingin di sungai ini?!" batin Bobby


Gadis di depannya menadahkan kepalanya ke atas hingga terlihat paras wajahnya.


"Yena.." Bobby terkejut


Namun, gadis itu hanya diam tak menjawab sepatah katapun.


Matanya menatap Bobby dengan pandangan kosong, entah apa yang terjadi dengannya.


Namun, Bobby sudah dapat memastikan bahwa Yena yang di hadapannya sekarang sedang tidak baik.


"Ini aku Bobby.. kamu sedang apa disini..?!!" Tanya Bobby


Namun, gadis itu hanya diam seribu bahasa dan tak bergerak sedikit pun, sesekali ia hanya mengedipkan matanya.


matanya terlihat kosong, seperti tak ada jiwa yang hidup di dalamnya.


"Kita pulang ya.. ayokk bangun, di sini sangat dingin..?!!" Bobby membantu Yena berdiri.


Yena yang sekarang terlihat bukan Yena yang biasanya. dia hanya mengikuti arahan Bobby, untuk berdiri, sandalnya terlepas dari kakinya seolah gadis ini tak tau cara berjalan memakai sandal.


"Pakai sendalmu kembali.." Ujar Bobby memasangkan kembali sendal itu ke jari kaki Yena, gadis itu memundurkan langkahnya ia seperti ketakutan dan tak mengenal pria di hadapannya.


"Ini aku Bobby.. aku Takan menyakitimu.. ingatlah kembali.. aku Bobby.." Ucap Bobby menatap wajah Yena dengan senyuman


"Bob.. Bob.. Bobby..." suara itu terdengar lemah


"Ia benar aku Bobby.. apa kamu sudah mengingat ku?" tanya Bobby


"Bbboooobbbbyyyy......." Yena bergumam lalu jatuh pingsan tak sadarkan diri, di pangkuan Bobby.


Kucing putih itu ikut berlari ke dalam mobil, saat tubuh Yena masuk ke dalam mobil.


Tubuh Yena begitu dingin, mungkin karena angin malam dan kondisinya yang masih belum pulih.


Wajahnya yang pucat membuat Bobby semakin khawatir, ia sangat kesal pada Daniel yang tak menjaga Yena dengan benar hingga Yena bisa begini.


terlebih saat melihat Yena menatapnya dengan tatapan kosong dan sempat tak mengenalinya, ia begitu yankin jiwa Yena terguncang lagi.


Sesampainya di rumah Bobby membopong tubuh Yena ke kamarnya, merebahkan badannya di atas kasur.


Ia menelpon Dokter Reno agar segera datang ke rumahnya, agar bisa menangani Yena secepatnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Bobby saat dokter itu memeriksa dengan stetoskopnya


"Keadaannya lebih buruk dari kemarin, tubuhnya sangat lemah. apa dia tidak makan dan minum obat?" tanya Reno


"Gua kurang tau.." Bobby menunduk


Dokter itu menghela nafas.


"Dia perlu istirahat yang cukup, jangan lupa minum obat dan makan teratur" Ucap Dokter sambil menusukkan jarum infusan di tangan Yena, di berinya beberapa perekat dan mengatur tetesan air infusan yang mengalir dari botol melalui selang dan di alirkan ke dalamnya tubuh.


"Tadi gua liat matanya tuh kosong, itu gimana ya?" tanya Bobby


"Coba bawa ke psikiater atau psikolog kaya gitu.. gua kurang ngerti karena itu bukan bagian gua. jadi gua takut salah mendiagnosis nya.." Jawab Reno


"Mmm.. gitu.. ya udah makasih ya bro. gua minta maaf dari kemarin ngerepotin lu terus" Ucap Bobby


"Santai aja, ini udah jadi tugas gua sebagai seorang dokter. eh, gua gak bisa lama nih.." Jawab Reno


"Kenapa kok cepet-cepet amat pulangnya?" tanya Bobby


"Ialah kasian istri gua.. gua pulang dulu ya.." Reno


"Ok.. thanks ya Ren," ucap Bobby


"Ok.. sama-sama" Reno berjabat tangan lalu pergi pamit untuk pulang.


tak lama setelah dokter itu pulang, kucing putih yang ikut masuk ke dalam rumah bersuara terus menerus sepertinya ia lapar dan meminta makanan.


Bobby ke dapur mengambil piring kecil yang di taruh di bawah lantai, piring kecil itu di isi dengan satu ekor ikan goreng.


tanpa menunggu lama di santapnya ikan itu oleh sang kucing.


Bobby tersenyum melihat kucing itu makan dengan lahapnya.


Bobby mengambil panci dan mulai membuat bubur untuk gadis yang sedang jatuh sakit di rumahnya.


dengan beberapa bumbu yang ia tambahkan, jadilah semangkuk bubur hangat.


Ia membawanya dengan nampan yang di atasnya di isi oleh semangkuk bubur dan segelas air putih.


Ia berjalan ke kamar Yena, di lihatnya gadis itu masih tidur terlelap dengan selimut yang menutupi badannya.


Bobby menaruh nampannya di meja, lalu ia duduk di samping Yena yang tertidur.


sesekali Bobby mengelus kening gadis itu.


Hatinya terasa perih melihat gadis yang di sampingnya harus terbaring sakit.


Handphone nya berdering, di lihatnya panggilan masuk dari Irene.


"Hallo.. Iya ay ada apa?" Tanya Bobby mengangkat telepon


"Besok mau temenin aku gak? kamu kan libur.." Ucap Irene dengan nada manja


"Mmm.. besok? aku gak tau deh. soalnya......"


"Kenapa? Yena lagi??? Akhir-akhir ini perasaan kamu perhatian banget sama dia?" Ucap Irene kesal.


"Bukan gitu.. aku lembur di kantor lagi banyak kerjaan.." Jawab Bobby berbohong, ia hanya berniat untuk menemani Yena yang sedang sakit. karena Yena tak memiliki siapapun kecuali dirinya. jika ia jujur pada Irene, mungkin akan marah besar.


"Hmmm.. ya sudah.. aku tutup" Ucap Irene


"Iya.." Jawab Bobby


Panggilan telepon berakhir.


"Kamu lembur?" Suara Yena mengagetkan Bobby


"Ya ampun.. hampir saja jantungan.." Bobby memegang dadanya.


"Kamu kapan bangun?" tanya Bobby


"Barusan.." Jawab Yena dengan suara serak


"Kamu dengerin pembicaraanku dengan Irene di telepon?" tanya Bobby


"Gimana gak denger kamu teleponan, tepat di samping telingaku.. berisik tau.." Ucap Yena


"Benar juga sih.. sudah makan dulu.. aku buatkan kamu bubur" Ujar Bobby mengambil mangkuk yang berisikan bubur.


"Kamu bisa masak bubur?" tanya Yena


"bisa tapi kalo gak enak jangan protes" Bobby tertawa


"Sini mana aku mau nyobain.." Ucap Yena mengubah posisinya menjadi duduk


"Nyobain? Makan.. habiskan.." Bobby menyuapi Yena


"aku bisa makan dengan tanganku sendiri" Ucap Yena


"Tanganmu sedang di infus" Kata Bobby memasukan satu suapan lagi ke mulut Yena


"Kan ada tangan satunya.." Ucap Yena


"Bagaimana enak tidak..?" tanya Bobby


"Rasanya hambar.." Yena tertawa dengan makanan di mulutnya


Bobby lega akhirnya Yena bisa tertawa, Yena telah menjadi dirinya kembali.


"Jangan tertawa sambil makan, nanti makanannya muncrat ke mana-mana" Ujar Bobby


"Tapi ini tidak enak.." Yena tersenyum


"Habiskan pokoknya.." Perintah Bobby


"Baiklah.." Yena tersenyum dan menurut hingga bubur itu habis tak tersisa.


"Ini minum dulu.." Bobby menyodorkan gelas berisi air putih yang di teguk habis oleh Yena.


"Uh, kenyangnya... sepertinya aku akan tidur nyenyak.." Yena tersenyum


"Enaknya abis makan tidur.." Ucap Bobby


"Eh, kamu makan belum?" tanya Yena


"Pesen Go-food tadi, belum Dateng aja" ujar Bobby.


"Makan di sini.." Ucap Yena


"Nanti Lu minta..." Jawab Bobby


"Ya jangan pelit lah..." Yena dengan bibir manyun


"Ya udah iya..." Jawab Bobby


"Udah makan, malah mau makanan orang lain juga.. luar biasa ya lu.." Ujar Bobby


Yena hanya tertawa menanggapinya.