YENA

YENA
Menjagamu..



Sepanjang Malam pria itu tak tidur sedetikpun, matanya menolak untuk terpejam, ia melirik gadis yang kini tengah tertidur lelap di sampingnya dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.


Pria itu memandangi gadis di sampingnya begitu lekat.


Di genggamannya tangan gadis itu. Jemari-jemari yang semula berkerut efek kehujanan kini kembali normal setelah di beri perawatan oleh dokter, bibir yang berwarna biru gelap karena terlalu lama terguyur air hujan itu kini terlihat kembali merah alami seperti semula, Kulitnya yang pucat kini kembali normal.


Pria itu meletakkan telapak tangannya di dahi gadis yang berada di samping itu.


Suhu badan yang sempat demam tinggi berangsur-angsur turun dan membaik, bibir yang terus berkata 'Kedinginan' itu kini terlihat menikmati tidurnya dan berhenti menggigil.


Sesekali pria itu mengusap dahi gadis di sampingnya, rasa khawatir membuat ia tak bisa memejamkan matanya.


Ia terus terjaga karena khawatir mungkin saja penyakit yang di deritanya gadis bernama Yena itu kambuh Kembali, ia takut Yena akan menjerit-jerit atau kabur dari rumah tanpa sepengetahuannya. Ia yakin sedikit banyaknya masalah ini pasti menjadi beban pikiran gadis di sampingnya.


Sejak kedatangan Yena, pria berusia 28 tahun bernama Bobby itu tak bisa tidur, rasa kantuknya tiba-tiba hilang, ia terus memandangi wajah gadis di sampingnya, sambil memikirkan solusi dan jalan keluar dari masalah baru yang di hadapinya sekarang. Bagaimana pun ia harus menerima kenyataan dan bertanggung jawab dengan buah dari hasil perbuatannya itu.


Bobby pun beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan keluar kamar, di lihatnya jam dinding yang menempel di tembok dengan jarum jam menunjuk pukul 5 Sore hari.


Ia tak menyangka akan berlama-lama di tempat tidurnya hanya untuk menjaga gadis itu, hingga matahari tenggelam kembali.


Perutnya berbunyi pertanda cacing di perutnya minta di beri makan.


"Bagaimana bisa gadis itu tidur sangat lama seperti ini.. Tidur dari semalam dan tak terbangun sekalipun.. malah dia membuat ku begadang seharian.." Batin Bobby


Ia mengambil ponselnya lalu memesan beberapa makanan yang bisa di antar ke rumahnya, sambil menunggu pesanan itu datang ia memutuskan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa lama kemudian..


Setelah mandi dan berganti pakaian dengan penampilan yang rapi dan terlihat lebih segar, Bobby kembali ke kamarnya tempat dimana Yena masih terbuai mimpi, Ia memegang sebuah bungkusan plastik di tangannya.


Ia heran melihat Yena yang masih memejamkan matanya.


"Sudah lebih dari 12 jam dia tidur tapi masih belum bangun juga.." Batin Bobby


Bobby mendekati Yena yang tengah tertidur lelap, kepalanya di codongkan lebih dekat dengan tubuh Yena, bermaksud memeriksa apa gadis itu masih bernafas atau tidak.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Yena yang tiba-tiba membuka matanya, membuat Bobby sangat terkejut dan langsung menegakkan badannya kembali.


"Kamu sudah bangun...??" tanya Bobby


Yena menyenderkan punggungnya di Bed head board (Sandaran punggung yang terdapat pada ranjang).


"Sudah, kamu tadi mau ngapain? Uhuk.. Uhukk..." tanya Yena dengan suara mindeng dan batuk karena kehujanan semalam.


"Aku khawatir dan hanya ingin memeriksa karena kamu tertidur sangat lama.." Ujar Bobby


"Kamu takut aku mati..? itu maksudmu..??" Tanya Yena dengan senyuman di bibirnya.


Melihat Yena bisa tersenyum, Bobby ikut tersenyum ia sangat lega karena Yena bisa tersenyum seperti itu.


Bobby duduk di samping Yena, dengan memberikan bungkusan yang baru ia ambil dari pengantar Go-food.


"Sebentar..."


Bobby mengambil tatakan lalu mengeluarkan isi dari plastik tersebut.


Mata Yena yang awalnya berbinar-binar melihat bungkusan itu, seketika berubah saat melihat isi dari bungkusan yang isinya 2 buah hamburger, satu box hot Chicken, 2 kepal nasi dan 2 kaleng cola. Ia terlihat kecewa karena melihat kenyataan tak sesuai harapan.


"Eum.. Apa kita akan makan junk food Lagi...?!" Ucap Yena tersenyum masam


Bobby menggaruk kepalanya, ia tersadar tak seharusnya ia memesan makanan seperti itu untuk orang sakit.


"Ini bukan Junk food Kok... kan ada nasinya.." Ucap Bobby cengar-cengir


"Iya tapi kamu pesan ayam yang pedas.. kamu ingin sekali membunuhku.." Ucap Yena bergurau


"Kamu jangan bilang seperti itu...?!!! bagaimana pun aku peduli padamu dan bayi kita..." Ujar Bobby membela diri


"Peduli dan malah membelikan ku minuman seperti ini maksudnya...?!!!" Ucap Yena sambil memperlihatkan satu kaleng cola pada Bobby


"Aku lupa..." Ujar Bobby


"Tinggal jangan minum beres kan...??!! kenapa kamu tidak pernah menghargai usahaku untuk berbuat baik padamu sih...?!!! dan hanya bisa marah-marah.." Ucap Bobby terpancing emosi


"Kapan aku marah-marah.. aku tak pernah marah padamu..." Ucap Yena


"Lalu itu apa..?!!" tanya Bobby menadahkan dagunya


"Aku hanya bertanya.. kamu saja yang sangat sensitif dan terus marah-marah padaku.." Jawab Yena tak mau kalah.


"Aakkhhh...." Bobby berteriak keras, membuat Yena mengerjapkan matanya kaget.


"Terserah kamu saja, makan sendiri.. urus dirimu sendiri..." Ucap Bobby kesal yang hengkang dari tempat tidurnya.


"Uhuk.. Uhuk..."


Baru beberapa langkah, ia mendengar suara batuk-batuk yang keluar dari mulut Yena.


Ia mengusap wajahnya, sambil mencoba meredakan amarahnya sendiri.


"Sabar.. sabar..." Batin Bobby


Ia menoleh ke belakang, Yena dengan bibir cemberut menatapnya sambil menyeka air matanya.


Rasanya tak tega membiarkan gadis yang tengah berbadan dua itu menangis terisak seperti itu. Ia pun mengalah dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


Ia melangkah kembali mendekati gadis yang tengah duduk di tempat tidur itu dan duduk di sampingnya.


"Sudahlah.. berhenti menangis.." Ucap Bobby mencoba menyeka air matanya Yena


"Pergilah.. aku bisa mengurus diriku sendiri..." Ucap Yena menolak bersentuhan dengan Bobby


"Ya sudah aku minta maaf ya.. aku salah.. kamu makan ya..." Bobby mencoba berbaikan dengan Yena dengan mencoba menyuapinya.


"Aku bisa makan sendiri...!!" Ucap Yena ketus menyingkirkan tangan Bobby.


Bobby menarik nafas dalam-dalam, ia mencoba menghilang rasa kesalnya karena ucapan gadis keras kepala di hadapannya.


"Apa semua orang hamil sangat cengeng dan keras kepala seperti ini.. sabar.. sabar..." Batin Bobby


"Hei.. pikirkan juga anakku.. jika kamu tak makan bagaimana anakku bisa sehat dan berkembang.." Ujar Bobby


Air mata Yena bercucuran dari pelupuk matanya. Di pikirannya andai ia tak hamil seperti ini mungkin ia bisa hidup lebih baik dan lebih senang, tak perlu bergantung pada pria yang merusak hidupnya itu sekarang.


Bobby menyeka air mata Yena dengan jemari tangannya.


"Sudahlah.. Nanti kita beli makanan baru ya.. apapun yang kamu mau, akan aku belikan ya.. sudahlah harus berapa kali aku minta maaf.." Ucap Bobby dengan suara merendah.


Bobby mengambilnya sendoknya kembali di suapinya Yena dengan penuh kelembutan.


"Nah, gitu dong.. yang banyak makannya.." Ucap Bobby saat Yena melahap suapan yang di berikan Bobby


Yena hanya terdiam sambil mengunyah makanannya, ia mencoba mengendalikan dirinya sendiri.


Di hatinya ia juga tak ingin terjadi apapun pada janinnya dan mencoba mengalah dengan egonya yang tinggi


Catatan penulis :


Hai readers.. aku Kayra im, hari ini aku sempat kesal karena saat pembuatan episode ini aku telah mengetik banyak sampai 700 kata dan tiba-tiba hilang karena aku menekan tombol close tiba-tiba, alhasil aku harus menulis ulang episode ini.


Bagi kalian yang menyukai Novel ku ini tolong berikan tombol like pada seluruh episode ku dan jangan lupa untuk berkomentar.


Aku mohon maaf jika ada salah-salah kata atau typo.


Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca karya ku ini.. 😘😘


Salam


Kayra im