
Sehabis mandi Yena memakai satu stel piyama berwarna hijau tua.
Ia telah bersiap untuk tidur di ranjangnya.
Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam kamar yang kebetulan belum ia kunci.
"Ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Yena pada pria itu.
pria itu duduk di tepi ranjang, ia tersenyum kecil melihat buket dan boneka besar di sampingnya.
"Jadi benar kata Daniel, kamu berpacaran dengan Dimas?" tanya pria itu
"Kalau iya kenapa? itu bukan urusanmu..?! kenapa kamu repot-repot datang kesini hanya untuk bertanya hal yang tidak penting seperti itu?" tanya Yena
"Bagaimana bisa kamu berkencan dengan pria lain setelah tidur dengan ku? Kamu tidak takut?, aku selalu memikirkan semua yang terjadi malam itu.." Ucap pria itu
"Tutup mulut mu.." Yena melempar handuk ke arah pria itu dengan mata melotot, pandangannya panik ke arah pintu ia takut seseorang mendengar di luar sana.
"Jangan bilang kamu, mengatakan ini semua pada Daniel?!!!" tanya Yena
"Ini urusan kita berdua kenapa aku harus melibatkan Daniel ke dalamnya?!" Jawab pria itu dengan senyuman.
"Kamu bodoh.. bagaimana kalau Irene mendengar dari luar?! apa kamu tidak takut kehilangan dia?" tanya Yena
"Malah gua lebih takut Lo hamil Yena...!!!" Ucap pria itu dengan penuh penekanan
Yena mengambil sebuah gelas di meja kecil dekat tempat tidurnya, di peggangnya gelas tersebut yang di todongkan ke arah Bobby pria yang sedari tadi terus memprovokasinya.
"Lu ngomong sekali lagi.. gua lempar gelas ini ke muka lu.." Ujar Yena menggertak
Bobby kaget melihat Yena semarah itu
"Lu sabar.. sabar.. oke gua minta maaf, Lu yakin mau pindah dari sini besok?" tanya Bobby
"Kenapa enggak?!" Ucap Yena
Bobby mengingat kembali kejadian saat Yena di jembatan, gadis itu seperti bukan dirinya.
"Gua khawatir sama lu.." Ucap Bobby
"Gua lebih khawatir kalo gua terus disini..!!!" Ucap Yena membuat Bobby bungkam
"Bobby.. Bob..." Suara seorang wanita memanggil-manggil namanya di luar pintu.
"Iya aku disini.. masuk aja.." Ucap Bobby
Wanita itu membuka pintu yang tak terkunci, ia mengerutkan dahinya.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya wanita itu
"Gak ada apa-apa kok Sayang, ini Yena minta bantuan untuk pindahan.." Ucap Bobby berbohong
"Oh, jadi Yena mau pindah?" tanya Irene
"Iya.." Jawab Yena dengan suara lemah
"Kapan..?" tanya Irene
"Besok.." Jawab Yena
"Baguslah.." Irene tersenyum sambil memanggut-manggutkan kepalanya
"Eh, ia kamu perlu apa sayang?" tanya Bobby
"Aku lapar..." Ucap Irene dengan suara manja
"Ya sudah, kita pesan Go-food saja.." Ucap Bobby membuat gadis yang berdiri di dekat pintu itu tersenyum.
"Kamu gak laper?" tanya Bobby
"Bagaimana bisa aku makan semeja dengan kamu orang yang aku benci dan kekasihmu yang membenciku.." Batin Yena
"Krrrryyuukkk...."
Suara perut Yena minta di isi.
"Ya, nanti aku akan datang setelah makanan datang.. beritahu aku ya, bila makanannya sudah datang, aku harus berbenah dulu.." Ucap Yena beralasan padahal ia hanya tak ingin melihat pasangan kekasih yang sangat menyebalkan itu.
"Baik.. nanti akan ku beritahu.." Ucap Bobby menutup pintu lalu pergi dengan Irene, meninggalkan Yena sendirian di kamarnya.
Handphone Yena berdering di lihatnya pesan WhatsApp dari Dimas
Dimas : Apa kamu sudah sampai ke rumah? đ
Yena : Sudah dari tadi đ
Dimas : Apa yang akan kamu lakukan besok? bagaimana kalau kita ke taman? atau nonton?
Yena : Maaf besok aku tak bisa..đ
Yena : Ada hal yang harus aku lakukan
Dimas : Baiklah... âšī¸
Yena : Aku minta maaf.. đŖ
Dimas : Tak apa-apa.. makanlah, lalu tidur ini sudah malam..
Tokk.. Tokk..
seseorang mengetuk pintu, kemudian langsung membuka pintu tersebut.
"Ya ampun.. kamu mengagetkanku Daniel...!!!" ucap Yena yang gregetan
"Hehe.. benarkah?" Daniel cengengesan
"Untuk apa mengetuk pintu kalau langsung masuk tanpa di suruh..?!!" Ucap Yena
"Itulah pesona ku..." Ucap Daniel tertawa
"Dasar orang gila.. gak nyambung.." Ucap Yena melempar Daniel dengan bantal
"Wah, kamu lempar bantal suruh aku tidur dengan mu?!!" Ucap Daniel tersenyum lebar
"Apaan..?!! Kagak.. kagak.." Jawab Yena
"Oh, iya gua mau tanya. rumahnya Jesicca itu dimana?" tanya Daniel
"Hmm.. gak tau memang kenapa?" tanya Yena
"Lu gak pernah main ke rumahnya?" tanya Daniel
"Eum.. enggak.. emangnya kenapa" tanya Yena
"Gak nanya aja.. tadi gua habis teleponan sama dia.." Ucap Daniel
"Lu tau nomor dia dari siapa??? kalian tukeran nomor?" tanya Yena
"Enggak.. gua yang minta.." Gumam Daniel
"Eum.. gitu.. eh, Makanannya udah nyampe belum?" tanya Yena
"Hampir aja gua lupa.. ia gua ke sini mau kasih tau lu.. makannya udah ada. ayokk makan bareng.." Ajak Daniel.
Mereka berempat makan di satu meja yang sama..
"Bang gua tidur di mana?" Tanya Daniel mengingat kamar di rumah Bobby telah terisi penuh
"Di sofa.." Jawab Bobby sambil mengunyah makanan
"Sama Lu..??!!!" tanya Daniel
"Gua tidur sama Irene di kamar, Lu ya di luar.." Jawab Bobby
"Dih curang..!!" balas Daniel
" Ya, Masa tidur bertiga..?! Lu pernah dengar gak, kalo cewek sama cowok berduaan yang ke tiganya Siapa? Setan.. Lu mau jadi Setannya?" Ucap Bobby yang kemudian memasukan sesuap makanan ke mulutnya.
"Enak banget nyebut setan ke gua..." Ucap Daniel
"Ya udah lu terima aja tidur di luar.." Ucap Bobby
"Apaan?!! kagak.. kagak.. mending gua tidur sama Yena ajalah.." Jawab Daniel membuat Yena tersedak.
Bobby membantu Yena mengambil segelas air, di tegukannya air itu ke mulut Yena
"Tuh, gara-gara kalian ngomong terus.. kalau Yena nya gak masalah ya udah kalian tidur sekamar aja.." Irene membuka suara sambil menatap kekasihnya yang begitu perhatian pada wanita lain.
Yena mengambil sehelai tisu membersihkan bibirnya dari sisa-sisa makanan.
"Apaan?!!! Enggak.. enggak.." Ucap Bobby
"Ya udah Yena tidur sam Irene aja.." Daniel memberikan sarannya
Mata kedua wanita itu berpandangan seperti ada sambungan listrik di keduanya, mereka sama-sama tak menyukai satu sama lain.
"Aku gak bisa tidur dengan dia.." Ucap Irene
"Ya udah Kakak tidur sama Aku, Bobby tidur dengan Yena.." Ucap Daniel tertawa
Ucapan Daniel sontak membuat semua orang di meja itu bereaksi sama.. saat Daniel mengusulkan hal itu, Mereka semua memelototi Daniel membuatnya segera menutup mulut.
"Ya sudah.. aku tidur berdua di luar dengan mu.. biar mereka tidur di kamar.." Ujar Bobby
terlihat raut wajah Irene menunjukkan sedikit rasa kecewa dengan keputusan Bobby, kalau bukan karena Daniel yang begitu manja, mungkin ia bisa menghabiskan malam dengan kekasihnya itu.