
Malam itu Yena sulit memejamkan matanya, meski ia telah berbaring di tempat tidur, namun ia terlihat sangat resah dan gelisah. beberapa kali ia mengubah posisi tidurnya tapi tetap saja matanya masih tampak segar meski badannya meminta beristirahat. ia ingin sekali tidur tapi hatinya terus penasaran menahan kerinduan.
Sesekali ia melihat layar ponselnya Namun, tak ada panggilan satupun masuk di Hp nya.
"Dek.. kamu ini kenapa sih..?? kok gak mau tidur..?? kamu kangen sama ayahmu ya..??" Yena bergumam sendiri sambil mengusap perutnya.
Yena telah capek seharian menangis hingga matanya sembab. Namun, Bobby tak juga ada kabar.
Sekarang jam berapa disana?? apa dia sudah tidur..?? aku sangat gelisah tak melihatnya sehari saja, bagaimana bisa aku tidur terlelap dengan hati yang penuh kekhawatiran. Gumam Yena di dalam hati.
Yena mengambil Handphonenya ia mencoba menelpon Bobby, nomornya aktif hanya saja Bobby tak menjawab teleponnya.
Andai saja Yena tau bahwa Bobby sekarang telah terlelap tidur mungkin ia takan secemas itu.
Sesekali Yena pergi ke ruang tengah menonton TV sambil tiduran di sofa Namun, ia tak fokus dengan apa yang ia tonton pikirannya jauh melanglang memikirkan suaminya yang sedang mengembang tugas jauh disana.
"Nyonya.. apa ada ingin sesuatu biar saya buatkan..??" tanya seorang pelayan menghampiri Yena.
"Akh.. tidak usah, sebentar lagi aku akan tidur kok.." Jawab seringai memberikan senyuman
"Baiklah, tidurlah nyonya.. ini sudah malam, tidak baik untuk wanita hamil.." Ujar pelayan tersebut.
Kenapa pelayan itu bisa tau aku sedang hamil?? apa perutku sudah tampak besar?? batin Yena
"Ya, terimakasih.. tidurlah, aku akan kembali ke kamar.." Ujar Yena
Menurut ku Bobby terlalu berlebihan, untuk apa dia memperkerjakan banyak pelayan di rumah ini dan bagaimana dia tau bahwa aku sedang mengandung?? apa Daniel yang memberi tahu ke semua orang di rumah ini?? ataukah Bobby sendiri??. Ia bergumam di hatinya.
"Baik Nyonya selamat malam..." Ucap pelayan wanita itu
"Iya.. malam.." Jawab Yena kembali masuk kamar.
Jam menunjukkan pukul 2 pagi, berarti Bobby di sana sudah jam 4 subuh.
Yena berbaring di tempat tidur, ia tak memikirkan apapun selain ayah dari bayi yang ia kandung.
Ia mengingat kembali bagaimana hangatnya sikap Bobby selama ini padanya bahkan, sebelum Bobby menjadi suaminya.
Bobby memberikan perhatian dan kebutuhan finansialnya.
Semenjak bertemu dengan Bobby hidupnya tercukupi dari segi material maupun rohaninya.
Bobby memberikannya kenyamanan dan keamanan, Ia telah lupa kapan terakhir kali ia mengalami mimpi buruk yang membuatnya tak bisa tidur setiap hari.
Bobby membuatnya melupakan mimpi buruknya sedikit demi sedikit, pria itu memberikan banyak perhatian yang tak ia sadari, pria itu juga obat apuh dari trauma yang bertahun-tahun hinggap di dirinya dan kini ia hanya merenung sambil menyesali apa yang telah ia perbuat pada Bobby.
Wanita itu menangis di gelapnya malam, sambil terus mencoba menelpon suaminya dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Ia tak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Bobby saat ini, yang pasti wanita itu telah ada di puncak kerinduan, ia tak bisa memejamkan matanya sampai ia mendengar suara pria yang biasa mengganggu tidurnya kemarin-kemarin.
"Hallo..."
Bobby mengangkat telepon dengan suara serak khas bangun tidur, matanya masih setengah terpejam, ia belum benar-benar sadar dari mimpinya.
"Heh.. kenapa kamu tidak menelpon ku...??? Hiks.. hiks.."
Air matanya kembali tumpah ketika Bobby menerima panggilan teleponnya setelah berkali-kali ia tak mengangkatnya.
Mata Bobby langsung melotot, Ia sangat terkejut mendengar suara Yena dengan tangisannya yang menjadi-jadi, kesadaran pun langsung kembali sepenuhnya, ia duduk di tepi tempat tidur dengan hati yang berdegup kencang.
sambil memegang handphonenya, ia melihat ke jam tangan yang masih di pakainya, saking capeknya ia tak sempat membukanya dan tidur dengan jam yang masih menempel di tangannya.
Apa yang di kerjakan hari ini Daniel, kenapa Yena bisa menangis seperti ini. Batinnya
"Sayang.. pelan-pelan ngomongnya ada apa?? apa terjadi sesuatu di rumah?? kenapa kamu menangis seperti itu..?? biar aku suruh Daniel ke rumah ya..??" Ucap Bobby mencoba untuk tidak panik meski hatinya sudah merasa khawatir sekali, jika jarak mereka dekat mungkin meski malam sudah sunyi seperti ini, ia akan tetap nekat menemui Yena. hanya saja jarak mereka sekarang benar-benar jauh.
Tangisan Yena makin keras ketika Bobby masih bersikap ramah padanya, meski ia berkata dengan nada kasar.
"Heii.. sayang.. cepat katakan padaku, apa yang terjadi heemmm?? jangan buat aku takut.." Ucap Bobby
Yena masih menangis sesenggukan sambil mendengarkan suara Bobby.
"**Hei.. ini sudah malam lho.. kok kamu belum tidur Heumm?? biar aku telepon Daniel ya..??" Tanya Bobby
"Iya maaf sayang, aku barusan tidur.. ada apa.. ada apa.. cerita sama aku, Heumm..?? aku telepon Daniel dulu ya?? biar dia ke rumah??" Usul Bobby
"Buat apa telepon Daniel..??, Aku gak butuh Daniel..!!" Ucap Yena*
"*Terus kamu kenapa..?? kenapa nangis?? ini udah jam berapa coba??" Bobby melihat jam di tangan menunjukkan pukul 5 pagi yang berarti di Indonesia pukul 3 pagi.
"Jangan bilang kamu gak tidur..?? Ini udah malem sayang, tidurlah sayang.. kasian lho dedeknya.." Ucap Bobby**
Yena kembali berisak tangis.
Bobby semakin bingung menyikapi istrinya itu, ia juga bingung harus berbuat apa karena jarak tak memungkinkan ia untuk pulang menghampiri istrinya itu.
"*Ssshhuttt..... coba cerita ada apa?? Kenapa kamu nangis Heumm??" Tanya Bobby menanyakan hal yang sama yang belum terjawab oleh Yena.
"AA... Aakkuu...." Yena masih mengontrol dirinya.
"Iya kamu kenapa*..??" tanya Bobby makin penasaran, ia juga kesal dan bergumam dalam hati, Daniel benar-benar tak bisa di andalkan, membuat Yena menangis semalaman ini.
"Aku kangen sama kamu... huahhh..." tangisnya pecah kembali.
Bobby yang awalnya kesal, cemas dan panik. Kini hanya membungkam mulutnya, ia terkejut sekaligus terkekeh menahan tawa karena sikap lucu Yena.
"Aku mendengar suara tawa mu... eeummm..." Ucap Yena bertingkah manja
"*Hahaha.. Kamu itu ngegemisin banget.. kalo Deket udah aku cium.." Kata Bobby
"Aaaa...Aku nangis malah di ketawain.." Ujar Yena
"Bukan gitu sayang, tunggu aku pulang ya.. aku bakal nyelesein tugas aku di sini secepat mungkin.. udah dong nangis nya.. Ouh.. cup.. cup.. cup.. Maafin aku ya.." Ucap Bobby
Terdengar suara Yena masih sesegukan, rasa rindu yang tak tertahankan membuat ia mudah mengeluarkan air matanya.
Sedangkan Bobby hanya tersenyum dengan tingkah lucunya, jika saja mereka berdekattan Bobby ingin sekali memberikan pelukan hangat untuknya di malam sedingin ini.
"*Hei.. hei.. udah dong ya..?? Doain aja biar semuanya lancar, biar kita bisa bersama lagi.. aku juga sama kangen banget sama kamu tapi, harus gimana lagi ini kerjaan aku. kamu udah minum susu?? Udah makan??" Tanya Bobby
"Udah.." Jawab Yena singkat sambil menyeka air matanya
"Yang jujur sama aku..." Jawab Bobby
"Iya.. belom.." Jawab Yena
"Belum tidur juga kan??" tanya Bobby
"Belum" Jawab Yena
"Ya udah kamu minum susu.. kalau pun gak laper kamu tetep harus makan, inget ada bayi kita di perut kamu sayang.. jaga kesehatan kamu, aku gak mau pas aku pulang kamu malah sakit.. tidur yang cukup ini udah pagi lho.." Ucap Bobby
"Iya..." Jawab Yena
"Ya udah.. aku tutup ya.." Ucap Bobby
"Kamu jahat..." Rengek Yena
"Kok jahat sih..? Jahat kenapa sih sayang??" Tanya Bobby
"Kamu pergi gitu aja.." Ucap Yena
"Bukannya aku naro catatan ya??" Tanya Bobby
"Bukan itu.. aku juga mau nganterin kamu buat yang terakhir kalinya..." Jawab Yena
"Husstt... jangan gitu, emang aku mau
mati apah.. Aku gak bangunin kamu tuh gak tega, lagian aku berangkat malam banget*.."
"*Tapi aku juga mau liat kamu.." Gumam Yena
"Nanti juga aku pulang.. udah ya jangan ngambek terus, aku disini juga buat kamu.. buat anak kita..," ucap Bobby
"Ya, udah ya aku tutup.. tidur ini udah pagi*"