
Setelah makan Bobby mengajak Yena berkeliling rumahnya dan memberikan Yena sebuah kamar kosong untuk di tinggalinya.
"Mulai sekarang kosong ini menjadi kamarmu.." Ucap Bobby membuka kamar
Yena menyeret koper merah miliknya.
ia mengambil koper tersebut dari depan rumah, mungkin jasa pengantar barang yang menaruh koper merahnya di depan rumah pria yang menyelamatkan hidupnya itu.
"Uwaahhh.. Rapih sekali..!! seperti kamarku sebelumnya" Yena tersenyum lebar
ia di buat kagum karena penampilan kamar itu rapih dan bersih, bukan seperti kamar kosong yang ada di benaknya.
kamar itu sungguh terjaga seperti ada penghuninya.
"Aku tak yakin kamar mu yang sebelumnya bersih.." Bobby tertawa kecil mengejek Yena
"Jangan hanya karena aku makan lupa cuci tangan, kamu menganggapku sejorok itu.. aku anak pecinta keberhasilan kok.." Ucap Yena menaruh lengan tangan kanannya di depan dada, meyakinkan Bobby bahwa ia termasuk orang yang bersih.
Mata Yena memutar menatap setiap jengkal kamar barunya.
Beberapa bingkai foto gadis kecil terpajang di dinding kamar.
"Apa ini anak mu?" tanya Yena mengambil foto yang terpajang di dinding
Raut wajah Bobby seketika berubah menjadi cemberut.
"Apa Aku terlihat seperti seorang Ayah?" tanya Bobby dengan tatapan bersungguh sungguh
"mmm.. Iyya.." ucap Yena singkat
Bobby menarik nafas panjang dari hidungnya yang ia buang lewat mulutnya.
"Wajah ku masih terlalu muda untuk memiliki anak..!!" Ucap Bobby
"Benarkah? menurut ku tidak, kamu sudah pantas untuk memiliki anak berumuran seperti ini.." Ucap Yena sambil menunjuk foto gadis kecil yang berumuran sekitar 2 sampai 3 tahunan itu.
Yena tak tau pasti tapi menurutnya bocah di foto itu Takan lebih dari perkiraan Yena.
"Lu bener-bener gadis yang polos..!!" Ucap Bobby dengan menunjukkan wajah jengkel.
"Kalau kamu bukan ayah dari bocah ini lalu siapa dia?, Oh.. atau kamu menikah dengan wanita yang telah memiliki anak?" Tanya Yena dengan polosnya
Bobby yang mendengar itu dari mulut Yena, langsung menepuk jidatnya dengan sebelah tangan.
"Lu bener-bener ngeselin ya.." Ucap Bobby mengigit bibir bawahnya, saking gemasnya dengan tingkah Yena yang menjengkelkan sedari tadi.
"hehehehe.. soryy, aku gak tau..!!" Ucap Yena tersenyum dengan menunjukkan gigi depannya.
"Gak tau makanya jangan sok tau..!!" Ucap Bobby kesal
"Iyya.. Iyya.. lalu siapa bocah ini?, tampaknya foto ini sudah sangat lama.." Ucap Yena
"Memang, dia adik kandung gua.. puas lho..?!!" Ucap Bobby meluapkan kejengkelannya ke muka Yena, membuat Yena terkejut.
"Oh, maaf deh.. Lucunya," Yena tersenyum menatap foto gadis kecil itu kembali.
"Lucu kan...?!!!" Bobby memberikan opininya
"Tentu, berapa umurnya sekarang?" tanya Yena
"Sebentar.." Ucap Bobby sambil melihat langit-langit kamar, ia menghitung kembali usia adik kandungnya yang ada dalam foto itu .
"Berapa Usia mu sekarang?" Tanya Bobby
"Aku? aku 18 tahun.." Jawab Yena
"Adik ku seusia mu sekarang," Ucap Bobby
"Lalu kenapa hanya ada foto masa kecilnya?, tak ada fotonya yang sekarang?. Dia pasti telah menjelma sebagai wanita cantik.." Ucap Yena
"Andai dia tumbuh besar, dia pasti akan sangat cantik.. Adikku telah meninggal.." Ucap Bobby tersenyum mengambil bingkai foto yang Yena pegang.
"Benarkah?, lalu mengapa kamarnya serapih ini, jika memang tak berpenghuni?" tanya Yena
"Setiap hari aku merapikannya, aku selalu berfikir gadis kecil itu hanya pergi bermain dan akan kembali ke kamarnya jika matahari mulai tenggelam" Ucap Bobby tak bergeming menatap begitu lucunya, adiknya perempuan yang ada dalam foto yang ia pegang, membuatnya tersenyum sendiri.
Yena memperhatikan wajah Bobby, yang tersenyum bahagia ketika menatap sebuah bingkai foto yang ia pegang.
ia menatap adik kecilnya, dalam foto itu seperti seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya.
"Siapa namanya?" tanya Yena
"Namanya, Yuki.." Jawab Bobby yang hanya fokus pada foto itu.
"Keluarlah, aku ingin mandi dan mengganti pakaian ku." Ujar Yena merampas foto itu dan menempelkan kembali ke dinding.
"Oke.. jangan sampai membuat kamar ini berantakan ya..?!!" Ucap Bobby seperti orang mengancam
"Iyya... Iyya.. sana..!!" Ucap Yena mendorong keluar Bobby lalu menutup pintunya.
"Iya.. aku denger.. sana pergi" jawab Yena di dalam kamarnya.
Yuki.. beruntung sekali kamu memiliki kakak yang sangat menyayangi mu. Aku bahkan tak memiliki saudara atau saudari, aku hanya anak tunggal yang sekarang menjadi seorang anak yatim-piatu, kau sungguh membuatku iri padamu. batin Yena sambil menatap foto Yuki kecil
Yena pun membersihkan dirinya dengan mandi, memakai pakaian, lalu Merapihkan pakaiannya yang ada di dalam koper untuk di masukan ke dalam lemari di kamar Yuki yang kini menjadi kamarnya.
Yena keluar kamar mencari-cari Bobby, ia mengetuk kamar milik pria yang menyelamatkan hidupnya itu namun, tak ada jawaban.
ia mengetuk ruangan lainnya.
"Masuk.."
Suara Bobby terdengar dari dalam ruangan itu, ruangan yang bukan merupakan kamar Bobby.
Yena pun memberanikan diri untuk masuk ke ruang itu, terlihat Bobby yang sedang sibuk dengan laptop di depannya.
"Sedang apa kamu?" tanya Yena sambil melihat ke sekeliling.
Sebuah ruangan yang memiliki banyak rak buku seperti perpustakaan kecil, ada Sofa dan Tv di dalam ruangan itu.
"Kerja, menurut mu?" tanya Bobby tanpa melihat keberadaan Yena.
"Apa kamu seorang penulis buku?" tanya Yena
Bobby yang sedang mengetik di laptopnya berhenti dari kegiatannya,
"Untuk apa kamu begitu penasaran? bukankah kamu tak pernah percaya bahwa hidupku mewah?" tanya Bobby
"Aku hanya bertanya.. karena disini begitu banyak buku" Ucap Yena duduk di Sofa
Bobby tertawa kecil, mendengar jawaban dari gadis itu.
"berarti.. meski aku pemilik toko kue, jika aku berdiri di sebelah gerobak ketoprak kamu akan beranggapan aku penjual ketoprak?" tanya Bobby, membuka kaca mata fashion yang ia kenakan di matanya dan menaruhnya di meja samping laptop miliknya.
"Tentu saja, jika kamu tak ingin orang beranggapan kamu tukang ketoprak maka bergeserlah agak jauh dari gerobak itu dan tetaplah menjaga toko mu.." Ucap Yena dengan suara santai
"Wah.. aku tak pernah menemukan gadis sangat jujur seperti mu..!!" Ucap Bobby menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Aku hanya mengeluarkan apa yang ada di benakku.." Ucap Yena
"Bisakah kau keluar? aku ingin fokus.." Ucap Bobby
"Kamu ingin teh hangat..,?!!" Yena menawarkan jasa
"Tentu saja, asal kamu tidak berisik lagi..!!" Ucap Bobby memakai kacamatanya dan kembali mengetik di depan laptopnya.
"Oke.." Jawab Yena
Yena pun pergi ke dapur, mengambil cangkir yang ia isi dengan sekantung teh celup dan memberikan beberapa sendok gula ke dalamnya.
Uap dari air panas yang ia tuang ke dalam cangkir terlihat berterbangan, tatkala Yena menuangkan air itu ke cangkir berisi teh yang telah di beri gula.
Airnya yang jernih perlahan menguning, Yena pun mengaduk teh itu dengan sedok kecil hingga warnanya berubah kuning kecoklatan.
Di antarkannya teh itu ke ruangan Bobby berada, Yena menaruhnya di atas meja Bobby tak jauh dari laptop yang sedang di gunakan oleh Bobby.
"Jangan di minum dulu, masih sangat panas.." Ujar Yena meninggalkan gelasnya di meja
"Oke.. kamu boleh pergi..!!" Ucap Bobby tanpa melirik Yena
"Bolehkah aku tetap disini? aku menyukai sofa itu.. aku ingin duduk agak lama di sana, sambil menonton TV" Pinta Yena
"Tak masalah, asal jangan terlalu berisik.." Ucap Bobby tak melihat sama sekali keberadaan Yena
"terimakasih.." Ucap Yena
Yena duduk bersandar pada sofa yang begitu empuk itu, ia menyalakan Tv.
Ia menonton acara yang ada dalam Tv, lama-lama tubuhnya berbaring di Sofa, perlahan matanya berat sekali sulit untuk bertahan terbuka, Hingga ia kalah dengan rasa kantuknya.
Jam menunjukkan pukul 01.00
Bobby baru selesai menjalankan kesibukannya dengan laptop di depannya, ia mengangkat kedua lengannya ke atas, mengarahkan kepalanya ke kiri dan ke kanan hingga terdengar suara 'Krekek'..
Sepertinya pria itu sangat lelah dan ingin segera istirahat dengan tidur berbaring di tempat tidurnya.
Bobby melihat ke Sofa, terlihat Yena yang ke tiduran di atas Sofa dengan TV di depannya yang masih menyala.
Bobby pun mendekati Yena, mengambil remote Tv lalu mematikannya.
"Di kasih kamar malah tidur di Sofa.." gumam Bobby,
Iapun mengambil bantal dan selimut.
Bantal ia pakaikan untuk penyanggah kepala Yena dan Selimut ia pakaikan untuk menutupi tubuh Yena agar tidak kedinginan, lalu ia meninggalkan Yena yang tertidur di ruangan itu.
Bobby pergi ke kamarnya dan tidur di sana.