YENA

YENA
Hukuman yang tertunda



Sepasang suami-istri itu tampak duduk di samping tempat tidur.


Dengan badan Bobby bersandar ke head board dan di atas pangkuannya Yena sedang mengobati wajahnya.


Bobby hanya diam dan tersenyum saat jemari Yena menyentuh wajahnya, menempelkan hansaplast di samping alis kirinya.


Tangannya pun tak bisa diam, ia terus mengelus-elus rambut wanita di hadapannya seperti kucing peliharaan.


tanpa bicara lalu mengopres memar di wajah Bobby, dengan bag ice compress bekas perkelahiannya dengan Dimas tadi sore.


"Aaahh..." Teriak Bobby kesakitan saat es batu itu terlalu lama di pipinya.


"Udah diem aja sih.." Ketus Yena


Bobby memajukan kepalanya hingga lebih dekat dengan wajah Yena, ia dapat merasakan sendiri degup jantung yang berdebar kencang hingga terdengar oleh telinganya sendiri.


Bobby terus menatap Yena tanpa berkedip Namun, Yena masih tidak menghiraukannya.


"Kamu dengar tidak suara berisik..?" tanya Bobby


Namun, Yena tak menjawabnya dan hanya diam..


"Kamu yakin tidak mendengar suara sekencang itu..?? apa kita harus lari..??" tanya Bobby


"Kenapa harus lari..?? apa ada bom..?" tanya Yena kaget


"Jantung aku serasa mau meledak liat kamu sedekat ini..." Ucap Bobby tersenyum


Raut wajah Yena langsung berubah cemberut, ia melempar bag ice compress itu ke wajah Bobby.


"Kompres sendiri..." Ketus Yena hendak melangkahkan kakinya Namun, dengan sergap Bobby menariknya hingga terduduk kembali di pangkuannya.


"Belum selesai..." Ujar Bobby mengasongi bag ice itu lagi.


Meski dengan wajah datar Yena kembali mengompres wajah suaminya kembali.


"Aku kan udah minta maaf.. kamu masih belum maafin..?" tanya Bobby menyelipkan beberapa helai rambut Yena ke belakang telinganya.


"Jangan banyak omong.. nanti memarnya makin parah.." Ucap Yena tak menggubris perkataan Bobby


"Pas liat deket gini harusnya aku foto kamu ya.." Bobby mencoba mencari handphonenya dengan meraba kantong celana lalu matanya melirik ka arah meja, ia melihat hp nya tergeletak di atas meja.


Yena memukul tangannya saat hendak mengambil handphone


"Kamu ini masih mau di obatin gak sih...!!" Ucap Yena sinis


"Aku cuma mau foto kamu..." Ujar Bobby


"Buat apa..??!!" tanya Yena


"Buat tunjukin ke temen-temen aku kalo bidadari itu beneran ada.." Senyum Bobby mencoba membuat gombalan agar Yena berhenti merajuk


Alhasil Yena menutup mulutnya dengan sebelah tangan, ia menahan senyum yang terlambat ia sembunyikan.


"Nah, gitu dong senyum.. makin cantik kan.." Ucap Bobby mencubit pipi Yena


"Jujur deh sama aku.. kamu berhenti ngambek karena ciuman itu kan..??" Ledek Bobby menghancurkan moment romantis yang baru tercipta


"Bisa gak sih, gak usah bahas yang kau gitu.. kamu tuh.. ih.. ngeselin banget..." Ucap Yena kembali marah dengan melempar bag ice ke lantai.


"Eh, gak.. gak.. aku becanda.." Bobby menarik badan Yena yang hendak pergi darinya.


"Maafin aku ya.. maafin.." Bobby memeluk tubuh Yena


"Sebenernya aku kok yang terobsesi sama bibir bebek kamu.." Ucap Bobby terkekeh


Dengan segera Yena mencubit perut Bobby.


"Aaaa... sakit..." Teriak Bobby


"Rasain tuh.. aku pelintir.." Ucap Yena


"Kamu sadis banget.. udah tau suaminya lagi sakit.. malah di tambahin bukannya di obatin.." Ucap Bobby


"Dari tadi aku ngobatin kamu lho.." Ucap Yena


tangan Bobby mulai menggerayang kesana-kemari..


"Apa sih Bob.." Ketus Yena menyikirkan tangan Bobby


"Enggak boleh..??" tanya Bobby penuh harapan.


Yena mengerti apa yang di inginkan suaminya sebenarnya Namun, ia masih ingin menghukum tindakan Bobby sore tadi.


"Malam ini gak ada yang kaya gitu.." Jawab Yena


"Gak akh.. pokoknya aku gak mau.." Tolak Yena.


"Gak maunya nanti aja.. aku di rumah cuman dua hari Lho sayang.. kamu gak mau kasih aku vitamin lebih..." Pintanya dengan melas sambil terus mengecup leher Yena


Yena berpikir kembali ia baru ingat bahwa Bobby akan keluar negeri demi urusan bisnisnya.


ia terdiam sebentar, membiarkan Bobby berbuat sesukanya, ia ingin memberikan pelajaran pada Bobby bukan pelayanan tapi, ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena hanya ini yang ia bisa berikan sebelum suaminya pergi meninggalkannya.


"Tunggu.. kamu berapa hari disana..??" tanya Yena menghentikan Bobby, saat tubuhnya mulai di angkat ke tengah ranjang.


"Aku juga kurang tau.. tunggu urusan aku selesai ya.." Ucap Bobby


"Iya tapi kapan..?? kamu punya schedule kan..??!!!" tanya Yena menahan tubuh Bobby yang telah membuka kancing depan piyamanya.


"Iya punya.. tapi, aku mau ngatasin masalah disana.. pokoknya aku usahain paling lama sebulan ya.." Ucap Bobby mencoba menyerang bibir Yena.


"Selama itu...?? kamu yakin kamu tahan??? kamu yakin kamu bisa jaga diri..??" tanya Yena menghindari kecupan Bobby


"Kamu percaya sama aku Sayang.." Bobby menatap dalam mata Yena


"Kalau aku gak percaya kamu gimana..??" tanya Yena


"Pokonya kamu harus percaya sama aku.. aku laki-laki satu-satunya buat kamu sekarang.. aku yang bakal tanggungjawab kalau ada apa-apa sama kamu.. aku udah punya kamu, kita punya handphone untuk berbagi kabar, maka aku gak perlu yang lain.. apa yang harus aku lakuin biar kamu percaya..??" tanya Bobby


"Aku bingung..." Jawab Yena mengalihkan pandangannya


Bobby melempar diri ke kasur, ia kesal pada dirinya sendiri, kenapa harus membuat Yena marah sore tadi hingga susah untuk merayunya lagi..


padahal, dia benar-benar tidak ada apapun dengan Irene.


"Ini sudah malam.. Ya sudah kamu tidur saja.." Ucap Bobby membuka seluruh pakaian hingga terlihat dadanya yang kekar.


"Kenapa buka pakaian..??" tanya Yena


"Panas... masih tanya..?!" Ucap Bobby sedikit geram, ia menyelimuti Yena yang hendak tidur.


"Tidur ya sayang.." Ucap Bobby


Cupp...


Bobby mencium kening Yena.


jika melihat wajah wanita itu di sampingnya, Ia tak bisa tidur tanpa melakukan apapun.


Maka dari itu ia memutuskan untuk keluar kamar, rasa panas di tubuhnya mungkin akan hilang jika ia mandi, pikirnya.


"Kamu mau kemana..??" tanya Yena melihat Bobby melangkahkan kaki.


"Tidur di luar.." Ucap Bobby


"Udah tidur di sini.. nanti di marahin ibu.." Ujar Yena terbangun


"Bodo akh..." Jawab Bobby


"Sini dulu..." Kata Yena saat Bobby sudah berada di depan pintu kamar


"Apa sih... panas gua deket lu.." Ucap Bobby


"Ia makanya sini dulu.." Ucap Yena


"Apa sih.. mau mandi gerah gua.." Ucap Bobby


"Ngapain jam segini mandi..?" tanya Yena


"Tau akh..." Jawab Bobby


"Ih.. ngambek.. sini dulu deh, bentar aja.." Ucap Yena melambaikan tangan


Dengan wajah kecut, Bobby melangkah mendekati Yena, Ia duduk di atas kasur menghadap Yena.


"Ya udah ayokk..." Ucap Yena


"Ayokk apaan..??" Tanya Bobby


"Ya udah kalo kamu pilih mandi sendiri.. sana mandi sendiri.." Usir Yena menarik selimut.


Bobby baru terpikir yang di maksud Yena.


"Aku lebih milih di mandiin deh..." ucap Bobby tersenyum, lalu masuk ke dalam selimut dan mulai beraksi.


"pelan-pelan.. geli.. hahaha..." Ucap Yena


"Udah malem nanggung.." Jawab Bobby