
Malam itu seorang gadis tertidur gelisah, matanya memejam namun badannya tak henti bergerak kesana kemari.
keringatnya bercucuran, dahinya basah, padahal suhu ruangannya begitu dingin dengan AC yang menyala.
Ia memanggil manggil nama kedua orang tuanya, yang telah meninggal setahun lalu karena kecelakaan.
Di dalam mimpinya ia mengulang kejadian ketika ia baru lulus sekolah SMA.
Ketika itu sang Ayah, menjemput ia dan ibunya dari sekolah dengan menggunakan mobil, mereka berbincang riang bersama.
gadis itu mengingat begitu jelas suara tawa ibu dan ayahnya, di dalam mobil.
Hingga ada satu mobil dari arah berlawanan yang menyetir ugal-ugalan dan menabrak mobil yang di tumpangi Ia dan sekeluarga, hingga terguling.
kedua orangtuanya meninggal di tempat dan hanya gadis itu yang dapat selamat.
Selama ini ia sulit tidur dengan kenangan buruk yang slalu datang dan mengganggu tidurnya.
"ibu.. ibu.. ayah.. yah.. bangun yah.."
Gadis itu berucap tanpa sadar.
"Yena.. bangun Sayang, ini bibi.. bangun nak," Ucap Gina adik dari Ayahnya yang telah meninggal setahun lalu.
Perlahan gadis itu membuka matanya,
Gadis itu terbangun dengan mata yang basah.
"Yena mimpi buruk lagi bi," Ucapnya memeluk wanita yang duduk di samping tempat tidurnya.
"Sabar Sayang, kamu pasti bisa.. kamu harus bisa lupain, yang udah terjadi biarlah terjadi. jangan terus di ingat." Ucap gina
"Yena juga gak tau bi, mimpi itu terus datang" Yena menitihkan air matanya kembali
"Kamu tidur lagi ya, bibi temani kamu disini.." Ucap gina
Dengan anggukan kepala yang di berikan sebagai jawaban, Yena pun tidur di temani bibinya.
Sesekali gina menghapus dahi Yena yang berkeringat deras dan menyeka air matanya, menjaganya hingga ia kembali terpejam.
"Apakah Yena mimpi buruk lagi?" tanya Rudi merupakan suami dari gina.
"Iya mas..!!" Ucap gina
"Ya sudah, kamu temani tidur dia saja. aku akan kembali tidur ke kamar." Ujar Rudi
"Iya.." jawab gina
Rudi pun meninggalkan istrinya dan gadis yang bernama Yena tersebut.
Ia memilih untuk kembali tidur di kamarnya.
Rudi dan Gina sudah hampir setahun ini tinggal bersama Yena.
mereka sudah tak memiliki tempat tinggal karena rumah mereka habis untuk melunasi hutang-hutang yang begitu banyak.
Rudi hanya seorang karyawan cafe.
Dengan dalih untuk menemani Yena, mereka tinggal secara gratis di rumah Yena.
Yena yang begitu polos menerima begitu saja, ketika mereka meminta ijin untuk ikut tinggal di rumah Yena.
**
Di lain tempat seorang pemuda dengan pakaian kemeja putih di balut jas hitam, sedang duduk dengan mata yang begitu tajam sebari membuka beberapa lembar kertas di mejanya.
Kelihatannya ia begitu kesal karena sesuatu.
"Dasar bodoh... bagaimana bisa hanya kerjaan sekecil ini, kalian tidak bisa bereskan, Hah..?!!!" Ia melemparkan berkas tersebut di hadapan karyawan lainnya.
"Maaf bos, biar saya periksa ulang.." Ucap seorang karyawan pria, mengambil beberapa lembar yang pria itu lempar
"Saya enggak mau tau ya. besok berkas ini harus sudah selesai dan tersimpan di meja saya." Ucapnya geram,
Ia kembali ke ruangan pribadinya.
"Jika ada yang mencari saya, bilang saya sedang tidak di tempat. Ok Siska?" Ucap pria tersebut pada sekretarisnya.
"Ok.. tuan.. ada yang lainnya tuan?" tanya Siska.
"tidak, kamu boleh pergi." Ucap pria tersebut.
Sekretarisnya pun pergi.
Ia menatap ke kaca jendelanya, hari itu hujan begitu deras.
Entah apa yang sedang di pikirkan pria tersebut, ia menatap kosong keluar jendela.
Lalu ia melangkah memasuki ruangan khusus di dalam kantornya.
ruangan pribadi miliknya, ia melemparkan dirinya di sofa.
terlihat wajahnya yang begitu lelah dan lesu,
ia mengambil dompet di sakunya, menatap foto gadis kecil dan seorang anak lelaki yang tersenyum sembari memegang es krim, dengan senyuman yang begitu bahagia, di dalam dompetnya.
raut wajahnya perlahan begitu tenang, segurat senyum di bibirnya mewakili perasaan hatinya kini.
Ia mengingat kembali semasa kecilnya
"Yuki mau apa?" tanya anak lelaki yang berusia 13 tahun
"kak Bobby.. Yuki ingin es krim coklat kak.." Ucap gadis kecil yang masih berusia 3 tahun itu.
"Ya udah, kakak belikan satu ya..!"
anak laki-laki itu berjalan bersama adik perempuannya yang masih berusia 3 tahun, membeli es krim yang tak jauh dari rumahnya.
"Ini es krim coklat buat Yuki, es krim vanilla buat kakak.." ujar Bobby
"Kak, nanti kalo es krim ku habis dan kakak belum. aku minta punya kakak ya" Ucap gadis kecil itu sambil tertawa lucunya.
"Ia boleh.. tapi, habiskan dulu yang ada ya." Bobby tersenyum sembari mengusap rambut adik kecilnya itu.
Tak lama kemudian, seorang wanita yang merupakan orang tua mereka menghampiri mereka.
"Bahagianya, anak bunda lagi akur.. sini bunda foto dulu, Sayang"
CKKREK...!!
**
Pria tersebut baru tersadar dari lamunannya.
"Ya ampun jam berapa ini?!!" gumamnya
Ia melihat pada jam dinding yang menunjukkan jam 11 malam.
Dari tadi ia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun
"Sepertinya aku kan tidur disini lagi.. lebih baik mandi dulu lah.." Ucapnya.
Ia pun masuk ke kamar mandi tuk membersihkan dirinya dari keringat, dengan alunan musik yang memberikan energi positif untuknya, terdengar pria itu mandi sambil bernyanyi menirukan lagu yang ia dengar dari handphonenya.
Sehabis mandi ia keluar dengan handuk putih yang melingkar di perutnya.
tetesan air masih berjatuhan dari rambutnya, tubuhnya yang putih kekar dan berotot menjadi daya tarik tersendiri untuknya.
"Bukankah kakak mu ini selalu tampan, Yuki?!"
Pria itu tersenyum dan bergumam sendiri di depan kaca melihat bentuk tubuhnya yang seksi.
Ia pun segera mengenakan pakaian yang ia ambil dari lemarinya, mematikan lampu lalu tertidur lelap.
**Bersambung