
"Ini..." Yena meletakan kartu kredit di atas meja, Bobby tengah asyik duduk di sofa sambil menyaksikan pertandingan bola di televisi langsung terkejut.
"Apa nih..???" matanya berganti fokus menatap Yena
"Aku gak pengen terlalu bergantung sama kamu.." Ucap Yena
"terus..??" Bobby
"Terus? apa maksudnya?" tanya Yena
"Maksud gua, terus kenapa lu kasih ini ke gua? balikin ke gua?" tanya Bobby
"Kan aku udah bilang tadi ke kamu.. aku udah gak pengen bergantung sama kamu, aku udah gak mau nyusahin kamu.." Ucap Yena
"Nyusahin? bagi gua lu gak nyusahin kok.." Jawab Bobby
"Ya udah sih, aku cuma mau balikin itu" Ucap Yena mulai kesal dengan sikap Bobby yang ribet
"Ya mentang-mentang punya gaji sekarang ya.." Ucap Bobby
"Kok kamu ngomong nya gitu?" tanya Yena
"Iya sekarang kamu kan punya Dimas yang setiap bulan ngasih uang.." Ucap Bobby
"Dimas itu bos aku, aku cuma karyawan..!! dia kasih aku upah karena aku kerja.. bukan di kasih uang karena aku minta.." Ucap Yena mulai kesal
"Terus sekarang kamu cuma mau nerima pemberian Dimas kan?" tanya Bobby
"Kok ngomongnya kaya gitu sih??, gini ya Bob, aku balikin kartu kredit ini karena aku gak mau ngerepotin kamu terus-terusan. aku juga gak pernah minta atau mau uang Dimas yang bukan hak aku, intinya aku punya uang karena aku kerja, makanya aku balikin kartu ini.. kok makin hari kamu makin ngeselin ya..?!!" Ucap Yena mulai jengkel dengan sikap Bobby
"Lu kesel ke gua karena gua jelek-jelekin Dimas? Lu kesel karena lu emang Deket kan sama dia? karena lu selalu bela dia..!!" Ucap Bobby berdiri, terlihat matanya tenggelam dalam emosi.
"Kok Dimas sih?? Lu tuh ya.. gak tau akh.. pusing gua.." Yena tak habis pikir kenapa Bobby bisa berfikir seperti itu, padahal ia hanya berniat mengembalikan kartu kredit itu karena ia merasa dengan gaji nya ia sudah merasa cukup. tapi, Bobby malah menyikapinya dengan emosi.
membuatnya gerah dan pergi ke kamarnya.
"Eh, mau kemana? gua belum selesai ngomong..!!" teriak Bobby
"Marah-marah aja sama tembok.. d kiranya cuma dia yang bisa marah, gua juga orang yang bisa marah.." Ucap Yena menggerutu
Ponsel Bobby berdering hampir saja ia melupakan janjinya bersama Irene untuk pergi ke cafe.
"Hallo.. iya ay.. aku mau berangkat ini." Bobby mengangkat telepon
"Ya ampun baru mau berangkat? Cepetan aku tungguin.." ucap Irene dengan penuh kekecewaan
"Ya udah aku ke sana sekarang.." Ucap Bobby mengakhiri telepon.
Bobby pergi membiarkan Yena yang mengurung diri di kamar karena, perdebatan mereka barusan.
Ia melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa menit kemudian, ia sampai di MokaCafe cafe tempat Ia dan Irene berencana bertemu di sana.
sesampainya di sana terlihat Irene dengan bibir yang manyun menyedot segelas Ice coffee jelly float yang hampir habis.
Bobby menghampiri dengan nafas tersengal-sengal.
"Maaf ya ay.." Ucap Bobby dengan nafas ngos-ngosan
"udah 20 menit aku nunggu kamu, kamu kemana aja sih..?" tanya Irene membuang muka tak ingin bertatapan dengan Bobby
"Dih.. marah.. udah dong. ini kan aku dateng.. kan aku udah minta maaf" ucap Bobby
"Jangan bilang kamu telat gara-gara Yena.." ucap Irene memincingkan matanya.
Bobby menelan ludah bulat-bulat, bagaimana Irene bisa menebak dengan benar seperti itu.
Ia tak mungkin berkata jujur karena, itu semua hanya akan membuat masalah untuk hubungannya dengan Irene.
"Kok Yena sih? aku tadi tuh dalet telepon dari client," Ujar Bobby berbohong
"Bukannya telepon bisa di terima di mana aja, tanpa mengganggu langkah kaki ya??" Irene menatap sinis Bobby sepertinya ia tau Bobby berbohong, ketara sekali saat ia mengeluarkan alasan yang tak masuk logika.
Bobby takut kebohongannya terbongkar, ia mendekati Irene dan duduk berdekatan dengannya.
"Maafin dong ya.." Ucap Bobby dengan senyuman di bibirnya,
"Apa sih deket-deket gerah akh.." Irene menolak saat tangan Bobby mulai mendekap tubuhnya.
"Udahlah Jangan marah-marah lagi.." Ucap Bobby tak menyerah meski Irene berontak
"Ini tempat umum Lho.." Irene memincingkan matanya
"Ya udah kita ke tempat kamu aja.." ucap Bobby
"Ya sudah ayokk.." Irene menyetujui ajakan Bobby.
mereka meninggalkan MokaCafe dan pergi menuju kediaman Irene.
Bobby sudah tak asing lagi bagi Irene dan orang tuanya. mereka bahkan sangat menyetujui Irene berhubungan dengan Bobby, meski tau Bobby dari keluarga broken home, tak membuat pandangan negatif bagi keluarga gadis yang dicintainya itu.
Sesampainya di sana Bobby dan Irene msuk ke rumah, rumah yang begitu besar itu terlihat sepi penghuni.
"Bunda ke mana ay?" tanya Bobby
"Luar kota.." Jawab Irene ketus, ia berjalan menaiki anak tangga.
"Duh.. yang masih ngambek jawabnya ketus bangett.." Ucap Bobby yang mengikuti langkahnya dari belakang
"Apaan sih, ngikut ngikut..?!!" Ucap Irene dengan nada sinis berhenti menatap Bobby, lalu melangkah kembali
"terus yang di rumah siapa aja? Bokap?" tanya Bobby
"Ada Mbak Sumi. papah keluar kota.." Jawabnya tanpa melihat Bobby
"Mmm.. gitu, kamu gak ke butik?" tanya Bobby
"Besok.." Jawab Irene yang telah sampai di pintu depan kamarnya, di bukalah pintu itu lalu ia masuk ke kamarnya.
"Ketus bangett.. udah lah ngambeknya.." ucap Bobby yang ikut masuk ke dalam kamarnya.
"Ngapain lu ikut masuk?" tanya Irene
"Lu aja maen masuk-masuk ke kamar gua, gua gak papa.." Jawab Bobby
Irene masih terlihat marah, ia tak sungkan merebahkan diri di kasurnya, meski ia Bobby di sampingnya.
Bobby ikut berbaring di samping Irene.
"Lu jawab yang jujur sama gua, Lu suka sama Yena?" tanya Irene membalikkan wajahnya hingga berhadapan dengan Bobby
"Tapi Lu bohong kan sama gua?" tanya Irene
"Bohong apa sayang? kapan gua bohong sama lu?" tanya Bobby sembari menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga Irene.
"Lu bohong kan pas lu bilang lu telat karena ada telepon dari client?" tanya Irene
"Gak lah sayang.. masa gua bohong sama lu.." Ujar Bobby
"Yang bener lu kalau ngomong..!!" Irene menepis tangan Bobby yang terus menyentuh wajahnya.
"Beneran sayang.. udahlah, lu gak percaya sama gua..??" tanya Bobby membuat gadis di hadapannya bungkam.
Ia mendekatkan wajahnya, hingga deru nafas keduanya saling bertemu dan terdengar di telinga, pria itu memegang kedua belah pipi kekasihnya ia membuat sebuah ciuman mesra tak ada suara lain di kamar itu kecuali hanya deru nafas dan suara decak bibir.
tiba-tiba suara ponsel milik Irene berbunyi, tak seperti biasanya ia memakai penggalan sebuah lagu Jepang untuk panggilan teleponnya
"Soba ni iru koto nanigenai kono shunkan mo wasure wa shinai yo
Tabidachi no hi te wo furutoki egao de irareru youni
Himawari no youna massuguna sono yasashisa wo nukumori wo zenbu
Kaeshitai keredo kimi no koto dakara mou juubun da yotte kitto yuu kana"
Bobby awalnya tak perduli dengan suara ponsel itu dan melanjutkan kemesraannya dengan Irene.
namun, setelah ia sadar, ia menghentikan kegiatannya.
ia yang mengerti bahasa Jepang dapat memahami isi penggalan lagu itu, ia bertanya-tanya kenapa Irene tiba-tiba menjadikan penggalan lagu itu sebagai nada dering nya.
ia bukan orang bodoh.. pasti Irene memiliki alasan di balik ia menjadikan lagu itu sebagai nada dering handphone nya.
Sedangkan arti dari lagu itu adalah
"Jangan pernah lupakan apapun tentang momen kebersamaan kita ini
Agar ketika hari kepergianku kita bersalaman dengan wajah tersenyum
Kau yang lembut seperti bunga matahari dan segala kehangatannya itu
Jika aku ingin kembali, bisakah kau katakan kau tak lagi ragu?"
tentu saja Bobby bertanya-tanya apakah lagu ini untuk Dimas? karena tak mungkin lagu ini mengingatkan Irene tentangnya.
Sedangkan Bobby tak pernah mengatakan perpisahan dan hubungan mereka sedang baik-baik saja saat ini.
Bobby langsung mengambil ponsel Irene, di lihatnya hp Irene.
"Dimas lagi.. Dimas.. lagi.." Ucapnya kesal, ketika melihat bahwa Panggilan telepon masuk tadi adalah Dimas
ia heran kenapa ia terus saja berurusan dengan pria yang bernama 'Dimas', seolah tak ada orang lain di muka bumi ini untuk menjadi lawannya.
Di rumah ia harus berdebat dengan Yena lantaran Dimas dan sekarang saat ia sedang bersama Irene nama 'Dimas' kembali menjadi persoalan
Dengan cepat Irene mengambil handphonenya yang berada di genggaman Bobby, ia tahu jika saja Bobby sangat marah ponselnya akan di banting hingga tak bisa berfungsi lagi.
"Coba jelasin ke aku.. maksud semua ini apa?" tanya Bobby
"Jelasin apa Bob?" tanya Irene dengan rasa takut di dadanya
"Semuanya.." Ucap Bobby
"Aku gak ngerti maksud kamu.." Ucap Irene
"Aku tau lagu itu Himawari no Yakusoku dari Motohiro Hata.. kan??" tanya Bobby
"Iya terus kenapa? kok kamu marah-marah cuma gara-gara lagu sih?" tanya Irene
"Rin.. Gua bukan orang bodoh, itu pasti ada sangkut pautnya sama Dimas kan? Lu gak perlu bohong sama gua.." Ucap Bobby dengan suara meninggi
"bohong apa sih sayang??" Irene bertanya dengan suara rendah
"Jangan pernah lupakan apapun tentang momen kebersamaan kita ini
Agar ketika hari kepergianku kita bersalaman dengan wajah tersenyum
Kau yang lembut seperti bunga matahari dan segala kehangatannya itu
Jika aku ingin kembali, bisakah kau katakan kau tak lagi ragu?.. maksud Lu kalo lu masih cinta sama Dimas dan Dimas mau terima lu, terus kalian balikan lagi gitu?? Otak lu dimana Ay??, Lu masih cinta sama Dimas??, Lu cemburu sama gua yang dekat sama Yena.. tapi lu sendiri, masih inget bahkan masih cinta sama Dimas.. Lu gak mikirin perasaan gua Rin?, bahkan tanpa sepengetahuan gua lu masih berhubungan sama Dimas padahal udah berapa kali no dia gua Black list di hp lu, tapi pasti lu hapus lagi kan?, Lu egois banget ternyata ya?!!," Cecar Bobby dengan wajah penuh kekecewaan
Irene terdiam menundukan kepala, ia tertangkap basah dan tak bisa mengelak bahwa ia memang bersalah.
Semua yang di katakan Bobby memang benar, ia tak yakin menyukai Bobby seperti dulu.
"Kenapa diem? Biar gua datengin ya tuh orang.. dia ganggu hidup gua terus." ucap Bobby dengan penuh emosi hendak berdiri
"Udah Bob, udah... aku minta maaf" Ucap Irene
"Ay.. gua minta sama lu.. lu jujur sama gua, kita udah pacaran berapa lam Ay? kita bukan bocah lagi ay, yang terus terusan putus nyambung.. putus nyambung.." Ucap Bobby
"Makanya itu aku minta maaf sama kamu.." Irene memegang kedua tangan Bobby
"Kamu tau.. dulu waktu kita Sekolah, teman-teman ku banyak yang menyukaimu. kamu menjadi cowok populer yang ingin mereka jadikan pacar. tak lama setelah itu kamu bilang menyukaiku, aku hanya ingin merasakan rasanya menjadi pacar dari seorang pria ideal. tapi, itu hanya sebuah ambisi tetap saja hatiku berdebar untuk orang lain, hatiku menyukai orang berbeda.." Ucap Irene
Bobby melepaskan tangannya dari Irene, mukanya berubah masam.
"heuh.. alasanmu sungguh tak masuk akal. bilang saja bahwa, kamu menyukai Dimas sejak dulu?, begitu kan?, lalu untuk apa kita bersama? kamu selalu tersenyum saat bersama ku?, kita melewati banyak moment romantis dan kamu terlihat bahagia, sekarang kamu bilang kamu tak pernah menyukai ku? kamu bercanda? berarti ciuman tadi hanya akting?.. Wah.. aku harus menyikapinya seperti apa lagi?" tanya Bobby
"Bob, lebih baik kita..........."
"Berhenti..." Kata Bobby dengan suara membentak ia tau apa yang hendak di ucapkan Irene, sebuah kata perpisahan yang tak pernah ingin di dengarnya.
"Kamu pikir selama ini aku bercanda padamu? Akhir-akhir ini bahkan aku berfikir untuk melamar mu, menjadi kan kamu istri ku.. tapi kenapa begini?? coba fikir-fikir kembali Ay.. aku benar-benar mencintai mu.." Bobby mencoba meyakinkan Irene, ia mencegah hubungan yang selama ini ia bina kandas begitu saja..
Bobby mengambil ponsel Irene.
"Irene.. sebelumnya kamu juga masih berhubungan dengan Dimas. aku tau Rin, aku diem.. aku gak mau kita terpisah dan berakhir lagi.. aku yakin kamu cinta sama aku, kamu cuma goyah karena Dimas datang di hidup kita kan? aku bakal anggap kita gak pernah bahas ini. kita mulai lagi ya..? aku yakin lambat laun rasa cinta kamu ke aku pasti balik lagi kaya dulu ya.." Bobby memegang kedua tangan Irene, gadis itu menunduk dengan air mata yang entah sejak kapan mulai mengalir.
"Kamu baik banget sama aku Bob, tapi aku selalu nyakitin kamu.. kamu berhak mendapatkan yang lebih pantas dari aku" Irene menariik perlahan tangannya
"Gak Sayang, kamu gak pernah nyakitin aku.. kalau kamu merasa bersalah padaku maka berubahlah.. aku yakin rasa sayang dan rasa cinta kamu nanti akan balik lagi" Ucap Bobby memeluk tubuh Irene
Ia tak ingin mengakhiri hubungannya dengan Irene hanya karena Dimas lagi.
ia tak ingin merelakan Irene begitu saja.
ia hanya tak mempercayainya semua omong kosong yang Irene katakan, ia yakin bahwa dia dan Irene adalah pasangan yang telah di takdirkan Tuhan.