
Sesampai di rumah Yena melihat bungkusan tersebut.
"Wah.. daging.. enaknya di apain ya?" Gumam Yena
"Apaan? paling sisa pelanggan itu.. udah pesen Go-food aja" Jawab Bobby
"Sembarangan.. gak mungkinlah. kamu tuh, mentang-mentang gak suka orangnya terus nolak pemberiannya juga gitu?" tanya Yena
"Lah, terus gua harus makan makanan yang di kasih makhluk astral itu?" tanya Bobby
"Iya lah.." Jawab Yena dengan percaya diri
"Nanti sakit perut gua.. udah lu masak aja." Ucap Bobby
"Ya emang menurut kamu kita mau makan daging mentah? ya di masaklah.." Ucap Yena
"Daging itu?? eh.. jangan deh, jangan.. ini kan udah malem dari pada masak capek mending pesen Go-food aja ya?, itu daging sama bungkusnya buang aja.." Ucap Bobby
"Gak boleh nolak rejeki.. Lagian aku lebih suka masak di banding beli.." Jawab Yena.
Yena dengan sigap mengolah daging sapi itu, menjadi makanan yang menggugah selera.
aromanya yang tercium sangat sedap, sepertinya itu akan menjadi malam yang mengenyangkan baginya.
tapi, tidak bagi Bobby.
ia hanya diam di meja makan dengan wajah cemberut.
"Ayo makan.." Ajak Yena yang telah mengisi meja makan dengan berbagai hidangan.
"Gak akh.." Ucap Bobby
"Katanya mau pesen Go-food kenapa gak jadi?" tanya Yena
"Gak laper.." Jawab Bobby memalingkan mukanya
"Ya udah terserah.. mau makan atau gak bisa tidur karena kelaperan.." Sidir Yena.
Yena mulai makan beberapa suapan, memperlihatkan betapa enak dan nikmatnya makanan itu.
"Katanya gak laper.. tapi, masih duduk di meja makan.." Yena menyindir Bobby kembali.
"Demi kesejahteraan bersama.. gua makan deh.." Ucap Bobby mengambil beberapa centong nasi di piringnya, lalu dengan suapan besar ia mengunyah makanan tersebut di mulutnya.
"Haha.. kok kaya kartun ya.." Yena tertawa
"Apanya?" tanya Bobby
"Demi kesejahteraan bersama.." Ucap Yena tertawa kembali
"Emang kartun.. lu aja yang gak pernah kecil" Ucap Bobby sibuk dengan sedoknya
"Haha.. pantes aja. oh, ya tadi kamu jemput kenapa?" tanya Yena
"Lah, lu kan cewek. kalo lu di jalan ada yang ngapa-ngapain gimana?" Jawab Bobby
"Kamu khawatir sama aku gitu?" tanya Yena senyum Yena
"Ya, jelaslah.. Lu tanggungjawab gua, lu kan tinggal sama gua, apa-apa dari gua, kalo lu kenapa-napa gua yang repot..!! lu gak punya siapa-siapa lagi selain gua.." Ucap Bobby, tiba-tiba ia berhenti mengangkat sendok.
ia tersadar bahwa ucapannya terlalu berlebihan dan terlalu menyinggung Yena, padahal niatnya hanya untuk bercanda.
Yena terdiam, ia menunduk melihat makanannya dan kembali mengunyah.
Ia sadar ia cukup merepotkan Bobby selama ini.
Bobby memberikan tempat tinggal, makan, baju, bahkan handphone.
Bobby benar Yena tak memiliki siapapun kecuali Bobby, tanpa Bobby mungkin sekarang ia telah menjadi mayat yang mengapung di sungai dan Takan di kenal siapapun.
Ia berjanji pada dirinya sendiri kelak ia Takan merepotkan Bobby lagi.
"Gak maksud gua.. Eh, gua minta maaf.. gua gak ada maksud ngomong kaya gitu" Ucap Bobby
"Santai aja.. aku gak papa kok. habiskan makananya" Ucap Yena mengunyah makanannya tanpa menatap Bobby
"Hmm.. baiklah.." Jawab Bobby dengan rasa bersalahnya.
Selesai makan Yena bersih-bersih, mencuci piring-piring kotor.
Namun, saat yang bersamaan handphone Yena berdering.
di lihatnya panggilan telepon dari Jessica.
"Hallo Yena..!!!" Suara Jesicca kegirangan
"Iya hallo.. eh, bentar Jes" Yena menutup speaker HP-nya dengan telapak tangannya.
"Ada apa?" tanya Yena pada Bobby
"Oh, gak.. lanjutin aja teleponnya. gua cuma mau bilang tidurnya jangan kemaleman.." Ujar Bobby
"Iyya.." Jawab Yena
Yena kembali berbincang di telepon dengan Jessica.
"Eh, tadi suara cowok siapa Yena?" tanya Jesicca
"Emang kedengeran? jelas gak?" tanya Yena
"denger sih, cuma samar-samar gitu.. jangan bilang itu pak Dimas.." Ujar Jessica
"Wah.. gila.. mikirnya sampe kesitu.." Yena tertawa
"Ya mungkin aja, tadi kan dia anterin lu pulang.." Ucap Jessica
"Tapi ini udah jam berapa.. lagian gak jadi kali dia nganterinya.." ucap Yena
"Wah.. yang bener lu? serius?" tanya Jessica
"Serius lah.. aku gak di anterin pak Dimas kok.." Ujar Yena melirik Bobby yang sedari tadi memperhatikannya yang sedang asyik menelpon, ia tau Bobby benci pada Dimas apalagi jika namanya di sebut.
Dengan inisiatif Yena pergi ke kamarnya.
"Masa sih, terus tadi lu pulang sama siapa kalo bukan pak Dimas?" tanya Jessica
"Abang ku jemput.." jawab Yena
"Abang apa dulu nih.. Abang kandung apah Abang abangan." Jessica meledeki Yena
"Yeh, Lu.." Ucap Yena
"Haha.. tapi pak Dimas itu cakep juga lho. eh, udah dulu ya. gua ngantuk.." ucap Jessica
"Ya udah.." Jawab Yena
"Bye.." Jessica
"Oke.. bye.." Jawab Yena
Panggilan telepon berakhir.
Ada satu pesan masuk ke WhatsApp milik Yena, di lihatnya pesan itu.
Dimas : "Sudah tidurkah?" jam 23.00
Namun, baru ia baca jam 00. 21
Yena : "Mau tidur.." balas yena
Dimas : "Baru nyampe rumah apa?" tanya Dimas
Yena : "Gak.. aku pulang langsung makan. makasih ya dagingnya.. tadi langsung di masak. ini aja kekenyangan 😁😁"
Dimas : "Kalo kekenyangan tidurnya pules dong..😄"
Yena : "Ini aja matanya udah minta jatah..🤣🤣"
Dimas : "Ya udah sana tidur.. asal jangan nyampe gak masuk kerja gara-gara hibernasi aja 🤣🤣"
Yena : "Emangnya 🐿️ 🤣🤣"
Dimas : "Aku juga ngantuk nih.. happy nice dream.. 😊"
Yena : "Thanks 😉"
Akhir percakapan pesan via WhatsApp Yena dengan Dimas.